Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pertempuran Senyap
Dua hari telah berlalu sejak utusan dari Sekte Es Utara datang. Bobon menghabiskan waktunya dengan berlatih dan mempersiapkan diri untuk membuka segel ketujuh. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Perasaan bahwa ada bahaya yang mengintai di balik ketenangan istana.
Malam ini, Bobon duduk di kamarnya dan memandangi langit. Penglihatannya yang baru memungkinkan dia melihat energi yang mengalir di sekitar istana. Dan untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu yang aneh. Ada aliran energi gelap yang merayap di antara bayangan-bayangan. Aliran yang tidak seharusnya ada.
Bobon mengerutkan kening. "Ada apa?" gumamnya.
Dia berdiri dan berjalan ke balkon. Dari ketinggian, dia melihat bayangan-bayangan itu bergerak. Tidak seperti bayangan biasa. Mereka bergerak dengan tujuan. Seolah-olah mereka hidup.
"Wulan!" panggil Bobon pelan.
Wulan muncul di sampingnya dalam sekejap. "Ada apa?"
"Ada sesuatu di taman. Sesuatu yang gelap. Aku merasakan kehadirannya."
Wulan mengikuti tatapan Bobon. Matanya menyipit. "Aku juga merasakannya. Itu energi Sekte Iblis. Tapi sangat halus. Seperti disembunyikan."
"Kita harus menyelidiki."
Mereka berdua turun dari balkon dengan gerakan yang lincah dan senyap. Kaki mereka mendarat di tanah taman tanpa suara. Bobon merasakan energi gelap itu semakin dekat.
Tiba-tiba, bayangan-bayangan itu berhenti bergerak. Mereka berubah bentuk menjadi sosok-sosok manusia. Sosok-sosok bertopeng dengan jubah hitam.
"Jenderal Assassin Bertopeng," bisik Wulan. "Mereka datang."
Bobon mengangguk. Dia merasakan energi di tubuhnya meningkat. "Aku akan menghadapi mereka. Jaga pintu masuk."
Wulan mengangguk dan bersiap dengan serulingnya. Bobon melangkah maju ke tengah taman. Sosok-sosok itu mengelilinginya.
"Kau datang mencariku," kata Bobon dengan suara tenang. "Aku di sini."
Salah satu sosok berbicara dengan suara yang mengerikan. "Kaisar Kegelapan mengirim kami untuk membunuhmu sebelum kau membuka segel ketujuh."
"Kau pikir kau bisa membunuhku?"
"Kami adalah 12 orang dengan satu kesadaran. Kami tidak bisa dikalahkan."
Bobon tersenyum. "Kau salah. Aku sudah pernah melawanmu sebelumnya. Dan aku menang."
Sosok-sosok itu menyerang bersamaan. Gerakan mereka cepat dan terkoordinasi dengan sempurna. Tapi Bobon lebih cepat. Penglihatannya yang baru memungkinkan dia melihat setiap gerakan sebelum terjadi.
Dia menghindari serangan pertama, menangkis serangan kedua, dan membalas serangan ketiga dengan pukulan telapak tangan. Sosok itu terpental dan jatuh ke tanah.
"Kau lebih kuat dari sebelumnya," kata sosok itu dengan terkejut.
"Aku sudah membuka enam segel. Kau tidak bisa mengalahkanku."
Sosok-sosok itu tidak menyerah. Mereka terus menyerang dengan berbagai teknik. Ada yang menggunakan pisau, ada yang menggunakan bayangan, ada yang menggunakan ilusi. Tapi Bobon terus menghindari dan membalas dengan sempurna.
Satu per satu, sosok-sosok itu jatuh. Tapi setiap kali satu jatuh, yang lain menjadi lebih kuat. Mereka menyerap energi satu sama lain.
"Bobon, hati-hati!" teriak Wulan. "Mereka semakin kuat!"
Bobon merasakannya. Energi gelap di sekitarnya semakin pekat. Sosok-sosok itu bergabung menjadi satu entitas besar yang lebih mengancam.
"Kami adalah satu," kata entitas itu dengan suara yang menggema. "Kami adalah kegelapan itu sendiri."
Entitas itu menyerang dengan kekuatan penuh. Gelombang energi gelap melesat ke arah Bobon. Tapi Bobon tidak bergerak. Dia mengangkat kedua tangannya dan menangkis serangan itu.
"Kau bukan kegelapan," kata Bobon. "Kau hanya bayangan. Dan bayangan bisa diusir dengan cahaya."
Cahaya keemasan keluar dari tubuh Bobon. Cahaya itu terang dan hangat. Entitas itu berteriak kesakitan. Cahaya Bobon membakarnya seperti api membakar kertas.
"TIDAK!" teriak entitas itu. "KAU TIDAK BISA MENGALAHKAN KAMI!"
"Aku bisa. Karena aku memiliki cahaya di dalam diriku. Cahaya yang lebih kuat dari kegelapanmu."
Cahaya itu semakin terang. Entitas itu meleleh dan menghilang. Yang tersisa hanyalah topeng-topeng yang jatuh ke tanah. Topeng-topeng itu retak dan hancur.
Bobon berdiri di tengah taman dengan napas terengah-engah. Tubuhnya lelah, tapi hatinya puas. Dia berhasil mengalahkan Jenderal Assassin Bertopeng.
"Kau hebat, Bobon," kata Wulan sambil mendekat. "Kau mengalahkan mereka sendirian."
"Aku tidak sendirian. Kau di sini menjagaku."
Wulan tersenyum. "Sekarang tinggal Kaisar Kegelapan. Dan segel ketujuh."
Bobon mengangguk. "Besok aku akan membuka segel ketujuh. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Mereka berdua kembali ke kamar Bobon. Aditya sudah menunggu di sana dengan wajah serius.
"Aku melihat semuanya dari sini," kata Aditya. "Kau hebat, Bobon. Tapi pertempuran ini baru permulaan."
"Aku tahu. Tapi aku siap."
Aditya menggeleng. "Kau belum siap untuk segel ketujuh, Bobon. Ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelumnya."
"Apa?"
Aditya menarik napas dalam-dalam. "Segel ketujuh bukan hanya tentang melepaskan semua yang kau cintai. Itu juga tentang menerima semua yang telah kau lakukan. Semua kesalahanmu. Semua dosamu. Kau harus menerima bahwa kau tidak sempurna."
Bobon terdiam. "Aku sudah menerima itu."
"Belum sepenuhnya. Kau masih menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi pada Wulan. Kau masih merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan gurumu. Kau masih menyesali semua yang telah terjadi."
Bobon menunduk. "Aku... aku memang masih merasa bersalah."
"Itu adalah penghalang terakhir, Bobon. Kau harus memaafkan dirimu sendiri sebelum kau bisa membuka segel ketujuh."
Bobon mengangkat kepalanya. Ada air mata di matanya. "Bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri?"
"Dengan menerima bahwa kau manusia. Dan manusia membuat kesalahan. Tapi manusia juga bisa belajar dan tumbuh. Kau sudah berubah, Bobon. Kau bukan lagi pendekar sombong yang dulu. Kau adalah orang yang lebih baik."
Bobon menangis. Air mata mengalir deras di pipinya. Tapi kali ini, air mata itu bukan karena kesedihan. Tapi karena penerimaan.
"Aku... aku memaafkan diriku sendiri," bisik Bobon. "Aku memaafkan semua kesalahanku. Aku menerima bahwa aku tidak sempurna."
Saat dia mengatakan kata-kata itu, segel di pusarnya mulai berdenyut. Denyutan yang hangat dan lembut. Tidak seperti rasa sakit sebelumnya.
"Segel ketujuh mulai terbuka," kata Aditya dengan takjub. "Kau berhasil, Bobon. Kau berhasil."
Bobon merasakan energi besar mengalir di tubuhnya. Energi yang luar biasa. Energi yang pernah dia rasakan 10 tahun lalu. Kekuatan Pendekar Dewata yang sesungguhnya.
Tapi kali ini, dia tidak berubah menjadi bocah. Tubuhnya tetap sama. Tapi kekuatannya luar biasa.
"Aku melakukannya," bisik Bobon. "Aku berhasil membuka semua segel."
Wulan memeluknya. "Kau hebat, Bobon. Aku bangga padamu."
Aditya mengangguk. "Sekarang kau siap menghadapi Kaisar Kegelapan."
Bobon memandang ke luar jendela. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Hari baru telah tiba. Dan hari ini, dia akan menghadapi takdirnya.