Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Limousine mewah berwarna hitam berkilat meluncur mulus membelah keheningan malam kota Los Angeles, menerobos gerbang besi menjulang tinggi menuju kawasan elite tempat Mansion Utama Vale-Knight berdiri.
Di dalam kabin penumpang yang luas dan beraroma harum kayu cendana, Rossi duduk menyender canggung di atas jok kulit yang empuk.
Di sampingnya, Nyonya Suzzy Vale-Knight tak henti-hentinya menatap Rossi dengan binar mata yang dipenuhi rasa hangat, ketertarikan, dan antusiasme yang tak terbendung.
"Rileks saja, Rossi... Jangan tegang begitu," ujar Suzzy lembut, mengusap punggung tangan Rossi yang agak dingin. Senyum anggun tak pernah lepas dari wajah cantik wanita paruh baya itu. "Mansion kami sangat luas, tapi tidak seseram yang kau bayangkan. Kau akan sangat aman di sana."
"T-terima kasih, Nyonya..." cicit Rossi dengan nada sopan, berusaha menata detak jantungnya yang berdebar kencang.
Di dalam benak Rossi, situasi ini terasa begitu surealis. Hanya beberapa jam lalu Rowan berjanji akan membawanya bertemu sang ibu setelah semua urusan perceraiannya dengan Cathez tuntas.
Namun kini, tanpa terencana sama sekali, ia justru duduk berdua di dalam limousine mewah bersama ibu kandung pria itu—ibu mertuanya sendiri—yang sama sekali belum mengetahui status pernikahan sah mereka.
Suzzy terkekeh pelan, menyilangkan kakinya yang anggun. "Ah, jangan panggil 'Nyonya'. Panggil saja Mommy, seperti Rowan memanggilku. Mendengarmu memanggil 'Nyonya' membuatku merasa sangat tua."
"B-baik... Mommy," jawab Rossi patuh, meski lidahnya terasa agak kaku mengucapkan panggilan hangat itu.
Suzzy mengangguk puas, mengusap jemari Rossi yang jemarinya halus namun memiliki bekas kapalan tipis—bekas pekerjaan kasar yang sempat Rossi lakukan, meski Suzzy mengira itu hanya karena Rossi gadis yang mandiri.
"Kau tahu, Rossi... Saat aku melangkah masuk ke penthouse Rowan malam ini, aku benar-benar shik shak shok!" Suzzy tertawa renyah, mengenang momen mengejutkan beberapa jam lalu.
"Rowan itu... Pria paling kaku, dingin, dan tertutup yang pernah ada. Sejak kecil, dia tidak pernah memperbolehkan sembarang orang mengacak-acak wilayah pribadinya. Bahkan selama empat tahun dia terikat pernikahan dengan Cathez, Rowan tidak pernah mengizinkan wanita itu menginjakkan kaki di penthouse itu!"
Suzzy menggelengkan kepalanya dengan mimik wajah gemas, melirik sekilas ke arah leher Rossi yang ditutupi oleh kerah gaunnya.
"Maka dari itu, saat aku melihatmu di sana—dengan jejak-jejak keberadaan Rowan yang begitu jelas—aku langsung tahu..." Suzzy mengedipkan sebelah matanya yang tajam dengan kilatan jenaka.
"Putra tunggalku yang terhormat itu akhirnya bertekuk lutut pada seorang wanita. Dia menyembunyikanmu seperti menyimpan harta karun! Anak nakal itu benar-benar... Dia pikir dia bisa menyembunyikan gadis secantik dirimu dari ibunya sendiri?"
Rossi merona merah, menundukkan kepalanya canggung. "Rowan hanya... Dia hanya ingin melindungi saya, Mommy."
"Tentu saja dia ingin melindungimu," sahut Suzzy dengan helaan napas yang berubah agak dalam, pancaran matanya mendadak dipenuhi rasa iba dan penyesalan. "Kehidupan Rowan selama empat tahun terakhir ini benar-benar gila, Rossi. Pernikahannya dengan Cathez adalah sebuah tragedi yang dipaksakan oleh rasa tanggung jawab atas kematian sahabatnya."
Suzzy mengusap ibu jarinya di atas punggung tangan Rossi, menuangkan isi hatinya secara jujur. Ibu mana yang tidak sakit hati melihat putranya menderita dalam ikatan pernikahan dingin tanpa rasa cinta?
"Sejak hari pertama pernikahan konyol itu digelar, aku tahu Rowan tidak pernah bahagia," lanjut Suzzy dengan nada penuh emosi. "Dia mengorbankan masa mudanya, kebahagiaannya, dan hatinya hanya demi menjalankan pesan terakhir mendiang sahabatnya. Dia bertahan dalam keheningan yang menyiksa. Tapi sekarang... Setelah kejahatan Cathez terbongkar dan penyelidikan kematian sahabatnya dibuka kembali, belenggu itu akhirnya hancur."
Suzzy menatap Rossi dengan tatapan penuh harapan yang teramat tulus.
"Mommy sangat berharap, Rossi... Setelah proses perceraian resmi dengan Cathez selesai di pengadilan nanti, Rowan akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki istri yang benar-benar ia cintai," bisik Suzzy, suaranya bergetar oleh kasih sayang seorang ibu.
"Istri yang dipilih oleh hatinya sendiri, bukan karena paksaan wasiat palsu atau tekanan moral. Dan melihat bagaimana Rowan memperlakukanmu... Bagaimana dia menyembunyikanmu dengan begitu protektif di penthouse-nya... Mommy yakin, kau adalah jawaban dari doa-doa Mommy selama ini."
Deg.
Kata-kata Suzzy menghantam dada Rossi dengan telak.
Rossi terpaku di tempatnya. Di dalam batinnya, gejolak emosi yang asing merayap pelan.
Suzzy mengira dirinya adalah gadis yang baru dikencani atau dipacari oleh Rowan secara rahasia—seorang kekasih yang terpaksa disembunyikan di penthouse karena status hukum Rowan yang belum resmi bercerai dari Cathez.
Suzzy tidak tahu bahwa pria yang ia sebut 'kaku' itu telah menikahi Rossi secara rahasia di gereja kecil dan mengikatnya dalam perjanjian hukum yang pekat.
Mommy tidak tahu... aku sudah menjadi istrinya... batin Rossi berbisik lirih. Ada rasa tersanjung dan hangat yang membuncah di dadanya mendengar betapa Suzzy sangat menyukainya dan merestui hubungannya dengan Rowan.
°°°
Sementara itu, di sudut lain kota Los Angeles... kepanikan tingkat tinggi sedang melanda seorang Rowan Vale-Knight.
Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi di Mansion Utama, rapat darurat antara Rowan, Daddy-nya, dan tim pengacara hukum baru saja usai.
Begitu dokumen penangkapan Cathez dan draf gugatan pembatalan pernikahan ditandatangani, Rowan langsung merogoh saku jasnya untuk memeriksa ponsel.
Pria tegap itu berniat memeriksa keamanan penthouse melalui sistem CCTV internal yang terhubung ke ponselnya. Namun, saat ia membuka aplikasi pemantau, keningnya berkerut tajam.
Layar menunjukkan bahwa sistem keamanan pintu utama penthouse baru saja dibuka dua jam yang lalu menggunkan kode akses darurat keluarga.
Dan yang lebih mengejutkan, sensor kamera menangkap bayangan ibunya—Nyonya Suzzy—melangkah masuk... lalu keluar beberapa belas menit kemudian sambil membimbing Rossi keluar!
"Sial!" umpat Rowan rendah, wajahnya yang kaku mendadak pucat pasi.
Jantung Rowan berdegup kencang, sebuah kepanikan liar memburu alir darahnya—sebuah perasaan yang hampir tidak pernah dirasakan oleh pria dingin sepertinya.
Mommy menemukan Rossi!
Tanpa berpikir panjang, Rowan membalikkan tubuhnya, melangkah lebar dan tergesa-gesa keluar dari ruang kerja tanpa memedulikan panggil dari sang Daddy. Pria itu menyusuri koridor mansion dengan napas memburu, langsung menuju ke arah ruang keluarga utama.
Di kepalanya, berbagai skenario terburuk bertumpukan dengan liar. Rowan tahu betul betapa protektif dan kritisnya sang Mommy terhadap wanita mana pun yang berada di sekitarnya.
Rowan takut Mommy-nya akan menginterogasi Rossi secara kasar, menghakimi gadis polos itu, atau lebih buruk lagi... membuat Rossi merasa ketakutan dan tidak nyaman hingga memilih melarikan diri!
"Mommy!" panggil Rowan dengan suara baritonnya yang pecah oleh ketegangan, melangkah masuk ke dalam ruang keluarga yang diterangi lampu gantung kristal yang megah.
Namun, pemandangan yang menyambut matanya di dalam ruang keluarga seketika membuat langkah kaki Rowan terhenti kaku di atas karpet Persia.
Di atas sofa beludru berwarna krem, Rossi duduk dengan nyaman sambil memegang cangkir teh herbal hangat.
Di sampingnya, Nyonya Suzzy sedang tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk paha Rossi dengan raut wajah yang sangat terhibur. Kedua wanita itu tampak begitu akrab, seolah-olah sudah saling mengenal selama bertahun-tahun!
Mendengar suara langkah kaki dan panggilan panik putranya, Suzzy menoleh. Wajah anggun sang Mommy seketika dihiasi oleh senyuman penuh kemenangan dan ejekan yang sangat jelas.
"Oh... Lihat siapa yang baru saja datang dengan wajah sepucat mayat," goda Suzzy dengan nada suara yang sangat santai, menatap putranya yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
Rowan menarik napas dalam-dalam, menguasai dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu. Langkah kakinya bergerak cepat mendekati sofa, matanya yang tajam langsung meneliti kondisi Rossi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau tidak apa-apa, Rossi?" tanya Rowan dengan suara serak yang kentara sekali dipenuhi kecemasan, mengabaikan keberadaan ibunya sejenak.
Tangannya terulur, menyentuh bahu Rossi seolah ingin memastikan gadis itu tidak terluka.
Rossi mendongak, menatap mata hitam Rowan yang diliputi kepanikan. Kehangatan yang terpancar dari perhatian pria itu membuat dada Rossi berdesir pelan. Rossi menyunggingkan senyum manis yang menenangkan.
"Aku tidak apa-apa, Rowan. Mommy sangat baik padaku."
Mendengar panggilan 'Mommy' keluar dengan begitu alami dari mulut Rossi, raut wajah Rowan makin membeku. Pria itu menoleh tajam ke arah ibunya.
"Mommy... Apa yang Mommy lakukan?" bisik Rowan dengan nada tertahan, rahangnya mengeras. "Kenapa Mommy membawa Rossi ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Aku kan sudah bilang bahwa tempat ini sedang—"
"Sedang apa, Rowan?" potong Suzzy cepat, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum mengejek yang tertawa di atas penderitaan dan kepanikan putranya sendiri.
"Kau ingin membiarkan gadis secantik ini sendirian di penthouse di saat situasi kota sedang kacau karena pemburuan Cathez?" tegur Suzzy dengan mata berbinar jenaka. "Kau pikir Mommy tidak tahu? Kau menyembunyikan kekasihmu di sana, bertindak sok misterius, dan membiarkannya kesepian!"
Kekasih?
Rowan tertegun. Kata itu membuat alis tebal Rowan bertaut rapat.
Pria itu melirik Rossi sekilas, lalu kembali menatap ibunya. Rupanya... Mommy-nya belum mengetahui status hukum mereka yang sebenarnya. Suzzy mengira dirinya dan Rossi berada dalam ikatan asmara rahasia.
Suzzy bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Rowan, lalu menepuk dada tegap putranya dengan pukulan kecil yang agak keras—pukulan gemas seorang ibu.
"Kau ini benar-benar nakal ya, Rowan Vale-Knight!" bisik Suzzy dengan nada menggoda, suaranya dipelankan agar tidak terlalu terdengar oleh Rossi meski suasana ruangan sangat sunyi.
"Kau menyembunyikan gadis manis ini, hah? Dan astaga... Mommy melihat tanda di lehernya! Kau benar-benar tidak sabaran, ya? Pria kaku seperti mu ternyata bisa bersikap begitu liar!"
Wajah tegap Rowan yang biasanya selalu dingin dan tak tersentuh... seketika merona merah tipis di bagian telinganya!
Pria bertubuh jangkung itu menahan napasnya, berdeham keras untuk menutupi rasa canggung dan malu yang mendadak menghantamnya di hadapan sang ibu dan Rossi.
"Mommy, hentikan bicaramu yang aneh-aneh..." desis Rowan rendah, mencoba mempertahankan wibawanya meski gagal total di depan Suzzy.
"Aneh-aneh bagaimana?" Suzzy tertawa renyah, merasa sangat puas berhasil membuat putra tunggalnya yang kaku itu mati kutu dan panik setengah mati. "Mommy justru sangat bahagia! Akhirnya otakmu berfungsi dengan benar dalam memilih wanita! Rossi ribuan kali lebih baik, lebih tulus, dan lebih cantik daripada wanita gila bernama Cathez itu!"
Suzzy berbalik, kembali menghampiri Rossi dan merangkul bahu gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Mulai malam ini, Rossi akan tinggal di Mansion Utama!" umum Suzzy dengan nada tegas yang tak bisa dibantah. "Dia akan tidur di kamar tamu di sayap timur—yang terhubung langsung dengan kamarmu. Dan kau, Rowan... Jangan coba-coba bertindak nakal di bawah atap rumah Mommy sebelum urusan perceraianmu selesai secara hukum!"
Rowan memijat pangkal hidungnya yang mancung, menghela napas panjang yang terasa teramat berat. Ia menatap Rossi, yang hanya bisa memberikan pandangan pasrah namun manis dari balik rangkulan ibunya.
Di satu sisi, kepanikan Rowan perlahan mereda begitu melihat betapa ibunya sangat menyukai dan menerima keberadaan Rossi dengan tangan terbuka.
Namun di sisi lain, Rowan tahu... benang merah yang mengikat mereka makin rumit. Rossi kini berada tepat di pusat kekuasaan keluarga Vale-Knight, dikelilingi oleh kasih sayang yang tulus dari keluarganya, sementara di dalam rahim gadis itu... sebuah rahasia besar dan benih dendam mungkin sedang mulai bertumbuh.
"Baiklah..." ujar Rowan akhirnya dengan suara pasrah, matanya tak lepas menatap Rossi dengan kilatan kehangatan yang dalam. "Kalau itu kemauan Mommy. Tapi pastikan penjagaan di sekitar mansion ditingkatkan dua kali lipat."
"Tenang saja, Daddymu sudah mengurus semua pengawal di luar," jawab Suzzy riang. "Sekarang, ayo Rossi... Mommy akan mengantarmu melihat kamarmu. Biarkan pria kaku ini menyelesaikan urusannya!"
Suzzy membimbing Rossi melangkah menyusuri koridor megah mansion, meninggalkan Rowan yang masih berdiri di tengah ruangan.
Rowan menatap punggung Rossi yang makin menjauh, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa lega.
Di tengah badai dan kehancuran yang ditimbulkan oleh Cathez dan Abner, kehadiran Rossi di rumah ini terasa seperti cahaya baru yang siap menghangatkan masa depan keluarga Knight.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰