Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
Fajar tanggal 21 Juni 2026 menyingsing seperti pagi biasa, tetapi bagi Arga, matahari itu sedang menerangi hari pertama penjarahan terbesar sebelum runtuhnya peradaban. Kota Jakarta masih sibuk mengejar target penjualan, rapat mingguan, dan kemacetan yang tak pernah usai, tanpa menyadari bahwa seluruh aturan kepemilikan akan kehilangan makna dalam hitungan minggu. Hari itu, Arga tidak akan mencuri demi kekayaan, melainkan menyelamatkan masa depan yang telah ia perjuangkan sejak kembali ke masa lalu.
Embun masih menempel di dedaunan ketika Arga berdiri di atas atap sebuah ruko sambil memandang kompleks pergudangan yang membentang di hadapannya. Puluhan truk keluar masuk melalui gerbang utama, sementara para pekerja sibuk memindahkan palet menggunakan forklift. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti jantung distribusi makanan yang menghidupi jutaan orang. Perlahan, Hum... Sensor Dimensi menyebar dari tubuhnya, namun tidak menemukan energi kristal ataupun proto-Awakener di sekitar gudang. Yang ia rasakan hanyalah denyut kehidupan manusia biasa yang bekerja tanpa sedikit pun rasa curiga.
"Bagus," gumamnya pelan. "Hari ini tidak ada yang boleh menggangguku."
Arga menunggu hingga sebuah truk besar keluar meninggalkan area belakang gudang. Begitu pintu servis terbuka selama beberapa detik, ia bergerak secepat embusan angin, menyelinap melalui celah sempit sebelum pintu kembali tertutup rapat.
Klik...
Gudang itu ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Rak-rak baja menjulang hampir menyentuh langit-langit, dipenuhi ribuan kardus berisi beras, mi instan, makanan kaleng, gula, tepung, minyak goreng, air mineral, susu, hingga berbagai kebutuhan pokok lainnya. Bau karton baru bercampur aroma plastik memenuhi udara, menciptakan pemandangan yang bagi orang biasa hanyalah stok dagangan. Namun di mata Arga, seluruh isi gudang itu adalah mata uang yang sesungguhnya akan menentukan hidup dan mati manusia di masa depan.
Tanpa membuang waktu, ia mengangkat telapak tangannya dan membuka Ruang Dimensi.
Hum...
Hamparan putih tak berbatas muncul sesaat di hadapannya, lalu menelan satu palet penuh beras seolah benda itu tidak pernah ada. Tidak ada cahaya mencolok ataupun pusaran aneh. Palet seberat hampir satu ton lenyap begitu saja. Arga kemudian berpindah ke rak berikutnya. Hum... Mi instan menghilang. Hum... Air mineral lenyap tanpa bekas. Hum... Makanan kaleng ikut terserap ke dalam ruang putih itu. Setiap denyut Ruang Dimensi menelan puluhan kardus sekaligus hingga dalam waktu kurang dari lima menit, satu lorong gudang berubah menjadi ruang kosong yang hanya menyisakan debu di atas lantai beton.
Suara forklift perlahan mendekat.
Brrmmm...
Arga segera melompat ke balik rak. Seorang operator masuk sambil bersenandung pelan, sama sekali tidak menyadari bahwa stok di belakangnya telah lenyap. Pria itu hanya memeriksa daftar pengiriman di tangannya, lalu berbalik keluar karena barang yang hendak diambil berada di sisi gudang yang lain. Begitu langkah kaki itu menjauh, Arga kembali bergerak tanpa suara.
"Maaf," bisiknya tanpa rasa bersalah. "Kalau kubiarkan tetap di sini, semuanya juga akan habis... hanya saja dimakan zombie."
Kalimat itu bukan pembenaran bagi dirinya sendiri, melainkan fakta yang pernah ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Dalam kehidupan sebelumnya, gudang yang sama dijarah habis tiga hari setelah kiamat dimulai. Ribuan orang saling membunuh hanya demi memperebutkan sekantong beras, sementara makanan yang tidak sempat dibawa akhirnya membusuk bersama mayat para penjarah. Kini Arga hanya mengubah siapa yang mengambilnya lebih dahulu.
Dua jam kemudian, sebagian besar isi gudang telah menghilang tanpa seorang pun menyadarinya. Ia sengaja menyisakan beberapa rak di bagian depan sebagai kamuflase agar kehilangan tersebut tidak langsung terlihat. Setelah memastikan situasi tetap aman, Arga meninggalkan lokasi melalui jalur yang sama ketika ia masuk.
Sssst...
Pintu servis kembali tertutup rapat di belakangnya. Target berikutnya telah menunggu.
Menjelang siang, Arga tiba di distributor perlengkapan outdoor terbesar di kawasan industri lain. Gudang itu dipenuhi tenda militer, sleeping bag, kompor portabel, tabung gas, pisau lipat, senter taktis, filter air, tali panjat, hingga pakaian tahan cuaca. Tanpa ragu, ia kembali membuka Ruang Dimensi. Hum... Hum... Hum... Seluruh perlengkapan itu menghilang satu demi satu. Setiap langkah telah ia rencanakan sejak malam sebelumnya, bahkan ia telah menghafal posisi kamera CCTV, jadwal patroli satpam, serta jalur distribusi setiap gudang berdasarkan hasil pengamatan beberapa hari terakhir.
Sore harinya, Arga berpindah ke gudang perkakas industri. Mesin las, bor listrik, gergaji mesin, mesin pemotong baja, ribuan baut, mur, kabel baja, hingga berbagai peralatan konstruksi lenyap tanpa meninggalkan jejak. Barang-barang tersebut mungkin tampak biasa bagi dunia saat ini, tetapi beberapa bulan setelah kiamat, sebuah mesin las dapat menjadi penentu hidup dan mati sebuah markas penyintas.
Perburuan logistik itu masih berlanjut. Distributor panel surya, generator diesel, bank baterai industri, hingga tangki penyimpanan solar menjadi sasaran berikutnya. Semua masuk ke dalam Ruang Dimensi tanpa menyisakan bekas sedikit pun. Ketika matahari mulai condong ke barat, Arga sempat memeriksa isi dimensi pribadinya. Hamparan logistik tersusun rapi sejauh mata memandang, sementara ruang kosong yang tersisa masih terasa nyaris tak berbatas.
"Masih muat..." gumamnya sambil tersenyum kecil. "Sepertinya aku benar-benar meremehkan kemampuan ini."
Di berbagai sudut Jakarta, kepanikan perlahan mulai muncul. Seorang supervisor gudang makanan berdiri terpaku memandangi rak-rak kosong yang seharusnya masih dipenuhi stok.
"Apa... apa ini?"
Tangannya gemetar ketika kembali membuka daftar inventaris. Seluruh barang masih tercatat berada di gudang, tetapi kenyataannya rak-rak itu telah kosong melompong. Di tempat lain, manajer distributor panel surya memeriksa rekaman CCTV berkali-kali. Monitor hanya memperlihatkan rak yang tiba-tiba kosong tanpa seorang pun menyentuhnya.
"Tidak mungkin..." suara pria itu bergetar. "Barang-barang itu menghilang sendiri."
Operator keamanan menelan ludah sebelum menjawab dengan gugup.
"Saya... saya juga tidak mengerti, Pak."
Telepon darurat mulai berdering di berbagai perusahaan. Laporan kehilangan berdatangan hampir bersamaan. Polisi menganggapnya sebagai kesalahan pencatatan, sementara pihak asuransi menduga telah terjadi penipuan berskala besar. Tidak seorang pun memiliki penjelasan yang masuk akal mengenai hilangnya ribuan ton barang dalam satu hari.
Sementara itu, jauh di bawah tanah, layar-layar besar di markas Organisasi Hitam menampilkan rangkaian laporan kehilangan logistik dari seluruh Jakarta. Seorang pria berambut perak membaca setiap laporan tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya. Jarinya menggeser layar satu demi satu sambil membaca daftar yang terus bertambah.
"Gudang makanan."
Layar berganti.
"Generator."
Lalu berganti lagi.
"Panel surya."
Berikutnya.
"Peralatan medis."
Ia menyilangkan kedua tangannya sebelum akhirnya berkata pelan, "Menarik."
Seorang bawahan berdiri di sampingnya.
"Apakah ini berkaitan dengan Ghost Collector?"
Pria berambut perak mengangguk tipis. Tatapannya beralih ke peta digital Jakarta yang mulai dipenuhi titik-titik merah.
"Metodenya identik."
Ia memperbesar salah satu kawasan industri.
"Dia tidak lagi sekadar mengumpulkan kristal."
Ruangan menjadi sunyi. Setelah beberapa detik, pria itu kembali berbicara dengan nada datar.
"Dia sedang membangun sesuatu."
Perintah berikutnya segera keluar tanpa sedikit pun keraguan.
"Prediksi seluruh gudang strategis yang masih mungkin menjadi target."
Salah seorang bawahannya segera bertanya, "Lalu?"
"Pasang pengawasan."
Matanya menyipit tipis.
"Kalau dia datang..."
"...jangan langsung tangkap."
Seorang anggota lain mengangkat kepala dengan bingung.
"Maksud Anda?"
Senyum yang nyaris tak terlihat terukir di wajah pria berambut perak itu.
"Biarkan dia membawa kita menuju markasnya."
Malam mulai turun ketika Arga akhirnya kembali ke kamar kos. Tubuhnya memang terasa lelah setelah seharian berpindah dari satu gudang ke gudang lain, tetapi wajahnya justru tampak jauh lebih hidup dibanding beberapa hari sebelumnya. Ia kembali membuka Ruang Dimensi.
Hum...
Barisan logistik tersusun rapi sejauh mata memandang. Gunungan beras berdiri berdampingan dengan peti makanan kaleng, air minum, obat-obatan, generator, panel surya, perkakas industri, hingga perlengkapan bertahan hidup yang cukup untuk menopang sebuah komunitas dalam waktu sangat lama.
"Masih jauh dari cukup."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Pengalaman sepuluh tahun hidup di dunia kiamat membuat standar kebutuhannya jauh berbeda dari orang biasa. Ia tahu persediaan sebesar itu tetap bisa habis hanya dalam beberapa bulan jika dikelola dengan buruk.
Setelah menutup Ruang Dimensi, Arga kembali membuka laptopnya.
Klik...
Iklan vila yang semalam ia temukan masih terpampang di layar. Nomor telepon pemiliknya masih aktif. Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Sambungan tersambung pada dering ketiga.
"Halo?"
Suara pria paruh baya terdengar lelah.
"Saya menelepon mengenai vila yang dijual."
Percakapan berlangsung singkat. Pemilik vila ternyata benar-benar sedang membutuhkan uang karena usahanya bangkrut. Setelah menyepakati harga dan memastikan seluruh dokumen lengkap, mereka membuat janji untuk bertemu keesokan paginya.
"Kalau Bapak serius membeli, besok saya tunggu."
"Saya pasti datang."
Tut...
Sambungan telepon terputus. Arga mengambil selembar kertas kosong, lalu mulai menggambar menggunakan pensil. Garis demi garis memenuhi halaman, membentuk rancangan benteng yang selama ini hanya tersimpan di dalam ingatannya. Ia menggambar pagar baja berlapis, menara pengawas di empat sudut, gudang bawah tanah, panel surya di atap, tangki air cadangan, jalur evakuasi rahasia, hingga lahan pertanian. Bahkan posisi pos jaga serta jalur tembak turut ia tandai dengan sangat teliti.
Semakin lama ia menggambar, semakin jelas bayangan masa depan itu terbentuk di hadapannya. Bangunan tersebut bukan lagi sekadar sebuah vila, melainkan rumah yang akan menjadi harapan terakhir keluarganya ketika dunia berubah menjadi neraka. Setelah meletakkan pensil perlahan, Arga menatap gambar sederhana yang kini memenuhi meja. Senyum tipis mengembang di wajahnya saat ia memandang langit malam di balik jendela.
"Besok..."
Sorot matanya berubah setajam bilah parang yang pernah membelah tengkorak zombie pertama.
"...aku akan membeli rumah."
Tatapannya semakin mantap, seolah sedang menatap masa depan yang telah ia pilih sendiri.
"Dan sebelum dunia runtuh..."
"...rumah itu akan berubah menjadi benteng yang bahkan kiamat pun sulit menaklukkannya."