Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kesepakatan dengan Wang Ning
Di dalam ruangan kediaman Wang Ning yang hangat dan mewah, suasana mendadak berubah menjadi lebih serius.
Wang Ning yang tadinya duduk dengan santai di kursinya kini menatap Jiang Yuan dengan ekspresi yang berbeda, sepasang mata emasnya berkilauan dengan intensitas yang menunjukkan bahwa ia sedang membicarakan hal penting.
"Kau tahu, Xiao Yuan," ucapnya, suaranya rendah namun jelas. "Sekte Bulan Kabut sudah mengadakan pertandingan untuk ketiga Puncak Sekte, yang terdiri dari Puncak Teratai, Puncak Angin, dan Puncak Bambu. Ini adalah ajang tahunan yang sangat penting bagi reputasi setiap puncak."
Jiang Yuan memperhatikan dengan serius, kedua tangannya diletakkan di atas lututnya. Ia tidak menyela, membiarkan Wang Ning melanjutkan penjelasannya.
"Pertandingan ini bertujuan untuk melihat kemampuan tiap Puncak Sekte, yang dinilai dari kekuatan murid-murid yang dipilih. Puncak Teratai kita adalah yang paling lemah sebelumnya," lanjut Wang Ning, nada suaranya mengandung sedikit kepahitan. "Karena dua Puncak Sekte lainnya terlalu kuat. Bahkan Tetua mereka berada di Ranah Dou Wang. Berbeda denganku yang masih belum menerobos ke tingkat itu."
Wanita itu kemudian bangkit berdiri dari kursinya. Gaun merahnya mengalir lembut mengikuti gerakan tubuhnya, dan dengan langkah yang penuh pesona, ia berjalan mengitari meja. Pinggulnya bergoyang menggoda ke kiri dan kanan, menciptakan liukan yang memikat di bawah sinar lilin yang berkedip.
"Kali ini, Puncak Teratai kita sudah memenangkan banyak pertandingan," lanjutnya, suaranya mengandung nada bangga. "Puncak Bambu sudah kalah di awal. Hanya tersisa Puncak Angin yang masih bertahan. Di pertandingan sebelumnya, Chu Chu, Mian Shi, dan Yue Lianhua sudah bertarung dengan kekuatan penuh. Mereka berhasil menang berturut-turut dalam pertarungan 1vs1. Hanya tersisa satu pertarungan lagi untuk menentukan pemenang antara kedua Puncak Sekte."
Wang Ning berhenti di samping Jiang Yuan, jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter.
Aroma bunga yang harum menguar dari tubuhnya, memenuhi indra penciuman Jiang Yuan.
"Namun Chu Chu terluka parah, Mian Shi tidak bisa bertarung, dan Yue Lianhua sudah kehabisan tenaga. Mereka tidak mungkin melanjutkan pertarungan berikutnya."
Jiang Yuan menoleh, menatap Wang Ning dari dekat. "Jadi Guru ingin aku untuk mengikuti pertandingan terakhir itu?"
Wang Ning yang sudah berada di samping Jiang Yuan kemudian menempelkan tubuhnya.
Kedua puncak kembarnya yang lembut dan kenyal menekan lengan Jiang Yuan dengan erat, menciptakan sensasi hangat yang merambat ke seluruh tubuh pemuda itu. Belahan gaunnya yang dalam semakin terbuka karena tekanan, memperlihatkan lekuk-lekuk putih mulus yang menggoda.
"Tepat sekali," bisiknya, suaranya lembut dan penuh bujukan. "Aku juga ingin menunjukkan kekuatan murid yang kupilih sendiri. Dengan begitu, semua orang akan tahu bahwa Puncak Teratai tidak bisa diremehkan."
Wajahnya mendekat pada Jiang Yuan hingga jarak di antara mereka sangat dekat. Jiang Yuan bahkan bisa merasakan napas hangat Wang Ning yang menerpa pipinya, lembut dan beraroma manis. Mata emasnya berkilauan penuh harap dan sedikit kenakalan.
"Kekuatan Puncak Teratai memang tidak begitu kuat dibandingkan yang lain," lanjutnya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi akhir-akhir ini sudah berkembang menjadi lebih baik. Dan pertandingan kali ini membuktikan itu, di mana Puncak Teratai sudah mencapai tingkat akhir. Hanya satu pertandingan lagi."
Jiang Yuan hanya membiarkan lengannya tetap terjepit di antara puncak kembar Wang Ning yang kenyal itu. Belahan dadanya terlihat semakin dalam, hampir memperlihatkan perutnya yang mulus karena kedua puncak kembarnya merenggang akibat tekanan.
Namun tatapan Jiang Yuan tetap fokus pada mata wanita itu, tidak tergoyahkan oleh godaan yang disajikan di hadapannya.
"Kenapa harus aku?" tanyanya, suaranya tenang dan rasional. "Kalau lawannya seseorang di Ranah Da Dou Shi, bukankah Ruan Mei akan lebih cocok? Dia lebih berpengalaman dan memiliki Dou Qi yang lebih kuat."
Segaris senyuman terbentuk di wajah Wang Ning. Ia menggelengkan kepalanya pelan, rambut hitamnya yang panjang bergoyang lembut.
"Benar, Ruan Mei memiliki Dou Qi yang kuat. Tapi dia lebih unggul dalam pertarungan jarak jauh," jelasnya. "Dia akan cukup kuwalahan jika melawan musuh di jarak dekat. Meski kekuatan Dou Qi-nya begitu kuat, fisiknya masih cukup lemah. Jika lawan berhasil mendekat, Ruan Mei akan kesulitan."
Wang Ning makin menekan tubuhnya pada Jiang Yuan, seolah ingin membuat pemuda itu merasakan setiap lekuk tubuhnya yang memikat.
"Sementara itu, kau berbeda, Xiao Yuan." Suaranya menjadi lebih rendah, lebih intim. "Fisikmu bagus. Bahkan bisa kubilang di tingkat yang kuat. Meski hanya Ranah Dou Shi, kau memiliki aura yang melebihi tingkat itu. Aku memang tidak pernah mengajari apapun padamu, bahkan kupikir aku belum pantas disebut Guru. Tapi aku tahu kalau kau sudah berbeda dari dirimu saat itu."
Wang Ning mendekatkan bibirnya ke telinga Jiang Yuan, napas hangatnya berembus lembut di kulit pemuda itu.
"Kau yang sekarang jauh lebih kuat. Lebih licik. Bahkan mungkin..." Nadanya berubah menjadi sedikit tajam. "...kau pernah berpikir untuk membunuhku?"
Jiang Yuan menggeser kepalanya menjauh sedikit, menjaga jarak yang lebih aman. Ekspresi wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau keterkejutan.
"Tidak mungkin," balasnya dengan nada datar. "Mana mungkin aku memikirkan itu."
Wang Ning kembali tersenyum. Lidahnya yang merah jambu menyapu bibirnya dengan gerakan menggoda, meninggalkan kilau basah di permukaan bibir merahnya.
"Tidak masalah," ucapnya, suaranya kembali lembut. "Lagi pula aku memang orang yang memaksamu di sini. Wajar saja jika kau pernah berpikir membunuhku. Aku tidak akan menyalahkanmu."
Ia menjeda sejenak, matanya yang emas menatap dalam-dalam ke mata Jiang Yuan.
"Tapi..." lanjutnya, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Jika kau berhasil menang kali ini, aku akan memberikan apapun untukmu. Kecuali melepaskan segel."
Mendengar itu, mata Jiang Yuan langsung terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya retak oleh kilatan minat yang jelas.
Apapun?
Meski ia tidak bisa meminta kebebasannya, tapi apapun selain itu, semua hal lainnya bisa ia minta. Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan.
"Guru yakin?" tanya Jiang Yuan, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Wang Ning tertawa kecil, tawa yang merdu dan penuh percaya diri. "Menurutmu aku berbohong?"
Jiang Yuan terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran itu di dalam benaknya. Ada banyak hal yang ia inginkan, teknik yang lebih kuat, pil-pil langka, atau mungkin... sesuatu yang lain.
"Baiklah," ucapnya akhirnya, mengangguk dengan tegas. "Aku setuju."
Wang Ning akhirnya melepaskan Jiang Yuan dengan senyuman puas yang masih menghiasi wajahnya yang cantik.
Ia sedikit menarik kain pakaian yang menutupi puncak kembarnya, membenarkan agar pakaian itu kembali menutupi bagian tubuhnya dengan lebih rapi. Lalu ia menepuk-nepuk roknya yang sedikit kusut.
"Sepakat," ucapnya, suaranya penuh kepuasan.
Ia kemudian berbalik dan melangkah kembali ke kursinya, duduk dengan anggun seperti sebelumnya. Kaki jenjangnya kembali tersilang, memperlihatkan lekuk pahanya yang mulus di bawah gaun merahnya.
"Pertandingan akan diadakan besok pagi di arena utama Sekte Bulan Kabut," jelasnya, suaranya kembali profesional. "Kau akan bertarung melawan murid terbaik dari Puncak Angin. Aku tidak tahu siapa yang akan mereka kirimkan, tapi pastikan kau siap."
Jiang Yuan mengangguk. "Aku akan bersiap."
Ia bangkit dari kursinya, bersiap untuk pergi. Namun sebelum ia melangkah keluar, Wang Ning memanggilnya lagi.
"Xiao Yuan."
Jiang Yuan menoleh.
Wang Ning tersenyum, senyuman yang penuh makna dan misteri. "Jangan mengecewakanku. Aku sudah menaruh harapan besar padamu."
Jiang Yuan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Di dalam hatinya, berbagai pikiran berputar cepat. Besok adalah pertarungan yang penting. Dan ada hadiah yang menunggu jika ia menang.
'Apapun,' pikirnya. 'Aku bisa meminta apapun.'
Di dalam Lautan Kesadarannya, Bing Bi tertawa kecil.
"Tawaran yang menarik, bocah," ucapnya, suaranya penuh hiburan. "Aku sudah tidak sabar melihat apa yang akan kau minta."
Jiang Yuan tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti."
Malam mulai turun di Puncak Teratai, dan di dalam ruangan kediaman Wang Ning, wanita itu masih duduk dengan senyuman misterius di bibirnya.
Besok akan menjadi hari yang menarik.