Nafisha merasa hidupnya baik-baik saja.
Meski sering terlambat, sering dihukum guru BK, dan kerap terlibat masalah karena membela teman-temannya, setidaknya ia masih bisa menjalani hari-harinya bersama Rendi—sahabat yang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari semuanya berubah.
Sebuah kesalahpahaman membuat nama Nafisha menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya telah menyiapkan keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Perjodohan.
Lebih buruk lagi, pria yang dijodohkan dengannya adalah Andrea—guru BK yang paling sering menghukumnya di sekolah.
Nafisha tidak pernah membayangkan harus hidup berdampingan dengan pria menyebalkan itu.
Namun semakin keras ia berusaha menjauh, semakin sering takdir mempertemukan mereka.
Mampukah Nafisha menerima takdir yang telah ditentukan untuknya? Saat guru BK yang selalu membuatnya kesal itu ternyata adalah pria yang harus bersanding dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sesuai perjanjian awal, Nafisha kini telah berada di hadapan Andrea di ruangan BK, dia sedang mengerjakan tugas yang tidak sempat dia lakukan.
Andrea membiarkan Nafisha yang tengah serius dengan buku dan pulpennya itu. Tidak lupa Andrea sudah menyiapkan cemilan juga dua nasi bungkus untuk mereka.
***
Sedangkan Rendi pulang ke rumah dengan tergesa-gesa hanya sekedar untuk berganti pakaian, dan dia bergegas menuju pasar untuk memulai pekerjaannya lebih cepat dari biasanya.
Rendi yang tengah berada di pasar pun tengah memilah ikan yang datang dan menyimpannya di tempat yang sesuai.
Dua jam kemudian, ia mendapatkan seseorang yang memesan ikan untuk di kirim ke lantai dua, ia pun mempersiapkan pesanan itu lalu menaiki tangga.
Namun langkahnya terhenti di ujung tangga, matanya terbelalak, lantai dua itu jelas gelap seluruh ruko telah tutup. Bahkan, tidak ada satu pun orang yang berada di lantai dua yang gelap ini.
Rendi menggeleng dan menepuk jidatnya, dan merutuki dirinya sendiri.
Bodoh, ini kan sudah siang, ruko pada tutup, Tapi, kenapa ada yang pesan ini ya?, gumam Rendi sambil melihat satu kantong plastik yang berada di genggamannya.
Rendi terdiam dengan terus memperhatikan plastik di tangannya, karena orang yang memesan menunggu di lantai dua dan harap datang ke ruko nomor empat puluh sembilan, sedangkan di lantai itu semua ruko telah tutup.
Tiba-tiba dari arah depan, datanglah Bagus dan juga temannya, "Rendi ... jangan pernah belagu sama gue hah."
Rendi hendak menuruni anak tangga untuk menghindar, tapi nahas teman-temannya memegang erat tubuhnya.
"Maksud Lo apa, Gus?" tanya Rendi terus memberontak.
"Karena Lo, gue jadi kena tegur Si Andrea, gue ketahuan tidak mengerjakan, harusnya Lo sadar lain kali buku gue yang harus Lo kerjain bukan buku Lo dulu," protes Bagus mendorong tubuh Rendi.
"Maaf Gus, aku tidak tahu waktu yang di berikan Andrea sangat mepet," ujar Rendi berkata sejujurnya.
"Alah bacot Lo," ujar Bagus sambil kembali menendang perut Rendi hingga tersungkur.
Kedua temannya masih memegang erat tangan Rendi.
"Lepas Gus, gue harus kerja, bokap Lo pasti nyari gue," pinta Rendi dengan tidak berhenti berontak.
"Diam Lo, jika tidak pisau ini akan menebas leher Lo," ancam Bagus yang kini pisau lipat sudah berada di leher Rendi.
Rendi pun terdiam tidak kembali memberontak, karena pisau itu begitu dekat dengan kulit lehernya.
Sedangkan temannya Bagus telah mengikat Rendi dengan kuat dengan sebuah tali tambang, dan mulutnya di tutup perekat.
Setelah selesai mengikat tubuh Rendi, Bagus meninggalkannya seorang diri, dengan kondisi yang hanya memiliki penerangan sedikit.
Bagus tertawa nyaring sambil menuruni anak tangga.
****
Sedangkan Nafisha telah selesai mengerjakan tugas dan mengisi perutnya di ruangan Andrea.
"Terimakasih ya Pak, enak banget ini," ujar Nafisha dengan memegang perutnya akibat kekenyangan.
Lalu Nafisha merapikan tasnya.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Andrea.
"Iya Pak, mau ke mana lagi," sahut Nafisha.
"Bapak ga antar ya, Bapak mau selesaikan dulu pekerjaan di sini," ujar Andrea dan hanya Andrea yang tidak mengikuti rapat.
"Santai ... Nafisha bukan anak kecil ko Pak," ucap Nafisha, sambil bersalaman dengan Andrea.
Andrea pun memberikan lengan itu dengan tersenyum.
Lalu Nafisha keluar dari ruangan Andrea, dari sudut mata Nafisha ia melihat Rena berdiri dengan tangan terlipat di depan. Mukanya jelas memperlihatkan emosi yang tertahan.
Nafisha tersenyum sambil melangkahkan kakinya bak anak kecil yang ceria, dengan berloncatan menuju gerbang sambil menyanyikan lirih lagu kesukaannya.
Beberapa menit kemudian, Nafisha telah tiba di rumahnya dan disambut oleh Nandini.
"Naf ... Mama lupa ada yang belum di beli sama Mama, boleh ga setelah kamu ganti pakaian, tolong beli ke pasar," ucap Nandini dengan memberikan selembar kertas dan uang untuk belanja.
"Baik gampang itu Ma, sebentar ya," timpal Nafisha lalu memasuki kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
"Ya udah Ma ... aku berangkat ya," pamit Nafisha yang berjalan keluar rumah dengan berteriak.
Abas memandang Nafisha dengan menggelengkan kepalanya karena sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan dengan suara berteriaknya itu.
Beberapa menit kemudian Nafisha tiba di pasar tradisional, dengan langkah penuh keyakinan dia menaiki tangga menuju lantai dua.
Di mana biasanya bahan perkuehan berada di tempat tersebut. Namun, setibanya di tempat itu, Nafisha terhenti matanya membulat sempurna, ia memukul-mukul keningnya.
"Bodoh... ini kan sudah siang, ngapain gue ke sini? Harusnya ke seberang sana. Bodoh, bodoh," gumam Nafisha sambil memukul keningnya pelan.
Saat hendak melangkah turun, telinganya menangkap sesuatu. Perlahan, ia memalingkan muka melirik ke arah belakang. Bulu kuduknya mendadak berdiri. Ia bergidik.
Segera Nafisha menghadapkan lagi mukanya ke arah depan. Tapi, lagi langkahnya terhenti, kala mendengar suara menggema pelan di belakang tubuhnya.
Ia menghela napasnya pelan, lalu membalikkan tubuhnya dengan begitu hati-hati, matanya terus menyapu sekelilingnya.
Ya Tuhan tolong aku, jaga aku, aku hanya ingin memastikan itu benar-benar orang, dan tidak ingin membuatku menyesal pergi dari sini karena meninggalkan orang yang meminta bantuan. Jika itu bukan manusia tolong Tuhan jangan perlihatkan kepadaku sedikitpun, tolong usir dia dari hadapanku, Batin Nafisha, dengan terus melangkah pelan-pelan, bak seseorang yang mencuri dan takut ketahuan.
Di bawah sana ramai sekali, lah di sini ngeri sekali, gumam Nafisha yang terus culingak-culinguk
Semakin langkahnya mendekat, Nafisha tercengang kala melihat seseorang dengan samar diantara kegelapan dan hanya sorot sinar lampu yang redup yang menyinari sosok di depannya itu.
Nafisha mencoba menghampiri orang itu dengan langkah berjinjit, dengan jantung yang terus berpacu kencang, dan ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Kini jarak mereka cuma lima langkah, ia kembali terbelalak dan menunduk, ia pun menggosok matanya untuk memastikan jika apa yang dilihatnya itu tidak salah.
Pemuda di depannya terus menggerakkan tubuhnya, suaranya tidak jelas membuat Nafisha semakin mengerutkan keningnya.
Ia yakin mengenalinya, tapi ia ragu, ia teringat dalam kegelapan ini semua begitu bisa saja halusinasinya.
Ia berdiri, dan mulai membalikkan tubuhnya.
Bruk!
Nafisha terperanjat. Ia kembali menoleh, namun tidak ada benda yang terlihat menggelinding. Sambil memejamkan mata, ia menghela napas kasar.
Lalu menghela napasnya kasar.
Bismillah...
Aku berani pasti berani! Tapi bagaimana jika itu bukan manusia, terus dia ko mirip banget sama Rendi ya? Samar pula, tapi Rendi kan di bawah sedang kerja, gumam Nafisha meregangkan bibirnya.
Hem, af eng!
Suara itu terdengar kembali dengan samar, Nafisha kembali mencondongkan tubuhnya, menilik keberadaan pria di depannya itu.
Ia kembali berdiri tegak dan merogoh ponsel di sakunya.
Bersambung ...