NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Gua itu berbau lembap dan tanah basah, hanya diterangi cahaya senter kecil yang disesuaikan sinarnya agar tidak terlalu terang. Rendra berjalan paling depan, menginjak batu-batu licin dengan hati-hati sementara telinganya terus mendengarkan suara di luar—suara langkah kaki pasukan Ridwan perlahan menjauh, digantikan oleh gemuruh air sungai yang tenang.

“Jalur ini dulunya dipakai warga zaman dulu untuk menyelundupkan hasil bumi ke luar lembah tanpa melewati jalan utama,” bisik Pak Haris yang berjalan di belakangnya. “Saya pernah mendengar ceritanya, tapi tak pernah menyangka masih ada sampai sekarang. Dindingnya diperkuat batu kali, jadi tidak akan runtuh meski hujan deras.”

Mereka berjalan hampir dua jam, menanjak perlahan menuju sisi lain pegunungan. Sepanjang jalan, Surya memastikan rekaman suara dan foto batu bertulis tersimpan aman di dua perangkat berbeda—satu di ponselnya, satu lagi disalin ke perangkat penyimpanan cadangan milik Dika.

“Kita punya bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan Ridwan,” kata Dika pelan. “Tapi masalahnya: ke mana kita menyerahkannya? Hampir semua lembaga tinggi di sini sudah berada di bawah pengaruhnya. Jika kita kirim ke kantor berita lokal, berita itu akan disensor sebelum sempat tayang. Jika kita bawa ke pengadilan, berkasnya akan hilang besok pagi.”

Rendra berhenti sejenak di persimpangan lorong. “Itu sebabnya kita tidak bisa pakai cara biasa. Kita harus bawa bukti ini langsung ke pihak yang tidak bisa ditutup mulutnya—jurnalis investigasi nasional yang berani menentang siapa saja, dan tim pengawas independen dari luar daerah yang tidak punya hubungan pribadi dengan Ridwan.”

“Tapi mereka berada di Jakarta,” ingat Bapak Harun. “Jalan darat dan bandara pasti sudah dijaga ketat. Foto wajah kalian sudah tersebar di semua pos pemeriksaan, bahkan mungkin di pelabuhan juga.”

“Kita tidak lewat jalur umum,” potong Pak Haris. “Dari ujung gua ini kita akan keluar di dekat desa nelayan kecil di pantai utara. Di sana ada kapal tradisional milik teman lama saya—dia biasa mengantar barang ke pulau sebelah, lalu bisa menyambungkan kita ke kapal penyeberangan besar yang menuju Jakarta tanpa harus lewat pelabuhan resmi.”

Baru saja mereka melanjutkan langkah, suara langkah kaki pelan terdengar dari arah belakang. Bukan suara banyak orang—hanya satu orang yang berjalan hati-hati, berusaha tak terdengar. Mereka segera bersembunyi di balik tonjolan batu besar, menahan napas.

Sosok itu muncul dalam cahaya senter yang samar. Itu adalah Asep—mantan rekan tim Rendra yang dulu memilih berpihak pada Bagas, lalu membiarkan mereka pergi saat di atap pabrik tua. Ia berjalan tertatih, lengannya dibalut kain kotor berdarah, dan tidak membawa senjata.

“Kalian tidak perlu sembunyi,” katanya pelan, suaranya lemah. “Saya tidak datang untuk menangkap kalian.”

Rendra maju selangkah, tetap waspada. “Bagaimana kau tahu kita lewat sini? Dan kenapa kau sendirian?”

“Setelah saya membiarkan kalian pergi waktu itu, Ridwan memerintahkan saya dibuang,” jawab Asep sambil duduk lemas di atas batu. “Dia bilang saya tidak lagi bisa dipercaya. Saya dengar dia berencana meledakkan seluruh jalur keluar lembah ini dalam waktu dua jam—takut kalian menyusup lewat jalan tersembunyi. Saya berlari sejauh mungkin sebelum pintu gerbang ditutup.”

Ia mengeluarkan selembar kertas kusut dari saku. “Ini daftar nama agen rahasia Ridwan yang menyamar di berbagai instansi, termasuk di kantor berita dan pengadilan. Kalau kalian bawa bukti ke orang yang salah, kalian akan jatuh langsung ke pelukannya.”

Pak Haris mengambil kertas itu, matanya melebar melihat nama-nama yang tertulis di sana. “Kau berani mengambil risiko besar untuk ini.”

“Saya sudah melakukan banyak kesalahan,” jawab Asep menunduk. “Saya ikut mereka karena ingin jabatan, karena takut ditindas. Tapi melihat kalian berjuang sendirian melawan kekuatan sebesar ini… saya sadar saya tidak ingin mati sebagai pengecut.”

Gemuruh pelan terdengar dari arah belakang—tanda pasukan sudah mulai menyiapkan bahan peledak.

“Kita harus cepat!” seru Rendra. “Asep, ikut kami. Kau tahu jalur ini lebih baik dari siapa pun.”

Asep mengangguk pelan, lalu berdiri dengan bantuan Surya. Mereka bergerak secepat mungkin menuju ujung gua. Di belakang mereka, suara batu runtuh mulai terdengar jelas—Ridwan benar-benar berniat menutup semua jejak, bahkan jika itu berarti mengubur hidup-hidup siapa saja yang masih ada di dalam sana.

Saat cahaya matahari mulai terlihat di mulut gua depan, ledakan besar mengguncang seluruh dinding. Debu beterbangan, dan lorong di belakang mereka runtuh seketika. Mereka berhasil melompat keluar tepat waktu, jatuh di atas rumput kering di bukit yang menghadap ke laut.

Di kejauhan, asap hitam mengepul dari arah lembah pertemuan sungai. Mereka selamat, tapi kini tidak ada jalan kembali ke tempat itu.

Rendra menatap laut lepas di depannya. Perjalanan menuju Jakarta masih panjang, penuh bahaya, dan dikelilingi mata-mata di mana-mana. Tapi untuk pertama kalinya, mereka memegang semua kunci kebenaran: bukti fisik, rekaman suara, daftar pengkhianat, dan kini ada satu orang lagi yang tahu cara kerja musuh dari dalam.

Perang mereka bukan lagi sekadar mencari keadilan untuk masa lalu—kini mereka berjuang agar kebohongan yang sudah menutupi daerah ini puluhan tahun akhirnya terkuak ke seluruh negeri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!