NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Kenan Menghentikan Segalanya

Kenan baru melepaskan sedikit pelukannya, lalu memegang kedua bahu Kinasih dan menatap wajahnya lekat-lekat, memeriksa apakah ada luka atau tanda bahaya sekecil apa pun.

“Kamu membuatku hampir gila mendengar kabar itu. Kalau saja tadi kamu terlambat bangun sedikit saja… atau kalau Reyna tidak menyadarinya lebih dulu…”

Suaranya tercekat, seolah tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

“Aku tidak sanggup membayangkannya, Nash.”

Kinasih mengangkat tangannya dan menyentuh lengan Kenan dengan lembut, berusaha menenangkan.

“Tenanglah, Mas. Aku benar-benar tidak apa-apa. Dedek juga terasa baik-baik saja di dalam sini.”

Di sisi lain mobil, Dokter Firdaus menyaksikan semua kejadian itu dengan rahang yang perlahan mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar di samping tubuhnya.

Meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa Kenan adalah mantan suami dan ayah dari bayi yang dikandung Kinasih, melihat pria itu datang dengan rasa cemas yang meluap-luap, lalu memeluk Kinasih seolah itu adalah haknya, membuat dadanya terasa sesak oleh perasaan cemburu dan tidak nyaman.

Namun Firdaus segera menarik napas panjang, berusaha menekan emosi pribadinya. Ia tahu saat ini bukan waktunya untuk bersikap egois.

“Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Kinasih dan bayinya. Itu saja,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Ia memilih tetap berdiri di tempat, mengawasi keadaan dengan tatapan waspada. Sementara itu, Reyna yang baru saja kembali dari memeriksa rumah hanya bisa mengembuskan napas lega, melihat atasannya telah tiba dan bisa memberikan rasa aman yang dibutuhkan Kinasih saat ini.

Di tengah kerlap-kerlip cahaya lampu mobil pemadam dan suara bising warga yang masih membicarakan peristiwa itu, Kenan masih enggan melepaskan genggamannya pada Kinasih. Rasa takut kehilangan yang baru saja melandanya baru saja berubah menjadi rasa syukur yang mendalam—syukur karena takdir masih memberinya kesempatan untuk melindungi wanita yang dicintainya dan anak mereka.

Kenan masih memeluk tubuh Kinasih dengan erat di dalam jok belakang mobil itu, seolah tak ingin melepaskannya sedikit pun.

“Nash… syukurlah kamu selamat. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika tadi kamu terlambat keluar.”

Kinasih mengusap pelan lengan Kenan, berusaha menenangkan gejolak di hati pria itu.

“Mas… tenanglah. Aku benar-benar tidak apa-apa, lihat saja.”

Belum sempat Kenan menjawab, tiba-tiba sebuah tangan kasar menarik bahunya hingga ia terguncang.

“Hei! Lepaskan dia!”

Kenan terpaksa melepaskan pelukannya dan menoleh dengan dahi yang berkerut. Berdiri tepat di depan pintu mobil itu adalah Firdaus, dengan tatapan tajam yang penuh amarah.

“Siapa Anda? Berani-beraninya masuk ke dalam mobil saya dan memeluk pasien saya tanpa izin!” bentak Firdaus.

Kenan mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai membara.

“Saya hanya ingin memastikan dia dan bayinya dalam keadaan aman.”

“Cukup! Sekarang silakan turun dari mobil saya.”

Kenan mengangguk pelan, lalu melangkah turun perlahan menghadapi pria itu.

Begitu berdiri di luar, Firdaus segera menoleh kembali ke arah Kinasih dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.

“Nash, ayo keluar. Kita segera ke IGD untuk diperiksa ulang, jangan sampai ada efek buruk dari asap yang terhirup tadi.”

Kinasih baru saja hendak membuka mulut untuk menjelaskan situasi, namun belum sempat satu kata pun keluar—

*Buk!*

Tanpa peringatan, Firdaus langsung melayangkan pukulan yang mendarat tepat di pipi samping Kenan.

Kenan terhuyung mundur selangkah, dan setetes darah tipis mulai mengalir dari sudut bibirnya.

“Mas Kenan!” seru Kinasih kaget, wajahnya memucat melihat kejadian itu.

Kenan mengusap bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap tajam ke arah Firdaus.

“Kenapa Anda memukul tanpa alasan yang jelas?”

“Karena saya tidak suka melihat orang yang hanya akan membuat pasien saya merasa tidak nyaman dan tertekan!” balas Firdaus dengan nada meninggi.

Batas kesabaran Kenan pun akhirnya habis.

*Buk!*

Dengan satu gerakan cepat, ia membalas pukulan itu tepat di bahu Firdaus hingga pria itu terhuyung mundur.

“Kamu juga jangan sembarangan main tangan!” bentak Kenan dengan suara yang menggelegar.

Dalam hitungan detik, keduanya sudah saling dorong dan melayangkan pukulan satu sama lain. Suara benturan tubuh terdengar jelas, menarik perhatian warga yang mulai berusaha mendekat untuk memisahkan.

“Berhenti! Jangan berantem!”

“Sudah, cukup! Ini bukan tempatnya!”

Namun tak ada satu pun yang berhasil menghentikan mereka yang sudah terbawa emosi.

Melihat keadaan semakin memburuk, Kinasih menjadi panik. Ia berusaha bangun dan melangkah tergesa mendekat.

“Mas Kenan! Dokter Firdaus! Sudah… tolong berhenti!”

Reyna segera berlari menghalangi.

“Dok, jangan dekati mereka! Berbahaya bagi kandungan!”

Namun Kinasih sudah melangkah masuk di antara kedua pria itu.

“Cukup! Berhenti sekarang juga!”

Tepat saat ia berteriak, tiba-tiba wajahnya meringis kesakitan.

“Akh…”

Refleks, kedua pria itu langsung menghentikan gerakan mereka dan menoleh bersamaan.

Kinasih memegang perutnya dengan kedua tangan, wajahnya terlihat menahan nyeri yang terasa menusuk.

“Aduh… perutku…”

Kenan segera mendekat dengan napas memburu, rasa cemas langsung menggantikan amarah di hatinya.

“Nash! Perutmu terasa sakit?”

Firdaus pun ikut menghampiri, wajahnya juga dipenuhi kekhawatiran sebagai seorang dokter.

“Kinasih, tarik napas pelan-pelan. Jangan tegang.”

“Iya… terasa kaku dan sedikit nyeri…” jawab Kinasih pelan sambil memejamkan mata.

Wajah Kenan langsung berubah pucat pasi. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera membungkuk dan mengangkat tubuh Kinasih dengan sangat hati-hati ke dalam gendongannya.

“Mas…”

“Jangan banyak bicara dulu. Kita segera ke rumah sakit sekarang juga.”

Namun Firdaus segera menghalangi jalannya dengan tangan terentang.

“Tunggu! Saya yang akan membawanya. Saya dokter yang menangani keadaannya.”

Kenan menatap Firdaus dengan pandangan yang sangat tajam dan tegas.

“Tidak.”

“Dia butuh penanganan medis segera, dan saya yang paling tahu kondisinya!”

“Dan saya yang akan membawanya.”

Firdaus mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya kembali bangkit.

“Memangnya Anda siapa hingga merasa berhak mengatur urusannya?”

Kenan menatap lurus ke dalam mata Firdaus, suaranya terdengar berat namun tegas hingga membuat suasana hening seketika.

“Saya mantan suaminya.”

Firdaus tertegun, tak menyangka mendengar pengakuan itu.

“Dan bayi yang ada di dalam kandungannya…”

Kenan menundukkan pandangannya, menatap lembut ke arah perut Kinasih yang ada di gendongannya.

“…adalah darah daging saya sendiri.”

Kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong. Firdaus membeku di tempat, matanya terbelalak tak percaya. Ia bergantian menatap wajah Kenan lalu ke arah Kinasih yang menunduk diam.

“Kinasih… apakah itu benar?” tanyanya dengan suara lirih.

Kinasih mengangguk perlahan, suaranya terdengar lemah.

“Iya… benar.”

Firdaus hanya bisa diam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi. Semua rasa ingin tahu dan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya seketika terasa hancur mendengar kenyataan itu.

Sementara itu, Reyna yang sudah memahami situasi segera berlari membukakan pintu mobil Kenan.

“Pak, pintunya sudah terbuka.”

Kenan mengangguk singkat.

“Terima kasih, Rey.”

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!