Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adegan Itu Sempurna Sekali!
"Tapi saya di sini bertindak sebagai seorang aktris yang dibayar untuk menjalankan instruksi sutradara, bukan untuk mundur dari gertakan lawan main. Jika Mbak Clarissa ingin membuat adegan kita terasa sangat nyata, silakan lakukan. Saya akan meresponsnya dengan akting terbaik yang saya miliki. Saya harap profesionalitas Mbak sebagai aktris utama juga setinggi reputasi yang Mbak bawa." ujar Alina.
Mata Clarissa seketika membelalak lebar. Dia tidak menyangka bahwa ancamannya justru dibalas dengan ketenangan yang sebegitu matangnya dari seorang aktris pendukung kecil.
"Kamu... kamu benar-benar tidak tahu diri ya, Alina!" seru Clarissa, wajah cantiknya mendadak memerah karena murka.
"Kita lihat seberapa tahan kamu saat kamera mulai menyala nanti!" serunya dengan marah dan kesal.
"Saya permisi kembali ke lokasi, Mbak. Sutradara sebentar lagi akan memulai briefing." pamit Alina dengan bungkukan badan yang sangat sopan sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan VIP itu tanpa cela.
Pukul sepuluh pagi tepat, proses pengambilan gambar untuk Scene 7 siap dimulai di ruang tamu utama. Lampu lighting berdaya tinggi menyinari area karpet merah, sementara puluhan kru berdiri mengelilingi set dengan peralatan kamera yang siap merekam dari berbagai sudut.
"Semua siap? Kamera satu standby, kamera dua zoom in!" teriak sutradara dari balik monitor monitor utama.
"Scene 7, Take 1... Action!" teriak sang sutradara lagi memulai proses syuting.
Alina, yang sudah sepenuhnya melebur ke dalam karakter Siti, melangkah masuk ke dalam set sembari membawa nampan kayu berisi sebuah cangkir teh hangat dan map dokumen. Wajahnya menggambarkan kepatuhan dan ketakutan khas seorang pelayan rumah tangga yang diintimidasi.
"Ini... ini dokumen yang Nyonya minta," ucap Alina dengan suara yang bergetar sesuai tuntutan naskah. Dia meletakkan nampan tersebut di atas meja kaca di depan Clarissa.
Clarissa, yang duduk bersilang kaki di atas sofa mewah, menyambar dokumen itu. Dia membukanya secara kasar, lalu berpura-pura terkejut sebelum membanting folder tersebut tepat ke dada Alina.
Brak!
"Bodoh!" teriak Clarissa dengan suara yang sangat keras melebihi instruksi dalam skenario.
"Aku kan minta laporan keuangan bulan lalu, kenapa kamu malah bawa laporan inventaris?! Kamu punya otak tidak sih?!" teriaknya terus dengan marah.
Sesuai naskah, Alina harus menunduk meminta maaf. Namun, di luar dugaan semua orang, Clarissa tiba-tiba berdiri dan sengaja mengibaskan tangannya hingga menyenggol cangkir teh yang masih berisi cairan panas di atas nampan yang dipegang Alina.
Pyar!
Cangkir keramik itu jatuh berkeping-keping di atas lantai, dan cairan teh yang cukup panas menyiram bagian depan celemek serta mengenai jemari tangan kiri Alina. Rasa perih yang menyengat langsung menjalar di kulit halus Alina.
"Aww!" desis Alina spontan, namun dia tidak menghentikan adegannya.
Dia menahan rasa sakitnya, tetap bertahan dalam posisinya dengan napas yang memburu, menatap Clarissa dengan binar mata yang memancarkan rasa terluka namun penuh martabat yaitu sebuah ekspresi emosional yang luar biasa alami dan jujur untuk ukuran peran pendukung.
Kru di sekitar set seketika terdiam kaku. Naya yang berdiri di belakang monitor sutradara hampir saja menjerit melihat tangan Alina yang memerah disiram air panas secara sengaja oleh Clarissa.
"Maafkan saya, Nyonya... maafkan saya..." bisik Alina sesuai skenario, suaranya parau dan matanya berkaca-kaca, namun tatapan matanya yang tersembunyi tetap menghujam tepat ke arah Clarissa.
Sutradara yang berada di balik layar monitor tidak segera berteriak 'Cut'. Dia justru terpana melihat chemistry ketegangan yang tercipta di layar. Ekspresi ketakutan yang elegan dari Alina dan rasa perih yang nyata membuat adegan tersebut tampak sangat hidup dan berkualitas tinggi melebihi ekspektasinya.
"Dan... CUT!" teriak sutradara akhirnya, melompat dari kursinya dengan wajah puas.
"Luar biasa! Adegan itu sempurna sekali! Alina, ekspresi kesakitan dan matamu yang berkaca-kaca tadi real banget! Luar biasa!" serunya dengan senang karena mendapatkan adegan epik untuk adegan tersebut.
Clarissa yang tadinya berniat mempermalukan dan membuat Alina panik hingga merusak adegan, justru dibuat tertegun. Niat buruknya untuk menjebak Alina malah dimanfaatkan oleh Alina untuk mencuri perhatian sutradara melalui aktingnya yang sangat memukau.
Naya langsung berlari membawa handuk basah dan krim anti-luka bakar menuju ke arah Alina.
"Al! Tangan kamu merah banget! Perempuan gila itu sengaja, kan?!" seru Naya dengan kesal.
"Aku tidak apa-apa, Nay." bisik Alina menahan perih saat krim dioleskan ke jemarinya.
Dia melirik sekilas ke arah Clarissa yang kini sedang diserbu oleh asistennya dengan wajah bersungut-sungut karena rencananya gagal total.
Alina tersenyum tipis di balik rasa sakit pada tangannya. Hari pertama perang di lokasi syuting ini baru saja dimulai, dan dia telah membuktikan bahwa tidak ada satu pun intimidasi yang bisa memadamkan apinya untuk terus melangkah maju.
Matahari sore telah sepenuhnya tenggelam di balik ufuk barat ketika serangkaian proses pengambilan gambar untuk hari pertama akhirnya resmi diumumkan usai.
Riuh suara kru yang membereskan kabel, lampu studio, dan properti set beradu dengan helaan napas lega dari para pemain. Alina melangkah keluar dari area ganti pakaian dengan baju seragam pelayannya yang sudah berganti menjadi pakaian kasual yaitu sebuah kaus lengan panjang berwarna krem dan celana jins longgar.
Di balik lengan bajunya yang panjang, jemari dan punggung tangan kirinya dibungkus oleh perban putih tipis. Rasa panas menyengat bekas siraman teh panas tadi siang masih terus berdenyut memilu, mengarungi tiap celah saraf di tangannya.
Salep anti-luka bakar yang dioleskan Naya di ruang rias memang sedikit meredakan efek bakarnya, namun denyut nyerinya tetap tak bisa diabaikan begitu saja.
"Al, beneran kamu gak mau aku anter sampai depan pintu apartemen?" tanya Naya dengan raut wajah penuh cemas saat mereka berjalan berdampingan menuju gerbang luar rumah lokasi syuting.
"Gak usah, Nay. Kamu kan harus langsung ke kantor agensi buat urus berkas pemain lain," jawab Alina, memaksakan seulas senyum menenangkan meski wajahnya tampak sedikit pucat.
"Aku bisa naik taksi online. Lagipula, luka ini cuma melepuh sedikit kok, besok juga sudah mendingan." ujar Alina mencoba menenangkan Naya agar tidak perlu risau dan khawatir.
Naya menghela napas panjang, menatap tangan kiri Alina yang sengaja disembunyikan di dalam saku jaketnya.
"Clarissa itu beneran nenek sihir. Aku yakin banget dia sengaja nyiram kamu. Awas saja kalau besok dia makin keterlaluan di Scene 12, aku bakal laporin ke produser!" tegasnya kesal.
"Jangan, Nay. Jangan buat kegaduhan yang bisa bikin nama kita jelek di mata rumah produksi," cegah Alina lembut namun tegas.
"Kita sudah bertahan hari ini dengan baik. Itu yang paling penting." seru wanita itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣