NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 01 - Paket yang Tidak Boleh Dibuka

Siang itu, klinik kecil Bu Ratna tidak terlalu ramai.

Hanya ada dua pasien lansia yang menunggu obat hipertensi, satu anak kecil yang baru selesai diperiksa batuknya, dan suara kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan.

Ratna Wulandari melepas stetoskop dari lehernya, lalu menulis dosis obat di kertas resep.

"Diminum setelah makan, ya, Bu. Jangan lupa kontrol lagi minggu depan."

Perempuan tua di depannya mengangguk. "Iya, Dok. Kalau Bu Dokter yang bilang, saya nurut."

Ratna tersenyum kecil.

Di Kampung Cempaka, orang lebih sering memanggilnya Bu Dokter daripada Bu Ratna. Padahal usianya sudah enam puluh. Rambutnya sudah banyak putihnya, meski ia selalu memotong pendek agar mudah diatur. Punggungnya masih tegak. Tangannya masih cekatan. Kalau ada anak jatuh dari sepeda, ibu hamil mual berat, atau bapak-bapak mendadak pusing setelah makan kambing, mereka selalu datang ke kliniknya dulu sebelum ke Puskesmas.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Ratna melirik layar.

Bambang.

Suaminya jarang mengirim pesan di jam seperti ini. Kalau pun mengirim, biasanya cuma singkat, menyuruh beli sesuatu atau bertanya makan siang.

Ia membuka WhatsApp.

Bambang: Ambil paketku di warung Bu Rini. Kodenya 3921.

Ratna membalas singkat.

Ratna: Iya. Nanti setelah klinik sepi.

Ia hendak meletakkan ponsel, tetapi pesan baru masuk lagi.

Bambang: Jangan dibuka. Itu punyaku.

Ratna menatap kalimat itu agak lama.

Jangan dibuka.

Ia hampir tertawa. Selama tiga puluh tujuh tahun menikah, paket di rumah selalu ia yang buka. Paket sabun, minyak angin, sandal cucu, baju koko Bambang, alat pancing murah yang diam-diam dibeli suaminya, semuanya Ratna yang terima, Ratna yang buka, Ratna yang bereskan kardusnya.

Bambang bahkan tidak pernah peduli kardus bekas itu nanti disimpan di mana.

Kalau kardus sudah banyak, Ratna ikat rapi, lalu dijual ke tukang rongsok. Uangnya ia pakai beli gula atau telur.

Sekarang, untuk pertama kalinya, Bambang mengingatkan dua kali.

Jangan dibuka.

Ratna tidak langsung curiga. Ia hanya merasa aneh.

Sore menjelang, setelah pasien terakhir pulang, ia menutup klinik setengah hari. Klinik itu berada di samping rumah, hanya dipisahkan halaman kecil dan pohon mangga tua. Ratna mengunci lemari obat, mencuci tangan, lalu mengambil motor matik tuanya.

Warung Bu Rini hanya lima menit dari rumah.

Di depan warung, beberapa ibu sedang membeli sayur, sambil membicarakan undangan pengajian malam Jumat. Seperti biasa, begitu Ratna datang, kepala mereka menoleh.

"Bu Dokter, ambil paket?" tanya Bu Rini dari balik etalase.

"Iya. Atas nama Bambang Santoso."

Bu Rini mencari di tumpukan paket J&T, Shopee Express, dan kardus kecil yang disusun sampai hampir menutup rak rokok.

"Ini, Bu. Ada tiga. Dua atas nama Bu Ratna, satu atas nama Pak Bambang."

Ratna menerima semuanya. Dua paketnya ringan, ia tahu pasti isinya dari Melati, anak perempuannya. Melati sering mengirim sabun cuci, vitamin, atau popok untuk anaknya kalau kebetulan menitip cucu.

Paket Bambang berbeda.

Tidak terlalu besar. Dibungkus plastik hitam. Di labelnya tidak ada nama toko. Hanya alamat rumah mereka dan nomor telepon Bambang.

"Dari mana, Bu?" Bu Rini ikut melirik.

Ratna tersenyum biasa. "Mungkin alat pancing."

Ibu-ibu di depan warung tertawa kecil. Mereka tahu Pak Bambang suka memancing, walau lebih sering pulang membawa cerita daripada ikan.

Ratna memasukkan paket ke keranjang motor. Dalam perjalanan pulang, pesan Bambang kembali masuk.

Bambang: Sudah diambil?

Ratna berhenti sebentar di pinggir jalan, di bawah pohon jambu milik Pak RT.

Ratna: Sudah.

Bambang: Simpan saja di kamar. Jangan dibuka. Aku pulang agak malam.

Ratna menatap layar lagi.

Ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Bukan sakit. Bukan sesak. Hanya perasaan kecil yang mengusik, seperti duri halus tertinggal di ujung jari.

Sesampainya di rumah, Ratna membuka dua paket miliknya. Benar, isinya sabun cair, kapas, dan obat gosok untuk cucunya. Ia menata semuanya di lemari.

Paket hitam milik Bambang ia letakkan di meja ruang tengah.

Ia pergi ke dapur, menanak nasi, memotong tempe, membuat sayur bening. Tangannya bergerak seperti biasa, tetapi matanya beberapa kali melirik ke meja.

Jangan dibuka.

Kalimat itu seperti duduk di sana, di atas plastik hitam, menunggu ditantang.

Ratna bukan perempuan yang suka mencari masalah. Sejak muda ia terbiasa mengalah. Ketika orang tuanya menyuruhnya pulang dari kota dan meninggalkan pekerjaan di RSUD karena Bambang butuh istri yang tinggal dekat keluarga, ia pulang. Ketika Bambang berkata dua anak laki-laki mereka butuh rumah masing-masing, Ratna bekerja lebih keras. Ketika cucu-cucu lahir, ia membantu mengasuh meski klinik masih harus dibuka.

Ia bukan perempuan yang suka membongkar rahasia.

Tapi Bambang tidak pernah punya rahasia dari paket.

Ratna berdiri di depan meja.

"Kalau isinya alat pancing, kenapa takut?" gumamnya pelan.

Rumah sepi. Hanya suara kompor dan kipas angin.

Ia mengambil gunting dari laci.

Tangannya sempat berhenti di atas plastik hitam.

Ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah. Padahal itu rumahnya. Meja itu mejanya. Paket itu dikirim ke alamat rumah yang ia rawat puluhan tahun. Bambang adalah suaminya.

Kenapa ia harus merasa seperti pencuri?

Ratna menghela napas, lalu menggunting ujung plastik.

Di dalamnya ada kotak kardus kecil yang dibalut bubble wrap. Ia membuka pelan. Lapis demi lapis. Setelah bubble wrap terlepas, tampak sebuah kotak besi tua berwarna hitam kusam.

Kotak itu bukan barang baru.

Permukaannya lecet. Engselnya berkarat. Bentuknya seperti kotak penyimpanan zaman dulu, jenis yang biasa dipakai orang untuk menyimpan surat, foto, atau perhiasan kecil.

Ratna menatap kotak itu lama.

Jantungnya mulai berdetak lebih keras.

Ia membuka tutupnya.

Foto-foto lama tumpah ke meja.

Kertasnya menguning. Beberapa sudutnya terlipat. Di foto pertama, seorang pemuda berdiri di depan pohon besar, memakai kemeja putih lengan pendek. Rambutnya tebal. Senyumnya lebar.

Ratna mengenali wajah itu.

Bambang.

Suaminya ketika muda.

Di sebelah Bambang berdiri seorang perempuan muda dengan rambut panjang sebahu. Perempuan itu tertawa ke kamera, tangannya menggenggam tangan Bambang. Bukan sekadar teman. Bukan sekadar kenalan.

Ratna mengambil foto kedua.

Bambang dan perempuan itu duduk di tepi sungai. Bahu mereka saling menempel. Di belakang foto, ada tulisan tangan.

B dan S, 1984. Kalau bukan sekarang, nanti kita tetap akan bersama.

Jari Ratna menegang.

S.

Sari.

Nama itu muncul dari ingatan lama, seperti pintu berdebu yang tiba-tiba terbuka.

Sari Handayani.

Perempuan yang dulu pernah disebut-sebut ibu mertua Ratna. Cinta pertama Bambang. Perempuan yang katanya tidak direstui keluarga karena terlalu miskin, lalu pergi merantau ke kota.

Ratna dulu tidak pernah cemburu. Untuk apa cemburu pada masa lalu? Ia menikah dengan Bambang. Ia melahirkan anak-anak Bambang. Ia menemani Bambang dari hidup susah sampai mereka punya rumah, punya sawah kecil, punya klinik.

Masa lalu seharusnya tinggal masa lalu.

Tapi foto-foto itu tidak terasa seperti masa lalu.

Beberapa foto tampak baru dicetak ulang. Ada amplop kecil di dasar kotak. Ratna membuka amplop itu.

Di dalamnya ada struk restoran.

Tanggalnya malam tahun baru, enam bulan lalu.

Dua pax.

Restoran hotel di Bandung.

Ratna menatap tanggal itu.

Malam tahun baru, Bambang bilang ada acara reuni teman lama. Ia pulang keesokan paginya, membawa bau parfum yang bukan miliknya. Ratna tidak bertanya. Ia pikir orang tua juga butuh bertemu teman.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Bambang menelepon.

Ratna melihat nama suaminya di layar. Tangannya dingin.

Ia tidak mengangkat.

Telepon berhenti, lalu pesan masuk.

Bambang: Paketku aman?

Ratna menatap foto-foto di meja.

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menikah, ia tidak tahu harus membalas apa.

Ia merapikan foto-foto itu bukan untuk menyembunyikan lagi, melainkan agar tidak ada satu pun tercecer. Aneh, bahkan di saat seperti itu, tangannya masih bekerja rapi. Mungkin karena kalau tangannya berhenti, hatinya akan mulai pecah.

Di dapur, nasi sudah matang.

Ratna menatap magic com, lalu menutupnya kembali.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah masih ingin menunggu suaminya makan.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!