NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Beberapa hari berlalu setelah hancurnya Serigala Malam. Kediaman keluarga Herman kini bertransformasi menjadi pusat kesibukan luar biasa. Puluhan dekorator profesional, koki kelas dunia, dan perancang busana elit bolak-balik mengisi ruang tamu rumah mewah tersebut.

​Berita tentang kesembuhan ajaib Clara Herman dari penyakit misterius yang menggerogotinya bertahun-tahun telah menjadi rumor paling hangat di kalangan konglomerat ibukota. Banyak pihak yang ragu, namun tak sedikit pula yang penasaran ingin melihat langsung sosok putri tunggal Pak Herman yang konon kembali mekar sempurna.

​Di ruang keluarga lantai satu, tiga perancang busana kenamaan dan asisten mereka sedang memajang belasan gaun malam dan puluhan kain jas impor berkualitas terbaik.

​Clara berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam panjang berwarna gaun merah marun berlapis sutra yang anggun. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang ramping dengan sempurna, memamerkan bahu mulusnya yang kini memancarkan rona sehat bercahaya.

​"Nona Clara sungguh memukau! Gaun ini seolah diciptakan khusus untuk Anda," puji sang perancang busana wanita utama dengan takjub.

​Clara hanya tersenyum tipis. Matanya sama sekali tidak tertuju pada cermin, melainkan pada Bima yang sedang duduk santai di sofa membaca buku kuno tentang herbalisme medis.

​"Sekarang giliran tabib pribadiku," ujar Clara sambil melangkah mendekati Bima dan menarik buku dari tangan pemuda itu. "Bima, berdiri. Kamu harus diukur untuk setelan jas pesta."

​Bima menghela napas pasrah. "Clara, jas yang dibeli di mall kemarin sudah sangat bagus. Tidak perlu..."

​"Tidak bisa!" potong Clara dengan nada manja namun tegas. "Malam pesta nanti adalah malam khusus kita. Kamu harus terlihat paling tampan di antara seluruh tamu pria yang hadir!"

​Dua asisten perancang busana wanita yang masih muda melangkah maju mendekati Bima membawa pita pengukur. Saat mereka melihat wajah tegas Bima dari dekat dan merasakan aura maskulinnya yang tenang namun dominan, kedua asisten itu mendadak merona merah.

​"M-maaf, Tuan... mohon izinkan saya mengukur lingkar dada Anda," bisik salah satu asisten wanita dengan suara agak bergetar, lalu tangannya melingkarkan pita pengukur di dada bidang Bima. Jari-jari asisten itu secara sengaja menyenggol dada tegap Bima sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

​Bima yang polos hanya diam menanti proses pengukuran selesai. Namun, tidak bagi Clara.

​Mata Clara seketika menyipit tajam. Hawa dingin tiba-tiba memancar dari tubuh putri miliarder itu. Ia melangkah maju dengan cepat dan langsung menyela di antara Bima dan asisten wanita tersebut.

​"Biar aku saja yang mengukur lingkar dadanya," potong Clara dengan suara manis yang dibalut nada ancaman yang sangat jelas. Ia merebut pita pengukur dari tangan asisten itu dengan gerakan tangkas.

​Kedua asisten wanita itu terkejut dan mundur beberapa langkah sambil menunduk takut, menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan naga betina yang sedang cemburu buta.

​Bima menatap Clara dengan bingung saat gadis itu sibuk mengukur lingkar dadanya dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa merasakan napas hangat Clara yang terengah pelan menembus kemejanya.

​"Clara, ada apa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Bima polos.

​Clara mendongak, menatap mata Bima dengan tatapan kesal yang menggemaskan. Ia sengaja menarik pita pengukur sedikit lebih kencang hingga tubuh mereka makin berdempetan.

​"Kamu itu terlalu polos atau pura-pura tidak tahu, sih?!" bisik Clara dengan nada merajuk. "Mata wanita-wanita itu tadi seperti mau memakanmu hidup-hidup! Ingat ya, di pesta nanti, kamu hanya boleh berdansa denganku, tidak boleh melirik wanita lain!"

​Bima tertegun sejenak. Pemuda yang biasanya tenang dalam situasi hidup dan mati ini kini hanya bisa terdiam membeku menghadapi keposesifan Clara yang tiba-tiba meluap. Sebuah senyuman tipis dan hangat tanpa sadar terukir di bibir Bima.

​"Baiklah. Saya hanya akan fokus melindungi dan berada di dekatmu," jawab Bima dengan nada lembut.

​Wajah Clara yang tadinya cemberut seketika berubah merah padam mendengar jawaban jujur dan manis dari Bima. Gadis itu buru-buru menyembunyikan wajah malu-malunya di dada Bima, menepuk pelan bahu pemuda itu. "Dasar... jawabanmu selalu saja membuat jantungku mau melompat keluar."

​Sementara itu, di sebuah restoran privat di kawasan megah ibukota, suasana berkabut asap cerutu terasa sangat berat.

​Beberapa pria berjas mahal duduk mengelilingi meja bundar. Mereka adalah para elit bisnis, pemegang saham pesaing, serta lawan politik Pak Herman yang selama ini menantikan kehancuran keluarga tersebut.

​"Bagaimana bisa gadis Herman itu sembuh secara mendadak?!" bentak seorang pria paruh baya berambut kelabu yang merupakan pimpinan konsorsium bisnis saingan. "Dan ada rumor bahwa Serigala Malam rata dengan tanah hanya karena satu orang pengawal misterius!"

​"Berita itu benar, Tuan Surya," sahut seorang pria di sebelahnya sambil menyodorkan sebuah dokumen rahasia. "Pengawal itu bernama Bima. Pemuda udik dari desa yang tiba-tiba diangkat menjadi tabib pribadi oleh Herman. Dia yang menghancurkan Tante Vina dan meratakan Serigala Malam."

​Pria berambut kelabu itu, Tuan Surya, mengepalkan tangannya hingga gelas wiski di genggamannya retak.

​"Herman berpikir dia sudah menang hanya karena bisa menyembuhkan anaknya dan menghancurkan pembunuh bayaran?" bisik Tuan Surya dengan senyum licik yang mengerikan. "Di pesta besok malam, seluruh elit ibukota akan hadir. Jika kita tidak bisa membunuh gadis itu secara fisik, kita akan menghancurkan nama baik keluarga Herman dan membongkar identitas gembel penipu bernama Bima itu di depan semua orang!"

​Tuan Surya melirik ke arah seorang pria kurus berpakaian serba hitam yang duduk bersilang kaki di sudut remang ruangan. Pria itu memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat.

​"Pastikan racun tingkat tinggi yang tidak berbau ini tercampur di minuman pesta besok," perintah Tuan Surya. "Kita lihat, apakah tabib ajaib mereka bisa menyelamatkan puluhan nyawa elit ibukota sekaligus saat bencana meletus!"

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!