Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Malam itu, setelah memastikan Aurora tertidur lelap, Laras masuk ke kamarnya dan segera menghubungi Elang. Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.
[Ada apa, Laras?] tanya Elang.
"Aku punya satu rencana."
[Apa itu?]
Laras menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Selama Evan masih ditahan, aku takut Carolin akan terus datang untuk merebut Aurora. Kalau suatu saat dia berhasil membawa Aurora, semua usaha kita akan sia-sia."
Elang mengangguk pelan dari seberang sana.
[Lalu, apa yang kamu inginkan?]
"Aku ingin hak pengasuhan sementara Aurora dialihkan kepadak, atas persetujuan Evan. Kalau pengacaranya juga menyetujui, Carolin tidak akan bisa sembarangan membawa Aurora."
Elang terdiam sejenak, lalu tersenyum.
[Itu ide yang bagus. Aku akan mengurusnya. Tapi ingat, semua harus dilakukan sesuai prosedur hukum.]
Laras mengangguk. "Yang penting Aurora tetap bersamaku, itu saja. Besok aku akan menemui pengacara Evan."
Keesokan harinya.
Di ruang tahanan, Evan didatangi pengacaranya.
"Pak Evan, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Evan yang sejak tadi duduk termenung langsung mengangkat kepala.
"Ada apa?"
Pengacara itu membuka map yang dibawanya.
"Ini mengenai Baby Aurora."
Wajah Evan langsung berubah serius. "Kenapa dengan putriku?"
"Selama Bapak masih menjalani proses hukum, ada kekhawatiran Nona Carolin akan berusaha mengambil Aurora."
Evan langsung mengepalkan tangan.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Itulah sebabnya Nona Laras mengusulkan agar selama Bapak belum bisa mengurus Aurora secara langsung, pengasuhan sehari-hari diserahkan kepadanya dengan persetujuan Bapak. Tujuannya agar posisi hukumnya lebih kuat jika sewaktu-waktu Carolin datang memaksa."
Evan terdiam. Ia mengingat bagaimana Laras selama ini merawat Aurora tanpa mengeluh sedikit pun. Menyusui, memandikan, menidurkan, bahkan menjaga putrinya siang dan malam. Tak pernah sekalipun ia meragukan ketulusan wanita itu.
Pengacaranya kembali berkata, "Keputusan tetap ada di tangan Bapak. Tapi menurut saya, untuk sementara ini Aurora memang lebih aman bersama Nona Laras."
Evan mengangguk mantap. "Saya setuju, kalau itu demi Aurora, saya tidak keberatan. Siapkan semua dokumennya. Saya akan menandatangani."
Pengacara tersenyum tipis.
"Baik, Pak Evan. Saya akan segera mengurus seluruh administrasinya."
Sebelum pengacara itu pergi, Evan kembali berpesan, "Tolong sampaikan kepada Laras, bahwa aku mempercayainya. Katakan padanya untuk menjaga Aurora sampai aku kembali."
Pengacara mengangguk. "Nanti akan saya sampaikan."
Sore harinya, Elang menghubungi Laras.
[Semuanya berjalan lancar.]
Laras yang sedang memangku Aurora langsung tersenyum lega.
"Evan setuju?"
[Iya, dia menandatangani semua persetujuannya tanpa banyak bertanya. Dia benar-benar percaya padamu.]
Laras menutup mata sejenak. Perasaannya bercampur aduk.
Di satu sisi, rencananya berjalan sesuai harapan.
Di sisi lain, ia merasa ironis. Evan yang dahulu begitu mudah mengkhianati Amelia. Kini justru menaruh kepercayaan penuh kepada Laras, tanpa pernah menyadari bahwa mereka adalah orang yang sama. Laras menatap Aurora yang sedang tertidur di pelukannya.
"Terima kasih..." Bisiknya pelan. "Sebentar lagi, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan Ibu darimu."
Malam itu, suasana rumah kembali memanas. Sebuah mobil mewah berhenti di depan halaman. Carolin turun bersama Tuan Baskara dan seorang pengacara yang mereka bawa. Tanpa menunggu dipersilakan, mereka langsung memasuki ruang tamu.
Laras yang sedang menggendong Aurora berdiri dengan tenang.
"Selamat malam."
Carolin tidak membalas sapaan itu. Tatapannya langsung tertuju pada Aurora.
"Aku datang untuk membawa anakku pulang."
Laras menggeleng pelan. "Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa menyerahkan Aurora."
"Apa maksudmu tidak bisa?" bentak Carolin.
"Aku ibu kandungnya! Jangan pernah menghalangi seorang ibu bertemu anaknya!"
Laras tetap tenang. "Saya tidak menghalangi Nyonya bertemu Baby Aurora. Tetapi saya tidak dapat menyerahkannya begitu saja."
Carolin melangkah maju dengan emosi.
"Kamu hanya seorang pengasuh! Tidak punya hak menentukan apa pun!"
Laras menatap pengacara yang berdiri di samping Carolin, lalu kembali menatap wanita itu.
"Dulu mungkin benar. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda."
Ucapan itu membuat Carolin mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Dengan tenang, Laras mengambil sebuah map dari atas meja. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu menyerahkannya kepada pengacara Carolin.
"Silakan dibaca."
Pengacara itu menerima dokumen tersebut dan mulai memeriksanya. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius.
"Tuan Baskara ... dokumen ini berisi persetujuan dari Evan Cristian melalui kuasa hukumnya mengenai pengalihan kewenangan pengasuhan sementara Baby Aurora kepada Nona Laras selama proses hukum berlangsung."
Carolin langsung merampas dokumen itu.
"Tidak mungkin!"
Matanya bergerak cepat membaca setiap lembar. Di sana tertera tanda tangan Evan, disertai dokumen dari pengacaranya yang menjelaskan dasar kewenangan tersebut.
Wajah Carolin perlahan memucat. "Mas Evan ... benar-benar melakukan ini?"
Laras menjawab dengan suara lembut.
"Tuan Evan khawatir Baby Aurora tidak mendapatkan perawatan yang baik selama beliau menjalani proses hukum. Karena itu beliau mempercayakan pengasuhan sehari-hari kepada saya."
Carolin menggeleng berulang kali.
"Tidak! Ini tidak adil, Aku ibunya!"
Laras memandangnya tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.
"Saya memahami perasaan Nyonya. Namun selama belum ada putusan baru dari pengadilan yang mengubah status tersebut, saya berkewajiban menjalankan amanat yang telah diberikan."
Carolin menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Pa ... apa kita tidak bisa melakukan apa-apa?"
Tuan Baskara mengambil dokumen itu dari tangan putrinya. Ia membacanya dengan saksama, lalu mengembalikannya sambil mengembuskan napas panjang.
"Untuk saat ini kita tidak bisa memaksakan membawa Aurora."
Carolin membelalak. "Apa?"
"Kalau kita memaksa tanpa dasar hukum, justru posisi kita akan semakin sulit."
Mendengar penjelasan itu, tubuh Carolin terasa lemas. Harapan yang sejak tadi ia bawa seolah runtuh dalam sekejap. Ia memandang Aurora yang tertidur damai di pelukan Laras.
Bayi itu begitu dekat tetapi terasa mustahil untuk ia bawa pulang malam ini. Laras memeluk Aurora sedikit lebih erat. Tatapannya tetap tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan tekad yang tak tergoyahkan. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan dirinya dari putrinya lagi.
Malam semakin larut.
Rumah kembali sunyi setelah Carolin, Tuan Baskara, dan pengacara mereka pergi dengan tangan kosong. Laras memastikan seluruh pintu telah terkunci. Setelah menidurkan Aurora di dalam boks bayi, ia menatap putrinya beberapa saat.
Aurora tidur begitu pulas. Laras mengusap pipi mungil bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"Ibu janji, kali ini tidak akan ada lagi yang memisahkan kita."
Ia kemudian keluar dari kamar dan menuju balkon lantai dua. Angin malam berembus pelan ketika ia menghubungi Elang. Tak lama kemudian, panggilannya tersambung.
[Ada apa, Laras?] tanya Elang.
Laras menarik napas panjang.
"Sekarang gilirannya keluarga Baskara."
Elang terdiam sejenak.
[Maksudmu?]
"Mereka juga harus mempertanggungjawabkan semua yang terjadi pada Amelia. Mereka tidak bisa terus berpura-pura menjadi korban."
Suara Laras terdengar tenang, tetapi menyimpan kemarahan yang selama ini dipendam.
"Kalau Evan diproses hukum, maka siapa pun yang diduga ikut terlibat dalam perkara Amelia juga harus diperiksa."
Elang mengangguk pelan.
[Aku sudah menduga kamu akan meminta ini. Semua berkas yang kita kumpulkan masih lengkap. Aku juga sudah berkoordinasi dengan tim hukum.]
Laras memejamkan mata.
"Kalau memang buktinya cukup ajukan laporan sesuai prosedur. Aku tidak ingin ada orang yang lolos hanya karena memiliki kekuasaan atau uang."
Elang tersenyum tipis.
[Itu juga keinginanku. Kalau penyidik menilai bukti dan keterangan yang ada memenuhi syarat, mereka akan memproses siapa pun yang diduga terlibat. Tidak peduli siapa orangnya.]
Laras mengangguk pelan. "Baik, sudah terlalu lama Amelia menanggung semuanya sendirian. Sekarang biarkan hukum bekerja."
Elang memandang berkas-berkas di hadapannya.
[Tenang saja, besok pagi tim hukum akan mulai mengambil langkah berikutnya. Kalau semua berjalan sesuai rencana, permainan ini akan memasuki babak yang jauh lebih besar. Amelia, akan segera berakhir dan hanya ada Laras setelah ini.]
Laras menatap langit malam. Sorot matanya begitu dingin.
"Dulu, mereka menghancurkan hidup Amelia. Sekarang biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya menunggu dengan ketakutan."
Panggilan pun berakhir. Laras kembali masuk ke kamar Aurora. Melihat putrinya yang masih tertidur lelap, ia tersenyum lembut.
Di hadapan Aurora, ia adalah seorang ibu penuh kasih. Namun, bagi orang-orang yang telah menghancurkan hidup Amelia. Laras telah bersiap menjadi awal dari runtuhnya semua kebohongan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing