Takdir tak pernah salah, terkadang kita saja yang tak bisa menerima. Semua yang di rencanakan Allah adalah yang terbaik dari rencana manusia.
**
Razka tak menyangka kepergian nya ke negara orang untuk mengawasi proyek ayahnya akan mempertemukan ia dengan seorang wanita yang lemah lembut bernama Fauziah Azahra Raymond
Satu kali saling menatap membuat pikiran Razka kalang kabut.
Demi menghindari zina pikiran, Razka pun berniat melamar Zia. Hatinya sudah mantap.
Hingga Razka pun menyampaikan niatnya pada sang Abi., Awalnya Gabriel sang ayah sangat senang karena anaknya mau membuka hati. Namun, setelah tau siapa ayah dari wanita yang ingin di lamar Razka dirinya hanya diam dan tak tau menjawab.
Bagaimana bisa anaknya ingin menikah dengan anak dari musuhnya yang telah membunuh keluarga istrinya di masa lalu.
Apa mungkin Gabriel akan mengizinkan Razka melamar anak musuhnya yang tak lain adalah putri dari Daniel.
Mengingat istrinya Aria masih belum bisa melupakan kejadian itu walau bibir mengatakan sudah ikhlas.
Bagaimana bisa mereka berbesan nantinya sedangkan masa lalu belum kunjung terlupakan?
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Akankah Gabriel menyetujui. Jika iya, bagaimana dengan Daniel?
Penasaran dengan lika-liku percintaan Razka dan Zia yang di bumbui sedikit hal mistis.
Simak selengkapnya disini di novel author
Cerita ini hanyalah fiksi.
Note:
Tidak menerima tindakan plagiat apapun itu, jika di temukan kasus plagiat maka akan saya bawa ke rana serius.
Hargai manusia selayaknya manusia!
Jika tak suka, silahkan tinggalkan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Rii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Berbicara dan jujur.
Satu Minggu kemudian.
Gabriel dan Aria sudah menyebarkan surat undangan pernikahan Razka dan Zia, begitu juga dengan keluarga Raymond.
Persiapan acara tampak sudah sangat baik, hanya tinggal menambahkan kekurangan nya saja.
Undangan di sebarkan hingga ke sahabat-sahabat Gabriel, tentunya sahabatnya itu semua kebingungan dan juga butuh penjelasan dari Gabriel.
Mereka terkejut melihat siapa calon menantu Gabriel, bagaimana bisa ini semua terjadi, pikir mereka.
Namun, semua nya sudah terjadi dan sudah menjadi takdir. Tak ada yang bisa menghindar dari takdir yang sudah di tentukan sang Maha Kuasa.
Di dalam kamar, tampak Razka tengah sibuk dengan ponselnya. Terlihat di atas nakas beberapa buku tebal yang belum di sentuh semenjak buku itu dibelikan oleh Gabriel.
Yah, itu buku tentang bagaimana kewajiban suami, harmonisasi dalam rumah tangga, tips hubungan intim dan lain-lain yang bersangkut paut dengan pernikahan.
Di saat Razka sedang asyik bermain ponsel, tiba-tiba saja di layar ponselnya muncul nama calon ayah mertua. Ternyata Daniel menghubungi Razka.
Razka pun mengangkat panggilan dari Daniel.
"Assalamualaikum," ucap Daniel dari seberang sana.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," balas Razka ramah.
"Apa kau sibuk?" tanya Daniel basa basi.
"Eum, tidak, pak. Saya tidak sibuk," jawab Daniel masih canggung dan bingung harus memanggil Daniel dengan sebutan apa.
"Jangan terlalu kaku, anggap saja aku ini ayah mu juga, " ucap Daniel dengan nada pelan.
"Baik, Ayah." .
"Apa kau punya waktu luang? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu," tanya Daniel membuat jantung Razka deg-degan.
"Ada," jawab Razka singkat.
"Kalau begitu, bisakah kita bertemu? Di cafe atau di taman pun boleh," tanya Daniel lagi.
"Boleh, Yah."
"Baiklah, kita berjumpa di cafe jalan XX yah," ucap Daniel.
"Iya, Yah."
"Sampai jumpa di sana, assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Razka.
Panggilan pun terputus, dengan cepat Razka pergi ke kamar mandi. Ia akan berbincang dengan ayah mertuanya, eh maksudnya calon ayah mertua. Jangan sampai terlambat atau nanti ia akan di hapus dari daftar menantu.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Razka keluar dari kamar dengan tampang yang segar dan juga tampan.
"Mau kemana?" tanya Aria melihat putranya sudah rapi.
"Bertemu dengan calon ayah mertua," jawab Razka memeluk sang ibu lalu mencium pipi Aria.
"Dimana? Untuk apa?" tanya Aria.
"Di cafe, katanya ada yang mau di bicarakan."
"Kalau begitu, Umi ikut." Entah mengapa, Aria masih saja takut jika membiarkan putranya dekat dengan Daniel. Butuh waktu untuk melupakan kekejaman calon besannya itu.
"Eum, tapi calon ayah mertua bilang berdua saja, Umi." Razka tak enak hati menolak keinginan sang ibu, hanya saja calon ayah mertuanya seperti ingin berbicara empat mata saja.
"Umi tak mau tau, kalau Razka ingin keluar ajak umi juga. Kalau tak di ajak, maka Razka tak umi izinkan keluar. Katakan itu pada calon mertua mu!" tegas Aria tak ingin di bantah.
"Baiklah, umi ikut saja. Razka tunggu di mobil yah," ucap Razka pasrah lalu berjalan menuju parkiran.
Aria tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Ia pun membasuh wajahnya lalu mengganti pakaiannya. Pakaian yang tadi sudah bau bawang, bisa tercoreng nama baik putranya kalau ia keluar dengan pakaian seperti itu.
Setelah selesai berganti pakaian, Aria pun turun dan berjalan menuju parkiran. Aria masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju menuju cafe yang di maksud Daniel tadi.
Aria tampak fokus pada ponselnya, ia tengah menulis pesan untuk Gabriel bahwa ia pergi bersama Razka sebentar. Gabriel dan Vian tadi pergi ke lokasi proyek, karena Razka sebentar lagi akan menikah maka Gabriel memberikan cuti untuk Razka.
Beberapa menit kemudian.
Mobil memasuki parkiran cafe, Razka dan Aria keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke cafe. Razka tampak mencari keberadaan calon mertuanya dan ternyata Daniel sudah duduk di meja paling ujung.
"Assalamualaikum," ucap Razka memberi salam pada Daniel yang tampak fokus dengan ponselnya.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," balas Daniel mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Aria ada di depan matanya.
"Maaf membuat ayah lama menunggu, tadi Umi ingin ikut jadi Razka tak bisa menolak. Kalau di tolak, umi tak akan mengizinkan Razka keluar," jelas Razka.
Ada rasa menggelitik di hati Aria ketika mendengar Razka memanggil Daniel dengan sebutan Ayah.
"I-iya, tak apa-apa." Daniel tampak gugup dan memilih menatap makanan yang sudah tersaji di meja saja.
"Langsung saja ke intinya, tadi kata Razka anda ingin mengatakan sesuatu, tuan Raymond. Apa ada masalah dengan rencana pernikahan nya?" Aria memulai pembicaraan.
"Eum, bukan itu. Saya hanya ingin berbincang saja dengan calon menantu, hanya ingin mendekatkan diri saja," jawab Daniel berusaha tenang.
"Oh, begitu yah."
"Bagaimana keadaan putri mu?" tanya Aria.
"Alhamdulillah, baik. Tapi," jawab Daniel dan kemudian menghentikan ucapannya.
"Tapi kenapa, Tuan?" tanya Aria dengan kening berkerut.
"Eum, sebenarnya ini yang ingin saya katakan pada Razka. Saya dan keluarga meminta maaf karena tak memberitahu satu kekurangan dari putri kami," jawab Daniel mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan. Semoga keputusan memberitahu Razka tentang keadaan Zia tak mengubah segalanya.
"Setiap manusia memiliki kekurangan nya masing-masing, tuan. Tak ada manusia yang sempurna, semua tak luput dari kekurangan. Putra saya juga memiliki kekurangan, jadi apa masalah nya?" tanya Aria belum mengerti maksud dari alur pembicaraan Daniel.
"Masalah nya adalah putri saya sering kesurupan," jawab Daniel.
Aria dan Razka saling menatap mencari kata-kata yang harus di ucapkan.
"Sejak kapan?" tanya Razka.
"Sejak remaja," jawab Daniel pelan.
"Mengapa kalian tak mengobatinya?" tanya Aria.
"Kami sudah berusaha, namun Zia tetap seperti itu bahkan lebih parah. Ketika dia sedang di luar kendali, maka berada di dekatnya adalah sebuah masalah. Dia akan melukai orang-orang yang ada di dekatnya, lebih parahnya akan membunuh orang-orang yang ada di dekatnya," jelas Daniel membuat Aria langsung beristighfar begitu juga dengan Razka.
Jantung Aria berdetak kencang, bagaimana bisa calon menantunya se-mengerikan itu? Apakah Razka akan baik-baik saja dengan keadaan Zia yang seperti itu.
"Masih ada satu Minggu lagi untuk menunda pernikahan jika nak Razka tak bersedia. Aku mengatakan ini agar kau tak menyesal di kemudian hari, aku tak mau kau merasa di bohongi dan Zia akan terluka. Maaf jika kami telat mengatakan nya," ucap Daniel menatap wajah calon menantunya.
Razka tampak menghela nafas panjang lalu tersenyum.
"Tak apa-apa, ayah. Semua akan baik-baik saja, pernikahan akan tetap di laksanakan," ucap Razka memberikan keputusan.
"Bagaimana dengan anda, nyonya Rahardian?" tanya Daniel pelan.
Aria tampak berpikir sejenak, di sisi lain ada kebahagiaan sang putra yang bisa meminang wanita pujaan hati. Namun, di sisi lain ada sebuah keselamatan dan juga nyawa taruhannya.
"Umi," tegur Razka ketika Aria tak kunjung menjawab dan memilih melamun.
"I-iya, sayang?"
"Ayah menanyakan pendapat umi," jawab Razka.
"Umi ikut kata hati mu saja, nak. Kau yang menjalani pernikahan ini dan kau yang memilih jalur cerita mu sendiri. Umi hanya bisa ikut mendoakan dan berusaha agar semua berjalan dengan lancar," ucap Aria membuat Razka serta Daniel bernafas lega.
"Terimakasih," ucap Daniel senang.
Awalnya, Daniel berpikir Razka akan berpikir seribu kali untuk menikahi Zia setelah tau kondisi Zia. Tapi, ternyata ia salah. Laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah laki-laki yang bijaksana dan tidak plin-plan.
Ia berharap, Razka bisa membantu untuk menyembuhkan Zia.
Dalam benak Daniel sekarang, menikahkan Zia dengan Razka adalah pilihan yang tepat.
_
_
_
_
Jangan lupa pakai baju terbaik kalian yah buat datang di acara pernikahan babang Razka dan neng Zia ( Bu Kunti).
Kalau kalian mau jumpa author, cari aja di dapur. Author sedang cuci piring😁😌
Maaf yah telat up, sebab author kemarin sedang masuk angin gara-gara telat maem😁 jadi gak napsu buat nulis.
Jangan lupa beri dukungan.
Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.
paraaaaah pokoknya...
top banget otor pokoknya,selain tegang dengan perkelahian kasar,ada perkelahian halus juga...