Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu yang Bernilai
Keesokan paginya, suasana desa milik Haruto terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan raksasa, namun aktivitas sudah dimulai. Haruto sibuk menyiapkan bekal dalam keranjang besar—daging asap hasil buruan kemarin, sedikit kacang-kacangan, dan air yang disimpan dalam tempat minum kayu hasil kerajinan Tangan haruto. Sementara itu, Hana sedang memanggang beberapa potong daging asap untuk bekal tambahan yang praktis, dan Kaelin sibuk memeriksa kantong-kantong kecil berisi tanaman obat yang ia sisipkan untuk jaga-jaga jika ada anggota rombongan yang terluka.
Elara berdiri di tengah halaman, memegang selembar kulit kayu kering di mana ia telah menggambar peta kasar berdasarkan ingatan perjalanannya bertahun-tahun lalu. "Menurut ingatanku," kata Elara sambil menunjuk sebuah titik di utara, "setengah hari perjalanan ke arah sana, terdapat tebing batu yang teksturnya sangat berbeda. Warnanya kemerahan, seperti karat besi. Dulu kami menghindar karena wilayah itu dikuasai monster, tapi kalau benar itu adalah apa yang dicari Brom, maka tempat itulah tujuannya."
Brom, yang sedari tadi menyimak dengan mata berbinar, mengangguk antusias. "Jika itu benar-benar bijih besi, maka kita tidak akan membutuhkan apa-apa lagi untuk memulai pembangunan desa ke level berikutnya."
Haruto memutuskan untuk membatasi jumlah rombongan agar pergerakan tetap cepat dan tenang. Ia, Brom, Elara, serta Mira dan Fira adalah pilihan terbaik. Mira dan Fira yang gesit akan berfungsi sebagai pengintai, sementara Elara adalah navigator. Sisanya, Kaelin, Hana, Fina, dan Luna, tinggal di desa untuk menjaga ladang dan memastikan persediaan tetap aman.
Begitu mereka masuk lebih dalam ke arah utara Hutan Kematian, pemandangan berubah drastis. Ini adalah wilayah yang belum pernah dijamah oleh Haruto sebelumnya. Di sini, pohon-pohon tumbuh jauh lebih besar, akarnya bahkan membentang di permukaan tanah membentuk dinding-dinding alami yang cukup tinggi untuk menutupi pandangan. Ada bunga raksasa yang mekar sebesar payung dengan aroma yang membius, jamur-jamur setinggi pinggang manusia, hingga serangga-serangga yang ukurannya sebesar burung kecil.
Haruto seringkali berhenti karena kagum, menatap setiap keajaiban alam itu dengan mata seorang petualang. Namun, bagi para Ras Kelinci, semua ini hanyalah bagian dari keseharian mereka. Elara, di sela-sela perjalanan, mulai menceritakan rumor kuno. "Hutan ini sudah ada jauh sebelum kerajaan manusia maupun kerajaan iblis berdiri. Tidak ada yang benar-benar bisa menguasainya. Bahkan kerajaan besar pun memilih untuk membangun tembok perbatasan daripada mencoba menaklukkan isi hutan ini."
Perjalanan mereka terhenti saat Mira tiba-tiba mengangkat tangan, memberikan isyarat untuk berhenti. Di tanah berlumpur di bawah mereka, terdapat bekas pijakan yang sangat besar—lebarnya hampir satu meter. Brom, yang terbiasa hidup di pegunungan dan hutan, langsung menelan ludah. "Jejak ini... bukan milik monster biasa. Ini milik makhluk yang ukurannya melampaui logika."
Elara mengangguk dalam diam, dan tanpa perlu instruksi lebih lanjut, mereka memutar arah untuk menghindari wilayah tersebut. Haruto tersenyum getir. Selama ini ia merasa sudah cukup mengenal Hutan Kematian, padahal nyatanya, ia bahkan belum melihat satu persen pun dari apa yang sebenarnya tersembunyi di dalamnya.
Menjelang siang, target mereka akhirnya muncul. Di depan mereka berdiri sebuah tebing batu yang tampak mencolok. Batuan di sana tidak berwarna abu-abu atau cokelat biasa, melainkan kemerahan pekat, seolah-olah darah telah meresap ke dalam pori-pori batunya selama berabad-abad. Brom dengan penuh semangat menghampiri tebing tersebut. Ia mengambil palu warisan ayahnya dari pinggangnya, lalu memukul permukaan batu itu dengan mantap.
TING!
Suara logam yang nyaring bergema di tebing, membuat mata Brom berbinar. "Ini benar! Ini bijih besi yang sangat kaya!" serunya.
Haruto ikut mendekat, menyentuh tekstur batu yang kasar itu. "Jadi, besi yang kupakai selama ini di dunia asalku... benar-benar berasal dari batu yang seperti ini?"
Brom tersenyum, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan. "Ya, semuanya berasal dari bumi. Kita hanyalah perantara yang mengeluarkan potensinya."
Kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar pelan, pertanda ada sesuatu yang besar sedang mendekat. Mira langsung menghunus pisaunya, matanya menatap tajam ke arah balik bebatuan besar. "Ada yang datang."
Dari balik bebatuan, muncul tiga ekor monster. Tubuh mereka menyerupai kambing gunung, namun jauh lebih besar, dan yang paling mengerikan adalah tanduk mereka—hitam pekat, melengkung, dan keras seperti obsidian. Elara berbisik pelan, "Black Horn. Mereka adalah penjaga wilayah berbatu. Mereka sangat agresif."
Haruto memiringkan kepala, mengamati otot-otot monster itu dengan pikiran praktisnya. "Bisa dimakan?"
Semua orang menoleh padanya dengan ekspresi datar. Brom tertawa kecil—ia sudah mulai terbiasa dengan pola pikir Haruto. Elara menghela napas panjang lalu mengangguk, "Bisa. Dagingnya sangat alot, tapi kalau dimasak dengan benar, rasanya sangat lezat."
"Kalau begitu, sayang kalau dilewatkan," ujar Haruto. Bayangan di kakinya mulai menjalar, berubah menjadi tombak hitam yang ramping.
Salah satu Black Horn menyeruduk dengan kecepatan yang mengejutkan, mencoba menembus pertahanan mereka. Haruto dengan tenang menyesuaikan energi tombaknya, memastikan lemparannya tidak akan menghancurkan bangkai monster itu menjadi bubur. Sekali lempar—WHOOOOSHHH—tombak itu melesat dan menghantam kepala monster pertama, membuatnya terpental puluhan meter ke belakang hingga tewas seketika. Dua monster lainnya, menyadari kekuatan lawan yang tidak masuk akal itu, langsung kabur ke dalam hutan. Mira dan Fira mencoba mengejar, namun Elara menghentikan mereka. "Biarkan saja. Tujuan kita bukan berburu."
Bagian tersulit pun dimulai: menambang. Mereka memecah batuan besar menjadi ukuran yang bisa diangkut. Bijih besi sangat berat, jauh lebih berat daripada batu biasa. Haruto, dengan kekuatannya, menjadi tulang punggung utama dalam pengangkutan, sementara Brom memandu mana bongkahan yang paling bernilai. Sambil beristirahat, Brom menjelaskan tahapan rumit yang akan mereka hadapi: memilah bijih, membuat tungku peleburan yang mampu menahan suhu ekstrem, membuat arang dari kayu kualitas tinggi, hingga proses penempaan. Haruto hanya bisa mendengarkan dengan perasaan ngeri, menyadari bahwa satu buah kapak besi ternyata memiliki sejarah panjang di balik pembuatannya.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati area yang tenang. Haruto berhenti sejenak saat melihat sesuatu yang indah di antara dua batang pohon—sebuah jaring laba-laba yang rumit, berpola seperti bunga yang mekar, dengan benang-benang yang membiaskan cahaya matahari menjadi warna-warni pelangi. "Cantik," bisik Haruto, namun Elara segera menarik lengannya.
"Jangan disentuh. Itu sarang Bloom Spider," peringat Elara. Laba-laba seukuran telapak tangan manusia dewasa berada di tengah, menunggu burung kecil atau serangga yang terjebak, tertipu oleh jaring indahnya. Haruto tersenyum, "Dia petani yang hebat ya? Menunggu makanannya datang sendiri." Brom hanya bisa menghela napas, ia mulai sadar bahwa Haruto melihat dunia dengan cara yang sangat berbeda.
Sesaat setelah melewati laba-laba itu, sebuah batu melayang dari balik pepohonan ke arah mereka. "Waspada!" Mira berteriak. Haruto dengan sigap memukul batu itu hingga hancur dengan cangkul bayangannya. Seekor kera besar setinggi tiga meter muncul, dengan lengan panjang yang melengkung seperti kait besi—sebuah Grasp Ape. Monster itu meraup batu-batu di sekitarnya dan melontarkannya dengan kecepatan peluru.
"Kalau yang ini?" tanya Haruto, sekali lagi dengan pertanyaan yang sama. "Apa bisa dimakan?"
Elara menjawab dengan tenang, "Bisa."
Sekali lempar, tombak bayangan Haruto menembus jantung monster itu. Brom hanya bisa mematung, menatap tombak itu, lalu menatap Haruto. "Aku benar-benar tinggal bersama monster yang lebih mengerikan daripada seluruh penghuni Hutan Kematian," bisiknya pada diri sendiri.
Saat mereka tiba di gerbang desa, Luna berlari menyambut mereka. "Apa yang kalian bawa?" tanyanya antusias.
"Batu," jawab Haruto.
"Batu?" Luna menatap tumpukan batu kemerahan itu dengan bingung.
"Batu yang nanti akan menjadi besi, dan sedikit makan malam," Haruto terkekeh. Anggota Ras Kelinci lainnya berkumpul, memandangi tumpukan bijih dan dua mayat monster dengan perasaan campur aduk. Mereka tidak mengerti kenapa batu itu begitu berharga, namun melihat wajah berbinar Brom dan Haruto, mereka tahu ini adalah langkah besar bagi desa mereka.
Malam itu, di dalam rumah, Brom duduk sendirian memandangi tumpukan bijih besi yang telah mereka kumpulkan. Ia menyentuh palu warisan ayahnya dengan lembut. Bayangan bengkelnya yang hancur di ibu kota perlahan tergantikan oleh rencana-rencana pembangunan bengkel di desa ini. "Ayah," bisiknya pelan, "sepertinya, aku akan menempa lagi."
Di luar rumah, di bawah cahaya bulan, Haruto sedang mengamati lahan kosong di samping dapur. Pikirannya sudah mulai merancang tata letak. "Kalau tungkunya dibuat di sana," pikirnya, "mungkin nanti sekalian bisa jadi bengkel permanen." Desa ini sedang bertumbuh, dan untuk pertama kalinya, Haruto merasa masa depan mereka tidak lagi hanya bergantung pada keberuntungan, melainkan pada apa yang mereka bangun dengan tangan mereka sendiri. Malam itu, di tengah Hutan Kematian yang sunyi, Haruto dan Brom tidur dengan tenang, masing-masing menyimpan impian tentang hari esok yang akan ditempa dari besi dan tekad yang kuat.