Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga tahun kemudian
Tiga tahun kemudian...
Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu meninggalkan kenangan kenangan pahit yang pernah singgah. Nadira sama sekali tidak menyangka ia akan bertahan sejauh ini dan mendapatkan pencapaian yang menurutnya sudah sangat luar biasa.
Dua tahun lalu ia memutuskan untuk pindah kontrakan menjadi ke sebuah rumah kontrakan yang berada di pinggiran kota. Alasannya, agar ia mudah untuk pergi kemana-mana. Cukup berat meninggalkan kontrakan lamanya, karena disana lah Nadira mengalami sakit, senang, serta sedih secara bersamaan. Bahkan pemilik kontrakan lamanya pun mengatakan jika ia bisa kapanpun bermain ke sana, karena pintunya akan selalu terbuka lebar untuknya. Nadira benar benar beruntung di kelilingi banyak orang baik.
"Bunda, Alta boleh beli eskrim gak?" tanya seorang anak laki-laki disertai senyum manisnya
Altamis Ziyad. Bayi laki-laki yang dulu sempat membuat Nadira enggan memegangnya kini tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Ia sama sekali tidak pernah menganggap Alta sebagai musibah atau beban untuknya. Hadirnya Alta dalam kehidupannya adalah anugerah terbesar bagi Nadira. Hidupnya menjadi lebih berwarna karena tingkah laku anak itu.
"Kemarin kan Alta udah makan es krim, dua lagi, masa sekarang mau lagi, nanti tenggorokan Alta bisa sakit," jelas Nadira secara pelan pelan agar mudah di mengerti oleh anaknya
Alta sedikit memajukan bibirnya, "kalau permen boleh tidak?" tanya nya lagi
"Boleh."
Sontak anak itu melompat senang dan mencium pipi bunda nya. "Makasih bunda," ucapnya sebelum berlari untuk mencari toples permen itu
"Tapi jangan banyak-banyak ya," kata Nadira yang sepertinya sudah tidak terdengar oleh Alta
Alta jarang sekali keluar rumah, jika ia ingin bermain di luar rumah pun pasti menunggu anak anak seusianya menghampirinya. Namun meski jarang keluar rumah, Alta selalu menjadi serbuan ibu-ibu. Selain wajahnya yang tampan serta memiliki bola mata yang unik, anak itu memiliki pipi yang gembul.
Alta bisa di bilang juga sebagai anak yang memiliki tumbuh kembang sangat pesat. Ia sudah lancar berjalan saat umurnya satu tahun, dan sekarang di usianya yang tiga tahun ia sudah lancar bicara bahkan mengerti jika diberi nasihat. Karena ada beberapa anak yang seumuran Alta masih belum lancar bicaranya. Anak ini memang benar benar cerdas, Nadira pun tidak tahu menurun dari siapa. Mungkin, laki-laki itu.
Nadira selalu pergi satu bulan sekali untuk belanja bulanan beserta Alta yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia tidak mengijinkan anaknya untuk jajan sembarangan. Dan Nadira bisa dibilang cukup ketat dalam pen jangaan terkait anaknya. Ia hanya tidak ingin jika suatu saat nanti, ada seseorang yang mencemooh nya.
Terkadang, Alta selalu menanyakan dimana ayahnya. Kenapa ia tidak memiliki ayah? Kenapa ia tidak bisa bermain dengan ayah seperti anak anak seusianya? Namun Nadira selalu menjawab jika ayahnya sedang bekerja di luar kota dan belum pasti kapan pulangnya.
Hati Nadira selalu sakit ketika anaknya bertanya seperti itu, entah akan ada berapa alasan lagi yang ia keluarkan ketika anaknya bertanya perihal keberadaan ayahnya. Lamunannya tersadar ketika mendengar teriakan dari arah ruang tamu.
"Bunda! Gigi Alta sakit!"
Nadira segera menghampiri anaknya serta memangkunya. "Bunda tadi kan udah bilang, jangan terlalu banyak makannya."
"Maaf bunda," sesal anak itu
"Nanti, jangan diulangin lagi ya, sekarang kamu minum obat terus tidur aja."
Sementara di belahan lain ibu kota Jakarta di sebuah resort terlihat sangat ramai, apalagi di lantai duanya. Hari ini merupakan Anniversary dua tahun Raihan dan Astrid. Laki-laki itu merayakannya dengan mengundang hampir semua teman-temannya untuk ikut merasakan juga kebahagiaannya.
Setelah berjuang sangat lama, dan ber pdkt selama satu tahun akhirnya laki-laki itu bisa mendapatkan hati pujaannya. Raihan mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan hati Astrid, dari mulai materi yang selalu terbuang dari limit yang ditentukan sampai waktu yang selalu ia luangkan sehingga jarang menghadiri rapat.
Ia menembak Astrid saat wanita itu ingin liburan ke Korea. Di tengah-tengah bunga sakura yang mekar Raihan berlutut dihadapan wanita itu menyatakan perasaannya. Jika diingat itu hal yang sangat membahagiakan bagi Raihan.
Flashback on
"Astrid, gue rasa ini adalah waktu yang tepat. Gue udah pendem rasa ini lama banget, dari awal gue liat lo gue udah mulai tertarik. Gue gak tau harus ngomong apalagi supaya lo percaya akan cinta gue. Jadi, Astrid maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Raihan yang saat itu masih berlutut
Tanpa ragu Astrid menganggukkan kepalanya, "ya, aku mau Raihan."
Raihan langsung memeluk Astrid, membawa wanita itu berputar. Lalu memberikan bunga yang dari tadi ia pegang. Suasana hatinya saat itu menjadi lebih lebih bahagia.
"Tapi, aku mau kamu ajak aku keliling dunia," ujar Astrid yang tanpa ragu Raihan membalasnya dengan anggukkan kepala
"Iya, sayang. Apapun yang kamu mau pasti aku turutin."
Flashback off
Laki-laki yang sedang dibutakan cinta itu dengan mudahnya mengiyakan keinginan wanitanya. Setelah satu tahun pacaran pun entah berapa banyak uang yang keluar untuk menuruti keinginan wanitanya.
"Selamat ya Astrid, langgeng terus, semoga cepet nikah ya," ucap seorang wanita yang baru datang dan bisa diyakini itu temannya
Setelah dirasa Astrid cukup mengobrol dengan teman temannya, Raihan mengajak kekasihnya itu untuk berkumpul dengan teman temannya.
"Weyy, yang lagi bahagia mah bener bener lupa sama temennya!" seru Gabriel ketika melihat temannya mendekat ke meja mereka
"Berisik deh lo," jawab laki-laki itu
"Astrid makin cantik aja, kalau udah putus dari Raihan langsung jadian sama gue aja, jangan ke yang lain oke," goda Gabriel yang langsung di hadiahi pelototan tajam dari Raihan
"Han, bisa kali ya besok atau lusa gitu kita nongkrong, kalau bisa sih di bar, ya gak el?" kata Gavin
Belum sempat Raihan menjawab ucapan temannya, Astrid sudah lebih dulu berbicara. "Gak bisa! Raihan besok bakal liburan sama gue ke Bali, jadi jadwalnya padat! Ya, kan, sayang?"
"Iya," jawab Raihan sambil mengusap pelan pipi pacarnya
"Ah, gak asik lo! Bucin terus! Liburan tiap hari tapi gak pernah ngajak!" protes Gabriel
"Kenapa? Iri ya? Kasian, jomblo sih!" ejek Afnan yang dari tadi diam
"Tapi, ada bener nya juga sih Han, lo tuh kenapa bucin banget sih sama si Astrid, lupa lo sama kita, lupa kalau kita juga bantuin lo pas awal-awal!" tambah Gavin
"Terserah Raihan dong, yang bakal nemenin masa tuanya juga gue kan bukan kalian!" Lagi-lagi, bukan Raihan yang menjawab melainkan Astrid
Mereka dikabarkan akan bertunangan akhir-akhir ini, bahkan beritanya sudah menjadi konsumsi publik. Selain karena kedua orang tua laki-laki itu yang mendesak terus serta meminta cucu, Raihan juga tidak ingin pujaan hatinya ini direbut orang lain karena tidak cepat memberi kepastian.
"Gak asik lo! Sana kalau mau bucin, cari tempat sendiri!" ujar Gabriel secara tidak langsung memang mengusir
Jujur, Raihan memang banyak berubah setelah menjalin hubungan dengan Astrid. Begitu pun dengan Astrid yang awalnya terlihat baik, tapi sekarang berbeda. Dan itu dirasakan oleh teman-teman Raihan, tapi mereka tetap akan selalu ada di samping laki-laki itu terutama disaat temannya itu membutuhkan mereka.