Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 28
"Kamu kenapa, Tika kenapa dari tadi diam saja?"
"Aku nggak apa-apa kok darling cuma sedikit sedih aja. Sedikit nggak banyak jadi jangan dipikirin."
"Bagaimana tidak memikirkannya jika hal itu membuatmu bersedih. Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"
"Aku hanya teringat teman-temanku. Ibu aja yang udah menua masih kangen sama teman dan tetangganya apalagi aku yang masih baru lulus sekolah. Pastinya banyak teman kan? Atauuu aku emang nggak punya teman ya, Darling?" Antika menunduk.
Aldri membalikkan tubuh Antika. Mereka kini saling berhadapan. Aldri memegang dagu Antika dan menatap kedua bola matanya.
"Maaf, Tika. Selama ini aku terlalu sibuk bekerja sampai-sampai tidak peduli dengan pergaulanmu bersama temanmu. Bagiku kalian berdua sudah cukup. Bersama Ibu Dan Kamu di rumah ketika badan sudah lelah pulang kerja. Sambutan kalian adalah segalanya."
"Aku sama sekali tidak mengenal teman-temanmu sayang. Maaf. Maafkan aku yang egois ini."
"Nggak, Darling. Kamu nggak salah kok. Aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan mengingatnya. Jadi jangan pikirin lagi, ya." Antika memeluk suaminya dan menempelkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Apakah kamu bahagia hanya dengan seperti ini?"
"Hu um." Antika mengangguk masih dengan kepala yang bersandar di dada Aldri.
"Laluuu apa kamu suka dengan kado yang kuberikan?"
"Sebenarnya ada kado yang sangat aku inginkan. Dan itu selalu aku bayangin dalam mimpi."
Aldri melepas pelukannya dan menatap kedua mata Antika. "Kado apa itu? Apa pun yang kamu inginkan pasti akan aku penuhi.,"
"Benarkah?"
"Iya, Sayang."
"Janji Darling nggak akan marah?"
"Iya aku janji." Aldri tersenyum.
"Kalau begitu baiklah."
Antika bercincin dan menutup kedua matanya. Gadis mengecup bibir Aldri dengan lembut. Kedua bola mata Aldri membulat sempurna. Antika membuka mata mendapati Aldri yang masih terpaku. Gadis itu pun membeku. Ia khawatir perbuatannya akan membuat Aldri marah dan membencinya. Atau bahkan jijik padanya karena mempunyai pikiran seperti itu.
"Maaf, Darling."
Antika melepas genggaman tangannya di pinggang Aldri. Ia berusaha pergi. Akan tetapi tiba-tiba tangan Aldri meraihnya kembali. Aldri dengan segera mencium Antika. Kini gadis itu yang terkejut dengan apa yang sedang dirinya alami. Pikiran nya masih memproses dan memastikan saat semuanya bukanlah mimpi. Namun setelah beberapa menit gadis itu mulai membalas kecupan sang suami.
Keduanya sangat menikmati momen ini. Pertemuan antara kedua bibir sepasang suami istri memang terasa manis. Hubungan romantis yang sangat dicintai seluruh makhluk di muka bumi.
Sepasang suami istri itu tak hentinya menyesat manisnya surga dunia hingga napas mereka tak beraturan. Sejenak keduanya melepaskan diri hanya untuk menghirup udara dan mengisi rongga paru-paru nya dengan udara. Aktivitas Aldri menginginkan lagi dan lagi. Akhirnya Antika yang tak mampu melanjutkan melepaskan diri dari Aldri.
"Tika "
Aldri mengucapkan kata-kata dengan suara yang parau. Pria itu terkejut karena Antika tiba-tiba menghentikan diri.
Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya menatap lekat wajah sang suami. Ia akhirnya membuka mulutnya dan memberanikan diri bertanya.
"Jadi darling nggak marah dan jijik sama aku kan?"
Antika bertanya dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia mencoba membuat nafasnya kembali teratur.
"Sayang apa yang kamu katakan? Kenapa aku harus marah? Apalagi jijik pada istriku sendiri."
Aldri membelai kening dan pipi Antika dengan kedua tangannya. Pandangan nya tertuju pada bibir Antika yang tampak sedikit membengkak. Ibu jarinya menyentuh bibir itu dengan lembut.
"Maafkan aku. Apa aku menyakitimu?"
Antika hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Tidakkah Aldri menyadari hanya dengan sentuhan di bibir Antika bisa membuat jantung gadis mungil itu berdebar kencang. Tubuhnya terasa memanas.
Duh Gusti nggak bisa begini terus. Bisa-bisa jantungku copot ini. Tapi..... aku beneran bahagia malam ini. Ternyata suamiku nggak marah padaku karena lancang menciumnya.
Tak tahan dengan sentuhan Aldri. Antika memilih beralih memeluknya. Pria itupun membalas pelukan tersebut.
"Sudah malam kita sholat jamaah dulu baru tidur ya?"
"Eum." Antika mengangguk. Suaranya yang manja membuat Aldri merasa gemas. Dengan terpaksa ia melepas pelukan istrinya lalu mencubit hidung mancungnya.
Aldri bergegas menuju kamar mandi sebelum dirinya makin lupa diri. Keduanya melaksanakan ibadah sholat Isya kemudian berangkat menuju alam mimpi dengan saling berpelukan.
Di salah satu hotel ternama di Surabaya.
Anggara sama sekali tak dapat memejamkan mata. Hatinya hancur mendapati kenyataan sang kekasih pindah tanpa memberinya kabar. Bahkan nyawanya hampir melayang karenanya. Anggara menggelengkan kepalanya menepis pikiran buruk yang bersarang dalam otaknya. Ia menyadari semua karena takdir bukan karena Antika.
Anggara mencoba menutup kelopak matanya. Akan tetapi semua sia-sia. Dirinya masih terjaga hingga tengah malam. Bahkan obat dari dokter yang biasanya membuat kantuk datang tiba-tiba, tetapi saat ini seolah-olah tak ada efek yang bekerja.
"Tika kamu di mana, Sayang?" Anggara mengucapkan kata-kata sambil memandang langit-langit kamar tidurnya.
Sebenarnya apa alasan kamu memutuskan pindah dan nggak memberi kabar? Apa aku ada salah? Tapi apa? Tika aku kangen banget sama kamu. Moga saja kita akan segera ketemu.
Pagi hari di Jakarta.
Hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Antika menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut dan memeluk erat tubuh Aldri. Aldri pun membalas pelukan itu. Sungguh nyaman dan hangat. Cuaca dingin membuat keduanya enggan membuka mata dan segera bangun. Adzan shubuh yang menjelang membuat keduanya memutuskan tidur sejenak lagi.
Setelah setengah jam berlalu akhirnya, Aldri yang memutuskan bangun terlebih dahulu. Ia bergegas ke kamar mandi dan menunaikan hajat yang rutin ia lakukan tiap pagi.
Antika terbangun ketika mendengar suara gemericik air. Tangan nya meraba sebelah kasurnya. Karena tak menemukan keberadaan sang suami. Antika pun membuka matanya. Ia lalu duduk dan mengucap kedua matanya.
Pipinya bersemu merah mengingat kejadian semalam. Antika menepuk - nepuk pelan kedua pipinya. Rupanya memang bukan mimpi. Antika tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan bantal.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Antika spontan memandang ke arah sumber suara. Bola mata Antika membulat sempurna ketika mendapati sang suami hanya memakai handuk di pinggang nya. Ia sempat melongo sejenak. Deheman Aldri membuat nya tersadar.
"Aaaagh! Darling kenapa nggak pakai baju, sih?" Antika kembali menutup wajahnya dengan bantal.
"Ah, iya maaf, Tika. Kebiasaan saat di kamar sendiri. Apa kamu mau setiap selesai mandi aku langsung pakai baju di dalam?"
Antika merasa egois. Bagaimanapun ini juga kamar Aldri. Toh, hanya mereka berdua yang tahu segalanya di kamar ini. Lagipula mereka juga sudah menikah bukan? Wajar saja untuk hal seperti ini. Antika perlahan membuka bantalnya.
"Eh, ng- nggak kok. Nggak apa-apa. Nggak perlu, Darling." Antika menghembuskan nafas. "Maaf ya. Aku hanya belum terbiasa dengan mu begini." Antika menunduk.