NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTAK P3K BU SATYA

Bu Satya tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Ia hanya melihat darah yang merembes pada kaus kakiku, lalu menatap wajahku. Tatapannya membuatku ingin segera memasukkan kaki ke dalam sepatu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Jangan dipakai lagi,” katanya.

“Sebentar lagi pelajaran dimulai, Bu.”

“Justru karena pelajaran akan dimulai, lukamu harus dibersihkan.”

Ia menyuruh Gala memanggil Nira dari kelas tiga. Aku ingin menolak. Luka adikku tidak separah lukaku, dan aku takut kedatangan kami ke ruang guru akan kembali membuat orang membicarakan sepatu kami. Namun, Bu Satya sudah mengangkat sepatuku dengan dua jari dan meminta aku berjalan tanpa alas menuju ruang guru.

Lantai sekolah terasa dingin. Setiap langkah membuat jari kiriku berdenyut. Aku berjalan pelan sambil menunduk agar tidak melihat teman-teman yang memperhatikan dari pintu kelas. Jalu tidak tertawa. Ia hanya memandang sepatu kiriku yang menganga seperti mulut kelelahan.

Di ruang guru, Bu Satya membuka kotak P3K berwarna putih. Catnya terkelupas pada bagian sudut, tetapi isinya tersusun rapi: kapas, kain kasa, botol obat merah, gunting, dan beberapa gulung perban. Bau obat langsung memenuhi ruangan.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk di kursi kayu. Bu Satya merendam kain kasa dengan air bersih, lalu melepaskan kaus kakiku perlahan. Kain itu menempel pada kulit. Ketika ditarik, rasa perih menjalar sampai betis. Aku menggigit bibir dan memegang tepi kursi.

“Sejak kapan?” tanyanya.

“Sejak kemarin.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Kalau bilang, Ayah mungkin melarang saya sekolah.”

Bu Satya berhenti membersihkan luka. “Ayahmu melarang karena tidak ingin kau terluka, bukan karena tidak ingin kau belajar.”

Aku tahu ia benar. Namun, di kepalaku, tidak masuk sekolah tetap terasa seperti kalah. Jalan sudah mengambil banyak waktu kami. Aku tidak ingin luka kecil ikut mengambil pelajaran.

Nira masuk bersama Gala. Rambutnya masih basah oleh keringat dan ujung roknya terkena lumpur. Begitu melihat kakiku, wajahnya berubah.

“Kakak berdarah.”

“Hanya lecet.”

“Ini bukan hanya lecet,” kata Bu Satya. Ia meminta Nira melepas kedua sepatunya. Tumit adikku memerah dan kulitnya kembali terbuka pada bekas luka lama. Di telapak kakinya ada garis putih karena terlalu lama lembap.

Bu Satya membersihkan kaki kami bergantian. Nira meringis, tetapi tidak menangis. Ia memegang tanganku kuat-kuat. Ketika obat merah menyentuh kulit, ia mengembuskan napas panjang seperti orang dewasa yang menahan sakit.

Bu Satya menjelaskan bahwa kaki yang terus lembap dapat membuat luka membesar. Ia menyuruh kami mengganti kaus kaki setiap kali basah dan mengeringkan sela jari sebelum memakai sepatu. Aku hanya mengangguk. Nasihat itu mudah diucapkan di ruang guru yang kering. Di perjalanan, kami tidak mempunyai kaus kaki cadangan, tempat berteduh, atau waktu untuk menunggu sepatu kering. Namun, aku tidak menyalahkannya. Ia sedang mencoba menjaga kami dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Pak Sasmita masuk membawa buku kehadiran. Ia terkejut melihat kami duduk tanpa sepatu.

“Jalannya kembali buruk?” tanyanya.

“Sepatunya belum kering sejak kemarin,” jawab Bu Satya. “Mereka tetap datang.”

Pak Sasmita melihat luka kami, lalu menutup buku di tangannya. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang keterlambatan atau aturan. Sebelum keluar, ia hanya berpesan agar kami tidak berjalan pulang kalau hujan kembali turun. Sekolah akan mencarikan tempat menginap di rumah warga dekat pasar jika perlu.

Setelah luka dibalut, Bu Satya membuka lemari kecil. Ia mengeluarkan dua pasang kaus kaki. Warnanya tidak lagi putih. Satu pasang abu-abu muda, satu lagi krem dengan jahitan kecil pada bagian ujung.

“Ini milik anak Ibu,” katanya. “Sudah kekecilan, tetapi masih baik.”

Aku langsung menggeleng. “Tidak usah, Bu.”

“Kenapa?”

“Kami masih punya.”

Kaus kaki kami tergeletak basah di atas koran. Milikku berlubang pada ibu jari. Punya Nira melar dan warnanya seperti tanah. Jawabanku terdengar lemah bahkan di telingaku sendiri.

“Aku tidak mau dianggap meminta-minta,” kataku pelan.

Bu Satya duduk di kursi di depanku. “Menerima pertolongan bukan berarti kehilangan harga diri, Langga. Harga diri tidak berada di kaus kaki atau sepatu. Yang membuat manusia kecil adalah ketika ia menertawakan kesulitan orang lain.”

Aku menatap kaus kaki pemberiannya. Aku teringat Mbah Wreda yang menerima beras sebagai bayaran reparasi, warga yang menyumbangkan bambu, dan Ibu yang kadang meminjam garam dari tetangga lalu mengembalikannya setelah panen. Mungkin hidup kami memang selalu ditopang oleh tangan-tangan yang saling bergantian.

Aku menerima pasangan abu-abu. Nira mendapat yang krem. Kaus kaki itu terasa hangat saat dipakai, meskipun sepatuku masih basah dan tidak boleh digunakan sampai sore. Ketika kami kembali ke kelas dengan sandal pinjaman, beberapa teman memperhatikan. Gala tersenyum, sedangkan Jalu menurunkan pandangan. Tidak ada yang bertanya dari mana kaus kaki itu berasal. Untuk pertama kalinya, aku merasa pertolongan dapat diterima tanpa harus diumumkan kepada seluruh dunia.

Sebelum kami kembali ke kelas, Bu Satya mengeluarkan selembar formulir. Di bagian atas tertulis bantuan pendidikan bagi siswa kurang mampu. Ada kolom nama, pekerjaan orang tua, jumlah tanggungan, serta tanda tangan kepala keluarga.

“Sekolah mendapat bantuan terbatas,” katanya. “Bisa dipakai untuk buku, seragam, atau keperluan belajar.”

Aku membaca kata kurang mampu dan merasa tengkukku panas. Kata-kata itu seperti menempelkan papan pada dada kami. Aku membayangkan nama Ayah dibaca oleh guru-guru, lalu semua orang mengetahui berapa sedikit penghasilan keluarga kami. Seolah-olah kehidupan kami harus ditulis dalam kotak-kotak agar diakui. Bu Satya tidak memaksaku. Ia melipat formulir, memasukkannya ke dalam map tipis, lalu menyerahkannya.

“Bawa pulang. Bicarakan dengan orang tuamu.”

Sepanjang perjalanan pulang, formulir itu berada di dalam plastik bersama buku catatan jalan. Aku berjalan memakai sandal pinjaman sekolah. Nira membawa kedua sepatu kami yang dibungkus koran. Kami sampai rumah ketika langit mulai gelap.

Ayah membaca formulir dekat lampu minyak. Ia berhenti lama pada kolom pekerjaan. Tangannya mengusap kertas seolah takut meninggalkan noda.

“Kalau Ayah tanda tangan, orang akan mengira Ayah tidak mampu mengurus kalian,” katanya.

Ibu yang sedang menambal atap dari dalam menoleh. “Kita memang belum mampu membeli semua yang mereka perlukan. Mengakuinya bukan dosa.”

“Aku masih bekerja.”

“Bantuan itu bukan pengganti kerja Ayah. Itu untuk sekolah anak-anak.”

Ayah menunduk. Wajahnya terlihat letih. Aku ingin mengatakan tidak perlu. Aku dapat menggunakan buku lama dan sepatu yang sama. Namun, jari kakiku masih dibalut, dan di dekat tungku sepatu kami mengeluarkan bau kulit basah.

“Aku akan belajar sungguh-sungguh,” kataku. “Setiap rupiahnya tidak akan sia-sia.”

Nira ikut mengangkat tangan. “Aku juga.”

Ayah memandang kami bergantian. Akhirnya ia mengambil pena dan menandatangani bagian bawah formulir. Huruf-hurufnya tetap miring seperti pada surat jalan, tetapi kali ini tangannya tidak bergetar.

Keesokan harinya aku menyerahkan formulir kepada Bu Satya. Ia memeriksa tanda tangan, lalu menghela napas kecil. Aku mengira ada kolom yang salah.

“Formulirmu lengkap,” katanya. “Tetapi Ibu harus menjelaskan sesuatu.”

Aku dan Nira berdiri di depan meja, masih memakai kaus kaki pemberiannya.

“Tahun ini,” lanjut Bu Satya, “sekolah hanya dapat memberikan satu bantuan untuk satu anak dari keluarga kalian.”

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!