Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Mencoba untuk kembali memejamkan matanya sangat sulit untuk Zara saat pikirannya terus saja memikirkan nasib pernikahannya.
Jika saja Zara tahu semua ini sebelum menikah, jelas Zara tidak akan menerima pernikahan ini. Sekarang Zara merasa berada di posisi yang begitu sulit. Zara bisa saja mengakhiri pernikahan mereka, tetapi bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana tanggapan orang-orang jika pernikahannya hanya bertahan beberapa hari?
Zara tidak ingin keluarganya malu, terlebih lagi bersedih karenanya dan hal itu juga yang membuat Zara semakin tertekan akan masalah baru yang harus siap Zara hadapi dalam hidupnya.
'Aku harus bagaimana, kak? Kenapa rasanya kalian sangat jauh dariku? Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Ini semua rasanya sangat sulit, kak. Sakit sekali rasanya,' batin Zara menggigit bibirnya berusaha meredam tangisnya.
Cukup lama untuk Zara meluapkan kesedihannya. Zara yang terus berpikir keras tentang masalah yang dihadapinya akhirnya terlelap dengan sendirinya karena kelelahan.
Beberapa jam kemudian, Zara terbangun lebih awal dari biasanya, karena tidur pun tidak terasa nyenyak saat dia tak dapat tenang memikirkan nasib pernikahannya.
Zara tak lagi terkejut saat mendapati tangan Juna berada di tubuhnya, karena sejak Juna berbaring di sampingnya, Juna terus saja memeluknya sekali pun Zara juga berulang kali menurunkan tangan Juna dari tubuhnya. Jika saja Zara tidak mengetahui tentang Laura, Zara pasti akan merasa senang mendapatkan pelukan hangat dari suaminya, tapi setelah tahu tentang Laura, yang ada dipikiran Zara hanya nama Laura, dan mungkin saja Laura lah yang dibayangkan Juna sebagai orang yang dipeluknya.
'Aku tidak ingin dipeluk olehmu, tetapi yang kamu bayangkan adalah wanita itu, Mas. Aku adalah aku, jangan anggap ali sebagai dia.' Zara berbicara dalam hati sembari kembali menurunkan tangan Juna yang memeluknya.
Semalaman berpikir, dan meluapkan kesedihannya, Zara sudah mendapat keputusan. Apapun yang terjadi, dia akan tetap memperjuangkan rumah tangganya dan Juna. Zara akan berusaha memberikan pelayanan terbaiknya untuk Juna berharap apa yang dia lakukan dapat membuka hati sang suami untuknya.
'Ingat, Za. Apapun yang terjadi, dia tetap suamimu. Dia suamimu, dan kamu yang lebih berhak dari siapapun atas dirinya. Bahkan kamu jelas lebih berhak dari wanita itu,' ucap Zara dalam hati sebelum akhirnya turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tak mengusik tidur Juna.
'Ya Tuhan. Bantu aku, teruslah bersamaku dan beri aku kekuatan untuk memulai semua ini. Aku tidak ingin menjadi wanita yang lemah, aku akan berusaha semampuku. Aku tidak akan menyerah sebelum mencoba. Tolong, berikanlah hasil yang baik untuk usaha dan niat baikku ini,' sambungnya.
***
Mata yang terpejam dari pria tampan itu perlahan terbuka saat cahaya matahari masuk lewat celah-celah jendela mengusik tidurnya. Juna meregangkan otot-otot tubuhnya sambil menoleh ke sampingnya.
Untuk pertama kalinya Juna merasa tidurnya terasa amat nyenyak. Semua yang terjadi tak seperti yang dibayangkan selama ini jika dia selamanya tidak akan pernah bisa tidur di kamar yang sama dengan seseorang. Senyum di wajahnya terukir kala berpikir fobianya untuk tidak sekamar dengan siapapun sudah menghilang. Juna membayangkan jika dia bisa nyaman tidur bersama Zara, itu artinya dia akan merasa lebih nyaman tidur bersama Laura.
"Dimana Zara?" gumamnya sambil turun dari tempat tidur. Juna coba mengetuk pintu kamar mandi, tetapi Zara tak ada di dalamnya.
Senyum di wajah Juna kembali terbit saat melihat pakaian kerjanya sudah disiapkan oleh Zara. Juna mendekat dan semakin tersenyum saat melihat pilihan Zara persis dengan seleranya.
"Dia pintar memilih. Kami cocok dalam selera berpakaian. Dan kami bisa menjadi teman sekamar yang baik," ucapnya riang melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Juna mengambil shampo milik Zara dan mengingat wangi rambut Zara. Juna dengan sengaja mencoba menggunakan shampo yang Zara punya, karena Juna menyukai wanginya.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Juna menggunakan pakaian santai, bukan pakaian yang sudah Zara siapkan. Semua itu Juna lakukan karena Juna tidak berencana untuk pergi bekerja. Setelah berganti pakaian, Juna turun ke bawah mencari keberadaan istrinya.
"Bi. Di mana Zara?" tanyanya pada pelayan.
"Nyonya ada di dapur, Tuan. Maaf, bibi sudah melarangnya, tapi Nyonya bilang semua hal yang berhubungan dengan Tuan akan menjadi kewajibannya," jawab pelayan membuat Juna kembali tersenyum mendengarnya.
"Nyonya melakukan semuanya sebaik mungkin untuk Tuan," ucap pelayan lagi, menambah rasa hangat dan bangga di hati Juna.
"Terima kasih, Bi. Bibi boleh kembali bekerja," ucap Juna membawa langkahnya menuju dapur.
Di dapur, Juna dapat melihat jika istri cantiknya tengah berkutat dengan sangat bersahabat dengan semua hal yang ada di dapur. Zara bergerak dengan lincahnya, tak seperti wanita cantik dan kaya lainnya yang bisa dikatakan jarang berada di dapur. Senyum di wajah Juna selalu terbit karena kehadiran Zara disana. Sungguh pemandangan yang indah menurutnya dan itu semua tanpa Juna sadari jika dia terus saja tersenyum melihat Zara. Memperhatikan semua hal yang Zara lakukan.
'Anda saja kamu yang saat ini berada di posisi Zara?' batinnya saat tiba-tiba teringat akan sosok Laura.
Juna semakin mendekat pada Zara.
"Za, masak apa?" tanya Juna yang sudah berdiri di belakang Zara, mengejutkan Zara yang langsung menoleh padanya.
Sebuah kecupan yang sama sekali tidak direncanakan terjadi. Pipi yang mulus itu tersentuh oleh bibir Juna saat Zara menoleh ke samping. Jantung Zara berdebar amat kencang karenanya. Wajahnya merona mendapatkan ciuman dari seorang pria untuk pertama kali dalam hidupnya, ciuman yang tidak disengaja dari pria yang dicintainya.
"Masak apa?" ulang Juna bertanya dengan tangannya yang berada di pinggang Zara, semakin menempelkan tubuh mereka saat dia berusaha mengintip apa yang Zara masak, tanpa menyadari jika tingkahnya telah memporak-porandakan hati Zara.
Zara yang melihat Juna biasa saja setelah secara tidak sengaja mengecup pipinya, berusaha untuk bersikap sama. 'Ingat, Za. Taklukan dia. Buat dia betah di rumah dan betah bersamamu,' batin Zara mencoba memulai aksinya.
"Aku masak capcay seafood, Mas. Kata Bibi, Mas Juna suka makan semua jenis capcay." Juna yang mendengar lagi-lagi merasa hangat saat Zara terlihat berusaha untuk mengetahui semua tentangnya.
Zara benar-benar sosok yang begitu perhatian, semakin bertambah waktu kebersamaan mereka maka semakin bertambah juga kekaguman Juna pada Zara.
"Sebentar lagi selesai. Mas duduk saja!" serunya mendorong pelan tubuh Juna, meski sama sekali tidak membuat Juna bergeser dari tempatnya.
"Mas. Tunggu saja di sana!" ucap Zara lagi menatap Juna.
"Baiklah istriku," ucap Juna dengan sengaja mencium sebelah pipi Zara dan itu membuat Zara kembali merona dengan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Kata istriku yang keluar dari bibir Juna juga membuat Zara merasa amat bahagia, seolah kejadian semalam dimana dia menangis tak pernah ada.
Juna yang duduk di kursinya terus saja memandangi Zara yang dengan begitu telaten melayaninya. "Makanlah, Mas. Semoga suka," ucapnya setelah selesai mengisi piring Juna.
"Loh, kok Mas tidak menggunakan pakaian yang aku siapkan?" tanya Zara setelah menyadari Juna tak menggunakan pakaian yang disiapkan.
"Kita pengantin baru. Kamu ingin aku langsung bekerja?" tanyanya tersenyum pada Zara yang kembali tersipu malu di buatnya.
"Maaf, karena semalam aku pulang terlambat. Banyak sekali pekerjaan," ucap Juna lagi berhasil menghilangkan nafsu makan Zara saat mengingat apa yang telah terjadi semalam. Zara hanya sedikit tersenyum menganggukkan pelan kepalanya.
Juna mulai menyentuh makanan yang ada di piringnya. Juna merasa sangat cocok dengan hasil masakan Zara. Dengan lahapnya Juna menghabiskan makanannya, bahkan meminta Zara untuk mengisi kembali piringnya. "Aku akan lebih betah di rumah jika begini," ucap Juna setelah menghabiskan makanannya.
"Syukurlah jika Mas Juna suka. Aku akan selalu memasak untuk Mas Juna kalau begitu," jawab Zara kembali memberikan senyuman terbaiknya. Senyum yang mampu membuat siapapun terpesona melihatnya.
"Za. Apa aku boleh bertanya," kata Juna beberapa saat kemudian berhasil mengubah suasana menjadi tegang karena nada bicaranya yang terlihat dan terdengar begitu serius.
"Iya, Mas. Ada apa?" ucap Zara.
"Apa kamu punya pacar?" tanyanya dalam sekejap menghilangkan senyum di wajah cantik Zara.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....