Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Ahli Qi Foundation
Matahari mulai condong ke barat, mewarnai padang rumput luas di luar Celah Naga Hitam dengan nuansa keemasan yang menipu. Konvoi Akademi Langit Biru bergerak lebih lambat sekarang. Para siswa lelah, kuda-kuda mereka letih, dan Pengawas Chen tampak waspada berlebihan, matanya terus menyapu garis cakrawala.
Lin Fan berjalan di samping Mei Ling, membantu gadis itu membawa tas obat-obatan yang berat. Ia merasakan ketegangan di udara. Bukan ketegangan alami seperti di celah vulkanik, tapi ketegangan yang disengaja—seperti mata pisau yang tersembunyi di balik beludru.
"Mereka datang," bisik Lin Fan tiba-tiba, tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Zhang Wei, yang berjalan di depan, menoleh tajam. "Di mana?"
"Angin berhenti berhembus dari arah utara," jawab Lin Fan tenang. "Dan burung-burung di pepohonan sana diam total. Ada predator yang membuat mereka takut."
Sebelum Zhang Wei bisa merespons, sebuah suara dingin bergema dari atas bukit kecil di sebelah kiri jalan.
"Akhirnya aku menemukan Kalian"
HAHAHA...
Dari balik semak-semak, seorang pria tinggi kurus melangkah keluar. Ia mengenakan jubah hitam polos tanpa lambang klan apa pun. Di pinggangnya tergantung pedang lurus berwarna abu-abu kusam. Wajahnya pucat, matanya sipit dan tajam seperti elang. Yang paling mengerikan adalah auranya—berat, padat, dan menekan dada setiap orang yang mendengarnya.
Pengawas Chen menghentikan konvoi, wajahnya berubah pucat pasi. Ia mengenali aura itu.
"ini, ini Aura Tahap Foundation..." gumam Pengawas Chen, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Dia Setidak nya berada di Tahap Kedua Foundation."
Para siswa terdiam ngeri. Tahap Pembukaan Meridian (tempat Lin Fan dan teman-temannya berada) hanyalah tahap pemanasan. Tahap Fondasi Qi adalah gerbang sejati menuju dunia kultivasi. Perbedaan kekuatannya bukan linier, tapi eksponensial. Seorang praktisi Fondasi Qi bisa mengalahkan sepuluh, bahkan seratus praktisi Pembukaan Meridian sekaligus.
Pria itu tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Nama saya Han Xiao. Saya di sini untuk mengambil satu kepala. Beritauyang mana Lin Fan."
Ia menunjuk Lin Fan dengan ujung jari yang panjang dan pucat.
Lin Hao, yang duduk di kereta belakang, tertawa jahat dari kejauhan. "Lihat itu, Fan! Itu adalah Tuan Han, ahli pedang bayaran terbaik di wilayah utara. Bahkan ayahku pun menghormatinya. Kau pikir kau bisa lolos darinya?"
Lin Fan tidak menjawab. Ia melangkah maju, meninggalkan perlindungan konvoi.
"Lin Fan! Jangan gila!" teriak Bao Da.
"Dia Level Fondasi Qi! Kita harus lari bersama!"
"Lari? Hehe" kata Han Xiao, suaranya meremehkan. "Jika kalian mencoba lari, saya akan membunuh satu per satu orang di sini sampai Lin Fan tersisa sendiri. Pilihannya sederhana:,
"nyawa kalian atau nyawanya."
Ancaman itu efektif. Para siswa lain menatap Lin Fan dengan tatapan campur aduk—takut, marah, dan putus asa. Mereka terjebak.
Lin Fan menatap Han Xiao. Dalam Persepsi Hampa-nya, ia menganalisis lawan barunya.
* Kecepatan: Sangat tinggi.
* Kekuatan Qi: Padat, terkompresi di Dantian.
* Kelemahan: Arogan. Han Xiao menganggap Lin Fan sebagai serangga. Ia tidak menggunakan teknik pertahanan serius karena merasa tidak perlu.
"Guru Chen,"
"Jauhkan Semua orang. Berikan saya ruang."
"Lin Fan, kau tidak bisa—"
"Lakukan!" perintah Lin Fan, suaranya mengandung getaran Qi yang membuat Pengawas Chen terpaku sejenak. Ada otoritas dalam suara remaja itu yang tidak bisa diabaikan.
Pengawas Chen menggigit bibirnya, lalu mengangguk. "Semua orang, ayo mundur Sekarang!"
Konvoi bergerak mundur dengan cepat, meninggalkan Lin Fan berdiri sendirian di tengah jalan berdebu, berhadapan dengan Han Xiao.
Han Xiao tertawa pendek. "HAHA.."
"Entah ini keberanian Atau kebodohan. Aku akan memberimu kehormatan mati dengan cepat."
Ia menarik pedangnya. Sring! Suara logam berdenting tajam. Pedang itu tidak bersinar terang, tapi udara di sekitarnya menjadi retak-retak halus, seolah-olah realitas itu sendiri tidak tahan menahan ketajamannya.
Han Xiao menghilang.
Bagi mata biasa, ia lenyap. Tapi bagi Lin Fan, yang persepsinya diperkuat oleh Sutra Ketenangan Jiwa, gerakan Han Xiao terlihat jelas—meski sangat cepat. Han Xiao bergerak ke sisi kiri, mencoba untuk memotong leher Lin Fan dengan satu tebasan horizontal.
Lin Fan tidak menghindar ke kanan atau kiri. Ia justru membungkuk rendah, hampir menyentuh tanah, sementara tangan kanannya membentuk Jari Naga Sunyi.
Tebaran pedang Han Xiao melewati tepat di atas kepala Lin Fan, memotong beberapa helai rambutnya.
Han Xiao sedikit terkejut. Anak ini bereaksi terlalu cepat.
Sebelum Han Xiao bisa menarik pedangnya kembali, Lin Fan menusukkan jarinya ke bagian bawah gagang pedang Han Xiao—titik di mana keseimbangan senjata paling rentan.
Klik.
Getaran kecil merambat ke tangan Han Xiao. Gripnya goyah sesaat. Itu hanya sepersekian detik, tapi bagi Lin Fan, itu cukup.
Lin Fan melompat mundur, menciptakan jarak. Ia tahu ia tidak bisa menang dalam pertukaran pukulan langsung. Tubuhnya belum cukup kuat untuk menahan serangan Qi Fondasi. Ia harus memecah konsentrasi lawan.
"Cukup sudah main-main nya," geram Han Xiao
wajahnya sedikit memerah karena malu. Ia mengayunkan pedangnya lagi, kali ini dengan teknik Pedang Angin Memotong. Tiga bilah angin tajam berbentuk sabit melesat ke arah Lin Fan.
Lin Fan tidak bisa menghindari ketiganya. Jangkauannya terlalu luas.
Ia mengambil napas dalam, mengumpulkan sisa Air Spirit di Dantiannya, dan memadatkannya di telapak tangan kirinya. Ia menamparkan telapak tangannya ke tanah.
Es Beku!
Lapisan es tipis menyebar cepat di tanah, membuat permukaan licin. Bilah angin pertama mengenai bahu Lin Fan, merobek jubahnya dan meninggalkan luka gores yang dalam. Darah menyembur.
Tapi Lin Fan tidak berhenti. Ia menggunakan momentum sakit itu untuk mendorong tubuhnya lebih cepat. Ia meluncur di atas lapisan es, mendekati Han Xiao dengan kecepatan yang tidak wajar untuk seseorang yang baru saja terluka.
Han Xiao terkejut melihat darah di bahu Lin Fan, tapi juga melihat nekatnya serangan balasan itu. Ia mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Namun, Lin Fan tidak menyerang tubuh Han Xiao. Ia menyerang bayangan Han Xiao di tanah.
Dengan Jari Naga Sunyi, ia menusuk bayangan itu dengan presisi mutlak, sambil mengalirkan Qi gangguan ke dalamnya. Ini adalah teknik psikologis tingkat tinggi dari kehidupan lalunya: Serangan Jiwa Melalui Refleksi.
Han Xiao merasa dadanya sesak tiba-tiba, seolah-olah napasnya terhenti. Konsentrasinya buyar selama sepersekian detik.
Dalam detik itu, Lin Fan sudah berada di depannya. Ia tidak memukul. Ia melemparkan sebuah bubuk halus ke wajah Han Xiao—bubuk cabai super konsentrat yang ia buat dari sisa bahan masakannya, dicampur dengan debu jalanan.
"AARGGHH MATAKU!" teriak Han Xiao, refleks menutup mata dan menggosoknya.
Lin Fan tidak memanfaatkan momen itu untuk membunuh. Ia tahu kulit Han Xiao pasti memiliki lapisan pelindung Qi otomatis. Serangan fisik biasa tidak akan menembusnya.
Sebaliknya, Lin Fan berbalik dan berlari kembali ke arah konvoi yang sudah jauh.
"Han Xiao!" teriak Lin Fan sambil berlari.
"Jika kau ingin mengejarku, kau harus melewati rawa lumpur di depan sana! Dan aku sudah menjebaknya dengan kristal es yang rapuh!"
Han Xiao, yang matanya masih perih dan berair, mendengar ancaman itu. Ia melihat ke depan. Memang ada area tanah yang tampak agak berbeda warnanya. Apakah itu jebakan?
Keraguan muncul di pikiran Han Xiao. Sebagai ahli bayaran, ia dibayar untuk hasil, bukan untuk risiko tidak perlu. Jika ia terjebak di lumpur, Lin Fan bisa kabur atau mendapat bantuan.
"SIALAN!" geram Han Xiao. Ia memutuskan untuk tidak mengejar segera. Ia akan menunggu matanya pulih, lalu membantai seluruh konvoi jika perlu.
Lin Fan bergabung kembali dengan teman-temannya, napasnya tersengal-sengal. Luka di bahunya berdarah deras.
"Kau gila!" bentak Mei Ling, segera memberikan perban dan ramuan penghenti darah. "Kau melawan ahli Fondasi Qi dan berhasil lolos?"
"Bukan lolos," kata Lin Fan, wajahnya pucat karena kehilangan darah.
"Hanya menunda waktu. Kita harus bergerak lebih cepat. Dan kita butuh tempat untuk berperang di mana keunggulan levelnya dinetralkan."
Zhang Wei menatap Lin Fan dengan rasa hormat yang mendalam. "Rawa lumpur itu... apakah benar ada jebakan?"
Lin Fan tersenyum lemah. "Tidak. Itu cuma tanah biasa. Tapi dia tidak tahu itu. Keraguan adalah senjata terbaik melawan orang yang terlalu percaya diri."
Pengawas Chen menggelengkan kepala, takjub. "Kau menggunakan psikologi perang. Luar biasa. Tapi lukamu..."
"Aku akan baik-baik saja," kata Lin Fan
meski kakinya gemetar. Teknik Tubuh Naga Chaos sedang bekerja keras menutup luka itu, tapi prosesnya memakan energi besar.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan maksimal. Namun, di belakang mereka, Han Xiao telah membersihkan matanya. Wajahnya gelap penuh dendam.
"Lin Fan," bisik Han Xiao pada dirinya sendiri. "Kau telah mempermalukanku. Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat. pertama, Aku akan memotong kakimu dulu, lalu tanganmu, dan membiarkanmu merangkak meminta ampun. HAHAHA"
Ia melesat mengikuti jejak konvoi, kali ini dengan keseriusan penuh. Tidak ada lagi permainan.
Dan Lin Fan tahu, pertarungan berikutnya tidak akan bisa dimenangkan dengan trik. Ia membutuhkan kekuatan sejati. Atau bantuan dari sesuatu yang lebih besar.
Di kejauhan, siluet kota ibu kota mulai terlihat samar-samar di balik kabut sore. Harapan terakhir mereka.
* Hook: Ibu kota sudah dekat, tapi Han Xiao masih mengejar. Lin Fan terluka dan kelelahan. Apakah mereka bisa mencapai gerbang kota sebelum Han Xiao catching up? Atau apakah ada penjaga kota yang bisa membantu?
Cari tau di Bab berikut nya.