NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 #Penagihan Hutang

Atmosfer di dalam mobil mewah itu awalnya terasa begitu hening dan kaku. Hanya ada deru mesin yang halus serta alunan musik instrumental bernada rendah yang sengaja diputar oleh Bara Fernandez dari kursi kemudi. Anya menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk, matanya menatap lurus ke luar jendela, berusaha keras mengabaikan debaran gila di dadanya akibat bisikan Bara beberapa menit yang lalu di halaman rumahnya.

​Keheningan itu akhirnya pecah saat Jessica, yang duduk di kursi penumpang bagian depan, merubah posisi duduknya. Wanita dengan riasan tebal itu menoleh ke belakang, menatap Anya dengan senyuman yang tampak ramah namun sarat akan binar menyelidik.

​"Anya, kamu ternyata aslinya jauh lebih cantik dan imut daripada foto-foto yang Tante Isyana tunjukkan padaku tempo hari," buka Jessica, mengulang sedikit pujiannya di teras tadi untuk mencairkan suasana.

​Anya menarik pandangannya dari jendela, lalu mengulas senyuman tipis yang sangat sopan. "Terima kasih banyak, Kak Jessica."

​Jessica terkekeh pelan, lalu menopang dagunya di atas sandaran kursi, menatap bergantian ke arah Anya dan Calvin yang duduk bersebelahan di kursi belakang. "Aku itu penasaran deh... kalian kan dijodohkan oleh keluarga. Bagaimana hubungan kalian saat ini? Apa di antara kalian... sudah mulai tumbuh benih-benih cinta?"

​Pertanyaan blak-blakan dari Jessica seketika membuat pasokan udara di dalam mobil terasa menipis. Anya tersentak, sementara di kursi kemudi, sepasang mata elang milik Bara seketika melirik tajam ke arah spion tengah. Pria matang itu menaikkan sebelah alisnya, sangat menantikan jawaban yang akan keluar dari belah bibir keduanya, terutama dari gadis kecilnya, Anya.

​Beruntung, Calvin menjadi penyelamat di waktu yang tepat. Pria muda itu mengulas senyum tipis, lalu dengan gerakan yang tampak natural, dia meraih jemari lentik Anya dan menggenggamnya dengan erat di atas pangkuan mereka, seolah ingin menunjukkan pada Jessica bahwa mereka memang sedang berjuang untuk menjadi dekat.

​"Cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu, Kak," sahut Calvin dengan nada suara yang tenang dan dewasa. "Saat ini, kami berdua sedang mencoba untuk saling mengenal dan menjadi lebih dekat."

​Anya merasakan kehangatan dari genggaman tangan Calvin, namun fokusnya terganggu saat dia melirik ke arah spion tengah. Di sana, sepasang mata Bara menatap lurus ke arah tautan jemari mereka dengan binar yang mendadak berubah menjadi sangat pekat, dingin, dan sarat akan aura posesif yang mengancam. Rasanya begitu pekat, hingga Anya mendadak merasa meremang dan ingin menarik tangannya dari Calvin karena rasa takut yang aneh.

​Namun, rasa kesal dan gengsi Anya yang tinggi seketika bangkit. Dia tidak mau terlihat lemah di bawah intimidasi Bara. Anya menarik napas dalam-dalam, lalu menyahuti ucapan Calvin dengan nada suara yang sengaja dibuat semeyakinkan mungkin, sebuah kalimat yang dirancang khusus untuk membalas Bara.

​"Iya, Kak Jessica. Lagipula, menurutku cinta itu akan sangat mudah datang di antara kami. Apalagi kan Calvin ini masih sangat muda, tampan, mapan, dan pastinya enerjik," ujar Anya dengan penekanan yang jelas pada kata masih muda, disertai senyuman manis yang dipaksakan ke arah Calvin.

​Jessica langsung melebarkan senyumannya, merasa sangat senang melihat interaksi yang dia anggap manis itu. Tanpa sadar akan ketegangan bawah tanah yang sedang terjadi, Jessica mengulurkan tangannya, memegang bahu kokoh Bara yang sedang fokus menyetir. "Bara, lihat deh keponakanmu ini. Mereka berdua manis sekali, kan? Sangat cocok dan serasi. Yang muda memang auranya beda ya."

​Bara hanya melirik sekilas ke arah Anya melalui spion tengah. Sebuah seringai dingin namun teramat mematikan terukir samar di sudut bibirnya. Sentilan kata 'masih muda' dari Anya mendarat telat di pendengarannya, dan Bara bukanlah tipe pria yang akan membiarkan lawannya menang begitu saja.

​"Benar," sahut Bara dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan serak yang seketika mendominasi seluruh ruangan mobil. "Yang muda memang selalu terlihat menarik untuk dijadikan mainan luar ruangan."

​Bara menjeda kalimatnya sejenak, sengaja mengetukkan jemarinya di atas setir mobil dengan ritme yang lambat, memberikan efek intimidasi yang kuat bagi Anya yang mendadak menahan napas.

​"Tapi sayangnya... yang muda biasanya belum memiliki cukup pengalaman dan keliaran untuk memuaskan wanitanya secara utuh, bukan? Mereka cenderung terburu-buru dan tidak tahu bagaimana cara mengunci mangsanya hingga tidak bisa berkutik," lanjut Bara dengan nada sarkasme yang teramat halus.

​Mendengar kalimat itu, Jessica dan Calvin seketika terkekeh pelan. Mereka menganggap ucapan Bara hanyalah sebuah candaan dunia bisnis atau nasihat klise dari seorang pria matang yang menganggap anak muda masih kurang pengalaman dalam hal karier dan emosi.

​"Ah, Bara! Kamu ini bisa saja. Jangan menakut-nakuti Calvin seperti itu," protes Jessica sembari mencubit pelan bahu Bara dengan manja.

​Sementara Calvin hanya tersenyum canggung. "Saya akan terus belajar dari lebih banyak darimu, Om Bara."

​Hanya Anya. Hanya Zevanya Anneliza Sanjaya yang tahu persis apa arti menjijikkan dan berbahaya di balik kata pengalaman, memuaskan, dan mengunci mangsa yang diucapkan oleh Bara Fernandez tersebut. Wajah Anya seketika memerah padam hingga ke urat lehernya. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa marah, malu, dan debaran aneh yang terasa menggelitik di bagian bawah perutnya. Pria matang itu benar-benar tidak memiliki urat malu untuk berbicara se-frontal itu di depan keponakannya sendiri.

.

.

Di tengah atmosfer yang kembali hening pasca candaan tersebut, mobil besar itu terus melaju membelah jalanan semi-perbukitan. Anya masih berusaha meredakan gemuruh di dadanya, sementara mata elang Bara sesekali masih mengunci pandangannya lewat spion tengah.

​Perjalanan yang sarat akan ketegangan itu mendadak terinterupsi saat Jessica tiba-tiba bergerak gelisah di kursi depan. Dia menoleh ke arah Bara dengan wajah sedikit meringis. "Bara, tolong berhenti di pom bensin atau rest area terdekat sebentar, ya? Aku mendadak ingin ke toilet, tidak bisa menahannya sampai villa."

​Bara melirik papan petunjuk jalan di depan, lalu memutar kemudi memasuki sebuah rest area kecil yang tampak cukup sepi. Begitu mobil besar berwarna hitam itu berhenti sempurna di dekat area toilet, Jessica dengan tergesa-gesa langsung turun dari mobil.

​Melihat kesempatan emas ini, Calvin yang sejak tadi terus melirik jam tangannya tiba-tiba ikut membuka pintu belakang. Pria muda itu menoleh sekilas ke arah Anya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Anya, Om Bara, aku keluar sebentar juga ya. Ada telepon penting dari rekan bisnis tentang proyek cabang baru yang harus aku angkat sekarang."

​Anya hanya mengangguk pelan tanpa curiga. Namun, di dalam hati, Calvin sebenarnya merasa lega luar biasa. Ini adalah kesempatan langka yang dia tunggu-tunggu sepanjang jalan untuk bisa menghubungi Melati, tanpa perlu takut terdengar oleh Anya maupun keluarganya.

​Begitu pintu mobil tertutup dan menyisakan Anya sendirian di kursi belakang, atmosfer di dalam ruang sempit itu seketika berubah drastis. Pasukan udara mendadak terasa lenyap, digantikan oleh aura dominan yang mencekam.

​Klik.

​Suara tajam itu menggema di dalam mobil. Anya tersentak saat menyadari Bara baru saja menekan tombol sentral untuk mengunci seluruh pintu mobil dari kursi kemudi. Belum sempat Anya mencerna kepanikannya, terdengar suara tarikan sabuk pengaman yang dilepas.

​Bara Fernandez memutar tubuhnya yang jangkung dan atletis menghadap ke belakang. Pria matang itu condong ke depan, melompati pembatas konsol tengah dengan gerakan yang teramat tenang namun penuh kalkulasi, lalu mendudukkan dirinya di kursi belakang, tepat di samping Anya, menempati posisi yang beberapa detik lalu ditinggalkan oleh Calvin.

​Anya refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur pintu mobil. "Om Bara... mau apa? Buka pintunya, nanti Calvin atau Kak Jessica bisa kembali kapan saja!" cicit Anya dengan suara bergetar, tangannya bergerak panik mencoba meraih tuas pintu di belakang punggungnya yang tentu saja sudah terkunci mati.

​Bara tidak menyahut dengan kata-kata. Pria itu justru mengikis jarak di antara mereka, mengurung tubuh mungil Anya di bawah bayang-bayang tubuh kekarnya yang tegap. Aroma mint maskulin bercampur parfum mahal yang menguar dari tubuh Bara seketika menguasai indra penciuman Anya, membuat kepalanya mendadak pening akibat debaran jantung yang menggila.

​Bara tidak maju untuk menciumnya. Pria itu tahu batas tempat, namun justru itulah yang membuat serangannya terasa jauh lebih menyiksa mental Anya. Dengan gerakan yang teramat halus namun sarat akan penekanan yang mutlak, tangan kekar Bara yang hangat bergerak turun, mendarat tepat di atas permukaan paha Anya.

​Deg!

​Sentuhan tangan Bara yang panas bagai sengatan listrik seketika membuat tubuh Anya kaku sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ibu jari Bara perlahan mengusap pahanya dengan ritme lambat yang sensual namun mengintimidasi.

​Bara menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bilah bibirnya tepat di samping daun telinga Anya yang sudah memerah padam.

​"Kamu sudah tiga hari absen dari tugasmu sebagai pelayan pribadiku di penthouse, Anya," bisik Bara dengan suara baritonnya yang teramat seksi, rendah, dan serak yang bergetar di ceruk leher Anya. "Ponselmu mati, pesan-pesanku kamu abaikan, dan sekarang kamu berani memujinya masih muda di depanku?"

​Bara memberikan sedikit tekanan pada cengkeraman tangannya di paha Anya, membuat gadis itu menahan lenguhan yang hampir lolos dari bibirnya.

​"Kamu... masih ingat peraturan tentang hukuman keterlambatan per jamnya kan, Sayang?" lanjut Bara dengan bisikan iblisnya yang penuh kemenangan. "Utang hukumanmu sudah menumpuk terlalu banyak, Zevanya. Dan aku akan menagih seluruh bunganya malam ini di villa."

​Wajah Anya sudah matang seperti udang rebus. Air matanya hampir menetes akibat perpaduan rasa takut, malu, dan sensasi aneh yang menggelitik seluruh saraf tubuhnya akibat sentuhan intim pria itu. Dia ingin berteriak memaki, namun suaranya seolah terkunci di tenggorokan.

​Tepat pada saat Anya sedang berada di puncak ketegangan, sebuah bayangan muncul dari luar jendela mobil. Itu Jessica. Wanita itu berjalan anggun kembali dari toilet dan langsung melangkah menuju pintu penumpang bagian depan.

​Klek! Klek!

​Jessica menarik tuas pintu mobil depan, namun pintu itu tetap tertutup rapat karena dikunci dari dalam. Jessica berkedip bingung, lalu mengetuk kaca mobil dengan keras.

​"Bara? Pintu mobilnya kenapa dikunci dari dalam?" suara Jessica terdengar samar dari luar, sementara Calvin juga terlihat mulai berjalan mendekat dari arah kejauhan sembari memasukkan ponselnya ke saku celana.

​Di dalam mobil, Anya membelalakkan matanya menatap Bara dengan tatapan memohon yang teramat panik, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Sementara Bara Fernandez... pria matang itu justru hanya menatap lurus ke dalam manik mata Anya dengan sebuah seringai iblis yang teramat tampan dan tenang, seolah dia sedang sangat menikmati siksaan ketakutan yang dialami oleh gadis kecilnya. Tangan kekarnya bahkan masih belum bergeser satu senti pun dari paha Anya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!