BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Baru
Dion tidak pernah membiarkan sebuah kekalahan berlalu begitu saja tanpa pembalasan yang setimpal. Kemarin sore, saat ia sedang disetir pulang oleh sopir pribadinya melewati area depan sekolah, matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat rahangnya yang masih diperban mendadak berdenyut ngilu. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia melihat dengan sangat jelas bagaimana Revan menarik tubuh Rayyan dengan begitu panik, hingga cowok Mahendra itu menabrak dada Revan dengan erat demi menghindari motor yang melaju kencang.
Tatapan mata Revan yang penuh kecemasan dan napasnya yang memburu malam itu tidak luput dari analisis Dion. Sebuah kesempatan emas yang jauh lebih merusak daripada rumor hantu langsung tercipta di kepalanya. Jika Revan begitu bersikeras menjadi perisai bagi Rayyan, maka Dion akan mengubah perlindungan itu menjadi bahan olok-olok yang paling mematikan bagi ego seorang preman sekolah. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Dion untuk merancang serangan balik psikologis yang baru.
Keesokan harinya, seluruh sekolah dihebohkan dengan gosip baru yang berkali-kali lipat lebih menggemparkan daripada isu mistis kemarin. Koridor sekolah yang biasanya dipenuhi oleh obrolan seputar tugas matematika atau rencana akhir pekan, kini mendadak penuh dengan bisik-bisik yang sarat akan nada penasaran dan tawa tertahan.
Bukan lagi soal arwah penasaran, melainkan sebuah plot twist terbesar di SMA Mahardika High School yang menyebar seperti api disiram bensin melalui jaringan grup angkatan.
"Revan naksir Rayyan."
Kalimat singkat itu mendadak menjadi topik utama di setiap sudut kelas. Dua orang musuh bebuyutan yang selama dua tahun terakhir selalu terlibat dalam aksi baku hantam berdarah, kini dirumorkan memiliki ketertarikan tersembunyi. Bagi para siswa, perubahan sikap Revan yang mendadak protektif adalah bukti fisis yang tidak bisa dibantah lagi.
Di kantin belakang yang agak teduh, Rayyan sedang duduk di bangku panjang bersama Naomi dan Chelsea. Di genggaman tangan kanannya, ada sekotak susu stroberi dingin yang baru saja ia sedot setengah. Ia sempat merasa lega karena hari ini anak-anak tidak lagi menatapnya dengan pandangan takut seperti melihat hantu gentayangan. Namun, kelegaan itu langsung sirna saat Chelsea tiba-tiba menyodorkan layar ponselnya dengan senyuman yang sangat lebar.
Chelsea tertawa geli, bahunya naik turun menahan tawa yang hampir meledak. "Kayaknya bener, deh, Yan. Liat nih obrolan anak-anak di grup mading. Mereka semua lagi bahas aksi heroik si Revan kemarin sore pas lu nyaris ketabrak motor. Teori mereka liar banget, tapi kalau dipikir-pikir masuk akal juga."
Naomi ikut menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Rayyan dengan pandangan menggoda yang sangat menjengkelkan. "Makanya sekarang dia nempel terus sama lu. Ke kantin ada dia, ke perpustakaan tiba-tiba dia muncul di depan rak buku, bahkan pas pulang sekolah aja motornya selalu ngekor di belakang mobil lu. Lu gak ngerasa ada yang aneh apa?"
Uhuk! Sreeet!
Mendengar gosip gila itu keluar langsung dari mulut kedua temannya, Rayyan langsung menyembur sisa minuman susu stroberi di mulutnya ke arah lantai bawah meja. Ia tersedak hebat, dadanya naik turun dengan ritme panik sementara wajahnya memerah padam karena kombinasi antara rasa syok, malu, dan emosi yang campur aduk menjadi satu.
"Hah?!" pekik Rayyan dengan suara yang agak melengking, buru-buru menyambar selembar tisu untuk menyeka bibirnya yang basah. "Lu berdua gila ya?! Gosip sampah macam apa lagi ini? Gue sama Revan itu musuh bebuyutan! Dia tuh cuma... cuma lagi nyari perkara baru aja buat bikin gue kesel!"
"Tapi buktinya dia kemarin meluk lu pas nyaris ketabrak," goda Naomi lagi, semakin gencar menaikkan intensitas ejekannya yang membuat Rayyan semakin salah tingkah.
Sementara itu, di sisi lain sekolah tepatnya di sudut lapangan basket indoor yang agak temaram terasa sangat kaku. Revan sedang duduk bersandar di bangku pemain cadangan, dengan satu kaki diangkat ke atas lututnya. Kevin, Axel, dan Darren berdiri tidak jauh dari sana, sesekali melirik ke arah ketua geng mereka dengan tatapan mata yang sarat akan rasa penasaran namun takut untuk bertanya langsung.
Revan sendiri tampak sama sekali tidak terganggu dengan keheningan yang canggung itu. Ia hanya memutar bola basket di jarinya sambil pura-pura tidak peduli dengan kasak-kusuk yang sejak pagi tadi menggema di seluruh penjuru sekolah. Bola jingga itu berputar dengan sangat mulus di ujung telunjuk kanannya, menciptakan suara gesekan halus di udara. Tatapan mata gelapnya lurus ke depan, dingin, dan sedingin es seperti biasanya.
Namun, pertahanan fisis Revan tidak sesempurna ekspresi wajah datarnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, debaran jantungnya bergejolak hebat menahan rasa kesal dan sesuatu yang asing. Padahal, jika ada orang yang jeli melihat dari arah belakang, kedua daun telinganya memerah padam di bawah sorotan lampu lapangan, menjadi satu-satunya bukti nyata bahwa gosip baru ciptaan Dion telah berhasil menembus pertahanan sang penguasa sekolah.