NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 : Tangis Winarsih

Clarissa masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Foto demi foto ia geser perlahan. Pada foto pertama, Arga tampak membuka pintu mobil untuk Winarsih. Foto berikutnya memperlihatkan mobil itu meninggalkan halaman Pabrik Roti Juragan Warso.

Jemari Clarissa tanpa sadar mengepal. "Kenapa harus wanita itu..." bisiknya lirih.

Ia menutup mata sejenak, berusaha mengendalikan emosinya. "Dulu, Arga bahkan jarang meluangkan waktu untuk mengantarku. Sekarang..." ia tersenyum pahit. "Dia justru rela menjemput dan mengantar perempuan lain setiap hari."

Rasa cemburu mulai menguasai pikirannya. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali menarik napas panjang. "Tidak... aku tidak boleh gegabah."

Clarissa kembali membuka foto-foto itu. Ia mengamati ekspresi Arga dan Winarsih dengan saksama.

"Mereka memang tidak terlihat seperti pasangan," gumamnya pelan. "Tapi... Arga bukan tipe pria yang akan memberikan perhatian sebesar ini kepada sembarang wanita." Tatapannya perlahan berubah tajam. "Aku mengenalmu, Arga."

Ia lalu mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Dimas.

Tut... tut...

"Dimas."

"Iya, Nona."

"Mulai hari ini, aku ingin semua aktivitas Winarsih dilaporkan kepadaku."

"Baik, Nona."

"Bukan cuma di pabrik."

"Maksud Nona?"

"Aku ingin tahu dia pergi ke mana, bertemu siapa, dan siapa saja yang mendekatinya."

"Baik."

"Tapi ingat, jangan lakukan sesuatu yang bisa membuat Arga curiga."

"Siap, Nona."

"Kalau Arga sampai tahu ada yang membuntutinya, semuanya akan berantakan."

"Saya mengerti."

Clarissa terdiam sejenak sebelum kembali berkata, "dan satu lagi."

"Iya, Nona?"

"Jangan ganggu Winarsih."

Dimas sedikit terkejut. "Nona tidak ingin memberi peringatan kepadanya?"

"Belum saatnya." Clarissa menatap kembali foto Winarsih yang ada di layar ponselnya. "Karena sampai detik ini dia belum melakukan apa pun kepadaku."

"Lalu bagaimana kalau benar Dokter Arga menyukainya?"

Sorot mata Clarissa berubah dalam. "Kalau perasaan itu hanya datang dari Arga, aku masih punya kesempatan. Kalau ternyata Winarsih juga memiliki perasaan yang sama?"

Clarissa terdiam beberapa saat. Nada suaranya kemudian terdengar lebih dingin. "Kalau hari itu benar-benar datang... barulah aku akan memikirkan langkah berikutnya."

"Baik, Nona."

Setelah sambungan telepon berakhir, Clarissa berdiri di depan jendela apartemennya. Lampu-lampu kota mulai menyala, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.

"Arga..." Ia menggenggam ponselnya erat. "Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun. "Aku tidak akan menyerah hanya karena kehadiran seorang wanita kampungan itu."

Meski begitu, di lubuk hatinya yang paling dalam, Clarissa mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Takut kehilangan pria yang selama ini selalu ia yakini akan menjadi pendamping hidupnya.

***

Malam itu...

Suasana di rumah kontrakan Bu Ratna begitu sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar jendela yang terdengar bersahutan, menambah sepi malam.

Di dalam kamar kecilnya, Winarsih duduk di tepi ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk. Kedua tangannya masih menggenggam erat amplop cokelat berisi salinan gugatan cerai yang tadi diterimanya.

Matanya sembab. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya kembali mengalir perlahan. Ia menatap lembaran surat itu cukup lama, seolah berharap isi tulisan di atasnya berubah. Namun, kenyataan tetap sama. Pernikahannya yang selama ini ia pertahankan dengan segenap hati kini berada di ujung tanduk.

"Ya Allah..." bisiknya lirih. Suaranya bergetar. "Kenapa Mas Benni tega menceraikan aku...?" Air matanya kembali jatuh. "Padahal... aku tidak pernah mengkhianati Mas. Aku selalu menjaga kepercayaan Mas. Aku menunggu Mas pulang setiap hari."

Winarsih memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Selama Benni berada di Jepang, ia tidak pernah sekalipun berhasil berbicara langsung dengan suaminya. Setiap kali mencoba menanyakan kabarnya kepada Sulastri, selalu ada alasan yang membuatnya gagal.

Kini, tanpa pernah mendapat kesempatan menjelaskan apa pun, surat gugatan itu justru datang menghancurkan harapannya.

Winarsih mengusap air matanya pelan. "Tidak..." Ia menggeleng pelan. "Aku harus bertemu Mas Benni."

Tatapannya mulai terlihat lebih teguh, meski matanya masih basah. "Besok... aku akan datang ke rumah Bu Sulastri." Ia menarik napas panjang. "Aku harus meminta nomor telepon Mas Benni."

Winarsih menggenggam surat itu semakin erat. "Kalau memang benar Mas Benni yang ingin menceraikanku... aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Mas sendiri."

Suaranya kembali bergetar. "Aku tidak mau semuanya berakhir seperti ini... tanpa penjelasan." Ia menundukkan kepala. "Aku... masih sangat mencintai Mas."

Kalimat itu keluar begitu saja, diiringi isak tangis yang kembali pecah. Tanpa sadar, ingatannya melayang jauh ke beberapa bulan lalu. Saat itu... rumah sederhana milik kedua orang tuanya dipenuhi suasana hangat.

Benni datang bersama Sulastri dan beberapa kerabat untuk melamar dirinya. Winarsih yang saat itu mengenakan kebaya sederhana hanya mampu menundukkan kepala karena malu.

Sesekali ia mencuri pandang ke arah Benni. Pria itu membalasnya dengan senyum hangat yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Saat lamaran diterima kedua keluarga, hati Winarsih dipenuhi rasa syukur.

Dalam hati ia berkata, "ya Allah... apakah ini jawaban dari doa-doaku?"

Ia benar-benar percaya bahwa Benni adalah laki-laki yang akan menemaninya hingga akhir hayat.

Beberapa minggu kemudian...

Hari pernikahan mereka tiba. Benni menggenggam tangannya dengan lembut setelah akad selesai.

"Mulai hari ini," ucap Benni sambil tersenyum, "aku yang akan menjagamu."

Winarsih masih mengingat jelas bagaimana hangatnya ucapan itu. Malam harinya, saat mereka telah berada di rumah, Benni sama sekali tidak memaksanya melakukan apa pun.

Melihat Winarsih masih sangat malu dan canggung, Benni hanya tersenyum. "Jangan takut."

Winarsih menatapnya pelan.

"Aku tahu kamu masih butuh waktu," lanjut Benni dengan suara lembut. "Aku bisa menunggu sampai kamu benar-benar merasa siap. Aku tidak ingin kamu merasa terpaksa."

Ucapan itu membuat hati Winarsih semakin yakin bahwa dirinya tidak salah memilih pasangan hidup. Namun, hari-hari setelahnya tidak pernah berjalan seperti yang mereka harapkan.

Hampir setiap kali mereka memiliki kesempatan untuk menikmati waktu berdua sebagai pasangan yang baru menikah, selalu saja ada alasan yang membuat kebersamaan itu tertunda.

Sulastri kerap memanggil Benni dengan berbagai keperluan, atau meminta Winarsih membantunya mengerjakan pekerjaan rumah hingga larut malam.

Winarsih tidak pernah berpikir buruk. Ia menganggap mertuanya memang sedang membutuhkan bantuan. Sementara Benni hanya bisa tersenyum meminta maaf setiap kali rencana mereka tertunda.

"Sudahlah," katanya saat itu. "Masih ada hari esok."

Winarsih pun mengangguk sambil tersenyum. Ia benar-benar percaya bahwa mereka masih memiliki waktu yang panjang untuk membangun rumah tangga yang bahagia.

Namun kini... semua kenangan indah itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hatinya. Winarsih memeluk lututnya di atas ranjang. Air matanya kembali mengalir tanpa suara.

Ia masih sulit menerima bahwa laki-laki yang dahulu berjanji akan menjaganya, kini justru mengirimkan surat yang mengakhiri pernikahan mereka tanpa pernah memberinya kesempatan untuk berbicara.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!