NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Buku Catatan Biru

Kunci kecil itu masih berada di telapak tangan Nan Shin ketika ia menyadari tiga keputusan di halaman pertama belum menjelaskan apa pun.

Les Yi Ming, kelas Yi Chen, dan makan keluarga hari Minggu hanya menunjukkan bahwa suaranya tidak ditanyakan. Yang belum ia ketahui adalah berapa banyak hidupnya sudah dipakai untuk membiayai keputusan orang lain.

Ia membuka kembali laci paling bawah.

Buku catatan biru itu terangkat bersama aroma kayu lembap dan debu tipis. Nan Shin membawanya ke meja makan, menyalakan lampu kecil, lalu mengumpulkan semua yang bisa ditemukan tanpa membangunkan seisi rumah: buku tabungan lama, tagihan listrik, bukti transfer sekolah, cicilan rumah, dan beberapa struk belanja yang masih terselip di dompet.

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh.

Ia menarik garis vertikal pada halaman kedua.

Di sisi kiri, ia menulis pemasukan. Di sisi kanan, pengeluaran.

Gaji bulan ini.

Biaya sekolah Yi Ming.

Uang kegiatan TK Yi Chen.

Belanja dapur.

Listrik dan internet.

Cicilan rumah.

Obat Ibu Kho.

Iuran lingkungan Cluster Verona.

Angka-angka itu tidak asing. Nan Shin sudah membayarnya berkali-kali. Namun selama ini semuanya lewat seperti air dari keran. Masuk pada tanggal gajian, keluar dalam hitungan hari, lalu dianggap selesai karena rumah tetap menyala dan anak-anak tetap berangkat sekolah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memaksa angka-angka tersebut tinggal di atas kertas.

Ia membuka riwayat transaksi di ponsel. Aplikasi bank hanya menampilkan periode terbatas. Nan Shin mengunduh laporan yang masih tersedia, kemudian mencocokkannya dengan catatan lama di buku tulis rumah tangga.

Enam ratus ribu untuk seragam sekolah.

Satu juta dua ratus untuk perbaikan pompa air.

Tiga juta untuk uang muka rawat inap Ibu Kho dua tahun lalu. Setelah kepesertaan BPJS diverifikasi dan tagihan disesuaikan, rumah sakit mengembalikan sebagian uang muka itu. Sisanya tidak pernah dibicarakan lagi.

Transfer rutin ke rekening bersama.

Transfer tambahan ketika Cheng An mengatakan pengeluarannya sedang banyak.

Nan Shin berhenti menulis.

Ujung jarinya meninggalkan noda tinta kecil di bawah angka terakhir.

Ia mencoba mengingat satu pembelian besar yang dilakukan hanya untuk dirinya sendiri. Bukan seragam kerja. Bukan sepatu yang dipakai berdiri dua belas jam. Bukan makanan yang dibeli karena tak sempat pulang.

Ia tidak menemukannya.

Pintu kamar Yi Ming terbuka pelan. Anak itu muncul dengan mata setengah tertutup dan rambut berdiri di satu sisi.

“Mama belum tidur?”

Nan Shin menutup sebagian halaman dengan telapak tangan. “Belum. Kamu kenapa bangun?”

“Haus.”

Ia mengambilkan air. Yi Ming minum sambil berdiri di dekat meja, lalu melihat tumpukan kertas.

“Mama kerja lagi?”

Pertanyaan itu membuat Nan Shin terdiam sesaat.

“Mama sedang menghitung uang rumah.”

“Banyak?”

“Pengeluarannya yang banyak.”

Yi Ming mengangguk seolah jawaban itu sudah cukup. Ia mengembalikan gelas, lalu berkata, “Jangan tidur pagi lagi, Ma.”

“Iya. Sana tidur.”

Nan Shin mengantar putranya sampai pintu kamar. Setelah selimut Yi Ming kembali menutup bahu, ia mengecek Yi Chen di ranjang sebelah. Anak kecil itu tidur miring dengan satu kaki keluar dari selimut.

Keduanya tidak tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup mereka. Memang bukan tugas mereka untuk tahu.

Tetapi seharusnya bukan hanya Nan Shin yang memikulnya diam-diam.

Saat kembali ke meja makan, Cheng An keluar dari kamar utama. Ia mengenakan kaus lama dan masih memegang ponsel.

“Kamu ngapain?”

“Menghitung pengeluaran.”

“Sekarang?”

“Kalau siang aku kerja.”

Cheng An menarik satu lembar tagihan, melihatnya sekilas, lalu meletakkannya kembali. “Kan selama ini baik-baik saja.”

Nan Shin menatap wajah suaminya. “Baik-baik saja karena selalu ada yang membayar.”

“Aku juga bayar cicilan rumah.”

“Aku nggak bilang kamu tidak bayar.”

“Lalu?”

“Aku cuma mau tahu uangku pergi ke mana.”

Cheng An menunjuk buku itu. “Memangnya selama ini kamu tidak tahu?”

“Aku tahu satu per satu. Aku tidak pernah melihat semuanya sekaligus.”

“Apa bedanya?”

“Seragam sekolah Yi Ming enam ratus ribu. Kamu ingat siapa yang bayar?”

Cheng An berpikir sebentar. “Kamu, mungkin.”

“Pompa air satu juta dua ratus?”

“Aku nggak ingat.”

“Uang muka rawat inap Mama tiga juta?”

Cheng An mengusap wajah. “Itu sudah lama.”

“Justru itu. Semua dianggap sudah lama begitu selesai dibayar.”

“Nan, kita keluarga. Kenapa sekarang dihitung seperti utang?”

“Aku tidak menulisnya sebagai utang.”

“Lalu untuk apa?”

Nan Shin memutar buku itu agar suaminya bisa melihat dua kolom pertama. “Supaya aku tahu berapa banyak yang keluar dari rekeningku dan keputusan mana yang dibuat tanpa bertanya kepadaku.”

“Kalau uangmu kurang, bilang.”

“Kapan aku harus bilang? Setelah Mama menentukan les? Setelah makan keluarga dipesan? Setelah tagihannya datang?”

“Kamu bisa bicara baik-baik.”

“Malam ini aku sedang bicara.”

Cheng An terdiam sesaat. “Nada kamu seperti sedang menyalahkan semua orang.”

“Aku sedang menunjukkan angka.”

“Angka nggak menceritakan semuanya.”

“Benar. Angka ini tidak mencatat berapa kali aku mengambil jaga tambahan supaya semuanya terbayar.”

“Aku juga kerja keras.”

“Aku tahu. Tapi waktu penghasilanmu naik, semua orang menyebutnya kemajuan. Waktu gajiku habis, semua orang menyebutnya kewajiban.”

“Jadi kamu mau berhenti membantu keluarga?”

“Aku mau diajak memutuskan sebelum uangku dipakai.”

“Nggak ada yang mengambil paksa uangmu.”

Nan Shin menahan tatapannya. “Kalau aku menolak les Yi Ming, menurutmu Mama akan bilang apa?”

“Kita bisa cari jalan tengah.”

“Sebutkan satu.”

Cheng An membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

“Kalau kontrakku tidak diperpanjang,” lanjut Nan Shin, “berapa lama saldo pribadiku bisa menutup kebutuhanku sendiri?”

“Jangan bicara seolah kamu hidup sendirian.”

“Aku sedang memastikan aku tidak jatuh tanpa pegangan.”

“Aku suamimu. Aku peganganmu.”

“Kalau besok saya berhenti bekerja, berapa uang yang bisa saya pakai tanpa meminta kepadamu?”

“Kamu tinggal bilang kalau butuh.”

“Kalau kamu sedang operasi dan anak perlu dibawa ke rumah sakit?”

“Pakai rekening bersama.”

“Saldo rekening bersama tinggal berapa?”

Cheng An menatap buku itu lagi. “Aku belum cek.”

“Itu sebabnya saya sedang menghitung.”

“Kamu bisa kirim pesan. Aku akan transfer.”

“Pegangan bukan sesuatu yang baru tersedia setelah pesan dibalas.”

“Jadi kamu mau rekening terpisah?”

“Saya mau dana pribadi yang tidak otomatis habis untuk keputusan orang lain.”

“Kedengarannya kamu sedang menyiapkan hidup tanpa aku.”

“Saya sedang menyiapkan agar saya tidak kehilangan suara hanya karena tidak menerima gaji.”

“Kalau begitu, duduk dan lihat angkanya bersamaku.”

Cheng An mengembuskan napas. Notifikasi di ponselnya berbunyi, dan matanya segera turun ke layar.

“Jangan terlalu dipikirkan malam-malam. Besok kamu kerja.”

Ia kembali ke kamar sebelum Nan Shin sempat menunjukkan satu pun angka.

Pintu menutup tanpa bunyi keras. Justru karena itu, kesunyian yang tertinggal terasa lebih tebal.

Nan Shin duduk lagi.

Ia menarik garis baru dan menulis judul kecil: Kontribusi Saya.

Dengan data yang masih tersedia, ia menghitung dua belas bulan terakhir. Gaji pokok, tambahan jaga, lembur hari libur, lalu semua transfer ke kebutuhan rumah. Setelah itu ia membuka buku tabungan lama dan mencari pola yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Tidak lengkap. Beberapa struk sudah pudar. Sebagian riwayat tidak bisa diakses. Namun polanya tidak berubah.

Pada tahun pertama, hampir setengah gajinya masuk ke amplop Rumah Sendiri. Setelah Yi Ming lahir, uang itu berganti nama menjadi susu, popok, imunisasi, dan biaya penitipan. Ketika Yi Chen lahir, tambahan jaga malam dipakai untuk menutup selisih kebutuhan dua anak. Setiap kali pendapatan Nan Shin naik sedikit, daftar yang harus dibayar ikut bertambah.

Ia menemukan salinan bukti transfer untuk uang muka rumah di Cluster Verona. Nominal dari rekeningnya tidak sebesar milik Cheng An, tetapi dikirim rutin selama bertahun-tahun. Ada pula pembayaran bahan bangunan, biaya pindahan, dan perabot dapur yang tak pernah ia anggap sebagai kontribusi khusus karena semua dibeli untuk rumah bersama.

Nan Shin mengambil kalkulator.

Ia tidak bisa mendapatkan angka dua belas tahun yang sempurna, tetapi perkiraan terendah saja membuat napasnya tertahan. Uang itu cukup untuk membentuk dana darurat, mengambil pelatihan lanjutan, atau sekadar memberinya ruang berhenti bekerja beberapa bulan bila tubuhnya tidak sanggup lagi.

Tidak satu pun ruang itu tersedia sekarang.

Ia menambahkan satu kolom lagi pada rancangan catatannya: bukti pembayaran. Di samping setiap pengeluaran, ia akan menulis lokasi struk, tangkapan layar, atau dokumen pendukung. Ingatan bisa dibantah. Angka dengan tanggal jauh lebih sulit dihapus.

Hampir seluruh gajinya masuk ke keluarga.

Sementara saldo yang benar-benar berada di bawah namanya sendiri bahkan tidak cukup untuk menutup kebutuhan rumah selama dua bulan.

Nan Shin meletakkan pulpen.

Punggungnya terasa kaku. Matanya panas karena terlalu lama menatap angka, tetapi yang paling mengganggunya adalah kalimat Cheng An tadi.

Selama ini baik-baik saja.

Kalimat itu hanya mungkin diucapkan oleh orang yang tidak pernah perlu memastikan beras cukup sampai akhir bulan, formulir sekolah sudah dibayar, atau obat demam tersedia sebelum anak jatuh sakit.

Nan Shin membuka halaman berikutnya.

Ia membuat lima kolom: tanggal, pemasukan, kebutuhan keluarga, keputusan tanpa persetujuannya, dan sisa uang pribadi.

Pada baris pertama, ia menyalin tiga keputusan dari halaman sebelumnya. Di bawahnya, ia memasukkan biaya masing-masing dan memberi tanda tanya pada bagian yang belum diketahui.

Lalu ia menulis satu aturan untuk dirinya sendiri.

Catat semuanya. Jangan hanya mengingat.

Ia memotret halaman itu, menyimpannya dalam folder ponsel yang diberi kata sandi, lalu mengembalikan semua dokumen ke tempat semula. Buku biru kembali masuk ke laci paling bawah.

Kali ini bukan untuk disembunyikan dan dilupakan.

Kunci baru saja berputar ketika ponselnya bergetar di atas meja.

Nama Bu Ratna muncul di layar.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!