"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Bundar Birokrasi
Ruang Biro Keuangan Rektorat terasa sedingin lemari pendingin. Aroma pengharum ruangan beraroma lemon sintetik menusuk hidung, berbaur dengan ketegangan yang mengudara di sekitar meja bundar kayu jati di tengah ruangan.
Di seberang meja, Pak Seno—Kepala Biro Keuangan yang terkenal dengan sebutan "Malaikat Pencabut Anggaran"—duduk dengan kacamata baca melorot di ujung hidungnya. Tangannya yang keriput namun kokoh membolak-balik halaman Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BEM dengan ritme lambat yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi.
Di hadapannya, Lyana duduk tegak dengan punggung tidak menyentuh sandaran kursi. Wajahnya datar, napasnya teratur, menyembunyikan fakta bahwa ia hanya tidur kurang dari satu jam semalam. Di sebelah kanannya, Dito terus meremas ujung almamaternya dengan tangan berkeringat. Sementara di sebelah kirinya, Rumi duduk dengan postur rileks, satu kaki disilangkan di atas lutut, menatap Pak Seno dengan sorot mata setajam elang.
"Acara Diskusi Publik Fakultas Hukum," gumam Pak Seno memecah keheningan, suaranya berat dan menggemakan ruang kedap suara itu. Ia mengetuk kertas di depannya dengan ujung pena. "Ada alokasi dana taktis sebesar empat ratus ribu rupiah untuk konsumsi tambahan. Kenapa tidak menggunakan vendor katering resmi kampus yang sudah terdaftar di sistem rektorat?"
Dito menahan napas. Itu adalah jebakan pertama.
Lyana mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Maaf, Pak Seno. Berdasarkan Peraturan Rektorat Nomor 12 Tahun 2018 tentang Standar Operasional Pengadaan Barang dan Jasa Kemahasiswaan, penggunaan vendor di luar sistem diperbolehkan untuk keadaan mendesak di luar jam operasional kampus, selama nominalnya di bawah satu juta rupiah dan disertai dengan rincian pembelian yang ditandatangani pemilik usaha."
Lyana membalik satu halaman di copy berkas yang ia bawa, lalu menunjuknya. "Seperti yang Bapak lihat di lampiran 4B, kami sudah melampirkan nota rincian berstempel basah dari pihak penyedia, lengkap dengan fotokopi KTP pemilik usaha untuk keperluan penelusuran pajak. Semuanya sesuai dengan format administrasi rektorat."
Pak Seno menyipitkan mata, meneliti nota rincian dari Warkop Pak Jo yang semalam berhasil "disulap" Rumi menjadi dokumen resmi yang sah secara birokrasi, lengkap dengan meterai. Tidak ada celah di sana.
"Lalu, bagaimana dengan ini?" Pak Seno beralih ke halaman lain, nadanya mulai sedikit meninggi. "Penggunaan dana BEM untuk kegiatan *Konsolidasi Mahasiswa Raya*? Kegiatan ini belum mendapat persetujuan tertulis dari Wakil Rektor 3."
"Itu bukan pos pengeluaran kegiatan, Pak," kali ini Rumi yang mengambil alih. Laki-laki itu tidak menaikkan nada suaranya, namun otoritasnya menguasai ruangan. "Itu masuk dalam pos Simpanan Kas Organisasi. Sesuai SK Rektor, BEM berhak mengelola dua puluh persen dari total anggaran termin pertama untuk kas internal tanpa harus merinci nama kegiatannya, selama tidak melanggar asas kepatutan."
"Tapi kegiatan konsolidasi itu provokatif, Rumi!" potong Pak Seno keras, akhirnya menunjukkan warna aslinya. "Kamu memobilisasi mahasiswa untuk mengkritik kebijakan kampus pakai uang kampus. Itu namanya menggigit tangan yang memberi makan!"
"Kami tidak memakai uang kampus, Pak," Rumi tersenyum tipis, senyuman yang sangat menjengkelkan bagi lawan bicaranya. "Semua biaya untuk konsolidasi tersebut didanai dari iuran mandiri pengurus BEM dan donasi alumni. Tidak ada satu rupiah pun uang rektorat yang mengalir ke sana. Kalau Bapak tidak percaya, silakan audit rekening resmi BEM yang Mbak Lyana pegang. Saldonya utuh sesuai dengan buku besar."
Lyana segera menggeser draf rekening koran dari bank yang baru ia cetak pukul tujuh pagi tadi ke hadapan Pak Seno. Angkanya sempurna. Tidak ada aliran dana keluar yang mencurigakan. Rumi benar-benar menggunakan uang pribadinya dan donasi luar untuk mendanai aksi tersebut, persis seperti janjinya.
Pak Seno terdiam. Matanya bergerak cepat dari rekening koran, ke nota rincian, lalu ke wajah Lyana dan Rumi secara bergantian. Pria paruh baya itu mencoba mencari celah, satu kesalahan angka, satu stempel yang hilang, atau satu tanda tangan yang terlewat.
Namun, laporan itu bagaikan benteng beton tanpa retakan. Akurasi Lyana berpadu dengan pemahaman hukum Rumi menciptakan sebuah pertahanan administratif yang tidak bisa ditembus.
Setelah keheningan panjang yang menyiksa selama sepuluh menit, Pak Seno menghela napas kasar. Ia mengambil stempel hijau bertuliskan 'APPROVED', menempelkannya ke atas bak tinta, lalu menekannya kuat-kuat di atas halaman depan LPJ BEM.
"Anggaran termin kedua kalian akan cair lusa," ucap Pak Seno dingin, melemparkan berkas itu kembali ke tengah meja. "Tapi ingat, Arshaka. Rektorat tidak akan menutup mata terus-terusan. Satu kesalahan kecil saja di bulan depan, saya pastikan organisasi ini dibekukan."
"Terima kasih atas nasihat dan waktunya, Pak Seno," jawab Rumi sopan, meski kilat matanya memancarkan kemenangan absolut.
Lyana segera membereskan dokumen-dokumen itu, memasukannya ke dalam tas dengan gerakan efisien, dan menunduk hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan, diikuti oleh Rumi dan Dito.
Begitu pintu kaca Biro Keuangan tertutup di belakang mereka, Dito langsung merosot, bersandar di dinding lorong kampus yang sepi. Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, tampak seolah baru saja selamat dari eksekusi mati.
"Gila... sumpah, Mas, aku kira kita bakal tamat hari ini," racau Dito dengan napas terengah-engah. "Pak Seno tadi matanya udah kayak mau nelan kita hidup-hidup."
Rumi tertawa lepas. Laki-laki itu meregangkan otot-otot lengannya, beban berat yang sejak kemarin bertengger di pundaknya tampak menguap. Ia menoleh ke arah Lyana yang sedang berdiri merapikan tali tasnya.
"Kerja bagus, Bendahara," ucap Rumi, suaranya sarat akan apresiasi yang tulus. "Kamu benar-benar bikin Pak Seno mati kutu tadi. Rekening koran itu timing-nya pas banget."
Lyana mengangkat wajahnya, menatap Rumi. Masih ada kantung mata hitam yang menggantung di bawah matanya, namun raut wajahnya terlihat lebih rileks dari biasanya.
"Mas Rumi juga," balas Lyana pelan. Ia tidak mau mengakui ini secara terang-terangan, tapi ia harus jujur. "Bantahan soal SK Rektor tadi... itu brilian. Kalau Mas nggak potong omongannya, Pak Seno pasti bakal terus mencecar soal konsolidasi."
Rumi tersenyum miring, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Hukum itu ibarat pisau, Lyan. Kalau kamu tahu cara memegangnya, kamu nggak akan terluka. Kita cuma perlu memukul rektorat pakai aturan yang mereka buat sendiri."
Untuk pertama kalinya, Lyana melihat sisi Presiden BEM ini dengan kacamata yang berbeda. Rumi tidak hanya bermodal tampang atau uang ayahnya. Di balik kemeja flanel berantakan dan sikap urakannya, Rumi memiliki otak strategis yang tajam. Ia tahu kapan harus memberontak di jalanan, dan kapan harus bertarung rapi di meja birokrasi.
"Karena kita berhasil lolos dari malaikat maut..." Rumi melirik jam tangan G-Shock di pergelangan tangannya. "...sekarang jam sembilan. Aku traktir sarapan Soto Gading. Dito, kamu ikut. Mbak Lyan, kamu juga. Nggak ada penolakan, ini perintah langsung dari Presiden BEM."
Dito langsung berdiri tegak, matanya berbinar mendengar kata 'traktir'. "Wah, gas, Mas! Aku semalaman belum makan nasi."
Rumi menatap Lyana, menunggu persetujuan. Di detik itu, ada godaan kecil di hati Lyana untuk mengiyakan. Perutnya memang perih, dan Soto Gading hangat terdengar seperti surga setelah malam yang melelahkan. Namun, Lyana segera mengembalikan dinding profesionalitasnya.
Menerima traktirannya berarti menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Lyana menggeleng pelan, memundurkan langkahnya. "Maaf, Mas Rumi. Jam sepuluh aku ada kelas Akuntansi Keuangan Menengah, lalu siang langsung lanjut *shift* di kedai. Aku butuh tidur sebentar di kosan supaya nggak pingsan di kelas."
Senyum di wajah Rumi sedikit memudar, meski ia cepat-cepat menutupinya dengan anggukan santai. "Benar nggak mau ikut? Tinggal duduk manis, makan, lalu kuantar sampai depan kosan."
"Nggak perlu, Mas. Terima kasih tawarannya," tolak Lyana, kali ini dengan nada yang sedikit lebih kaku. Ia menundukkan kepalanya sedikit ke arah Dito dan Rumi. "Aku duluan. Tolong nanti siang pintu sekre jangan lupa dikunci, Dit."
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Lyana berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong panjang gedung rektorat. Langkah sepatunya menggema, seirama dengan detak jantungnya yang tanpa alasan berdetak sedikit lebih cepat.
Rumi memandangi punggung Lyana yang perlahan menjauh hingga menghilang di belokan tangga. Pria itu menghela napas pelan.
"Keras kepala banget sih itu cewek," gumam Rumi setengah tertawa.
Dito yang berdiri di sampingnya hanya nyengir. "Mbak Lyan memang gitu, Mas. Dari maba, dia itu kayak kanebo kering. Kalau dia gampang diajak makan bareng, rektorat juga pasti udah gampang dia suap."
Rumi tidak membalas ucapan Dito. Namun, di dalam kepalanya, tembok es yang selalu dibangun Lyana justru membuatnya semakin sadar akan satu hal: Lyana Ayunindya adalah satu-satunya orang di kampus ini yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan maupun pesonanya.
Dan hal itu, entah mengapa, membuat Rumi menyadari bahwa masa jabatannya selama satu tahun ke depan tidak akan terasa membosankan sama sekali.