Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Teh Hijau
Langkah kaki Kinanti Amalia bergaung konstan di sepanjang koridor marmer menuju ruang VIP. Di dalam genggamannya, sebuah tablet digital berisi draf proyek energi terbarukan senilai lima ratus miliar rupiah terasa seberat batu andesit. Ini adalah ujian pertamanya sebagai Pelaksana Tugas Direktur Operasional, dan taruhannya tidak main-main.
Begitu pintu ruang VIP digeser, atmosfer formal khas Jepang langsung menyergap indra penciumannya. Aroma harum teh hijau sencha yang pekat menguar di udara. Di seberang meja kayu jati panjang, duduk seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas abu-abu tanpa cela. Wajahnya sekaku patung samurai, memancarkan aura disiplin tinggi yang biasa dimiliki oleh para petinggi korporat Tokyo. Dialah Mr. Tanaka.
Di sampingnya, seorang penerjemah lokal tampak sibuk merapikan beberapa berkas cetak.
"Selamat siang, Mr. Tanaka. Saya Kinanti Amalia, Direktur Operasional PT Mahardika Megah," sapa Kinanti dalam bahasa Inggris yang fasih, membungkuk hormat dengan sudut kemiringan tepat tiga puluh derajat—sebuah gestur yang ia pelajari dari buku panduan etiket bisnis internasional demi menghormati tamu Jepangnya.
Mr. Tanaka mendongak, matanya yang sipit dan tajam menatap Kinanti dengan alis yang sedikit bertaut. Ia membalas bungkukan itu sekilas, lalu melirik ke arah pintu yang tertutup. "Selamat siang, Amalia-san. Di mana Arkan-san? Saya menjadwalkan ulang pertemuan ini karena urusan mendesak, dan saya berharap bisa langsung bernegosiasi dengan pengambil keputusan tertinggi di perusahaan ini."
Suara Mr. Tanaka yang berat dan dingin melalui penerjemahnya terdengar seperti tuntutan yang tak bisa ditawar.
Kinanti tersenyum tenang, menyembunyikan badai kepanikan yang sempat bergejolak di dadanya. Ia mengambil tempat duduk di seberang sang investor. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Mr. Tanaka. Saat ini Pak Arkan sedang berada di ruang pemodelan simulasi kedap suara, menyelesaikan tinjauan akhir untuk kalkulasi turbin angin yang akan kita gunakan di proyek Sulawesi. Beliau tidak bisa memutus koneksi sistem di tengah jalan demi akurasi data. Oleh karena itu, Beliau telah memberikan mandat penuh kepada saya untuk memimpin jalannya negosiasi hari ini."
Mr. Tanaka melipat kedua tangannya di atas meja, bersandar ke kursi. "Mandat penuh? Amalia-san, proyek energi terbarukan ini bernilai setengah triliun rupiah. Ini bukan proyek sembarangan. Apakah Anda, yang baru menjabat, benar-benar menguasai detail efisiensi termal dan mitigasi risiko geografis yang kami ajukan dalam draf revisi?"
Pertanyaan itu adalah jebakan maut. Jika Kinanti ragu satu detik saja, Mr. Tanaka akan langsung membatalkan investasi ini karena menganggap Mahardika Megah tidak profesional.
Kinanti menarik napas dalam-dalam. Di dalam benaknya, bayangan sepasang mata hijau zamrud milik seekor kucing oranye gembul yang menatapnya dengan penuh kepercayaan di atas meja kerja tadi mendadak muncul. Pak Arkan saja percaya pada saya, masa saya tidak percaya pada diri sendiri? batinnya menguatkan diri.
"Tentu saja, Mr. Tanaka," jawab Kinanti tanpa ragu. Ia menyalakan tabletnya dan memproyeksikan draf PDF buatan Arkan ke layar dinding. "Mari kita langsung membahas draf revisi Anda pada poin 2.4 mengenai efisiensi konversi energi potensial pada turbin angin tipe poros vertikal yang Anda ragukan."
Kinanti mulai berbicara. Kata demi kata mengalir dari bibirnya dengan presisi yang mengejutkan. Ia menjelaskan bagaimana PT Mahardika Megah memodifikasi desain aerodinamis bilah turbin untuk menyesuaikan dengan kecepatan angin rata-rata di wilayah pesisir Indonesia yang cenderung fluktuatif.
"Dengan memadukan teknologi generator magnet permanen berkecepatan rendah dari perusahaan Anda dan struktur menara komposit buatan lokal, kita bisa menekan biaya manufaktur hingga delapan belas persen," jelas Kinanti, jarinya menggeser grafik perbandingan biaya di layar. "Namun, efisiensi keluaran daya justru meningkat sebesar empat koma dua persen dibandingkan dengan model standar di Tokyo. Ini berarti, titik impas (break-even point) investor akan tercapai empat belas bulan lebih cepat dari proyeksi awal."
Mendengar penjelasan yang begitu detail dan berbasis data makro yang akurat, rahang kaku Mr. Tanaka perlahan mulai mengendur. Mata peraknya menatap grafik di layar dengan ketertarikan yang mendalam. Pria Jepang itu sesekali mengangguk, lalu berdiskusi kecil dengan asistennya menggunakan bahasa Jepang yang cepat.
"Penjelasan yang sangat impresif, Amalia-san," kata Mr. Tanaka, nada suaranya kini melunak beberapa derajat. "Kalkulasi Anda sangat matang. Namun, bagaimana dengan klausul hukum mengenai pembagian royalti teknologi jika terjadi transfer pengetahuan (transfer of technology) kepada teknisi lokal?"
Inilah inti dari pertempuran diplomasi hari ini. Pihak Jepang biasanya sangat protektif terhadap hak kekayaan intelektual mereka.
Kinanti tersenyum misterius, persis seperti gaya Arkan saat akan mengunci kemenangan dalam negosiasi. "Kami telah menyiapkan opsi win-win solution, Mr. Tanaka. Mahardika Megah akan mendanai seluruh pembangunan pusat pelatihan teknologi di Makassar. Sebagai gantinya, perusahaan Anda akan memegang hak eksklusif sebagai pemasok utama suku cadang inti selama sepuluh tahun ke depan. Dengan begitu, teknologi Anda tetap aman di bawah supervisi ahli Anda, sementara kami mendapatkan efisiensi waktu perawatan karena teknisi lokal kami sudah terlatih untuk melakukan perbaikan minor."
Mr. Tanaka terdiam selama hampir dua menit penuh. Keheningan di ruang VIP itu begitu mencekam, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan rintik hujan di luar yang perlahan-lahan mulai mengecil.
Tiba-tiba, Mr. Tanaka menegakkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangan kanannya melewati meja dengan senyuman tipis namun tulus yang jarang ia perlihatkan. "Arkan-san benar-benar tidak salah dalam memilih Direktur Operasionalnya. Anda memiliki ketajaman berpikir seorang pemimpin, Amalia-san. Saya setuju dengan klausul ini. Mari kita tanda tangani nota kesepahaman ini sekarang."
Jantung Kinanti rasanya ingin meledak karena kebahagiaan yang membubung tinggi. Namun, ia berhasil mempertahankan wajah profesionalnya. "Sebuah kehormatan besar bisa bekerja sama dengan Anda, Mr. Tanaka."
Proses penandatanganan berjalan lancar. Setelah mengantar Mr. Tanaka dan rombongannya kembali ke lift dengan senyum kemenangan, Kinanti langsung berbalik dan setengah berlari menuju ruangan CEO. Begitu pintu ruangannya tertutup dan terkunci, ia langsung menggeser pintu rahasia di balik lemari buku dengan napas terengah-engah.
"Pak Arkan! Kita berhasil! Investor Jepang setuju dan..." kalimat Kinanti terputus saat ia melihat pemandangan di dalam ruangan.
Hujan di luar telah resmi berhenti, digantikan oleh berkas cahaya matahari sore yang menembus kaca. Di atas sofa kulit besar milik CEO, Arkananta Mahardika telah kembali ke wujud manusianya yang sempurna. Ia sedang mengancingkan dua kancing teratas kemeja putihnya yang sempat berantakan akibat proses transformasi pasca-hujan. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan kasual yang sangat seksi, berbeda jauh dari penampilannya yang kaku saat rapat hari Senin pagi.
Arkan mendongak, menatap Kinanti yang berdiri di ambang pintu rahasia dengan wajah kemerahan dan mata berbinar-binar.
"Saya sudah dengar dari interkom, Kinanti," kata Arkan, suara baritonnya yang berat kembali terdengar, memenuhi ruangan. Pria itu berdiri, berjalan mendekati Kinanti dengan langkah lambat yang penuh karisma. "Klausul tentang pusat pelatihan di Makassar... itu adalah improvisasi yang sangat cerdas. Bahkan saya sendiri tidak memikirkan opsi jangka panjang sekonkret itu saat menyusun drafnya."
Kinanti tersenyum bangga, menepuk dada kirinya dengan jenaka. "Siapa dulu dong bosnya? Eh maksud saya, siapa dulu dong muridnya Pak Arkan? Dua tahun jadi sekretaris Bapak membuat saya tertular sedikit kejeniusan konspirasi Anda."
Arkan berhenti tepat satu langkah di depan Kinanti. Jarak yang dekat membuat Kinanti bisa mencium aroma parfum kayu cendana khas Arkan, bercampur samar dengan aroma harum susu khusus kucing bebas laktosa yang tadi diminumnya—sebuah kombinasi aroma yang sangat unik dan aneh bagi seorang CEO multinasional.
Arkan menatap mata Kinanti dengan intensitas yang membuat gadis itu mendadak lupa bagaimana cara bernapas dengan normal. "Terima kasih, Kinanti. Hari ini, kamu sekali lagi menyelamatkan saya. Bukan hanya menyelamatkan perusahaan, tapi menyelamatkan harga diri saya di hadapan investor."
"Sudah kewajiban saya, Pak," jawab Kinanti lirih, mendadak merasa gugup di bawah tatapan tajam pria itu.
Arkan mengulurkan tangannya, jemari panjangnya yang hangat bergerak perlahan mendekati wajah Kinanti. Untuk sesaat, jantung Kinanti berdegup kencang, mengira sang bos akan melakukan gestur romantis seperti di novel-novel yang sering ia baca. Namun, detik berikutnya, jemari Arkan hanya mengetuk pelipis Kinanti dengan pelan menggunakan ujung jarinya.
"Tapi jangan panggil saya 'Bos Gembul' lagi saat saya berwujud kucing. Dan singkirkan biskuit ikan premium itu dari tas kerjamu, atau saya potong tunjangan makanmu bulan ini," ancam Arkan dengan senyuman tipis yang sangat menjengkelkan di sudut bibirnya.
Kinanti mendengus kesal, langsung mundur satu langkah sambil mengerucutkan bibirnya. "Ih, Pak Arkan ini benar-benar ya! Pas jadi kucing menggemaskan sekali kalau minta susu, pas jadi manusia langsung kembali jadi monster korporat!"
Arkan terkekeh pelan—sebuah suara tawa yang begitu renyah dan lepas, sesuatu yang belum pernah Kinanti dengar selama dua tahun bekerja bersamanya. Tawa itu membuat seluruh ketegangan pasca-negosiasi tadi menguap begitu saja ke udara.
"Bersiaplah, Kinanti," kata Arkan sambil berjalan kembali ke meja kerjanya, mengambil jasnya yang tersampir di kursi. "Hari Sabtu besok kita akan berangkat ke kediaman Eyang Widya lagi untuk mulai menyusun rencana pencarian 'Ketulusan Tanpa Syarat' itu. Sampai saat itu tiba, pastikan semua pekerjaanmu di divisi operasional rapi."
Kinanti menatap punggung tegap bosnya dengan senyuman yang tak bisa disembunyikan. Pertualangan mereka baru saja dimulai, dan entah mengapa, Kinanti mulai menikmati setiap detiknya—baik saat menghadapi sang CEO yang bertangan besi, maupun saat merawat sang kucing oranye ras terkuat di bumi yang gembul.