NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : PINTU DI BALIK LUMUT

Langkah mereka terasa berat menembus Hutan Wana Kelor.

Udara dingin menusuk sampai ke tulang. Bau tanah basah bercampur dengan sisa daun yang mulai membusuk dan lumut yang menempel di batang pohon tua.

Bahu kanan Bayu semakin berdenyut. Nyeri menjalar sampai ke tulang belikat dan punggung. Seolah ada urat yang tertarik dari dalam. Ia terus memaksakan diri untuk melangkah. Tangan kanannya menekan luka agar darah cepat berhenti. Sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Karta. Ia takut terpisah di tengah rimbunnya pepohonan yang begitu rapat hingga menutupi cahaya matahari.

“Kang.., kita sudah berjalan jauh masuk ke dalam. Apa kita sudah aman dari kejaran mereka?” tanya Karta.

Suaranya lirih. Matanya terus melirik segala arah. Waspada terhadap setiap suara dan gerakan yang datang dari balik semak atau celah pohon.

Bayu berhenti sebentar. Napasnya terpatah patah karena menahan sakit. Ia menoleh ke belakang. Gelap. Tidak ada nyala obor dan langkah prajurit Kadipaten.

“Sudah cukup jauh dari jalan utama,” jawabnya.

 “Prajurit Kadipaten jarang ada yang berani masuk ke bagian dalam. Orang-orang tua bilang tempat ini angker. Banyak binatang buas. Dan jalannya mudah tersesat.”

Bayu menarik napas. Dadanya terasa sesak.

“Kita istirahat sebentar sambil memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.”

Karta mengangguk. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak mengeluh. Sejak kecil ia sangat terbiasa hidup di pinggir hutan. Ia tahu cara membaca bahaya.

Mereka kembali mendaki. Lereng di depan makin curam dan licin. Akar pohon menjulur seperti tali yang siap menjerat. Beberapa kali Karta hampir terpeleset. Bayu menariknya agar tidak terperosok.

Setelah cukup lama berjalan, di antara rimbunnya pepohonan terlihat celah yang cukup besar. Batu itu menjorok ke dalam, membentuk rongga alami yang bisa melindungi dari hujan dan angin kencang.

Itulah mulut gua di Bukit Cijambe. Tempat yang jarang diketahui. Jalannya sangat sulit untuk dilalui.

Gelap menyelimuti hampir seluruh isi gua. Udara di dalam jauh lebih lembab dan dingin, menusuk kulit yang sudah basah oleh keringat dan embun.

Bau yang tercium begitu khas dan menyengat. Campuran lumut tebal yang tumbuh menempel di dinding gua. Tanah basah selama bertahun-tahun. Serta bau tajam kotoran kelelawar yang menumpuk di sudut-sudut gua.

Suara air menetes dari langit-langit gua. Tik. Tik. Tik. Berirama menambah kesan sunyi dan terasing.

Karta menggigil. “Tiris, Kang.”

Bayu tidak menjawab. Ia mencari tempat untuk duduk.

Karta segera bergerak. Meski lelah dan napasnya masih terengah, gerakannya lincah. Sebagai anak yang sering berkeliaran di pinggir hutan sejak kecil, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Ia berjalan mengitari bagian depan gua. Mengumpulkan ranting-ranting kecil yang masih kering. Daun-daun gugur yang sudah layu dan serabut kulit pohon yang mudah terbakar.

Dari saku kecil di pinggangnya ia mengeluarkan sepotong batu api dan sebatang besi pipih. Bekal yang selalu ia bawa saat berjalan jauh.

Dengan gerakan terlatih ia menggesekkan keduanya.

Trak,...trak.....trak

Percikan api meloncat. Jatuh tepat di atas tumpukan serabut kering. Asap tipis mengepul menandakan api mulai menyala. Perlahan membesar, memancarkan cahaya kuning keemasan yang menerangi sekeliling gua. Udara pun mulai terasa hangat.

“Duduklah di sini, Kang. Dekat api biar tubuhmu tidak menggigil,” kata Karta. Ia menata alas dari tumpukan daun kering yang cukup tebal dan lembut.

Bayu duduk perlahan dan hati-hati. Ia menjaga posisi bahu kanannya agar tidak tertekan. Namun sia-sia. Begitu ia duduk, rasa sakit itu kembali menyerang.

Setiap kali jantungnya berdetak, luka di bahu berdenyut. Serasa ada paku yang menusuk ke dalam daging sampai tulang dan menjalar ke seluruh lengan.

Darah yang mulai kering dan mengeras di permukaan baju. Membentuk lapisan cokelat gelap yang kaku dan perih setiap kali ia menggerakkan tubuh.

Karta mengambil tempayan kulit kecil yang masih menyisakan sedikit air minum. Lalu merobek ujung bajunya sendiri yang masih bersih.

Ia mencelupkan kain ke dalam air. Memerasnya perlahan sampai tidak terlalu basah.

Selanjutnya berjalan ke pinggiran gua yang masih terkena cahaya api. Mencari beberapa jenis daun Kipahit yang sering tumbuh di tempat lembab.

“Daun apa itu?” tanya Bayu.

“Daun yang Mbah Suryanata ajarkan,” jawab Karta.

 “Bisa menghentikan pendarahan dan mengurangi panas pada luka.”

Karta meremas daun itu sampai keluar cairan lengket dan berwarna hijau pucat dan ia oleskan merata ke atas kain basah.

“Sabar ya, Kang. Mungkin akan terasa sedikit perih saat pertama kali ditempelkan.”

Tanpa menunggu jawaban, Karta mendekat dengan hati-hati agar tidak menyenggol bahu Bayu lalu menempelkan kain itu ke luka yang terbuka.

Rasa perih yang menyengat langsung menjalar. Seperti disiram air panas. Bayu menggeretakkan gigi. Keringat dingin mengucur di pelipis.

Karta meniup pelan di atas luka. “Sebentar lagi akan terasa dingin, Kang.”

Rasa perih berubah menjadi sensasi dingin yang menenangkan. Denyutan nyeri mulai berkurang.

Karta melilitkan kain itu dengan rapat. Mengikatnya di punggung dan ketiak agar tetap menempel kuat tanpa menghambat napas.

Mereka duduk berdua dalam keheningan penuh ke bingungan dan rasa putuh asa yang menyertai. Hanya ditemani suara gemertak kayu yang terbakar dan tetesan air yang turun dari celah celah goa.

Bayu menatap kobaran api yang menari-nari di depannya. Pikrannya melayang. Ia membayangkan kembali kampung yang terbakar. Teriakan warga yang meminta tolong. Dan tatapan angkuh Jaka Wiradipa. Seolah merasa berhak melakukan apa saja.

Di dadanya bercampur rasa marah, sedih, dan rasa tak berdaya yang sangat dalam.

“Kang lagi mikirin Ibu ya,” ujar Karta pelan.

Bayu mengangguk. “Dan mikirin kita. Mau kemana setelah ini.”

“Kita cari tempat aman dulu. Baru mikir balas dendam.”

Bayu menatap adiknya. Anak 13 tahun itu bicara seolah sudah mengerti dunia.

“Kau jangan terlalu cepat dewasa, karta.”

“Terpaksa, Kang.”

Ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Dari dalam gua terdengar suara kepakan sayap ribuan kelelawar yang selama ini bersembunyi diam di celah langit-langit gua. Cahaya dan panas api membuat mereka terkejut dan terbang ke segala arah mencari jalan keluar.

Tubuh-tubuh kecil itu melesat cepat. Menimbulkan hembusan angin yang menerpa wajah.

“Hati-hati! Mereka panik!” seru Karta. Dengan sebatang ranting, Karta mencoba mengusir kawanan kelelawar yang berlarian mencari jalan keluar.

Salah satu cakar kelelawar tersangkut di sela sela rambut dan membuat goresan yang terasa perih di kepala.

Karta tanpa sengaja menginjak lumut membuat tubuhnya terhuyung mundur mendorong Bayu yang sedang bersandar di dinding goa.

Tubuhnya yang masih lemah terguncang. Siku kanannya tanpa sengaja mendorong dinding batu di belakangnya dengan kuat.

KREEEK…

Suara gesekan batu terdengar jelas. Bukan gesekan batu biasa. Lebih seperti tulang tua dan kering yang dipatahkan dengan perlahan. Suaranya dalam. Kering. Dan terdengar Aneh.

Keduanya langsung membeku. Napas mereka tertahan melihat sesuatu di dinding goa.

Bayu merasakan bagian dinding yang tersenggol itu berbeda. Permukaannya lebih halus dan tertutup lapisan lumut tipis.

Sebuah celah sempit setinggi orang dewasa mulai terbuka.

Dari balik celah keluar udara yang jauh lebih sejuk dan segar. Berbeda dengan udara di dalam goa utama. Tidak ada lagi bau lumut atau kotoran hewan. Tercium aroma kayu tua yang bercampur dengan bau debu. Seperti bau tanah yang telah tertidur selama ratusan tahun tanpa pernah terjamah siapapun.

“Kang! Lihat ini! Dindingnya bergerak!” seru Karta. Matanya terbelalak lebar.

Bayu menggeser posisi tubuhnya perlahan seakan melupakan rasa sakit di bahunya.

Udara dingin dari balik celah menyentuh luka,tapi kali ini ia tidak merasakan perih.

Yang ia rasakan hanya getaran halus. Merambat masuk sampai ke tulang sumsum. Seolah ada sesuatu yang sudah lama menunggu dan kini memanggil namanya lagi. Lebih jelas. Lebih dekat. Lebih kuat dari panggilan Karta meninggalkan kampung.

Ia mengangkat tangannya yang masih gemetar dan menempelkan telapak tangan ke permukaan batu di depan celah.

Dengan hati-hati ia mendorongnya perlahan.

KREEEKK...

Suara gesekan terdengar lagi. Lebih panjang dan nyaring. Pintu batu bergeser semakin lebar. Membuka ruang yang cukup luas untuk jalan masuk mereka berdua.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya, cahaya api menerobos masuk.

Dan pemandangan di dalamnya membuat keduanya tertegun. Tak mampu berkata-kata.

Di balik dinding batu itu tersembunyi sebuah ruangan. Terlihat rapi dan bersih dari lumut dan kotoran kelelawar.

Hanya tertutup lapisan debu sebagai penanda tempat ini tidak pernah dimasuki siapa pun selama berabad-abad.

Udara di dalam terasa tenang dan sunyi. Seolah waktu berhenti sementara di ruangan ini.

Bayu melangkah masuk. Debu beterbangan mengiringi setiap langkahnya.

Rasa lelah. Rasa sakit. Seolah pergi begitu saja.

Di tengah keputusasaan, kehancuran, dan ketakutan yang baru saja mereka alami... sebuah pintu tersembunyi di balik lumut dan waktu, baru saja terbuka.

Membawa misteri yang tak terduga.

Harapan yang mulai tumbuh kembali.

Dan mungkin... sebuah takdir yang telah lama menunggu untuk dipenuhi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!