NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pepatah Penting

Desiran angin kembali bertiup, menyapu kanopi hutan rimba yang begitu lebat hingga sinar matahari hanya mampu menyusup lewat celah sempit, gagal menerangi tanah yang lembap. Di atas sana, kehidupan terus berjalan.

Seekor tupai tampak sibuk melompat gesit dari satu dahan ke ranting lainnya, mengumpulkan persediaan makanan demi anak-anaknya yang masih bergantung pada sang induk di dalam sarang.

Namun di bawah pepohonan itu, tepatnya di lokasi mendaratnya tubuh Takahiro, suasananya justru diliputi ketegangan.

Penemuan itu memukul telak kewarasan Cate sesaat. Ia berdiri mematung di dekat semak belukar. Matanya memindai dengan saksama, mencoba menalar apa yang baru saja terjadi pada pemuda asing di hadapannya.

Dari hasil observasi singkatnya, ia bisa menarik satu kesimpulan yang masuk akal. Luka basah yang menganga di sekujur lengan dan wajah pemuda itu bentuknya tak beraturan. Itu bukan sayatan rapi dari pisau, bukan pula cabikan kasar kuku hewan buas.

Besar kemungkinan, kulit pemuda itu terkoyak dan tersayat patahan ranting tajam saat meluncur jatuh dari atas pohon raksasa itu.

"Cate...," panggil Vyora ragu. Suaranya bergetar. Ia masih berdiri mematung dalam ketakutan, mencengkeram ujung bajunya sendiri. "Yang jatuh tadi itu apa?"

Cate tak langsung menjawab. Pertanyaan itu dibiarkannya menguap begitu saja ke atas rimbanya hutan. Ia hanya melirik Vyora dari sudut matanya sekilas, sebelum akhirnya mengayunkan langkah mendekati pemuda yang kini terkapar di atas tanah dengan luka yang cukup serius itu.

"Vyora, tolong bantu aku angkat tubuh pemuda ini."

"Eh!?"

Permintaan itu sontak membuat Vyora tersentak mundur selangkah. Pikirannya mendadak kalut, tak bisa mencerna situasi dengan baik. Skenario-skenario mengerikan langsung menyerbu benaknya, membuat napas gadis itu perlahan terasa sesak.

Dari posisinya yang berjongkok, Cate bisa melihat dengan jelas wajah pucat pasi temannya itu. Untuk kesekian kalinya ia membuang napas kasar. Rasanya lelah menghadapi sifat Vyora yang terlalu penakut dan terlalu mudah berasumsi buruk.

"Berhentilah bersikap seperti ini! Sebenarnya apa yang kamu takutkan, Vyora. Kenapa kamu selalu terlihat seperti anak kecil yang terus merengek?"

Bak terhantam palu godam raksasa, teguran tajam itu membuat Vyora membeku di tempat. Ia benar-benar mati langkah. Lidahnya kelu, tak tahu harus membalas dengan kalimat apa. Ia akhirnya hanya bisa menunduk dan memilih diam seribu bahasa.

'Aku tahu ini menyakitkan,' batin Cate. Ia sadar ucapannya barusan terlalu pedas. Namun, ia tak punya cara lain untuk mendobrak sikap Vyora yang menyebalkan itu.

Ia memilih mengambil peran sebagai orang jahat lewat lisan, ketimbang menjadi orang jahat karena diam dan mengabaikan keadaan genting.

Demi mencairkan suasana yang mulai terasa kelewat canggung di antara mereka, Cate kembali bersuara. Kali ini, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur dengan nada yang lebih santai.

"Dari pada kamu bengong terus tanpa ngelakuin apa-apa, mending kamu ke sini dan bantu aku."

Dalam benaknya, Vyora mengakui kebenaran kata-kata temannya itu. Ia terus mencerna rentetan ucapan Cate dengan saksama.

'Untuk apa menakuti hal yang tidak pasti, dan untuk apa aku terus bersikap seperti anak kecil? ... dasar konyol!' rutuk Vyora pada dirinya sendiri.

Dengan sisa keraguan yang coba ia tepis, kaki kanan Vyora perlahan bergerak maju, disusul dengan tarikan kaki kirinya.

Melihat temannya mulai merespons dan melangkah mendekat, sudut bibir Cate sedikit terangkat membentuk seringai tipis.

Teguran pedasnya berhasil menyentil keberanian Vyora, meski ia tahu persis sifat penakut gadis itu pasti akan kumat lagi sewaktu-waktu.

Begitu sampai di sisi tubuh Takahiro, Vyora menelan ludah melihat luka-luka di sekujur kulit pemuda itu yang masih basah oleh darah segar.

Refleks, ia mendongak menatap dahan-dahan runcing yang menjulang ke atas sana. Seketika ia bisa membayangkan, betapa ngilunya daging yang bergesekan kuat dengan kayu tajam dari ketinggian seperti itu.

"Cate, kalau kita bawa dia ke desa, apa yang harus kita katakan pada tetua?"

Tangan Cate yang tengah sibuk membersihkan noda tanah liat di wajah Takahiro tak berhenti. Ia menjawab dengan tenang, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya pada Vyora.

"Bilang aja, 'Dia terdampar sendiri di pulau Viateria, dan kita tak sengaja menemuinya pas lagi mau pulang'."

"Kamu yakin ini akan berhasil?" timpalnya cepat.

Pertanyaan yang terdengar sederhana di telinga Vyora itu ternyata cukup membuat pergerakan tangan Cate terhenti saat hendak memosisikan lengan Takahiro.

Cate memberi jeda selama beberapa detik. Membiarkan desiran angin mengisi keheningan sesaat, sebelum akhirnya ia melemparkan jawaban bernada skakmat yang membungkam Vyora.

"Emang kamu punya alasan lain selain itu, huh?"

Setelah melempar pertanyaan retoris tersebut, Cate kembali mengerahkan tenaganya untuk menarik dan membangunkan tubuh Takahiro. Otot-otot lengannya menegang. Namun, bobot yang tidak seimbang membuat kakinya sempat goyah karena tak kuat menahan tumpuan sendiri.

Alih-alih sigap menyambut, Vyora justru malah kembali asyik melamun. Ia terdiam kaku, merasa tak berdaya melawan telaknya pukulan argumen Cate barusan. Beradu mulut dengan Cate memang selalu berakhir sia-sia.

Di tengah lamunannya yang kosong, tiba-tiba suara erangan Cate—yang terdengar seolah dadanya sedang terhimpit benda berat—memecah keheningan.

"Vy-o-ra~... ban-tu ... a-ku~!!"

Panggilan setengah mengerang itu menghancurkan lamunan Vyora bagai debu yang tersapu angin. Dengan sigap, rasa paniknya berganti dengan refleks untuk membantu. Ia langsung menyambar sisi kiri tubuh pemuda itu, menyampirkan lengan besar Takahiro ke pundaknya.

Kini keduanya bahu-membahu. Kaki mereka bergetar, napas saling sahut-menyahut dan mulai memberat akibat menahan beban yang terlampau timpang dengan postur tubuh mungil mereka.

Namun perjuangan fisik itu membuahkan hasil. Beberapa menit kemudian, mereka sukses menegakkan tubuh seberat Takahiro di antara mereka berdua.

Saat hendak memutar badan untuk berjalan, ekor mata Vyora menangkap tumpukan kayu bakar mereka yang dibiarkan tergeletak berantakan di atas tanah.

"Cate, kayu bakar kita...?"

Cate sama sekali tak menoleh. Pandangannya dikunci lurus ke depan, dengan kaki yang mulai melangkah tertatih.

"Lupakan soal kayu bakar," tutur Cate terengah, menahan rasa nyeri di pundak dan kelelahan yang mulai terpulas jelas di wajahnya.

"Tapi, Cate..."

Mendengar penolakan itu, Cate segera memotong ucapan Vyora yang belum sempat terselesaikan dengan nada sedikit meninggi akibat jengkel.

"Kau masih ingat dengan ucapan ayahku semalam?"

Bibir Vyora langsung terkatup rapat. Ia memutar otaknya, mencoba menggali ingatan tentang percakapan di meja makan semalam bersama ayah Cate.

Menyadari Vyora hanya terdiam mencari jawaban, Cate melanjutkan kalimatnya yang sempat menggantung.

“Tidak ada yang lebih penting selain menolong sesama makhluk hidup. Entah manusia atau hewan, yang membutuhkan pertolongan harus selalu didahulukan.”

Sederet kalimat itu menghantam telak sanubari Vyora. Ucapan Cate mengulang secara presisi apa yang dilontarkan sang ayah.

Dalam lubuk hatinya yang terdalam, rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya. Ia menyesal karena hampir saja menomorduakan nyawa demi setumpuk kayu bakar.

Seperti kutu yang mati tertindas, Vyora menunduk dalam, meratapi kata demi kata dari pepatah ayah Cate, tanpa niat membantah sedikit pun.

Kini, perjalanan mereka membelah hutan menuju desa pun berlangsung hening. Suasananya senyap menyerupai rumah terbengkalai yang sudah lama ditinggal mati oleh penghuninya.

Hanya desiran angin sore dan bunyi kerisik dahan yang beradu akibat lompatan tupai, yang menjadi saksi bisu perjalanan berat mereka kembali ke desa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!