Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Melihat sekelompok pria bertopeng yang mengincar Mei Yin membuat Lian segera menghunuskan pedangnya. Dengan gerakan yang secepat kilat, Lian mulai melompat dari atas kudanya dan menghadapi sekelompok orang itu.
"Tetaplah di belakangku, jangan khawatir aku akan menghadapi mereka," ucap Lian pada Mei Yin yang mulai terlihat panik.
Dengan lincahnya, Lian mulai menghunuskan pedangnya satu persatu ke arah orang-orang itu. Walau sendirian, Lian mampu mengimbangi mereka dan berhasil membunuh beberapa orang dari mereka.
"Cepat!! Bunuh wanita itu!!" teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Mei Yin. Mendengar perintah itu, beberapa orang dari mereka kemudian berlari ke arah Mei Yin dan mulai menyerangnya.
Melihat Mei Yin yang akan diserang membuat Lian segera memutar badan dan menangkis pedang yang mengarah ke tubuh gadis itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lian pada Mei Yin yang sudah berdiri di belakangnya.
"Aku tidak apa-apa. Berhati-hatilah, aku tidak ingin kamu terluka," ucap Mei Yin dengan perasaan khawatir.
"Jangan khawatir, tetaplah di belakangku." Lian kemudian maju dan mulai bertarung dengan mereka. Suara dentingan pedang memecah kesunyian di tengah hutan.
Sekelompok orang bertopeng yang berjumlah hampir lima belas orang itu lumayan kelabakan menghadapi Lian. Mereka tidak berpikir kalau gadis yang menjadi incaran mereka itu ternyata mempunyai seorang pengawal yang cukup tangguh.
Lian yang hanya seorang diri, mau tidak mau harus menghadapi orang-orang itu. Dia tidak menyangka kalau Mei Yin yang menjadi target pembunuhan mereka. "Kalau aku harus mati untuk melindungimu, aku rela," batin Lian yang masih bertarung sekuat tenaga.
Pertarungan yang tidak seimbang itu cukup menguras tenaga. Orang-orang itu terlihat seperti sudah terlatih hingga Lian cukup kewalahan menghadapi beberapa di antara mereka. Sementara itu, ada salah seorang di antara orang-orang itu yang hanya memperhatikan mereka bertarung tanpa melakukan apapun.
Sementara Lian sedang bertarung, lelaki itu mulai mengangkat busur dan mengarahkan anak panah ke arah Mei Yin. Melihat itu, Lian kemudian berlari ke arah Mei Yin dan dan melindungi tubuh gadis itu dengan tubuhnya. Perlahan, anak panah melayang dan menancap di lengan pemuda itu.
"Lian!!" pekik Mei Yin ketika melihat lengan kekasihnya yang sudah mengucurkan darah segar.
"Cepat!! Naiklah ke atas kuda!!" perintah Lian.
"Tidak, aku tidak akan pergi tanpamu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu seperti ini," ucap Mei Yin dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Tanpa berpikir panjang, Lian kemudian menaikan tubuh Mei Yin ke atas punggung kuda dan menepuk punggung kuda itu. "Tunggu aku di sana, aku pasti akan datang menemuimu!!" teriak Lian ketika kuda itu mulai berlari meninggalkannya.
"Cepat!! Kejar wanita itu!!" Perintah lelaki yang tadi memanahnya.
"Jangan harap kalian bisa lolos dari tempat ini!!" pekik Lian sambil berlari ke arah tiga orang lelaki yang ingin mengejar Mei Yin dengan wajah yang menyeringai. Wajah teduhnya perlahan berubah bagaikan seorang pembunuh. Dengan gerakan yang terlihat membabi buta, Lian mulai menghunuskan pedangnya dan menghalau langkah mereka.
"Kalian bertiga hadapi dia, biar aku yang akan menghabisi wanita itu!!" ucap pemimpinnya sambil melompat ke atas kuda dan pergi mengejar Mei Yin.
"Tidak akan aku biarkan!!" pekik Lian yang terlihat semakin marah dan mulai menghantam ketiga orang itu dengan pedangnya hingga membuat ketiga orag itu tersungkur dengan luka tebasan di punggung mereka.
Dengan menaiki salah satu kuda yang tadi ditunggangi orang-orang itu, Lian kemudian mengejar lelaki yang sedang mengejar Mei Yin.
"Aku mohon tetaplah hidup, tunggu aku," gumam Lian yang terus memacu kudanya dengan cepat. Walau darah segar mengucur dari lengannya, tidak membuat dia bergeming.
Mei Yin masih berlari di depan dengan perasaan was-was karena mengkhawatirkan Lian. Sementara di belakangnya, terlihat lelaki bertopeng itu sedang mengejarnya. Hanya berjarak beberapa meter, lelaki itu kemudian mengangkat busur dan mulai mengarahkannya ke arah Mei Yin.
Lian yang berada di belakang laki-laki itu kemudian menepuk-nepuk punggung kudanya agar berlari lebih cepat, hingga akhirnya dia bisa mendekati lelaki itu dan segera melompat ke arahnya. Mereka berdua terjatuh ke tanah. Anak panah yang sempat diarahkan ke tubuh Mei Yin, terlihat melesat dan menyerempet lengannya yang perlahan mengeluarkan darah. Mei Yin yang merasa kesakitan terpaksa menghentikan laju kudanya. Sambil memegang lengannya yang berdarah, Mei Yin kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Lian yang sedang bertarung dengan lelaki bertopeng itu.
Melihat darah yang mengucur dari lengan Mei Yin membuat Lian semakin marah. Dia tidak peduli lagi dengan lengannya yang terasa sakit. Sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit karena melihat orang yang sangat dicintainya itu kesakitan.
Lian yang semakin marah mengambil sebuah batu yang tergeletak di atas tanah saat mereka sedang bergumul. Dengan sekuat tenaga, Lian menghempaskan batu ke arah kepala lelaki bertopeng itu, tapi lelaki itu sempat menangkis dengan busur yang masih dipegangnya.
"Siapa yang menyuruhmu, hah?" tanya Lian dengan emosi pada lelaki itu. Lelaki itu hanya menyeringai, topeng yang tadi dipakainya sudah terlepas dari wajahnya.
"Kenapa? Gadis itu hanya seorang *******, apa pantas kamu melindungi gadis seperti itu?" ucap laki-laki itu yang membuat Lian semakin marah. Lian kemudian mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah laki-laki itu.
"Akan aku potong lidahmu itu!!" ucap Lian sambil menghunuskan pedangnya ke arah laki-laki itu, tapi tidak mengenainya. Dengan gesit, laki-laki itu mulai melakukan gerakan menghindar.
Melihat Lian yang cepat emosi karena kata-katanya yang menghina Mei Yin, membuat laki-laki itu terus memprofokasinya dengan kata-kata hinaan yang membuat Lian semakin membabi buta.
"Lian, jangan pedulikan kata-katanya," teriak Mei Yin yang mencoba menenangkan Lian. Lian sadar, kalau emosinya hanya akan membuat dia semakin lelah karena tidak fokus pada gerakannya yang mudah ditebak lawan.
"Bicaralah sepuasmu karena aku tidak akan peduli, matilah!!" teriak Lian sambil mendorong laki-laki itu ke belakang hingga tersandar ke sebuah pohon dengan pedang yang menusuk di perutnya. Lian kemudian menarik kembali pedang itu dan menebas batang leher laki-laki itu hingga terlepas dari tubuhnya.
Lian termundur ke belakang beberapa langkah. Perlahan, dia terduduk dengan sebuah pisau yang sudah menancap di perutnya.
"Lian, kamu tidak apa-apa?" teriak Mei Yin yang segera berlari ke arahnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat darah segar keluar dari perut Lian. Rupanya, saat Lian menghunuskan pedangnya ke perut laki-laki itu, saat itu juga laki-laki itu meraih sebilah pisau yang dia sematkan di sela-sela sepatunya dan menancapkan pisau itu ke perut Lian.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lian yang masih sempat mengkhawatirkan keadaan Mei Yin.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku," ucapnya dengan tangis yang mulai terdengar.
"Bertahanlah, aku akan mengobatimu." Mei Yin kemudian merobek bagian bawah bajunya dan membalut luka di perut Lian yang masih mengeluarkan darah segar. Setelah itu, Mei Yin menarik tubuh Lian yang mulai tidak bertenaga dan menyandarkannya di batang pohon.
"Tunggu di sini, aku akan mencari tanaman obat untuk mengobati lukamu itu," ucap Mei Yin sambil berdiri, tapi langkahnya terhenti karena tangan Lian tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.
"Tetaplah di sini. Aku tidak ingin kamu pergi dari sini," ucap Lian pelan.
Mei Yin menggenggam tangan Lian dengan erat dan menciumnya. "Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Kita akan pergi dari sini dan membangun rumah di padang bunga, kamu ingatkan dengan janjimu itu?" ucap Mei Yin dengan air mata yang coba dia tahan.
Lian mengangguk pelan dan melepaskan genggaman tangannya. Mei Yin kemudian berlari kecil mencari tanaman obat untuk mengobati luka pendarahan di perut Lian. "Bertahanlah, aku mohon," batin Mei Yin sambil pergi meninggalkan Lian.
Tak lama kemudian, Mei Yin sudah kembali dengan membawa beberapa tanaman obat di tangannya. Dengan cekatan, Mei Yin mulai menumbuk daun-daun itu hingga halus dan menempelkannya ke perut Lian dan mengikatnya dengan kain.
Lian yang setengah tersadar hanya bisa melihat Mei Yin dengan pandangan yang mulai samar, hingga dia benar-benar tidak sadarkan diri.
Melihat Lian yang jatuh pingsan membuat Mei Yin semakin khawatir. Dilihatnya kembali disekelilingnya dan mendapati tanaman ubi yang bisa dimakan. Dia kemudian mencabut ubi tersebut dan mengumpulkannya di atas daun.
Mei Yin kemudian mengambil ranting-ranting kering dan mengumpulkannya. Untung saja tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah sungai. Tanpa memikirkan lengannya yang juga terluka, Mei Yin kemudian berlari ke sungai itu dan membawa air dengan botol yang didapatnya dari jasad laki-laki itu.
Selang beberapa jam kemudian, Lian mulai tersadar dan memandangi Mei Yin yang sedang membakar ubi di api unggun yang sudah dibuatnya.
"Berbaringlah, kamu jangan bergerak dulu," ucap Mei Yin sambil mendekati Lian dan segera memangku kepalanya.
"Minumlah, kamu pasti haus." Mei Yin kemudian meminumkan air ke mulut Lian yang terlihat kering dan pucat.
"Bagaimana dengan lenganmu?" tanya Lian pelan.
"Aku sudah mengobatinya. Aku juga sudah mengobati lukamu dan sebaiknya kamu beristirahat saja dulu, jangan banyak bergerak."
Lian tersenyum. Dia tidak menyangka masih bisa diberi kesempatan untuk bisa merasakan perhatian gadis itu lagi. Bahkan, saat pertarungan tadi dia sempat berpikir kalau mungkin saja dia akan terbunuh.
Mei Yin mengambil ubi yang sudah matang dan mulai menyuapi Lian. Dengan telaten, Mei Yin merawat luka-luka Lian dan juga lukanya. Hingga dua hari kemudian, Lian mulai bisa duduk. Luka tusukan di perutnya perlahan mulai membaik.
"Terima kasih karena sudah merawatku," ucap Lian yang masih duduk bersandar di batang pohon.
Mei Yin kemudian mendekati Lian dan duduk di sampingnya. Dengan mesra, Mei Yin meraih tangan kekasihnya itu dan kemudian menciumnya. "Terima kasih karena kamu masih hidup. Hiduplah lebih lama, karena aku tidak tahu akan kemana jika kamu pergi meninggalkanku," ucap Mei Yin dengan air mata yang jatuh di pipinya. Melihat Mei Yin menangis membuat Lian segera menghapus air mata gadis itu.
Sudah tiga hari Lian terbaring. Setelah kondisinya sudah mulai membaik, Lian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. "Sebaiknya kita pergi dari sini, aku sudah muak melihat bangkai yang sudah mulai membusuk itu," ucapnya sambil memandangi jasad laki-laki tanpa kepala itu.
Setelah dibujuk oleh Lian, Mei Yin akhirnya setuju untuk pergi dari tempat itu walau sebenarnya dia tidak ingin karena khawatir dengan kondisi Lian. Akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke padang bunga yang sudah tidak terlalu jauh.
Hampir tiga jam mereka melakukan perjalanan, hingga hamparan padang bunga terlihat di depan mereka. Mei Yin tersenyum karena mereka akhirnya bisa tiba di tempat itu. Namun, senyumannya itu berubah ketika melihat tubuh Lian yang tiba-tiba terjatuh dari atas kuda.
"Kamu kenapa?" tanya Mei Yin panik ketika melihat wajah Lian yang mulai membiru. Bukan hanya itu, tiba-tiba saja Lian memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Sontak saja Mei Yin semakin panik melihat Lian yang sudah penuh dengan darah.
"Obati lukamu. Sepertinya, panah dan pisau itu telah dibubuhi racun," ucap Lian pelan yang membuat Mei Yin tidak percaya.
"Tidak mungkin. Kamu akan baik-baik saja. Lian, kita sudah sampai di padang bunga. Kita akan membangun rumah di sini. Kita akan hidup dengan anak-anak kita di sini," ucap Mei Yin dengan tangis yang kian menjadi.
Lian meneteskan air matanya dan menatap Mei Yin dengan pasrah. Dia tahu, hidupnya tidak akan lama lagi, tapi setidaknya dia bisa melindungi gadis itu walau kebersamaan mereka harus berakhir seperti ini.
"Mei Yin, jaga dirimu baik-baik. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku untuk tinggal bersamamu di tempat ini. Aku mohon, kuburlah jasadku di sini agar arwahku bisa tenang." Lian kembali memuntahkan darah hitam yang membuat dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Lian, aku mohon bertahanlah. Aku akan mencari obat untukmu," ucap Mei Yin sambil berdiri, tapi langkahnya terhenti karena tangan Lian yang tidak ingin melepaskan tangannya.
"Tetaplah di sini. Temani aku karena tubuhku terasa dingin," ucap Lian yang terlihat menggigil walau sebenarnya tubuhnya sepanas api.
Mei Yin menuruti permintaan Lian. Diangkatnya tubuh Lian dan menyandarkannya di tubuhnya sambil duduk bersandar di sebuah batu. Hari yang mulai malam terlihat begitu indah di tempat itu. Langit hitam yang bertabur bintang dengan cahaya bulan purnama di malam itu terlihat sangat indah.
"Mei Yin, kamu harus kuat seperti bintang-bintang itu. Walau terlihat kecil, tapi cahayanya tidak kalah indah dengan cahaya bulan yang besar," ucap Lian yang membuat Mei Yin menahan tangis.
"Berhati-hatilah. Ada orang yang ingin membunuhmu. Jangan cepat percaya pada siapapun dan aku membolehkanmu untuk membuka penutup wajahmu itu," ucap Lian dengan air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.
Mei Yin hanya mengangguk dan mencoba menahan tangis. Digenggamnya tangan Lian yang mulai terasa dingin dan memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. "Aku mencintaimu dan selamanya akan selalu mencintaimu. Terima kasih karena sudah mencintaiku," ucap Mei Yin lembut di belakang telinga Lian yang membuat Lian menitikkan air mata dengan tangan yang mulai terlepas dari genggaman tangannya dan tubuh yang tak lagi bisa bersandar.
Mei Yin mulai menangis. Dipeluknya tubuh Lian yang sudah tidak bernyawa. Kini, semesta telah merenggut orang yang sangat dicintainya. Lelaki yang selalu membuatnya bahagia. Lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Mungkinkah Mei Yin akan kembali merasakan jatuh cinta ataukah dia akan menutup hatinya untuk cinta? Hanya waktu yang akan membuktikan.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔