seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecemasan kaisar
Keesokan Harinya, Istana Sanata
Fajar baru menyingsing. Burung belum banyak berkicau, tapi halaman Istana Sanata sudah riuh. Para pelayan berlarian membawa air, para pengawal mengganti tugas. Namun suasana hari ini berbeda. Semua orang berbisik-bisik dengan wajah pucat.
Di dalam ruang kerja Kaisar, suasana hening. Kaisar Sanata Ardian duduk di meja kayu jati. Di hadapannya tumpukan dokumen tentang laporan kekurangan pangan di perbatasan. Alisnya berkerut. Tangannya memijit pelipis,dan tiba-tiba
Pintu didobrak dari luar.
kasim istana, masuk dengan napas tersengal. Wajahnya merah karena berlari. Tanpa memberi hormat sempurna, ia langsung berlutut dan menunduk hingga dahinya menyentuh lantai marmer dingin.
Kaisar mengangkat wajahnya. Alisnya naik heran. "Ada apa, Kasim? Kenapa pagi-pagi begini kau terlihat panik ?"
Kasim menelan ludah. Suaranya bergetar. "Ampun, Yang Mulia... hamba membawa kabar buruk dari kediaman Perdana Menteri."
Kaisar meletakkan kuasnya. Ia bersandar ke kursi. "Katakan."
Dengan suara terbata-bata, Kasim menceritakan semua yang terjadi semalam. Tentang Hana yang datang sendirian, menghancurkan gerbang besi, membantai 20 pengawal elit dalam lima menit. Tentang Luna yang diseret ke rumah bordil distrik selatan. Tentang Nenek Hana yang tewas ditusuk lehernya oleh Perdana Menteri sendiri. Tentang Ajeng yang menangis memeluk mayat ibunya sambil memaki Hana pembunuh.
Kaisar terdiam. Ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara napasnya sendiri. Ia memejamkan mata lalu menghela napas panjang.
"Kasim," ucap Kaisar pelan. "Aku tidak bisa menghentikannya. Dari kekejaman yang ia tunjukkan semalam... aku yakin dia sudah menanggung penderitaan yang tidak bisa kita bayangkan selama delapan belas tahun ini. Perdana Menteri pantas mendapatkan semua itu. Dia yang membesarkan Hana seperti binatang.jadi biarkan dia sendiri yang menanggung akibatnya ! " tekan kaisar dengan wajah acuhnya.
Kasim masih menunduk, tidak berani mengangkat kepala.
Kaisar mengetuk meja dengan jari. "Beritahu semua Pangeran dan juga Putri Mahkota. Larang mereka menyinggung atau memprovokasi Hana. Katakan pada mereka, aku tidak mau mencari masalah dengan wanita itu. Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa berubah menjadi wanita mematikan dalam semalam."
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan menyampaikan perintah," jawab Kasim cepat.
Kaisar memijit pelipisnya lagi. Wajahnya kusut. "Hah... bagaimana ini. Jika semakin lama aku menunda pengiriman makanan ke perbatasan, semua prajuritku akan mati kelaparan. Dan jika mereka mati, kerajaan ini pasti akan diserang musuh dari barat. Yang memimpin prajurit di sana adalah Dominic, jenderal terhebatku. Aku tidak boleh kehilangannya. Tapi kas negara sudah kosong. Aku harus melakukan sesuatu..."
Gumamnya itu hanya didengar oleh dinding istana.
Kasim berdiri dan mundur perlahan sebelum keluar dari ruangan.
Kediaman Hana, Pagi Hari
Di ruang makan yang luas, meja kayu panjang sudah dipenuhi hidangan. Nasi putih mengepul, ayam goreng, sup jamur, ikan bakar, dan teh melati.
Hana duduk di kursi utama. Di kanan-kirinya duduk empat pengawal setianya: Jay, Leo, Jek, dan Logan. Mereka semua diam, tapi pikiran mereka melayang ke peristiwa semalam.
Dex tidak ada. Sejak tadi malam ia pergi mengantar Luna ke distrik selatan. Belum kembali.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari koridor. Semua orang menoleh.
Bima muncul.
Keempat pengawal langsung terbelalak. Jay sampai menjatuhkan sumpit nya.
Pria yang semalam masih kurus kering, kulitnya hitam terbakar matahari, wajahnya tirus karena lapar... kini berdiri di depan mereka dengan tubuh berisi, tegap, dan berkulit putih bersih. Wajahnya tampan. Garis rahangnya tegas. Matanya teduh. Seolah 18 tahun kerja paksa itu hilang dalam semalam.
" tuan bima.dia..dia berubah jadi orang lain,, bagaimana mungkin ?" bisik Logan pelan ke Leo.
" aku juga sulit percaya,tapi pria itu memang tuan bima,,dan aku sangat yakin ini pasti ada hubungan nya dengan nona Hana," jawab Leo dengan mata berbinar kagum. "Nona memang bukan manusia biasa."
Bima sendiri terkejut dengan perubahan tubuhnya. Ia meraba wajahnya, meraba lengannya. Tapi ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya tersenyum melihat putrinya.
"Selamat pagi, Ayah," sapa Hana sambil tersenyum lembut. "Duduklah di samping Hana."
Bima mengangguk dan duduk di kursi di sebelah Hana. Kursi itu khusus dibuat lebih empuk untuknya.
"Ayo kita sarapan," ucap Hana. "Hari ini Ayah dan aku akan memasuki istana."
Bima mengambil sendok. Tangannya bergetar. "Hana... semua ini masih seperti mimpi bagi Ayah," gumamnya dalam hati. Ia menatap putrinya dengan senyum hangat. "Ayah bangga padamu, anakku."
Mereka sarapan dengan tenang. Tidak ada obrolan. Tapi kehangatan di meja itu terasa.
Setelah sarapan selesai, seorang pelayan wanita masuk dan berlutut. "Lapor, Nona. Tadi pagi Perdana Menteri datang berlutut di depan gerbang istana. Di hadapan ratusan rakyat dan pengawal istana, beliau mengakui semua kesalahannya pada Nona dan Tuan Bima. Beliau menangis dan memohon ampun."
Hana tersenyum puas. Senyum tipis, tapi matanya berkilat kemenangan.
Bima terkejut. Ia menatap putrinya tak percaya. "Hana... Ayah tidak menyangka kau sudah melakukan hal sebesar ini untuk Ayah."
Hana menggenggam tangan Bima di bawah meja. "Ayah pantas mendapat pengakuan itu. Tidak ada yang boleh menginjak-injak nama Ayah lagi."
" benar tuan,,mereka semua harus tau berhadapan dengan siapa,aku sangat yakin tidak akan ada yang berani menyakiti tuan bima,,mereka pasti akan berfikir dua kali "ucap Jay.
" nona memang hebat,,bahkan tidak ada yang bisa menghentikan balas dendam nona,,aku sangat mengagumi nona " ucap.leo yang di tatap oleh yang lain dengan sinis.
bima terkekeh kecil,yang di ikuti oleh yang lain sedangkan Hana hanya tersenyum tipis.
Gerbang Istana Sanata
Kereta Hana berhenti di depan gerbang istana yang megah. Pengawal istana yang melihat kedatangan Hana langsung menunduk dalam-dalam. Tidak ada yang berani menatap matanya. Beberapa pelayan bahkan memilih menghindar dan bersembunyi di balik pilar.
"Beritahu Kaisar, Hana dan Tuan Bima menghadap," perintah Hana datar.
Seorang pelayan tua gemetar mengantarkan mereka masuk. Setiap langkah Hana membuat ubin marmer bergema. Para pelayan dan pengawal yang berpapasan memilih menempel ke dinding dan menunduk, seolah takut napas mereka terdengar.melihat kepergian Hana mereka berbisik-bisik.
"nona Hana memang cantik,tapi dia terlihat menakutkan,,apalagi saat dia berjalan di dekat ku membuat aku kesulitan bernafas"
" benar,,bahkan auranya melebihi yang mulia kaisar,,aku juga sangat kagum padanya,dia terus berusaha mendapatkan keadilan bagi ayahnya,,jika aku yang berada di posisi nya pasti aku tidak akan sanggup "
" kerajaan kita memiliki wanita tangguh dan luar biasa,,aku tidak bisa membayangkan jika nona Hana menikah,suaminya pasti akan takut saat melihat Sisi lainnya "
semua pelayan banyak yang kagum pada Hana,, juga penasaran kira-kira siapa yang akan memenangkan hati wanita bengis itu,,
********
Di ruang singgasana, Kaisar berdiri saat melihat Hana dan Bima masuk. Jantungnya berdebar. "Apa yang akan diminta wanita ini sekarang? Apakah dia akan meminta singgasanaku?" pikirnya cemas.
"Hana Kusuma dan Tuan Bima menghadap Yang Mulia Kaisar Sanata Ardian!" teriak pengawal pintu.
Hana melangkah masuk. Jubah hitamnya menjuntai. Bima di sampingnya mengenakan jubah biru tua yang baru, pemberian Hana. Ia tampak gagah dan berwibawa.
Kaisar memerintahkan keduanya duduk di kursi tamu berlapis emas. "Silakan duduk. Ada urusan apa yang membawa kalian menghadapku pagi-pagi begini?"
tapi kaisar tertegun saat melihat pria yang ada di samping Hana,matanya menatap lekat wajah bima.
" dia bima ? apa yang terjadi,,semalam aku melihat' nya masih kurus dan hitam,tapi sekarang dia berubah drastis menjadi lebih muda dan tampan,,apa ini juga ada hubungan nya dengan Hana,, seperti nya Hana bukanlah wanita biasa,,aku tidak boleh menyinggung nya " batin kaisar dengan mengepalkan tangannya di bawah meja.
Hana menatap Kaisar lurus. "Yang Mulia, hamba datang untuk dua hal."