"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 3
Matahari pagi menembus celah-celah gorden tipis di kamar Amerta, membawa kehangatan yang sedikit mengusir rasa canggung yang menggelayuti rumah mewah itu sejak semalam. Amerta menggeliat pelan, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Ingatannya langsung berputar pada kejadian semalam. Di tengah badai dan kegelapan, untuk pertama kalinya, Mahesa tidak membentaknya. Suara berat laki-laki itu saat menyuruhnya masuk ke kamar dan mengunci pintu masih terngiang jelas. Itu bukan sebuah usikan kasar, melainkan sebuah instruksi datar yang entah mengapa terasa seperti seulas perlindungan tipis.
Amerta bangkit, bergegas mandi dan merapikan penampilannya. Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti orientasi mahasiswa baru di Universitas Indonesia, kampus impian yang berhasil ia masuki melalui jalur prestasi yang ketat. Dengan mengenakan kemeja putih rapi dan rok hitam, Amerta menyisir rambut panjangnya dan menguncirnya kuda. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menyuntikkan rasa percaya diri yang sempat luntur sejak menginjakkan kaki di rumah ini.
Saat melangkah turun menuruni anak tangga marmer, Amerta dikejutkan oleh pemandangan di ruang makan. Lampu-lampu kristal sudah menyala terang karena aliran listrik telah pulih sejak dini hari. Di sana, duduk di kursi kebesarannya, adalah Mahesa. Laki-laki itu sudah berpakaian sangat rapi dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga sebatas siku, menampakkan urat-urat tangan yang tegas dan jam tangan melingkar mewah. Sepasang mata birunya yang sebiru laut luas fokus menatap lembaran koran bisnis di tangannya, sementara tangan kanannya sesekali menyesap kopi hitam yang mengepulkan asap tipis.
Amerta menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia bimbang antara harus berbalik kembali ke kamar atau meneruskan langkahnya. Namun, suara dentingan cangkir yang diletakkan Mahesa di atas tatakan porselen memecah keraguannya.
"Duduk," ucap Mahesa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. Suaranya rendah, serak khas bangun tidur, namun penuh wibawa.
Amerta menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah ragu-ragu dan mengambil tempat duduk di ujung meja yang paling jauh dari Mahesa, persis seperti posisinya seminggu yang lalu. Atmosfer di sekitar mereka langsung terasa berat dan kaku, jenis keheningan yang membuat suara sekecil apa pun akan terdengar seperti ledakan.
Bi Sumi datang dari arah dapur membawa semangkuk bubur ayam hangat dan meletakkannya di depan Amerta dengan senyum penuh arti. "Silakan sarapan, Non Amerta. Hari ini hari pertama kuliah, kan? Harus banyak energi."
"Terima kasih, Bi," bisik Amerta pelan, merasa tertolong oleh kehadiran wanita paruh baya itu.
Amerta mulai mengaduk buburnya dengan canggung, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan antara sendok dan mangkuk porselen. Di seberang sana, Mahesa melipat korannya dengan rapi, meletakkannya di samping piring. Laki-laki itu mendongak, membuat manik mata birunya beradu tepat dengan sepasang mata Amerta yang jernih. Amerta refleks menahan napas, merasa terintimidasi oleh tatapan tajam yang seolah bisa membaca seluruh isi kepalanya.
"Universitas Indonesia?" tanya Mahesa tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah interogasi dibanding obrolan keluarga.
Amerta mengangguk cepat, hampir tersedak air liurnya sendiri. "I-iya, Kak. Jurusan Manajemen Bisnis."
Mahesa hanya mendengus pelan, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali, tetap datar seperti dinding batu. Namun, kilatan aneh sempat melintas di matanya saat mendengar nama jurusan yang diambil Amerta. Laki-laki itu kembali menyesap kopinya hingga tandas, lalu berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap seketika mendominasi ruang makan.
"Ikut aku," perintah Mahesa singkat sambil menyambar kunci mobil sport hitamnya di atas meja.
"Eh? Ke-ke mana, Kak?" Amerta mengerutkan keningnya bingung, sendoknya menggantung di udara.
"Jangan membuatku mengulang ucapan," jawab Mahesa dingin, membalikkan badannya dan berjalan keluar menuju garasi tanpa menunggu jawaban dari adik tirinya.
Amerta menatap Bi Sumi dengan pandangan meminta tolong, namun Bi Sumi justru mengangguk penuh semangat sambil memberikan isyarat tangan agar Amerta segera menyusul. Tanpa pikir panjang lagi, Amerta menyambar tas ranselnya yang diletakkan di kursi sebelah, menenggak segelas air putih dengan terburu-buru, dan berlari kecil mengejar langkah lebar Mahesa yang sudah menghilang di balik pintu penghubung garasi.
Di dalam garasi yang luas dan bersih, mobil sport hitam milik Mahesa sudah menyala, mengeluarkan deru mesin yang halus namun bertenaga besar. Amerta berdiri canggung di samping pintu penumpang, ragu apakah ia benar-benar boleh masuk ke dalam kendaraan mewah yang tampak sangat dijaga kebersihannya itu.
Kaca mobil perlahan turun, menampilkan wajah tampan Mahesa dari dalam yang menatapnya dengan kernyatan di dahi. "Masuk. Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu melamun."
Amerta cepat-cepat membuka pintu dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang yang dilapisi kulit premium beraroma maskulin yang sangat akrab—aroma yang sama dengan yang ia hirup di kamar Mahesa seminggu lalu. Ia menarik sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit bergetar, merasa luar biasa gugup berada di ruang tertutup sekecil ini hanya berdua dengan kakak tirinya yang sedingin es.
Mobil mewah itu bergerak membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat, hanya diisi oleh suara sayup-sayup instrumen musik klasik dari radio yang sengaja dinyalakan Mahesa dengan volume sangat rendah. Amerta memilih untuk melempar pandangannya ke luar jendela, berpura-pura sibuk menatap deretan gedung bertingkat, padahal pikirannya sedang berkecamuk gila-gilaan. Ia tidak mengerti mengapa Mahesa tiba-tiba mau mengantarnya, padahal laki-laki itu terkenal sangat tidak peduli dan menjaga jarak sejak hari pertama perkenalan mereka.
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, hingga akhirnya mobil sport itu memasuki gerbang kampus Universitas Indonesia yang megah. Kehadiran mobil mewah berharga miliaran rupiah itu sontak menarik perhatian ratusan mahasiswa baru yang sedang berjalan kaki menuju aula utama. Mereka menoleh, berbisik-bisik penasaran tentang siapa sosok yang berada di dalam kendaraan tersebut.
Mahesa menghentikan mobilnya tepat di area drop-off depan gedung fakultas ekonomi dan bisnis. Amerta menghela napas lega, merasa terbebas dari kurungan atmosfer yang mencekik sepanjang perjalanan. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan berbalik menghadap Mahesa, mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih banyak sudah mengantar, Kak Mahesa," ucap Amerta tulus.
Mahesa tidak menoleh, kedua tangannya masih mencengkeram kemudi mobil dengan erat, matanya menatap lurus ke depan. "Jangan berpikir aku melakukan ini karena peduli. Jalur ke kantorku searah dengan kampus ini. Ayah akan cerewet jika tahu aku membiarkanmu naik taksi di hari pertama."
Senyum di wajah Amerta perlahan menyusut, digantikan oleh rasa maklum yang sedikit getir. Tentu saja, tebaknya dalam hati. Laki-laki ini melakukan semuanya hanya karena kewajiban formalitas kepada Ayah Dirga, bukan karena menganggapnya sebagai seorang adik.
Namun, sebelum Amerta sempat membuka pintu mobil untuk keluar, Mahesa kembali membuka suara, menghentikan gerakan tangan gadis itu pada gagang pintu.
"Jika ada yang mengganggumu di kampus ini, sebut namaku. Aku tidak suka nama baik keluargaku diseret dalam masalah kekanak-kanakan mahasiswa baru," ucap Mahesa datar, nadanya sedingin biasanya, namun kalimat itu mengandung sebuah proteksi terselubung yang luar biasa besar di lingkungan kampus ini. Amerta tahu dari Bi Sumi bahwa Mahesa adalah salah satu alumni terbaik dan donatur terbesar di fakultas ini.
Amerta tertegun sejenak, menatap profil samping wajah Mahesa yang tampak begitu kokoh dari jarak dekat. Hidung mancungnya, bibir tebalnya yang terkatup rapat, dan rahang tegasnya yang mengeras. Mahakarya Tuhan yang indah ini benar-benar diselimuti oleh dinding es yang luar biasa tebal, namun di balik itu semua, Amerta bisa merasakan ada garis tipis tanggung jawab yang mulai ditarik oleh Mahesa untuknya.
"Baik, Kak. Aku mengerti," jawab Amerta pelan.
Ia melangkah keluar dari mobil, menutup pintunya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras yang bisa memicu amarah kakak tirinya. Begitu pintu tertutup, mobil sport hitam itu langsung melesat pergi tanpa menunggu Amerta berbalik, meninggalkan kepulan asap tipis dan tatapan kagum sekaligus iri dari mahasiswa di sekitar yang menyangka Amerta adalah kekasih atau adik dari seorang konglomerat muda.
Amerta mengembuskan napas panjang, merapikan tas ranselnya di bahu, dan mulai berjalan membaur dengan kerumunan mahasiswa baru. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru mulai tumbuh. Menghadapi Mahesa memang tidak akan pernah mudah, dan dinding es itu mungkin masih berdiri kokoh memisahkan mereka. Namun, hari ini Amerta tahu, dinding es itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa ditembus, melainkan sebuah pertahanan diri dari seseorang yang teramat terluka di masa lalu. Dan entah mengapa, Amerta merasa tertantang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik dinginnya sikap sang kakak tiri.