Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
CAPTER 12
PENGALAMAN PERTAMA MENGHADAPI ISTRI YANG NGAMBEK
Sore di kampus x Hasan yang baru saja mengisi kelas dengan langkah sedikit cepat berjalan ke ruang dosen.
Hampir semua mata tertuju padanya bahkan tak sedikit muridnya yang berani bertanya kepadanya mengenai siapa pemilik dosen idola mereka ini.
Tidak ada satupun yang dijawab oleh Hasan, dia tetap dengan kebisuannya. Hatinya merasa lega begitu berada didalam ruangan dosen. Tapi wajah sedih dan marah Lita membuatnya tak nyaman hati. Hasan tidak punya niatan untuk mengklarifikasi mengenai ucapannya pagi ini yang bikin heboh, karena apa yang dia katakan memang benar adanya dan juga dia tidak memiliki perasaan apapun apalagi sebuah hubungan seperti yang selama ini disangkakan orang-orang padanya.
Ketika dia sedang sibuk memeriksa lembar tugas yang telah dia berikan pada minggu sebelumnya, telepon genggamnya berbunyi dan sebuah chat masuk. Dia membuka chat itu dan tersenyum ketika mendapati isi dan siapa yang mengirimnya.
“Kalau udah selesai di kampus jemput aku.” Isi chat Naura
“Injih ndoro ayu....” balas Hasan.
“Ihhh...apaan sih sok gombal, lupa ya sama perjanjian yang uda disepakati?.” balas Naura dengan membubuhi imoji marah.
“Maaf kedepannya saya tidak akan mengulanginya lagi.” Balas Hasan dengan menambahi imoji menutup mulut dengan tangan.
Lita yang melihat Hasan senyum-senyum sendiri sambil membalas chat seketika wajahnya merah karna marah.
Dia dengan sengaja menjatuhkan buku kelantai untuk menarik perhatian Hasan. Namun sayang upayanya sia-sia karena Hasan tidak merespon. Dia hanya melirik sebentar lalu merapikan lembaran tugas dan memasukkan lembaran itu kedalam tas.
“Duhhh yang suda punya tambatan hati...nggak betah lama-lama di kampus.” Goda ibu Nunik seniornya.
“Bukan gitu Bu...jam saya sudah selesai." Kilah Hasan.
“Ngerti saya Pak...kan juga pernah muda."
“Bu Nunik ngomong apaan sih!.”
“La itu mukanya merah...jadi bener kan?!.”
“Udah Bu sampai ketemu besok.” Pamit Hasan dan segera meninggalkan ruangan.
Ibu Nunik yang melihat kemarahan diwajah Lita segera mendekatinya, sambil tersenyum lembut dia mencoba membesarkan hati Lita yang tengah patah hati.
“Bu ikhlaskan saja...anggap ini bukan jodohnya, inshaallah bu Lita bakal segera mendapatkan yang jauh lebih baik dari pak Hasan.”
“Iya bu saya faham tapi saya pikir kedekatan kami selama ini lebih dari sekedar teman kerja, saya pikir dia juga punya rasa sama saya.”
“Itulah hati bu nggak bisa ditebak, bu Lita jangan terlalu kepikiran...segera move on dan buka hati sama yang lainnya.” Sambil menggenggam tangan dan bu Lita mengangguk.
Begitu sampai Hasan langsung memasuki butik, melihat seseorang masuk salah satu karyawan menghampirinya dan menyambutnya dengan ramah. Karyawan itu mengira Hasan berniat mencari baju atau hendak memesan baju.
“Selamat sore, silahkan lihat-lihat koleksi dress kami...mungkin ada yang bisa saya bantu?.”
“Selamat sore Mba...maaf saya mau ketemu sama mba Naura."
“Ohh...sudah buat janji sama ibu sebelumnya atau...,” Tanya karyawan wanita bertubuh ramping yang memakai seragam dengan bawahan sangat pendek.
“Siapa Ra?.” Lisa menghampiri mereka.
Dia terlihat kaget dan menatap Hasan sambil mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu. Hasan berharap wanita itu tidak mengingatnya lagi dan benar dia tidak bisa mengingatnya, mungkin karena dia sering bertemu dengan orang asing.
“Bapak ini nanyain bu Naura.“
“Ohh...mba Naura ada diatas, tunggu sebentar saya kasih tahu dia dulu.”
“Nggak usah Mba...makasih saya langsung ke atas aja.”
Lisa hendak menghentikannya tapi Hasan sudah berjalan menaiki tangga dengan langkah cepat.
“Mati aku!.” Guman Lisa.
Tanpa mengetok pintu Hasan membukanya, terlihat Naura tengah fokus dengan pekerjaannya. Tangannya dengan
lincah membuat coretan dikertas putih, dan juga terdapat pensil yang diselipkan ditelinganya. Sesekali dia menggunakan pensil itu dan menyelipkannya lagi. Penampilannya sedikit berbeda, dia memakai kacamata dan itu membuatnya semakin terlihat cantik dan menggemaskan.
Tidak ingin mengganggunya Hasan duduk di kursi empuk tak jauh dari meja Naura, tangannya meraih majalah
fashion yang tersedia diatas meja.
Setelah menyelesaikan desainnya Naura bangkit, dia hendak mengisi air digelasnya yang kosong. Namun matanya dibuat kaget ketika mendapati Hasan duduk manis diruangannya.
“Hehh kamu ngapain disini?!.” Bentak Naura mengagetkan Hasan.
“Kok malah nanya!." Respon Hasan.
“Yang nyuruh kamu kesini terus masuk keruanganku siapa?!."
“Tadi yang ngechat aku minta dijemput siapa?." tanya balik.
“Ihhhh...aku kan mintanya dijemput bukan kesini apalagi masuk keraunganku...sengaja ya!."
“Sengaja apanya sih...jadi cewek kok bingungin."
“Ehhh bodoh...kamu kan bisa nunggunya dimobil nggak harus turun!.” Sentak Naura.
Tidak terima dikatain bodoh oleh istrinya sendiri, dengan langkah besar Hasan menghampiri Naura yang tengah berdiri sambil memegang gelas.
“Ulang lagi!.” Sentak Hasan.
“Kurang jelas...dasar bodoh!!.” Jawab Naura angkuh.
Hati Hasan benar-benar marah tapi dia berusaha menahannya, tangannya mengepal mencoba menahan diri agar
tidak berbuat kasar pada Naura. Alih-alih melampiaskan kemarahannya dia mengangkat tubuh Naura dan meraih tas Naura diatas meja. Tidak peduli dengan teriakan dan hujanan pukulan dibahunya. Dengan langkah cepat dia menuruni tangga, semua karyawan kaget menyaksikan adegan itu.
“Pria bodoh turunkan aku...cepat turunkan aku!." Teriaknya.
Hasan tidak menanggapi dia malah memukul pantat Naura. Membuat Naura kehilangan muka.
“Bilang bodoh lagi aku tambahin!.”
“Turunkan aku!.” Mulai memelas.
Lisa yang panik dan mengira Hasan memiliki rencana jahat, dengan sigap menghadangnya. Dan meminta karyawan untuk menghubungi polisi.
“Lepaskan mba Naura!.” Teriaknya.
“Kalau saya nggak lepaskan?!.”
“Saya beneran telepon polisi...cepat lepaskan mba Naura!." Perintah Lisa.
Hasan tersenyum lebar mendengar ucapan yang dilontarkan Lisa padanya.
“Mba ini istri saya dan saya punya hak atas dirinya!.”
Lisa dan yang lainnya kaget mendengar ucapan Hasan, sementara itu Naura terdiam seketika. Wajahnya merah padam karena marah mendengar Hasan memberitahu semua karyawan kalau dia adalah suaminya.
“Turunkan aku.” Suaranya lirih.
Spontan Hasan menurunkannya dan Naura langsung pergi dari hadapan Hasan tanpa bicara sedikitpun. Hasan
mengejarnya dibelakang dan meraih tangan Naura. Sementara semua orang yang berada didalam butik terus terpana menyaksikan adegan itu.
“Lepaskan tanganku!.” Bentaknya.
“Mba....” Tetap tidak melepaskan.
“Aku bilang lepasih tanganku!.” Teriaknya frustasi.
Namun Hasan tetap menggemgam tangan Naura dan bahkan menarik Naura kedalam pelukannya. Tangis Naura meledak ketika wajahnya terbenam didada Hasan.
“Maafin mas ya Dek...mas janji kedepannya akan ngontrol diri mas.” Ucapnya lirih sambil mempererat pelukannya dan juga mencium lembut kepala Naura.
Demi mendapatkan maaf dari istrinya, Hasan memperlakukan Naura bak putri sultan. Tanpa melepas pelukannya
dia menuntun Naura menuju mobil, membukakan pintu mobil dan mengikatkan sabuk pengaman. Sedetik kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Naura terus membisu, matanya terus memandang keluar cendela seakan tidak sudi melihat wajah suaminya.
“Dek maafin mas ya.” Nada memelas.
Namun Naura tidak menggubrisnya sama sekali, mulutnya masih tertutup rapat dan pandangannya juga belum teralihkan. Setibanya dirumah Naura langsung turun dari mobil dan berjalan seperti zombi menuju rumah. Bik Siti yang menyapa juga tidak direspon. Hasan mengikutinya dari belakang sambil membawakan tas sang istri.
“Den kenapa sama mba Naura?.” tanya bik Siti kuatir.
“Nggak apa-apa Bik.”
“Apanya yang nggak apa-apa den...mukanya ja udah serem kayak gitu.” Ujar bik Siti.
“Beneran nggak apa-apa Bik...biasa cewek.”
“Iya wes den...yang sabar ya ngadepinnya.”
“Inshallah Bik.” Menyusul Naura.
Tidak seperti biasanya Naura membiarkan pintu kamar terbuka lebar. Sementara dia sudah membenamkan wajahnya pada bantal guling dan tidak memperdulikan kehadiran Hasan.
“Dek kok langsung tidur...nggak mandi dulu terus ganti baju.” Masih mencoba merayu Naura.
Karena tidak ada jawaban dari istrinya, Hasan memberanikan diri mendekatinya. Menyentuh pundak Naura dengan lembut dan mencoba membuatnya berbalik menghadap kearahnya.
“Udah deh jangan sentuh aku...belum puas sama yang tadi!.” Dengan suara ketus.
“Dek coba lihat mas bentar aja.”
“Males!.”
“Bentar Sayang....”
“Jangan panggil aku sayang...aku nggak sudi!.”
“Iya iya mas nggak bakal panggil sayang lagi...tapi adeknya bangun dulu.”
“Nggak pakek adek juga manggilnya.”
“Iya iya...ayo bangun dulu.”
“Udah deh nggak usah maksa atau mau aku keluar dari sini."
“Nggak wes...mas nggak maksa.”
Sadar kalau tidak bisa terus berdebat dengan Naura, dia bangkit dan berjalan menuju sofa. Menjatuhkan tubuhnya yang lelah dan merenungkan kembali sikapnya yang diluar kontrol.
Diluar kamar bik Siti terus mengetok pintu kamar namun tidak terdengar seorangpun yang akan membuka pintu. Dia kembali kebawah dan memberitahu pak Malik, khawatir sesuatu terjadi diantara keduanya beliau memutuskan untuk naik keatas, dan hasilnya juga sama tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Dengan pikiran cemas dia turun kembali kebawah dan sholat berjama'ah seperti biasanya.
Selesai sholat pak Malik kembali keatas, setelah beberapa kali mengetok pintu akhirnya pintu dibuka.
Dengan mata lelah dan masih mengantuk Hasan membuka pintu dan mengira bik Siti yang mengetoknya.
“Iya Bik....”
“Ini papa nak.”
Suara pak Malik membuat matanya menjadi segar, dan segera dia meminta maaf.
“Nak sudah magrib...bik Siti lagi nyiapi makan malam nanti turun ya.” Pinta pak Malik.
“Iya Pa.”
“Nana mana Nak?.”
“Adek masih tidur Pa."
“Ohhh.. .” Seru pak Malik sambil tersenyum.
Setelah pak Malik tidak terlihat, Hasan mencoba membangunkan Naura dengan lembut. Tapi Naura mengabaikannya, tanganya mendorong Hasan untuk tidak mengganggu tidurnya. Hasan pun mengalah,
dia melangkah ke kamar mandi.
Makan malam sudah tertata rapi dimeja makan, bik Siti pergi keatas untuk memberitahu.
“Iya Bik habis ini saya turun.” Ucap Hasan.
“Kalau gitu bibik kebawah dulu ya Den.” Berjalan kebawah.
Hasan yang tidak ingin turun kebawah sendirian mencoba membangunkan Naura. Dan lagi-lagi Naura tidak menghiraukannya, dia justru menutupi telinganya dengan bantal agar tidak mendengar suara Hasan.
Dengan langkah berat Hasan turun kebawah, tampak pak Malik sudah menunggunya dimeja makan.
“Lo mana istrinya nak?.” tanya pak Malik.
“Maaf Pa masih tidur....” Jawab Hasan ragu-ragu.
Pak Malik yang hafal betul watak putrinya tidak bertanya lebih lanjut. Dia menyuruh Hasan untuk segera duduk untuk makan malam.
“Nak Nana emang keras wataknya tapi dia mudah tersentuh...kamu harus lebih sabar dan dewasa ngadepinnya ya.” Ucap pak Malik.
“Iya Pa.”
Teringat Naura yang tertidur dengan perut kosong, Hasan segera pamit ke pak Malik untuk kembali keatas. Dan begitu berada didalam kamar, sekali lagi Hasan mencoba membujuk Naura untuk bangun.
“Mba bangun dulu bentar.”
“Emmmm....”
“Mba nya boleh marah sama aku tapi jangan sampai nggak makan nanti sakit.”
“Nggak punya selera.”
“Dikit aja makannya yang penting perutnya keisi.”
“Nanti!." Jawab Naura malas.
“Iya deh mas nggak maksa.”
Sebelum kembali ke sofa untuk tidur, tak lupa Hasan mematikan lampu kamar dan membiarkan lampu tidur menyala. Cukup lama mencoba untuk terlelap namun tetap tidak bisa. Diambilnya handphone dari meja di dekatnya dan mulai berselancar didunia maya. Tiba-tiba muncul di benaknya untuk mencari tips bagaimana membujuk istri yang sedang marah. Setelah mengetik kata kunci pencarian, beberapa detik berikutnya keluarlah beberapa info dan tips menghadapi kemarahan istri dan bagaimana cara membujuknya.
Hasan mulai membaca salah satu artikel, dalam artikel itu dikatakan langkah pertama dalam membujuk istri yang sedang marah adalah dengan rayuan, jika rayuan tidak mempan tindakan berikutnya menciptakan suasana romantis tapi jika tetap gagal sebaiknya memberikan kejutan atau hadiah bahkan menawarkan diri untuk take over pekerjaan rumah dan kalau semua berakhir tanpa hasil saatnya untuk mengambil tindakan terakhir yaitu pillow talk.
Karena rayuan sudah gagal maka Hasan berniat untuk mengikuti opsi kedua dari artikel yang dia baca. Tapi
dia bingung bagaimana caranya menciptakan suasana romantis sementara dia tidak boleh melanggar perjanjian yang telah ditandatanganinya. Kalau sampai dia melakukan hal-hal yang diluar perjanjian, rasanya Naura akan merebusnya.
“Kepana aku malah jadi suami – suami takut istri.” Gumannya.