Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Fisya
Jason keluar dari kamar Kasandra sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
Ia berjalan santai menuju kamar rawat Fisya, di pikirannya, ia ingin memastikan keadaan istrinya sebelum pulang ke rumah.
Selain itu ia juga ingin menjaga agar Fisya tidak curiga sedikit pun namun saat sampai di depan kamar, langkah Jason langsung terhenti.
Pintu kamar terbuka, ruangan itu kosong Jason mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam.
Ranjang rumah sakit sudah rapi, tas dan perlengkapan bayi juga tidak ada.
Jason langsung menoleh ke kanan dan kiri.
“Fisya?” panggilnya pelan.
Namun tidak ada jawaban wajah Jason langsung berubah, ia keluar kamar dengan langkah cepat lalu menghentikan seorang perawat yang sedang lewat.
“Sus.” panggilnya
Perawat itu menoleh.
“Iya Pak?”
“Pasien di kamar ini mana?” tanya Jason
Perawat itu melihat nomor kamar lalu menjawab santai.
“Oh, Bu Fisya sudah pulang siang tadi, Pak.”
Jason langsung membelalak.
“Pulang?”
“Iya Pak.” jawab perawat tersebut
“Kenapa bisa pulang?” tanya Jason lagi
Perawat itu terlihat bingung dengan nada bicara Jason.
“Karena kondisi ibu Fisya sudah sehat.”
Jason langsung kesal.
“Bagaimana bisa dia diperbolehkan pulang sedangkan pasien lain yang di kamar ujung no 7 belum bisa pulang?”
Perawat itu tetap tenang.
“Semua keputusan dari dokter, Pak bukan saya yang buat"
“Tapi istri saya baru kemarin melahirkan!” bentak Jason tidak terima
“Dokter menyatakan kondisi Bu Fisya sudah stabil.” jawab perawat tersebut cepat
Jason mulai emosi.
“Lalu kenapa pasien lain tidak boleh pulang yang melahirkan bareng dengan istri saya?”
Perawat itu mulai merasa tidak nyaman.
“Maksud bapak, ibu Kasandra?
Jason langsung mengangguk
"Ya Kasandra"
"Ibu Kasandra perlu menginap semalam lagi karena kondisinya belum stabil dan kalau bapak keberatan, bapak bisa langsung bertanya dengan dokter.” ucap perawat tersebut dengan tegas
Jason mengepalkan tangannya dan tidak bisa bicara apa-apa lagi
Melihat reaksi Jason perawat itu lalu mengangguk sopan.
“Permisi Pak.”
Perawat itu pergi meninggalkan Jason yang masih berdiri kesal di lorong rumah sakit.
Jason langsung mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau kamu sudah pulang…” gumamnya marah.
Ia mulai merasa ada yang aneh akhir-akhir ini pada Fisya
Fisya tidak menelpon, tidak memberi kabar bahkan pulang diam-diam padahal biasanya wanita itu selalu memberitahunya apa pun.
Jason mulai berpikir macam-macam.
“Aku harus biasa saja, jangan sampai Fisya curiga” gumamnya lagi.
Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.
“Nanti setelah sampai rumah baru aku tanya.”
Beberapa detik kemudian matanya membesar Jason langsung menoleh ke arah kamar Kasandra.
“Aku tidak boleh kasih tahu Kasandra kalau Fisya sudah pulang, kalau Kasandra tahu, dia pasti akan marah karena merasa diperlakukan berbeda" gumamnya lagi
Jason langsung kembali berjalan menuju kamar Kasandra.
Saat pintu dibuka, Kasandra terlihat sedang memainkan ponselnya.
Wanita itu langsung mengernyit melihat Jason kembali begitu cepat.
“Loh kok sebentar banget Mas?” tanyanya penasaran.
Jason langsung tersenyum santai seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ya dia mau tidur katanya capek dan gak mau diganggu.”
Kasandra mengangguk pelan.
“Fisya ngomong apa lagi? Apakah dia senang dapat anak perempuan"
Jason duduk di samping ranjang Kasandra lalu mendekat sedikit.
“Iya.”
Kasandra tersenyum sinis kecil.
“Kalau dia tahu itu bukan anaknya…”
Jason langsung memotong.
“Sudah. Jangan bahas itu di sini.”
Kasandra tertawa kecil.
“Kamu takut?”
Jason menatap pintu kamar beberapa detik.
“Rumah sakit ini terlalu banyak orang takut ada yang dengar"
Kasandra akhirnya diam dan Jason lalu berdiri.
“Aku pulang dulu.” ucap Jason
Kasandra langsung cemberut.
“Cepat amat?”
“Aku mau ganti pakaian.” jawab Jason
“Kamu gak nginep di sini?” tanya Kasandra
Jason menggeleng.
“Besok aku jemput kamu.”
Kasandra terlihat malas namun akhirnya ia mengangguk.
“Ya sudah.”
Jason tersenyum tipis lalu membelai rambut Kasandra.
“Tidur yang nyenyak.”
Kasandra memegang tangan Jason.
“Mas…”
“Iya?” jawab Jason singkat
“Aku gak sabar lihat wajah Fisya nanti kalau semuanya terbongkar.” ucap Kasandra
Jason tertawa kecil.
“Itu nanti.”
Kasandra ikut tersenyum.
“Pasti seru.”
Jason mengangguk namun entah kenapa, ucapan itu membuat pikirannya kembali tidak tenang.
Fisya pulang tanpa memberitahunya, itu bukan sifat Fisya biasanya.
Jason langsung menepis pikiran itu lagi.
“Mungkin dia cuma capek,” batinnya.
“Sudah kamu tidur ya biar besok diperbolehkan pulang,” ucap Jason.
Kasandra mengangguk malas.
“Iya.”
Jason lalu keluar dari kamar begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah dingin.
Ia segera berjalan cepat menuju parkiran rumah sakit.
Di perjalanan menuju mobil, pikirannya terus dipenuhi banyak pertanyaan.
Kenapa Fisya pulang diam-diam?
Kenapa tidak menghubunginya sama sekali?
Dan kenapa hatinya mulai merasa tidak tenang?
Jason langsung masuk ke mobil lalu menghidupkan mesin.
Ia mencoba menelpon Fisya namun panggilannya tidak diangkat.
Jason mengernyit, ia mencoba lagi tetap tidak diangkat.
“Ada apa sebenarnya…” gumamnya.
Akhirnya Jason memutuskan langsung pulang ke rumah dan sepanjang perjalanan pikirannya kacau.
***
Sementara itu di rumah… Fisya sedang duduk di kamar bayi sambil memperhatikan putrinya tidur.
Bik Lili berdiri di dekat pintu sambil membawa botol susu.
“Bu…”
Fisya menoleh.
“Iya Bik?”
“Bapak nanti marah kalau tahu ibu pulang tanpa bilang.” ucap Bik Lili
Fisya tersenyum kecil.
“Biar saja.”
Bik Lili terlihat ragu.
“Tapi saya takut…”
Fisya langsung menatap Bik Lili tenang.
“Bik.. mulai sekarang jangan percaya siapapun dirumah ini selain aku"
“Iya Bu?" Jawab bik Lili
Dan Bik Lili langsung terdiam, karena nada bicara Fisya sangat berbeda sekali, lebih dingin dan lebih tegas.
Fisya kembali melihat putrinya.
“Dia pikir aku gak tahu apa-apa.”
Bik Lili menelan ludah.
“Bu…”
“Aku memang diam tapi bukan berarti aku bodoh" lanjut Fisya pelan.
Bik Lili langsung menunduk, ia makin yakin bahwa Fisya memang mengetahui semuanya.
“Untuk sekarang kita pura-pura tidak tahu apa-apa dulu.” ucap Fisya
“Iya Bu.” jawab bik Lili
“Aku mau lihat sampai sejauh mana mereka bermain-main denganku" ucap Fisya
Bik Lili mengangguk pelan.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
Bik Lili langsung menoleh gugup.
“Kayaknya bapak pulang…”
Fisya tersenyum tipis.
“Biar aku yang hadapi.”
Beberapa detik kemudian langkah kaki Jason terdengar masuk ke dalam rumah.
Pria itu langsung mencari keberadaan Fisya.
“Fisya!” Nada suaranya terdengar cukup keras.
Bik Lili langsung makin gugup sedangkan Fisya tetap duduk tenang di kursi dekat tempat tidur bayi, Jason akhirnya sampai di depan kamar bayi.
Begitu melihat Fisya duduk santai di sana, ia langsung masuk.
“Kamu kenapa pulang gak kasih tahu aku?” tanya Jason cepat.
Fisya menoleh pelan.
“Aku sudah sehat jadi aku sudah diperbolehkan pulang.”
“Tapi kenapa gak bilang?” tanya Jason dengan nada tinggi
Fisya menatap Jason datar.
“Kamu sibuk kan?”
Jason langsung terdiam beberapa detik.
“Aku tetap suami kamu jadi aku harus tahu apapun tentang kamu"
Fisya tersenyum kecil.
“Apapun tentang aku? Bukankah kamu terlalu sibuk dengan urusan mu sendiri dan aku pun tidak pernah tahu urusan mu di belakang ku"
Jawaban itu membuat Jason sulit membalas, ia akhirnya mendekat ke arah bayi.
"Aku tidak mau bertengkar dengan kamu, anak kita sedang tidur?”
Fisya mengangguk dan Jason melihat bayi kecil itu beberapa detik.
Tanpa sadar ia tersenyum puas karena mengira bayi itu anak Kasandra.
Sedangkan Fisya diam-diam memperhatikan ekspresi suaminya.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Mas senang?” tanya Fisya pelan.
“Tentu, dia pewaris keluarga Alexander kan seperti yang kamu bilang sebelumnya” Jason langsung menjawab cepat.
Fisya tersenyum tipis.
“Iya… aku akan mewarisi semua harta ku untuk anakku setelah ia berusia delapan belas tahun"
Jason duduk di samping Fisya.
“Kamu harus banyak istirahat.”
“Aku baik-baik saja.” ucap Fisya cepat
“Besok jangan kerja dulu.” ucap Jason
Fisya langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Kamu baru habis melahirkan biar perusahaan aku yang handle dulu" jawabnya cepat
“Aku cuma mau cek perusahaan saja" ucap Fisya
Jason tersenyum mencoba terlihat tenang.
“Perusahaan sudah aman ditangan ku"
“Bagus kalau begitu.” jawab Fisya cepat
Jason mengangguk.
“Aku bisa urus semuanya.”
Fisya menatap lurus ke depan.
“Makanya aku mau lihat sendiri dulu perusahaan ku"
Jason langsung diam suasana mendadak terasa aneh.
Bik Lili yang masih berdiri di dekat pintu ikut merasa tegang.
Jason akhirnya berdiri.
“Ya sudah yang penting kamu jangan capek.”
Fisya mengangguk pelan, Jason lalu keluar kamar sambil mencoba tetap tenang.
Namun di dalam hatinya… ia mulai merasa ada sesuatu yang berubah dari Fisya
__Bersambung__