Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN FAJAR DAN GERBANG NERAKA YANG TERBUKA
Malam semakin larut menembus angka tiga pagi, namun badai yang mengguyur Sektor Tiga justru semakin mengganas. Kilatan petir berkelebatan di balik kaca jendela raksasa penthouse, menyinari siluet raga ramping Aletheia yang masih terjaga dalam diam. Di sampingnya, lengan kekar sekeras beton milik Kaelen Azrael masih mengunci pinggangnya dengan cengkeraman posesif yang teramat ketat, bahkan di dalam tidurnya sekalipun. Napas bariton suaminya terdengar konstan di tengkuk Rae, memberikan kehangatan pekat yang terasa kontras dengan dinginnya intrik yang sedang berjalan.
Rae melirik jam digital di pergelangan tangannya. Sudah dua jam sejak dia sengaja membiarkan retakan sepuluh persen pada dinding pertahanan bayangan (shadow firewall) di gerbang barat. Insting pintarnya mengatakan bahwa singa sektor luar tidak akan membuang waktu sedetik pun setelah mendapatkan celah buta dari Evadne.
Bzzzt.
Sebuah getaran halus yang hampir tak terasa muncul dari jam tangan taktis milik Rae yang terhubung langsung dengan peretasan senyapnya. Indikator lampu kecil berkedip merah dua kali.
"Mereka datang," desis Rae dalam hati. Sepasang mata cokelat madunya berkilat liar penuh kepuasan di kegelapan malam.
Melalui layar jam taktisnya yang disamarkan, Rae bisa melihat visual sensor termal di perimeter gerbang barat luar penthouse. Sembilan siluet manusia bergerak tanpa suara bagai hantu menembus hujan lebat. Mereka mengenakan pakaian taktis serba hitam dengan logo elang perak yang samar di lengan mereka—pasukan elit divisi pembunuh dari Vane Oligarchy. Di barisan belakang, terlihat siluet tegap seorang pria bermantel abu-abu yang bergerak dengan keanggunan tirani yang mutlak. Regulus Vane turun tangan langsung.
Klik.
Tepat saat pasukan Regulus berhasil melewati sensor laser yang telah dilumpuhkan Rae, sepasang mata merah maut di samping Rae mendadak terbuka sempurna. Stamina monster dan insting membunuh Kaelen Azrael yang super peka langsung menangkap perubahan tekanan udara dan riak bahaya yang mendekat, bahkan sebelum alarm mekanis mansion sempat berbunyi.
Kaelen langsung bangkit berdiri dalam satu gerakan taktis yang luar biasa cepat. Aura tiraninya meledak seketika, mereduksi pasokan oksigen di dalam kamar tidur menjadi nol. Pria raksasa itu meraih pistol kaliber berat miliknya yang selalu tersimpan di bawah bantal, lalu menoleh tajam ke arah Rae yang pura-pura terkejut bangun.
"Tetap di tempatmu dan jangan berani mengayunkan kakimu keluar dari ranjang ini, Sayang!" titah Kaelen, suara bariton rendahnya sedingin es, sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun. Pria itu dengan cepat memakai kemeja hitamnya tanpa mengancingkannya, mengekspos dada bidangnya yang kokoh berurat saat dia melangkah menuju pintu jati raksasa.
DOR! DOR! DOR!
Belum sempat Kaelen menyentuh tuas pintu, suara rentetan tembakan berskala militer pertama pecah dari arah lorong depan, disusul oleh suara dentuman keras bom asap yang menggetarkan seluruh fondasi dinding penthouse. Sirine peringatan darurat Azrael Corps akhirnya melolong nyaring, membelah keheningan malam dengan pendaran cahaya merah yang mencekam.
"Tuan Besar! Kami diserang dari titik buta sektor barat! Pasukan Oligarchy berhasil menembus pertahanan dalam!" teriak kepala pengawal divisi bayangan lewat interkom dinding dengan nada panik luar biasa.
Kaelen tidak membalas. Dia hanya menyunggingkan senyuman predatornya yang paling kejam. Netra merah mautnya berkilat oleh gairah pembantaian yang gila. "Kumpulkan divisi satu. Habisi setiap makhluk yang membawa logo elang perak. Jangan sisakan satu pun untuk melihat matahari terbit," jawab Kaelen dingin sebelum melesat keluar kamar, mengunci pintu kayu jati tersebut dari luar secara otomatis demi mengurung Rae di dalam "sangkar" amannya.
Begitu pintu tertutup rapat, senyuman miring tirani Rae langsung terbit dengan teramat seksi. Jiwa bar-barnya bergejolak gila. "Kau pikir pintu kayu ini bisa mengurungku, Kaelen?"
Rae melompat turun dari ranjang. Dengan gerakan secepat kilat, dia meraih laptop taktis spesifikasi monster-nya dari balik panel rahasia. Jemari lentiknya menari brutal di atas papan ketik, memasukkan barisan kode bypass kuantum untuk meretas kunci pintu kamarnya sendiri dalam waktu kurang dari lima detik.
Klik. Pintu terbuka.
Rae tidak berniat melarikan diri dari tempat ini; dia ingin menonton pertunjukan catur yang telah dia desain. Sambil membawa laptop taktis di tangan kiri dan menyelipkan belati kecil jalanan di balik celana kemeja longgarnya, Rae melangkah keluar menembus asap tebal yang mulai memenuhi lorong penthouse.
Pemandangan di luar kamar benar-benar seperti neraka dunia bawah. Selongsong peluru berhamburan di atas lantai marmer mahal. Pasukan bayangan Azrael Corps dan pasukan elit Oligarchy terlibat dalam baku tembak jarak dekat yang teramat brutal.
Di ujung lorong utama, Kaelen Azrael berdiri tegak bagai dewa kematian. Pria itu tidak menggunakan tameng apa pun; dia maju menerjang hujan peluru dengan stamina monsternya yang gila, menembakkan pistol kaliber beratnya dengan akurasi seratus persen yang langsung meledakkan kepala setiap musuh di depannya. Darah segar menyembur, mengotori kemeja hitam Kaelen yang terbuka, membuatnya terlihat teramat menakutkan sekaligus memikat dalam keliaran absolutnya.
Namun, fokus Rae mendadak teralih saat sistem radar di laptopnya mendeteksi pergerakan aneh dari arah balkon privat di sisi timur. Seseorang telah memisahkan diri dari rombongan utama.
Sret!
Suara desingan angin tajam berembus dari balik kabut asap di depan Rae. Sebelum indra peraba Rae sempat menghindar sepenuhnya, sebuah tangan kekar yang dibalut sarung tangan kulit hitam berlogo elang perak melesat maju, mencengkeram pergelangan tangan lentik Rae dengan kekuatan dominan yang tak terduga.
Rae tersentak, mata cokelat madunya melebar saat raga rampingnya ditarik paksa hingga menabrak dada bidang seorang pria jangkung tegap yang mengenakan mantel bulu abu-abu gelap yang kini basah oleh darah dan air hujan.
Regulus Vane berdiri tepat di depannya. Sepasang netra kelabunya yang seputih porselen menatap langsung ke dalam mata Rae dengan kilat obsesi gila dan kepemilikan baru yang membakar jiwanya. Senyuman miring aristokrat Regulus terbit, terlihat teramat tampan namun mematikan di tengah dentuman peluru.
"Kita bertemu lagi, Dewi Perangku," bisik Regulus dengan suara baritonnya yang halus namun berat, tangannya yang lain bergerak cepat meraba pinggul ramping Rae untuk menarik wanita itu masuk ke dalam dekapan kasarnya. "Aku datang untuk memenuhi janjiku. Aku akan menyeretmu keluar dari sangkar tiran ini dan membawamu ke takhtaku."
Rae memicingkan mata, jiwa montir jalanannya seketika bangkit. Dia tidak membalas dengan kata-kata manis; alih-alih takut, Rae justru menggunakan sudut laptop taktis di tangannya untuk menghantam rahang kokoh Regulus dalam satu gerakan taktis yang tak terduga, lalu mengayunkan kaki jenjangnya untuk melakukan tendangan melingkar yang mengincar luka tembak di bahu kiri Regulus yang tertutup mantel.
"Argh!" Regulus mengerang pendek saat luka bahunya terhantam keras, membuat cengkeramannya pada tangan Rae terlepas satu milidetik. Pria itu tersenyum gila, semakin takjub oleh keliaran bar-bar Rae yang menolak untuk takluk.
"Kukatakan sekali lagi, Tuan Sombong," cetus Rae seksi dengan senyuman tiraninya yang sarat akan intrik mematikan. "Aku bukan barang rampasan yang bisa kau bawa pulang begitu saja!"
DOR!
Sebuah peluru kaliber monster melesat membelah udara, menghantam dinding beton tepat di antara kepala Rae dan Regulus, menciptakan percikan api yang mengerikan. Aura tirani level tertinggi seketika menyelimuti lorong tersebut hingga terasa mencekam.
Di ujung jalan, Kaelen Azrael berdiri dengan napas yang memburu gila, sepasang mata merah mautnya berkilat penuh dengan keliaran amarah iblis saat melihat musuh bebuyutannya berani menyentuh raga ramping istrinya. Pistolnya masih berasap, diarahkan lurus ke arah jantung Regulus Vane.
Perang segitiga antara dua tiran dunia bawah tanah dan satu ratu hacker bar-bar telah resmi meledak di tengah badai, dan tidak akan ada yang bisa keluar dari tempat ini tanpa pertumpahan darah yang mengerikan.