Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Follow akunku ya. Jangan lupa masuk di grupnya. :v
Happy reading
[[]]
Dor!!
Untung saja jantung Irine tidak copot. Secil bersembunyi dibalik dinding dan ketika Irine ingin masuk kelas, Secil keluar dengan mengagetkannya.
"Secil, Ih! Kalau jantung gue copot gara-gara lo ngagetin gue gimana?" cibir Irine, Secil justru hanya menyengir saja.
"Lagian lo pagi-pagi udah ngelamun, ngelamun apaan sih? Ngelamunin Sastra ya?" goda Secil pada Irine.
"Apaan sih, ya gak lah," elak Irine dengan cepat-cepat menuju kursinya. Secil membuntuti Irine dengan terus menggodanya.
"Halah, muka lo merah tuh. Oh ya, hari ini si Sastra ngajak lo kemana?" tanya Secil.
"Gak ngajakin kemana-mana kok."
"Hmmm, masa sih? Belom aja kali."
"Ih, apaan sih, Cil! Berhenti gangguin gue deh."
"Siapa yang gangg---" ucapan Secil langsung terhenti ketika ada seseorang didepan pintu.
"Permisi." Baik Secil maupun Irine menoleh ke ambang pintu. Ada seorang cowok berdiri disana. "Ada Irine?"
Secil segera menoleh ke Irine dengan memasang wajah menggodanya.
Irine yang kesal pada Secil pun menaboknya. "Apaan sih, Cil. Gak usah rese deh jadi orang."
"Sastra! Irinenya ada nih disini sama gue," panggil Secil membuat Sastra yang diambang pintu menoleh padanya. Sastra pun segera masuk kedalam ketika Secil menyuruhnya untuk masuk.
"Lo ngapain cari Irine? Pasti buat ngajakin jalan, ya, kan? Udah, ajak aja dia. Dari tadi juga dia ngelamunin terus kayak gak ada kerjaan," ucap Secil membuat Irine melotot padanya.
"Apaan sih, Cil. Fitnah deh." Sastra tersenyum tipis.
"Rin." Irine menoleh.
"Yaudah, gue mau ke kantin dulu ya, Rin. Sementara lo berdua ngobrol-ngobrol aja dulu. Oke?"
"Ih, lo pagi-pagi udah ke kantin aja. Pasti lo gak sarapan lagi, kan?"
"Yoai, males gue sarapan. Bye, calon couple goals."
Irine mencibir kemudian ia menoleh ke Sastra yang tersenyum.
"Gak usah dengerin ucapan dia. Ucapannya suka ngelantur." Sastra mengangguk. "Ada apa?"
Sastra menggaruk kepala belakangnya karena gugup.
"Lo ada acara gak hari ini?"
"Enggak. Kenapa?"
"Hmm, Mama katanya kangen sama lo. Dan pengen lo main kerumah."
"Oh ya, kapan?" Potong Irine terlebih dahulu.
"Sekarang ... bisa?"
"Bisa. Kalau gitu gue bareng lo aja ya habis pulang sekolah?"
Sastra tersenyum dan mengangguk.
"Hmmm, tapi Yuan, gimana?"
"Yuan?" Sastra mengangguk. "Gak papa."
Sastra mengangguk senang.
"Yaudah, kalau gitu gue ke kelas dulu ya. Pulang sekolah gue tunggu di gerbang sekolah." Irine mengangguk.
"Bye, Rin."
Irine tersenyum. "Bye, Sas." Sastra pun keluar dan bertepatan bel masuk berbunyi.
[[]]
"Udah?"
Irine mengangguk.
"Yuk."
Sastra dan Irine menuju halte bus yang biasa menjadi transportasi bagi Sastra.
"Gimana keadaan Mama?"
"Alhamdulillah sekarang udah baikan. Tapi kemaren sempet masuk rumah sakit gara-gara Mama kecapean."
"Hmm, Irine m."
Irine menoleh. "Ya?"
"Lo, apa hubungan lo sama Yuan?"
"Ooh, gue sama Yuan cuma sahabatan dari kecil. Itu doang kok, kenapa?"
Sastra tersenyum di dalam hatinya. Ia menggeleng.
"Gak, gak papa. Cuma nanya aja. Takutnya, kalau kalian pacaran terus marahan, gue takut ngerusak hubungan kalian."
"Wajar sih kalau lo ngira kayak gitu. Bahkan bukan cuma lo doang yang ngira gue sama Yuan itu pacaran. Padahal nyatanya, kita berdua itu cuma sekedar sahabatan aja."
"Kalau Yuan?"
Irine menoleh dengan bingung. "Maksudnya? Yuan kenapa?"
Sastra menggeleng. "Gak, yaudah gak usah dipikirin ucapan gue."
Bis sudah datang.
"Yuk, bisnya udah dateng," ucap Sastra. Irine mengangguk.
[[]]
Ersa tersenyum ketika melihat seorang cewek berjalan kearahnya.
"Bagus, lo udah jadi penghianat temen lo sendiri."
"Tapi mereka justru semakin dekat. Sementara gue?"
"Lo tenang aja, dia itu sepupu gue. Gue bakal bilang ke dia, kalau lo berhasil jauhin dia dari hidup Yuan."
Secil menunduk. Kenapa justru dirinya yang kian hari semakin sakit. Saat orang yang ia sukai, justru dekat sama temannya sendiri.
"Dia bakal suka sama lo cepat atau lambat. lo jangan khawatir." Ersa menepuk pundak Secil beberapa kali.
"Secil? Lo ngapain disini?"
Secil menoleh segera. Mendadak tubuhnya menjadi tegang ketika Vinkan menemuinya disini. Apakah ia melihat dirinya berbincang dengan Ersa?
"Lo belom pulang? Gue kira lo udah pulang tadi."
"Lo ngapain disini?" tanya Secil dengan nada tidak suka.
"Nih." Vinkan menunjuk ke sebuah kardus yang dibawanya. "Tadi pas gue mau pulang, Pak Dadi malah nyuruh gue buat buang kardus ini ke sini."
Vinkan berjalan dan melempar kardus itu ke tumpukan sampah.
"Lo ngapain disini?" Kini tanya Vinkan ke Secil. Secil menggeleng.
"Gak ngapa-ngapain."
Vinkan mengernyit.
"Yaudah, gue mau pulang dulu. Bye, Vin," ucap Secil sebelum Vinkan curiga padanya.
Tanpa disadari Secil, Vinkan tersenyum kecil.
"Ternyata bukan hanya gue doang yang nantinya bermuka dua dihadapan Irine."
[[]]
Setelah berkunjung ke rumah Sastra, Irine segera pulang kerumahnya. Langit pun sangat tak mendukung dirinya. Bis pun belum datang juga padahal waktu sudah hampir maghrib.
Jalanan pun tampak sepi karena cuaca yang memang mendung. Dan tak mungkin ada orang yang berlalu lalang di jalanan.
Dari kejauhan, mata Irine menangkap sekumpulan laki-laki. Irine lihat jika dari postur tubuhnya, bukanlah laki yang baik-baik. Ya ampun, apa nasibnya jika sekumpulan laki-laki itu melintasinya?
Semoga tidak terjadi apa-apa.
Bunyi grasak-grusuk dari sekumpulan laki-laki itu. Irine cukup mendengarnya tapi tak ia hiraukan. Matanya terus menatap ke arah datangnya bis. Dan berharap bis segera datang dan membawanya pergi dari tempat sepi itu.
"Eh, ada cewek cantik. Sendirian aja nih?" Sial, ternyata salah satu dari sekumpulan laki-laki itu melihat kearahnya. Irine harus apa sekarang?
Jika ia berteriak, sudah pasti tidak akan ada yang bisa menolongnya.
"Mau Abang temenin gak?" Laki-laki yang lain justru dengan nakalnya mencolek dagu Irine. Irine menepis tangannya dengan keras.
"Apaan sih!" galak Irine.
"Wuuuh, galaknya. Jadi gemes deh." Sekumpulan itu tertawa bersamaan.
Ya Tuhan, gimana ini? Apa yang harus gue lakuin? Gue takut. batin Irine.
"Cewek cantik, namanya siapa? Bolehlah kenalan sama Abang?" tanyanya pada Irine.
"Pergi gak kalian!!"
"Loh, ngapain kita pergi dari sini kalau ada cewek secantik kamu?" Laki-laki itu mencolek dagunya lagi.
Irine berkali-kali menepis tangan-tangan nakal dari laki-laki tersebut. Mungkin, karena jengah juga dengan tingkah Irine, dari mereka ada yang melakukan sedikit sikap kekerasan.
"Lo jadi cewek gak usah sok jual mahal deh! Berapa sih yang lo mau?"
Irine menangis. Ia bukan cewek murahan! Ia masih punya harga diri!
"Gue bukan cewek murahan! Gue masih punya harga diri!!" Irine tak bisa menahan tangisannya ketika kedua tangannya dicekal dengan laki-laki lainnya.
"Cih, yakin lo masih suci?"
Apa maksudnya? Ya Tuhan, siapapun tolong gue! Tolong!! batin Irine yang terus berharap meminta pertolongan.
"Kalau berani mainnya jangan sama perempuan dong. Banci itu namanya!!"
Irine mendongak. Laki-laki semuanya itu pun menoleh ke siapa yang berbicara itu.
Sastra!
Irine tersenyum senang. Akhirnya ada yang bisa menolongnya. Tapi, Sastra tidak cukup orang untuk melawan sekumpulan laki-laki yang berjumlah enam ini. Dan dari postur tubuhnya saja Sastra kalah.
Bagaimana Sastra bisa melawan laki-laki semua ini?
Kedua tangan Irine terlepas. Irine pun berjalan menjauh dari semuanya.
"Apa Lo bilang? Bocah ingusan aja berani cari masalah sama kita-kita. Cari mati lo?"
"Cih, gak takut gue. Ngelawan banci aja takut, berarti gue juga banci namanya."
"Kurang ajar! Lawan."
Mendapat interuksi dari ketua mereka, lima orang itu langsung menyerbu Sastra seorang diri. Tangkisan demi elakan ia lakukan terhadap serangan kelima orang itu.
Sementara Irine takut jika terjadi kenapa-kenapa dengan Sastra. Ia mengambil ponsel didalam tasnya. Berharap baterai ponselnya masih tersisa banyak.
Irine bersyukur karena masih banyak. Ia mencari sebuah nama di kontaknya.
Yuan.
Ia ragu untuk menelponnya. Jika ia menelponnya, itu sama saja ia menelan ucapannya untuk tidak melibatkan Yuan lagi di hidupnya.
Bugh
"Sastra!!"
Sastra limbung dan terjatuh namun bisa bangkit lagi dan menangkis pukulan yang ditujukan kearahnya.
Irine pun tak perduli dengan ucapannya pada Yuan, yang penting ia tidak ingin Sastra kenapa-kenapa.
Tuut tuuut
Sambungan telpon masih berdering ditelinganya. Irine cemas jika Yuan tidak mengangkat telponnya.
"Ayo dong, Yuan. Angkat telponnya. Gue mohon."
"Kenapa? Lo bilang kal---" Irine langsung menyanggah ucapan Yuan.
"Yuan, gue mohon lo dateng ke sekolah sekarang!! Gue mohon, Yuan!" Sela Irine di ucapan Yuan.
"Lo kenapa?"
"Ada preman yang ganggu gue dijalan. Please, Yuan, lo dateng kesini."
"Gue kesana. Lo tunggu disana aja."
"Hm. Lo hati-hati dijalan."
Irine memutuskan panggilannya dengan Yuan. Ia melihat kearah Sastra. Ternyata cowok itu sudah terjatuh dan kelima laki-laki itu justru tak membiarkan ampun untuk Sastra.
"Sastra!!" Irine segera menghampiri Sastra yang terkulai lemas di tanah. "Cukup! Hentikan! Gue mohon!!" teriak Irine sambil melindungi tubuh Sastra.
"Cih! Makanya jangan ikut campur! Bocah kencur aja belagu cari masalah sama kita."
"Kalian semua harus dihukum! Kalian harus masuk penjara!!"
"Cih, gak akan ada orang yang bisa nangkep gue, cewek cantik." Ketua tersebut mencengkram kuat wajah Irine.
Bugh
Ketua tersebut terpental ketika ada seseorang yang menendangnya.
"Tangkap mereka semua, Pak polisi!"
Para polisi yang mendapat arahan, langsung meringkus preman-preman tersebut. Ada satu orang yang mencoba melarikan diri, namun berhasil ditangkap dengan peluru yang diarahkan ke kakinya.
Irine mendongak. Ternyata Yuan datang.
"Yuan."
"Minggir," titah Yuan terhadap Irine untuk menyingkir. Irine pun menyingkir. "Sus, tolong bawa cowok ini kerumah sakit."
Irine menoleh. Ternyata selain polisi, ada mobil ambulans juga. Suster cowok itu pun mengangguk dan memasukkannya kedalam mobil ambulans.
"Terima kasih, anak-anak. Karena kalian sudah melaporkan preman-preman ini ke kantor polisi. Karena sebenarnya, mereka memang sedang dicari oleh polisi. Karena, mereka sudah meresahkan warga disini," ucap salah satu polisi itu ke Yuan.
Yuan mengangguk. "Sama-sama juga, Pak."
"Kalau begitu kami pergi dulu. Selamat sore."
"Sore, Pak."
Baik mobil polisi maupun mobil ambulans pun pergi dari tempat kejadian. Kini hanya tinggal Yuan dan Irine saja.
"Yuan."
"Gue anter lo pulang." Yuan berjalan ke arah mobilnya. Sementara Irine menunduk.
Ah, rasanya sangat menyesakkan sekali. Ketika dicuekkin oleh sahabatnya yang sudah sepuluh tahun bersama.
To Be Continued
Jangan lupa buat like sama comment ya.
See you. :v
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung