Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Senyuman Ibu
Kehangatan Matahari pagi yang masuk menyinari melalui celah gorden kamar VIP RS Adhyastha. Bau karbol medis yang khas berpadu dengan aroma harum bunga-bunga segar bernuansa pink lembut yang sengaja Reno pesan untuk mempercantik ruangan tersebut.
Kondisi Ibu Salma pagi ini menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Alat-alat medis yang tadinya terpasang rumit kini sudah dilepas satu per satu oleh tim dokter, menyisakan selang oksigen tipis di hidungnya.
Aura duduk di samping ranjang, menyuapkan bubur halus secara perlahan ke mulut ibunya. Senyum kebahagiaan tak pernah lepas dari wajah cantiknya.
"Satu sendok lagi ya, Bu... Biar Ibu makin cepat pulih dan bisa jalan-jalan lagi sama Aura," tutur Aura lembut seraya mengusap sudut bibir ibunya dengan tisu.
Ibu Salma menerima suapan itu dengan pelan. Wajahnya yang semula pucat kini mulai memancarkan rona kehidupan. Setelah mengunyah dan menelannya, Ibu Salma menatap putri tunggalnya itu dengan tatapan haru.
"Aura..." panggil Ibu Salma dengan suara yang masih agak serak, namun sudah jauh lebih bertenaga dibanding semalam.
"Iya, Ibu?"
"Suamimu... Nak Reno mana?" tanya Ibu Salma pelan.
Mendengar nama suaminya disebut, dada Aura mendesir hangat. "Mas Reno baru saja keluar sebentar untuk bicara sama tim dokter spesialis dan urus administrasi pemulihan Ibu. Nanti Mas Reno balik lagi ke sini kok, Bu."
Ibu Salma mengangguk-angguk pelan. Tangan keriputnya yang masih terasa lemah terulur menjangkau jemari Aura, mengusapnya penuh kasih sayang seorang ibu.
"Ibu... bersyukur sekali, Aura," bisik Ibu Salma, air mata bening menggenang di sudut matanya. "Melihat Nak Reno semalam... cara dia menatap kamu, cara dia merangkul kamu... Ibu tahu dia pria yang sangat bertanggung jawab. Matanya jujur, sayang sama kamu."
Aura tersentak pelan, merasakan pipinya memanas. Ia teringat bagaimana paniknya mereka semalam, membatalkan momen intim yang hampir saja terjadi di penthouse karena telepon darurat dari rumah sakit. Namun, melihat ibunya kini membaik, segala pengorbanan itu terasa sangat sepadan.
Aura tersenyum malu, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. "Mas Reno baik banget sama Aura, Bu. Sangat menjaga dan menyayangi Aura..."
Tepat saat itu, pintu kamar VIP terbuka secara perlahan. Sosok Reno melangkah masuk dengan setelan kemeja formal tanpa jas, menggulung bagian lengannya hingga siku. Wajahnya yang tegas dan tampan seketika melunak begitu melihat Ibu Salma sudah duduk bersandar di ranjang.
"Selamat pagi, Ibu..." sapa Reno hangat dan sopan. Pria tegap itu melangkah mendekat, membungkuk dan mencium tangan Ibu Salma penuh rasa hormat.
"Selamat pagi, Nak Reno..." balas Ibu Salma seraya mengukir senyum tulus pertamanya sejak siuman.
Reno berdiri di samping ranjang, tangannya secara alami mendarat di bahu Aura, meremasnya lembut. "Kata Dokter, kalau kondisi grafik saraf Ibu terus stabil seperti ini, dalam beberapa hari ke depan Ibu sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa atau menjalani terapi pemulihan di rumah."
"Terima kasih banyak ya, Nak Reno... Sudah sangat repot merawat Ibu dan menjaga Aura," tutur Ibu Salma penuh rasa haru.
Reno menggeleng pelan, tersentak oleh ketulusan wanita paruh baya itu, lalu tersenyum sangat menawan. "Tidak ada yang direpotkan sama sekali, Bu. Ini sudah jadi kewajiban Reno sebagai suami Aura dan menantu Ibu. Ibu tidak perlu memikirkan apa pun, fokus saja untuk sehat kembali."
Aura menengadah, menatap Reno dengan binar cinta dan kebanggaan yang meluap. Kepedulian Reno yang begitu tulus pada ibunya membuktikan bahwa pria itu benar-benar pelindung sejati dalam hidupnya.
Siang harinya, setelah memastikan Ibu Salma beristirahat nyaman di bawah pengawasan suster khusus, Reno membawa Aura kembali sebentar ke penthouse untuk beristirahat dan bersiap sebelum siaran sore.
Suasana penthouse terasa begitu tenang saat pintu depan tertutup otomatis. Keheningan yang mewah ini seolah mengisolasi mereka dari kepenatan belakangan ini. Aura melangkah ke kamar utama, berniat mandi dan mengganti pakaiannya. Namun, rasa lelah yang bercampur dengan kelegaan membuat gerakannya melambat di depan cermin besar.
Tiba-tiba, sepasang lengan tegap merengkuh pinggangnya dari belakang dengan sangat erat dan hangat. Aura tersentak pelan, namun langsung menyandarkan tubuhnya di dada bidang Reno yang kokoh. Reno menyandarkan dagunya di bahu Aura, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil menenangkannya. Matanya menatap tajam namun penuh kelembutan pada pantulan bayangan mereka di cermin.
"Capek ya, sayang?" bisik Reno lembut tepat di dekat telinga Aura, napas hangatnya menggelitik kulit leher Aura hingga membuat wanita itu merinding halus.
Aura menggeleng pelan, mengusap lengan tegap suaminya yang melingkar erat di perutnya. "Nggak capek sama sekali, Mas. Malah hati aku rasanya tenang dan bahagia banget hari ini... Semua karena Mas Reno."
Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan membalikkan tubuh Aura hingga mereka berhadapan rapat tanpa jarak. Manik mata hitam pekat milik Reno menatap dalam ke dalam mata jernih istrinya, mengunci seluruh atensi Aura. Jari-jari kokoh Reno bergerak menangkup kedua pipi Aura, mengusap kulit halusnya dengan ibu jari.
"Semalam... kita berutang satu momen penting," bisik Reno dengan suara bariton yang mendalam dan serak, mengungkit penyatuan mereka yang tertunda. Tatapannya turun ke bibir mungil Aura yang tampak begitu mengundang.
Jantung Aura berdegup kencang, debaran yang jauh berbeda dari kepanikan semalam di rumah sakit. Ini adalah debaran asmara yang menuntut balasan. "Mas..." lirih Aura, suaranya nyaris hilang.
Reno menunduk, mendaratkan kecupan hangat di kening Aura, lalu turun ke kedua pipinya, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya di atas bibir mungil Aura. Kali ini, tidak ada ketergesaan. Ciuman itu dimulai dengan kelembutan yang sangat dalam, sebuah ungkapan rasa syukur dan kepemilikan yang mutlak.
Aura melingkarkan tangannya di leher tegap Reno, berjinjit sedikit untuk memperdalam tautan mereka. Respons Aura yang pasrah sekaligus mendamba membuat pertahanan Reno runtuh. Kecupan lembut itu berubah menjadi pagutan yang intim, menuntut, dan penuh gairah yang sempat tertahan semalam. Reno merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada lagi udara yang memisahkan.
Satu tangan Reno turun ke pinggang Aura, menariknya lebih dekat, sementara tangan lainnya menyusup ke sela-sela rambut tebal Aura, menahan tengkuk istrinya agar ciuman mereka semakin mengikat. Aura melenguh pelan di sela ciuman mereka, merasakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sentuhan Reno di kulitnya terasa bagai sengatan listrik yang memabukkan.
Reno melepaskan tautan bibir mereka perlahan, menyisakan napas yang terengah-engah. Ia tidak membiarkan Aura menjauh; bibirnya beralih menelusuri rahang tegas Aura hingga turun ke leher jenjang istrinya. Di sana, Reno memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil yang membuat tubuh Aura gemetar dalam dekapannya.
"Mas Reno... ah," desis Aura pelan, jemarinya meremas kemeja bagian belakang Reno, mencari pegangan karena kakinya terasa lemas.
"Kamu milikku, Aura. Seutuhnya," bisik Reno posesif di ceruk leher Aura. Ia mengangkat tubuh Aura dengan mudah, membawa istrinya ke dalam gendongan dan mendudukkannya di tepi ranjang king-size mereka tanpa memutuskan kontak fisik.
Reno berlutut di antara kedua kaki Aura, menatap sang istri dengan tatapan berwajah gairah dan cinta yang murni. Ia melepas beberapa kancing teratas kemejanya sendiri dengan tidak sabar, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun karena napas yang memburu. Tangan Reno kembali merayap ke pinggang Aura, mengusapnya di balik pakaian, menciptakan kehangatan yang membakar.
"Mas senang melihat senyum kamu hari ini, Aura," tutur Reno tulus dengan suara baritonnya yang rendah, menjangkau jemari Aura dan mengecup punggung tangannya. "Mulai sekarang, tidak boleh ada air mata kesedihan lagi. Semua beban kamu, biar Mas yang tanggung. Dan siang ini, biarkan Mas mencintai kamu tanpa ada yang mengganggu."
Aura menatap pria di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca karena haru dan cinta yang membuncah. Kepasrahan total ia berikan pada suaminya. Aura memajukan tubuhnya, menangkup wajah tampan Reno lalu mempertemukan kembali bibir mereka dalam penyatuan yang lebih intim, panas, dan emosional. Di atas ranjang itu, di bawah temaram siang yang menembus gorden, mereka akhirnya menuntaskan janji suci semalam yang tertunda. Setiap sentuhan, kecupan, dan penyatuan raga mereka siang itu menjadi segel bahwa mereka kini telah benar-benar menyatu, saling memiliki lahir dan batin.
Satu jam berlalu dalam keintiman yang sakral. Aura berbaring bersandar di dada telanjang Reno, mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan kembali normal. Selimut tebal membungkus tubuh mereka yang polos dari dada ke bawah. Reno mengusap lengan atas Aura yang halus, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.
Aura mendongak, mengecup dagu suaminya yang kokoh dengan penuh keberanian. "Terima kasih, Mas ... Istri Mas ini cinta banget sama Mas."
Reno terkekeh rendah, matanya berbinar bahagia mendengar pengakuan jujur dan manja dari istrinya. Ia merapatkan pelukannya, membawa Aura ke dalam dekapan hangat yang seolah ingin menghentikan waktu, sebelum wanita itu harus bersiap-siap mandi untuk pergi ke stasiun TV.
Kehidupan mereka kini benar-benar utuh, sempurna, dan terikat kuat oleh cinta yang baru saja mereka ikrarkan lewat penyatuan tubuh. Namun di balik kebahagiaan yang membuncah itu, ujian baru di dunia penyiaran Aura telah menanti di stasiun TV...