Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Bab 7: Rumah untuk Berdua
Malam itu, setelah kepergian orang tua Dika, suasana di kamar kos yang sempit itu terasa hening namun hangat. Hati mereka berdua dipenuhi rasa lega yang tak terlukiskan. Beban berat yang dipikul sekian lama akhirnya terangkat sedikit demi sedikit.
Raina menatap sekeliling ruangan yang sederhana itu, lalu menoleh ke arah Dika yang sedang duduk menatap lantai dengan pandangan kosong namun tenang. Ia tahu betapa beratnya pengorbanan yang dilakukan pemuda ini demi dirinya.
"Dika," panggil Raina pelan, memecah keheningan.
Dika mendongak, menatapnya dengan senyum tipis. "Ya, Sayang?"
Raina menarik napas dalam-dalam, lalu mengajak Dika duduk di tepi kasur. "Kamu sudah cukup lama tinggal di sini. Tempat ini memang sederhana, tapi aku tahu kamu tidak mengeluh. Namun sekarang... aku ingin kamu pulang."
Dika mengernyit bingung. "Pulang ke mana? Ke rumah orang tuaku?"
"Bukan," Raina menggeleng pelan, lalu menatap lurus ke manik mata Dika. "Pulang ke rumahku. Apartemen itu luas, cukup untuk kita berdua. Di sana kamu bisa lebih tenang, tidak perlu lagi menyusahkan diri di tempat sempit seperti ini."
Dika terdiam sejenak. Ada keraguan yang sempat muncul di hatinya. "Tapi Raina... apakah itu tidak mengganggu privasimu? Dan apa nanti orang akan bicara macam-macam?"
Raina menggenggam tangan Dika erat, menatapnya dengan penuh keyakinan. "Biarlah orang bicara. Kita sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidup kita sendiri. Aku menginginkanmu di sana, Dika. Aku ingin kita memiliki rumah yang sama, tempat di mana kita bisa merasa aman bersama."
Melihat ketulusan di mata wanita yang dicintainya itu, perlahan keraguan di hati Dika lenyap. Ia menyadari bahwa kehadiran Raina adalah rumah yang sesungguhnya baginya.
"Baiklah," jawab Dika pelan namun mantap. "Aku mau."
Malam itu juga mereka pindah. Tidak banyak barang yang dibawa Dika, hanya pakaian dan buku-buku kesayangannya. Saat melangkah masuk ke apartemen Raina yang luas dan tertata rapi, Dika merasa seolah sedang melangkah menuju awal kehidupan yang baru.
Malam semakin larut. Setelah selesai menata barang dan makan malam sederhana bersama, mereka berdiri canggung sejenak di tengah kamar tidur utama yang besar. Ini adalah pertama kalinya mereka akan beristirahat dalam satu atap, dalam satu ruangan yang sama.
Raina yang menyadari kegelisahan itu, perlahan merentangkan selimut, lalu menatap Dika dengan senyum lembut yang menenangkan.
"Mari istirahat," ajaknya pelan.
Mereka berbaring berdampingan di atas kasur yang empuk dan lebar. Aroma wangi khas Raina memenuhi ruangan, membuat Dika merasa sangat tenang dan damai. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, mereka saling memandang, melihat pantulan rasa cinta yang begitu besar di mata satu sama lain.
Dika mengulurkan tangan, menarik tubuh Raina mendekat hingga mereka berpelukan erat. Tidak ada rasa ragu, tidak ada rasa takut. Hanya ada rasa percaya dan keinginan untuk menyatu sepenuhnya.
Malam itu menjadi saksi kesatuan dua jiwa yang telah melewati banyak badai. Semuanya terjadi dengan penuh rasa hormat, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus. Tidak ada paksaan, hanya saling memberi dan menerima sepenuh hati. Di sana, mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi dua orang yang berjuang sendiri, melainkan satu kesatuan yang utuh.
Saat pagi menyingsing, cahaya matahari menyelinap masuk menyinari wajah mereka yang terlelap dalam damai. Dika terbangun lebih dulu, menatap wajah Raina yang tertidur pulas di pelukannya. Ia mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang, berjanji dalam hati untuk selalu menjaga dan membahagiakan wanita yang telah menjadi takdirnya ini.
Mereka tidak lagi hanya sekadar berpacaran. Mulai malam itu, mereka telah menjadi pasangan hidup yang saling melengkapi, menanti waktu yang tepat untuk mengikat janji suci di hadapan semua orang.