Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
“Bungkus ini..”ucap liam..aruna hanya terdiam pasrah..pria pemaksa ini memang susah di hadapi.
Lagi-lagi liam menatap gadis itu sedikit lama..liam binggung dengan sifat aruna..padahal setauanya seorang gadis sangat suka berbelanja apalagi kalau dibayari oleh seseorang, tapi aruna sangat berbeda, dia benar-benar tak menemukan sifat gadis matre dan gila uang di diri gadis itu.
____________________________
Aruna diantar oleh liam hampir menjelang magrib..suasana di kosan itu sudah mulai sepi, tapi seseorang di depan kosannya membuat aruna manautkan kedua tanganya cemas..saat mobil mewah liam mulai berhenti, aruna bergegas keluar dari sana.
“Terimakasih..kamu boleh pergi..”ucap aruna sesekali melirik dua orang di belakang sana.
“Lo ngusir gue?..”tanya liam tak terima.
“Bukan begitu..”jawab aruna cepat.
“Hari sudah gelap, aku harus cepat masuk..”ucap aruna meyakinkan liam..liam menatap aruna sebentar, dan kemudian melirik dua orang yang berdiri di depan kosan gadis itu sambil menatap kearah mereka.
“Hmm..”liam berdehem pelan, kemudian menjalankan mobilnya pergi dari sana.
.
Aruna berbalik..disana, bibi dan pamanya menatap penuh curiga padanya.
“Paman bibi, ayo masuk..”ucap aruna mengalihkan perhatian mereka dari mobil liam.
“Siapa pria tadi?..”tanya sang paman.
“Teman ku paman..”jawab aruna.
“Teman?..kau tak bermain liar dengan pria tua kaya kan?..”tanya sang bibi masih menaruh curiga pada aruna.
“Aku tak mungkin begitu paman bibi..dia hanya teman ku..”aruna mayakinkan..kedua orang itu masih menatap aruna lekat.
“Kalau menghasilkan banyak uang dekati saja..”ucap sang bibi akhirnya..aruna menghela nafas pelan.
“Ayo masuk paman bibi..”ucap aruna melangkah terlebih dahulu, tak menghiraukan perkatan sang bibi.
Sesampainya di dalam, tanpa basa-basi sepasang suami istri paruh baya itu langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka.
“Mana gaji mu bulan ini..”ucap sang bibi..aruna menghela nafas pelan.
“Setidaknya biarkan aku menganti baju ku dulu bibi..”ucap aruna menatap dua orang itu.
“Pergilah..” kali ini sang paman yang berbicara.
Beberapa menit kemudian aruna kembali keluar dengan tubuh yang sudah segar..gadis itu memakai baju kaos oversize dan celana leging selutut.
“Pakai mandi segala..tidak tau orang capek menunggu..”kesal sang bibi.
“Maaf bibi paman..aku tak nyaman kalau tak langsung bersih-bersih..”ucap aruna menunduk pelan..sang bibi hanya mendengus kasar.
“Sudah..cepat berikan uangnya..”ucap sang bibi tak sabaran.
Aruna mendekat, dan menyodorkan beberapa lembar uang merah dan biru ketangan sang paman..tapi sodoran itu langsung di rebut oleh sang bibi.
“Apaan cuma segini..mana sisanya?..”marah wanita paruh baya itu..tangan aruna bergetar pelan..dia menatap sang paman.
“Paman bibi maaf, uang kos una belum cukup..jadi una hanya bisa memberi segitu..”ucap aruna pelan..ucapan gadis itu langsung membuat sang bibi memekik kesal.
“Apa-apaan, tidak!!..enak saja..sini kembalikan..”ucap sang bibi menarik tangan aruna kencang.
“Paman una mohon, bulan ini saja..”ucap aruna memohon pada sang paman.
“Berikan..kami lebih membutuhkan daripada dirimu..”ucap sang paman menatap tajam sang keponakan.
“Paman kali ini saja..aku benar-benar ga sanggup lagi mengambil kerja tambahan untuk bayar kos..bahu una masih cidera..”ucap aruna memohon di kaki sang paman.
“Aku tak peduli..berikan uangnya segera!..”ucap sang paman menepis tangan keponakanya.
“Paman, bulan ini saja, ku mohon..”ucap aruna.
“Ayo berikan..cepat..”desak sang bibi..aruna menatap dua orang di depannya itu.
“Paman, tidak bolehkan sekali saja paman berbelas kasihan pada ku..selama ini aku hanya diam saat paman mengambil semua uang santunan ayah dan ibu yang seharusnya jadi milikku..aku tak masalah paman, aku bisa menghidupi diriku sendiri..”
“Tapi kalian masih saja sangat jahat mengambil uang hasil kerja kerasku..kenapa kalian selalu berpikir kalian itu tanggung jawab ku?..tidak paman..tidak…kalian bukan tanggung jawabku..dan kalian tidak berhak mengambil uang itu..”ucap aruna manatap marah sang paman.
“Itu sama saja kali pencuri..mencuri hak yang bukan milik kalian..”tambah aruna.
Perkataan aruna langsung membuat sang paman murka.
“Apa yang kau katakan tadi..pencuri?!..kau mengataiku pencuri?!..”tanya sang paman menatap tajam aruna.
“Lalu sebutan apa yang pantas untuk kalian berdua kalau bukan pencuri..”tanya aruna dengan suara seraknya.
“Gadis sialan..”murka sang paman.
Pria itu melayangkan kakinya tepat keperut aruna, membuat gadis itu terdorong kebelakang..aruna meringis pelan saat bagian perutnya terasa sangat perih..nafasnya memburu, dan aruna tau kekerasan ini tak berakhir sampai disini.
Pamannya mulai membuka ikat pinggangnya..dan tak lama ikat pinggang itu mendarat mulus kebetis dan punggung aruna, lengan gadis itu juga tak luput dari pukulan sang paman..aruna tak menangis, dia hanya pasrah menerima pukulan itu..baginya pukulan itu adalah teman hidupnya semenjak kedua orang tuanya meninggalkanya..jadi dia sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.
Sedangkan sang bibi menatap perbuatan sang suami dengan puas..tidak ada rasa bersalah dan kasihan sedikitpun di diri wanita itu..yang ada malah dia menikmati tontonan gratis itu.
Setelah puas..sang paman menghentikan pukulannya..aruna mendongak saat tak merasakan pukulan itu lagi..dia tersenyum kearah sang paman, senyum pahit yang tercipta dari luka-lukanya selama ini.
“Ayo pergi..”ucap sang paman..sang bibi mendengus, dan pergi mengikuti langkah sang paman..sebelum keluar, wanita paruh baya itu sempat menendang kaki aruna.
Setelah kepergian mereka, kamar kos aruna di selimuti keheningan..gadis itu meringis pelan, dia menatap tubuhnya yang dupenuhi darah..di sela rasa sakit itu aruna tersenyum tipis..dia berhasil mempertahankan uang miliknya, walau cambukan adalah resikonya.
“Huh..”aruna menghela nafas lelah.
Aruna akhirnya bangun dari duduknya, dia berjalan pelan kelemari plastik dan mulai mengeluarkn kotak obat..tubuh yang tadinya bersih kembali kotor dan berbau amis darah..aruna hanya bisa pasrah dan mulai mengobati tubuhnya..lagi-lagi gadis itu tidak mengeluh..dia membersihkan tubuhnya dengan kain dan air panas, kalau mandi rasanya dia tidak sanggup.
Setelah tubuhnya di obati dan kembali bersih..kecuali punggungnya, dia tak sampai meraih kesana..dia merebahkah tubuhnya tengkurap di kasur tipisnya.
“Ayah ibu, sampai kapan rasa sakit ini akan terus berlanjut..jujur una sudah tidak sanggup..hidup tampa kalian benar-benar menguras kewarasa una..”ucap aruna menatap lantai semen kosanya.
“Una tidak sanggup, ayah ibu..tolong bawa una bersama kalian..disini nerakanya terlalu panas, una terlalu lemah untuk bertahan di neraka ini..”keluh aruna lagi, mata gadis itu memanas..dan tampa sadar bulir bening itu mulai jatuh satu persatu.
“Kalau memang belum saatnya, tolong doakan una agar terus bertahan sampai waktu itu tiba..”sambungnya.
Mata indah yang dipenuhi air mata itu perlahan mulai memberat, dan tak lama mata itu terpejam..terpejam sesaat, dan melupakan kepahitan dunia fana, setidaknya untuk beberapa jam, sebelum nanti kembali menghadapi kenyataan.
.
.
.
TO BE CONTINUE…….