Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Atensi Shena langsung teralih pada ponsel, ia memang sedang menunggu notifikasi pesan dari seseorang, karena itu responnya sangat cepat.
Kening Shena berkerut melihat ternyata bukan notifikasi pesan yang masuk, tapi dari twitter dan instagram.
"Dapet pesan dari siapa sih jidat lo sampe berakhir gitu? Ditagih hutang bendahara?" tanya Raskal. "Hans masih suka nagih lewat chat begitu ya?" tanyanya lagi pada Devan.
Yang ditanya malah tertawa. "Udah pensiun itu bocah, bukan Hans lagi bendahara IPA3," jawab Devan.
"Paling juga dapet balesan dari Key, ye kan? Dia nggak mau kan? Ngeyel banget lo udah gue bilang juga!" ujar Devan.
Raskal mengerutkan keningnya. "Key kenapa emang? Kalian minta tolong dia? Apa si Shena nembak dia?"
"Mengadi-ngadi lo!" sahut Shena mendengar pertanyaan terakhir Raskal.
"Lah itu nggak mau kenapa? Apanya nggak mau?"
"Kepo banget lo!" sahut Shena, lalu kembali menunduk menatap ponselnya.
Raskal mencibir, lalu melanjutkan mengikat tali sepatu yang hampir selesai. Alvin yang sejak tadi hanya diam saja lantas berdehem.
"Gue tunggu tiga menit di lapangan, kalau telat langsung ambil posisi aja, ambil hadiah." Cowok itu berbalik tanpa peduli respon teman-temannya.
"Serem banget itu bocah, kayak macan," bisik Devan pada Raskal.
Raskal terkekeh. "Nama singa, sifat kayak macan."
"Nggak salah emang dipilih jadi ketua sementara gantiin Angkasa, seremnya udah kayak Angkasa."
Raskal tersenyum. "Bukan main."
"Eh, bentar, Le!" Suara Shena berhasil menahan Alvin dan membuat cowok itu berhenti di dekat pintu. "Setelah meyakinkan diri salah lihat apa nggak, akhirnya gue yakin kalau mata gue nggak rabun," ujar Shena tiba-tiba.
"Maksud lo apa?" tanya Alvin tidak mengerti.
Shena menghela napas, menatap wajah datar Alvin selama beberapa saat sebelum mengulurkan tangan untuk menunjukan berita apa yang baru ia baca. Sangat baru dan hangat di akun gossip sekolah.
"Ini Devis," ujar cowok itu. "Lihat ceweknya."
Alvin lebih menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas karena wajah cewek dalam gendongan Devis itu tertutup rambut. Alvin seolah tidak asing dengan postur itu, warna rambut, dan....
"Michelle?"
.
.
.
.
.
Michelle masih menutup kedua kelopak matanya saat Alvin mengunjungi cewek itu, sekarang ia sedang terbaring di salah satu brankar UKS. Tidak ada yang menjaga Michelle, guru penjaga UKS sudah tidak di tempat dan anak PMR yang bertugas juga sudah menyelesaikan tugasnya karena jam pulang.
Alvin berjalan perlahan mendekati cewek itu, wajah pucat Michelle tampak damai, hanya saja ada bekas merah yang tampak mengganggu. Kening Alvin berkerut, tangannya terulur menyentuh lebam merah di pipi kiri Michelle.
"Siapa yang nampar Michelle?" gumam Alvin, lalu menarik tangannya karena Michelle meringis.
Michelle yang terusik tampak bergerak, kedua kelopak mata cewek itu terbuka. Alvin kira Michelle masih pingsan, tapi ternyata cewek itu hanya tertidur.
"Kak Alvin?"
"Mana yang sakit?" tanya Alvin langsung, membuat Michelle terdiam.
Kedua mata Michelle langsung memanas. Alih-alih menjawab pertanyaan Alvin, Michelle malah terisak. Alvin menghela napas, kembali mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi putih Michelle.
"Kenapa nangis?"
"Terharu," jawab Michelle. "Kak Alvin khawatir sama Michelle? Michelle nggak mimpi, kan?"
Alvin terdiam, ternyata itu yang membuat Michelle menangis. Ia kira bekas merah di pipi cewek itu terasa perih lagi.
"Michelle seneng banget Kak Alvin tanya kayak gitu, Michelle nggak kenapa-napa kok, makasih ya udah khawatir." Michelle mengusap kasar air mata di pipinya, lalu menarik kedua ujung bibirnya.
"Lihat, Michelle nggak kenapa-napa kan?" tanyanya, lalu meringis. Pipinya langsung terasa perih karena tersenyum terlalu lebar.
Alvin tertegun menatap Michelle yang masih berusaha tersenyum, cowok itu mengangguk pelan. Alvin mengeluarkan jaket di tasnya, lalu meletakkannya di atas tubuh Michelle setelah menyingkirkan kemeja putih yang semula menyelimuti cewek itu.
"Ayo, gue anter pulang."
Michelle langsung menggeleng. "Nanti kalau Tante Rita lihat Michelle begini, Kak Alvin yang bakal dimarahin. Nggak mau," ujarnya.
Alvin menatap Michelle. "Biarin, emang gue yang salah." Cowok itu membantu Michelle beranjak dan turun. "Harusnya gue jagain lo selama di sekolah, maaf, gue lalai."
Michelle tertegun, kedua matanya kembali memanas, tapi kali ini Michelle memilih tersenyum daripada menangis. Ia sangat bahagia mendengar kata-kata yang diucapkan Alvin, bukankah itu berarti Alvin memang masih peduli padanya?
"Terima kasih Kak Alvin, udah khawatirin Michelle." Alvin hanya mengangguk, lalu keduanya keluar dari UKS dengan Alvin yang membantu Michelle berjalan pelan.
Sementara di brankar sebelah yang hanya berbatas tirai hijau, Devis membuka kedua kelopak matanya. Ia sudah berada di sana sejak tadi, karena Devis yang menggendong Michelle sampai UKS.
Devis terdiam mendengar obrolan antara Michelle dan Alvin, ia bisa mendengar ketulusan di setiap kata yang cewek itu ucapkan. Yang membuat Devis semakin penasaran adalah jawaban Alvin, walau singkat, jelas sekali ada nada khawatir dan tulus dalam perkataan cowok itu. Dan Alvin tidak pernah melakukannya selain pada Nara, pacarnya.
"Lo siapanya Alvin sih?"