SEOLAH SEMUA INI MIMPI!!
YA, INI PASTI HANYA MIMPI!
Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa aku sudah berubah status dari gadis biasa menjadi seorang istri pria tua buruk rupa yang lebih pantas kupanggil paman atau bahkan ayah!!
Namun sial!
Nasibku sejak lahir tidak sebaik nasib kedua kakakku yang cantik jelita dan disayang Ayah dan Ibu. Kelahiran ku tidak pernah direncanakan. Katanya saat aku lahir seluruh bisnis keluarga kami hancur berantakan. Padahal bukan kesalahanku, tapi mereka (ayah,ibu, kedua kakak bahkan sampai nenek buyutnya pamanku) menyebut aku sebagai anak pembawa sial.
Selama tujuh belas tahun hidup, aku diasingkan di gubuk tua yang jauh di belakang rumah. Dan hebatnya, saat aku diasingkan, bisnis keluarga kami kembali membaik. Apa mungkin aku benar benar seorang pembawa sial?
Kesialan itu tidak berakhir, hingga aku dipaksa menikahi seorang pria tua yang datang ke rumah untuk melamar. Kenapa aku dipaksa? padahal aku anak kandung mereka juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Pengabdian Terakhir
Waktu pernikahan akhirnya tiba. Meski mengetahui identitas Ruby yang sebenarnya, Gama tetap memutuskan untuk menikahi perempuan itu.Justru dengan latar belakang yang seperti itu akan mempermudah segala urusan Gama.
Latar belakang Ruby yang sangat buruk di mata orang akan melindunginya dari sasaran musuhnya. Berbeda dengan mendiang istrinya terdahulu yang memiliki pengaruh besar, Ruby sama sekali tidak memiliki pengaruh apa-apa sehingga Gama tidak perlu takut musuhnya akan menjebaknya menggunakan Ruby, dia juga tidak perlu repot mengurus masalah pernikahan yang terus menerus dipaksakan oleh kakeknya.
Gama lepas dari segala jenis kencan buta yang melelahkan juga bisa bergerak bebas melakukan apa saja, saat musuh tak bisa menemukan kelemahan pria itu.
Gama menatap kamar yang telah lama kosong di hadapannya. Sebuah kamar yang penghuninya telah lama berpulang.
Pria itu melangkah masuk ke area terlarang yang tidak dia perbolehkan disentuh oleh siapapun selain dirinya dan orang yang dia percaya. Sebelum dia benar benar menjemput Ruby dari ini, dia memasuki kamarnya dengan mendiang istrinya.
Ditatapnya lagi kamar itu, kamar yang sudah dia rancang bersama mendiang istrinya 5 tahun yang lalu. Kamar di mana mereka akan hidup bersama, tinggal bersama dan memadu kasih tetapi di hari bahagia mereka, istrinya justru meregang nyawa sebelum sempat menikmati kamar itu berdua dengan Gama.
“ Sayang, aku ijin menikah ya, aku menemukan perempuan yang bisa ku gunakan sebagai tameng, maaf kalau aku harus menikah lagi, tapi selamanya kamu adalah istriku, orang yang paling ku cintai,”ucapnya sambil menatap kamar itu.
Sebuah Kotak cin cin pernikahan terletak di atas meja, dibukanya kota berwarna ungu itu, tampaklah sepasang cin cin yang tak bertuan di sana.
Bibir Gama tak bisa tersenyum dengan tulus, jelas raut kesedihan masih terlihat di kedua netranya.
“ aku merindukanmu honey, aku sangat merindukanmu,”
“ Gadis itu bernama ruby, aku menikahinya agar kakek tidak menjodohkan ku lagi dan para bajingan yang menyebabkan kamu meregang nyawa hari itu menunjukkan taring mereka,”
“ Dia hanya ku gunakan sebagai alat untuk memancing para penjahat itu keluar, kamu jangan khawatir, aku tidak akan pernah jatuh hati padanya,” tutur Gama.
Tujuan utama Gama menikahi Ruby adalah untuk memanfaatkan gadis tanpa latar belakang itu sebagai umpan untuk menarik otak di balik kematian mendiang istrinya keluar dari persembunyiannya.
Dengan adanya Ruby di sisi Gama, pria itu akan menunjukkan pada dunia bahwa dia memiliki hubungan percintaan yang sangat baik.
Dia akan perhatian pada Ruby, menjaga dan memperhatikan Ruby seolah olah dia mencintai gadis itu. Namun semu itu hanya gimmick, hanya bagian dari rencana balas dendamnya atas kematian istrinya.
Ruby akan menjadi umpan yang sangat tepat baginya, sampai tujuannya berhasil dia capai.
Keji memang, tetapi sejak awal Gama sudah merencanakan hal ini. Baginya Ruby beruntung bertemu dengan dia yang mau menerima perempuan dengan latar belakang kehidupan segelap itu.
Gama sama saja dengan orang orang lain, yang menganggap Ruby sebagai alat, bukan sebagai manusia yang layak dicintai. Entah pemikiran pria itu bisa berubah nantinya, tetapi yang menjadi korban di sini adalah si gadis lugu nan polos Ruby, yang tidak tahu apa apa.
Setelah mengungkapkan isi hatinya di kamar, itu, Gama keluar dari sana dan menutup pintu rapat rapat. Tanpa dia sadari, Jessika menatapnya dari ujung ruangan lain dengan tatapan aneh. Gadis itu terus menatap ke arah kamar itu, tatapan nya seolah mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang tahu apa arti tatapan perempuan itu.
Gama akhirnya berangkat bersama supirnya juga Marco dan Robin untuk menjemput mempelai wanita.
Sedang keluarga besar Falcon kini sedang menunggu di kediaman tuan Breta yang terhormat, yakni kakek Gama yang kerap memaksa pria itu untuk menikah lagi.
Gama tiba di kediaman keluarga Magenta. Dia disambut oleh tuan Magenta dan istrinya, sedang Jenna dan Yani duduk bersembunyi di dalam kamar mereka dan hanya mengintip dari jendela lantai dua.
Tak ingin mereka juga dilirik pria tua bertopeng yang katanya membawa kutukan pada istrinya.
Di bawah sana tuan Magenta mempersilahkan Gama masuk, sedang pembantu mereka menjemput Ruby dari kamar pengantin.
" Apa kalian tidak bersiap? Bukankah putri kalian akan menikah?" tanya Gama dengan nada datar seraya menatap penampilan nyonya Manta dan tuan Gama yang tampak sangat biasa, tidak seperti orangtua yang akan mengantarkan putrinya ke jenjang pernikahan.
Tuan Magenta dan istrinya saling menatap. Keduanya terdiam takut kala pertanyaan keluar dari bibir Gama.
"Ahh aku tidak masalah, setelah hari ini dia adalah milikku, kalian pun tidak akan kuberi ijin menemuinya!" ucap Gama tak peduli.
Seketika keduanya bernafas lega. Sejujurnya Nyonya Manta tidak tahu harus menjawab apa, karena dirinya memang tidak mau menghadiri pernikahan itu.
Ruby dibawa keluar dari ruangan rias pengantin. Jenna dan Yani berdiri di tangga lantai dua sambil menatap gadis itu.
Mereka ingin menertawakan Ruby, tapi yang mereka lihat sekarang sangat mengejutkan.
Riasan tebal tadi sudah dihapus dan yang ada di depan mata mereka adalah seorang malaikat yang sangat cantik dengan riasan lembut dan manis.
"Kak... Riasannya, siapa yang perbaiki!?" tanya Yani terkejut.
"Sialan, aku juga gak tahu, kok jadi cantik begitu!?" ketus Jenna yang tak jadi tertawa setelah melihat riasan wajah Ruby yang sangat menawan.
Ruby melangkah dengan perlahan, kedua kakinya mengayun dengan penuh keyakinan. Satu satunya hal yang bisa dia berikan pada Ibunya adalah dengan menjadi anak patuh untuk menyelamatkan ibunya dan keluarga ibunya dari lilitan utang.
Gadis itu tersenyum lembut, seolah tak ingin menunjukkan kesedihan hatinya, dia memantapkan tekadnya untuk membalas semua jasa orang tuanya.
Saat di kamar rias tadi, Ruby sadar betapa dia beruntung bisa lahir di dunia ini. Nyonya Manta yang berkali-kali gagal membuang dirinya membuatnya paham bahwa dia lahir ke dunia ini karena ada tujuan yang harus dia selesaikan.
Ruby tersenyum, untuk menaikkan harkat dan martabat Ibunya di depan tuan Gamaliel Falcon.
Gama menatap datar ke arah gadis itu, sama seperti Marco yang hanya menatap acuh tak acuh pada gadis belia yang masih remaja itu.
"Dia masih remaja, apa yang bisa dilakukan bocah ingusan seperti dia!?" batin Marco yang menjadi tak senang setelah melihat Ruby secara langsung.
Sedangkan Robin, tahulah pria aneh itu. Dia malah tersenyum cengengesan menatap gadis muda nan cantik yang menurutnya seperti boneka hidup.
Mata Robin berbinar-binar menyambut Ruby seolah dia yang akan menikah bukan sahabatnya Gama.
"Buset ada Anabel kemasan saset, lucu banget!! Ya ampun lucu banget gemesin banget, anak siapa nih bocah arrkhhhh pengen gue unyel unyel pipi gembul nya!!!" Robin malah mereog di samping Gama.
ingin rasanya dia segera menghampiri Ruby dan mengajak gadis kecil seperti boneka itu bermain dan berjingkrak-jingkrak.
"Gam.. Gam... Lucu banget itu calon bini Lo, uwahahh gemesin banget, lihat pipinya wakkk... Pengen gue cubit!!" bisik Robin yang sudah heboh bagai petasan tahun Baru.
Gama hanya menatap datar ke arah pria itu dan langsung membuat Robin kicep menutup mulutnya.
Ruby dibawa menghadap Gama, dia sangat cantik dan menawan, tapi postur nya yang kecil nan kurus membuatnya seperti anak kecil yang dipaksa menikah dengan dedengkot tua bau tanah.
"Saya Ruby tuan, terimakasih sudah memilih saya, terimakasih sudah melunaskan utang Mama dan Papa saya, saya sudah siap tuan," ucap Ruby dengan sopan dan lembut.
Bahkan nyonya Manta dan tuan Magenta sampai menatap nanar ke arah gadis itu. Ruby seolah olah orang yang berbeda!
"Attitude nya baik sekali, apa yang terjadi? bukankah seharusnya dia sedikit sedih setelah mendengar ucapan nyonya Manta kemarin?" batin Gama penasaran.
Ruby menunjukkan sikap yang bermartabat, menunjukkan bahwa dirinya akan memberikan kebanggaan bagi keluarga Ibunya, sebagai pengabdian terakhir Ruby pada mereka.