NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Jembatan Penyeberangan

Lucas menoleh ke halaman.

Cengkeramannya mengendur sepersekian detik. Keira menarik pergelangan tangannya, memegang pagar dengan empat jari kiri, lalu menurunkan kaki kanan ke lantai balkon. Tubuhnya jatuh berlutut di sisi dalam.

Kevin mengembuskan napas yang terdengar seperti isak.

"Kei, tunggu. Ambulans sedang datang."

Keira berdiri tanpa memandang siapa pun. Pisau sudah tergeletak jauh di ruang keluarga. Edmond masih sadar. Kevin menekan lukanya. Tidak ada ancaman yang harus ia hadapi lagi di ruangan itu, tetapi dinding rumah terasa lebih sempit daripada sel.

Ia melewati kamar pelayan, membuka pintu belakang, dan pergi.

Lucas mengejarnya sampai tangga. Saat mencapai halaman, Rayhan berdiri di antara dirinya dan gerbang.

"Minggir," kata Lucas. "Dia membutuhkan orang yang mengenalnya."

Rayhan menatap bekas kuku di pergelangan tangan Keira yang menjauh. "Bukan kamu."

Hanya dua kata. Lucas berhenti.

Keira terus berjalan.

Ia tidak tahu berapa lama. Lampu toko mulai dipadamkan, lalu jalan menjadi barisan gedung kaca yang memantulkan lampu kendaraan. Kaki kirinya menyeret satu irama pendek di antara langkah kanan. Tongkatnya tertinggal di rumah. Setiap trotoar yang retak menarik nyeri dari betis sampai pinggul.

Sebuah mobil hitam bergerak jauh di belakangnya tanpa membunyikan klakson.

Keira tidak peduli.

Ketika mencapai Jalan Sudirman, suara TransJakarta, motor, dan mobil menyatu seperti ombak logam. Ia menaiki tangga sebuah JPO satu per satu. Dua kali ia harus berhenti karena kaki kirinya tidak mampu menahan beban. Orang yang turun melewatinya tanpa bertanya.

Di atas jembatan, angin membawa bau aspal dan hujan yang belum turun. Lampu merah dan putih mengalir di bawahnya. Dari ketinggian itu, ribuan orang tampak sedang menuju tempat yang mereka sebut rumah.

Keira berdiri di sisi pagar.

Kedua tangannya dingin. Napasnya belum kembali teratur sejak balkon. Pikiran untuk menghilang tidak terasa indah atau damai. Hanya terasa seperti gejala yang terus mendesak ketika rasa sakit menutup pilihan lain.

Langkah sepatu berhenti beberapa meter di belakang.

Rayhan tidak mendekat.

"Hidup itu seperti drama," katanya. "Kadang aktor utama harus bertahan sampai akhir cerita, supaya penonton tahu bahwa dia bukan penjahat."

Keira menoleh.

"Aku sudah tahu siapa penjahatnya. Tidak ada yang berubah."

"Ada yang berubah. Kamu mendengarnya dari Evelyn, bukan dari mereka."

"Lima tahun penjara tidak kembali karena dua kedipan."

"Tidak."

"Kalau aku bertahan sampai akhir, apa yang kudapat? Putusan bahwa mereka salah setelah tubuhku tidak bisa diperbaiki?"

"Aku tidak tahu."

Keira tertawa tanpa suara. "Kamu buruk dalam membujuk orang."

"Aku tidak akan menjual akhir bahagia yang belum ada." Rayhan memandang aliran lampu di bawah. "Bertahan satu malam hanya memberi kamu hak memilih lagi besok. Bukan untuk keluargamu. Bukan untukku. Untukmu."

Keira tidak menjawab. Namun jari yang tadi memegang pagar mulai terbuka.

Rayhan tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak meminta Keira memaafkan siapa pun. Ia hanya mengakui angka yang tidak bisa dikembalikan.

"Kenapa kamu mengikuti aku?" tanya Keira.

"Kamu belum selesai bertanya tentang tanda tangan itu."

"Itu alasanmu?"

"Salah satunya."

Keira akhirnya menjauh satu langkah dari pagar. "Kenapa menulis tunangan?"

"Rumah sakit meminta hubungan dengan pasien. Keluargamu tidak bisa dihubungi, Tante Mira tidak diakui sebagai wali, dan dokter tidak mau menunda lebih lama."

"Jadi kamu berbohong."

"Kepada kolom formulir. Bukan kepadamu."

"Satu kata itu bisa dipakai keluargamu untuk mengikatku."

"Tidak ada pertunangan tanpa persetujuanmu." Nada Rayhan tetap rendah. "Kalau kamu ingin membuat pengaduan tentang tanda tanganku, Brandon akan menyerahkan dokumen asli dan mendampingimu."

Keira menatapnya lama. Edmond selalu memakai bantuan sebagai utang. Lucas memakai masa lalu sebagai tali. Rayhan justru memberinya cara untuk menuntut orang yang baru menyelamatkan nyawanya.

"Kenapa kamu tetap melakukannya?"

"Karena kamu sedang kehilangan darah. Izin bisa dibahas setelah kamu hidup."

Jawaban itu tidak romantis. Tidak ada janji cinta atau tuntutan terima kasih. Hanya urutan keadaan darurat yang sederhana.

Angin semakin dingin. Rayhan melepas jas hitamnya, berjalan dua langkah, lalu mengulurkannya. Ia tidak langsung menyentuh Keira.

"Boleh?"

Keira tidak mengangguk, tetapi ia juga tidak menolak. Rayhan meletakkan jas itu di bahunya, kemudian kembali memberi jarak.

Di bagian dada, benang peony yang pernah Keira jahit di Hotel Mulia masih terlihat. Kelopaknya berubah warna setiap terkena lampu kendaraan.

"Aku mengenali tusukannya dari karya lain," kata Rayhan.

Keira memandang bunga itu. "Karya apa?"

Rayhan membuka ponsel dan menunjukkan foto sebuah sulaman sutra. Seekor bangau berdiri di antara akar pinus, sementara burung kedua terbang menembus kabut. Keira mengenali setiap benang kusut di sudut kanan. Ia menyelesaikan sulaman itu di bengkel kerja lapas, pada malam-malam ketika tidur hanya mengundang mimpi buruk.

"Bangau dan Pinus," bisiknya.

"Kamu membuatnya."

"Karya napi tidak memakai nama. Hanya nomor."

"Di belakang kain ada huruf K dan satu simpul yang salah. Simpul yang sama ada di bawah peony ini."

Rayhan menjelaskan bahwa sulaman itu keluar dari program kerja lapas melalui perantara, berpindah tangan dengan harga rendah, lalu muncul dalam lelang koleksi privat. Seorang kurator memberi judulnya. Tidak seorang pun dalam katalog tahu pembuatnya adalah perempuan yang dipenjara atas kesaksian palsu.

"Kenapa membeli karya tanpa nama?"

"Kabutnya dibuat dari enam lapis benang dengan ketegangan berbeda. Kurator menyangka itu kesalahan pencahayaan. Oma melihat fotonya dan bilang pembuatnya memahami cara menyembunyikan warna."

"Oma yang menginginkannya?"

"Aku yang menawar. Oma yang membuatku sadar karya itu tidak boleh jatuh ke koleksi pribadi yang akan menguncinya puluhan tahun."

Rayhan memperbesar foto sisi belakang sulaman. Di dekat bingkai terlihat nomor lapas, dua huruf kecil, dan bekas jahitan yang pernah dibuka.

"Setelah melihat peony di jas, aku meminta ahli tekstil membandingkan arah tusukan, pergantian benang, dan simpul akhir. Laporannya belum cukup untuk sengketa hak cipta, tetapi cukup untuk menemukan jalur dokumennya."

Keira mengusap huruf kecil itu. Ia menulisnya dengan benang sisa, lalu menutupnya karena sipir berkata napi tidak berhak membubuhkan nama.

"Aku membelinya seharga Rp 50 miliar."

Keira menatapnya, yakin salah mendengar. "Berapa?"

"Lima puluh miliar. Akan kuberikan kepada Oma pada hari ulang tahunnya. Nama pembuatnya akan dicantumkan jika kamu mengizinkan."

"Mereka memberiku dua bungkus mi untuk itu."

Rahang Rayhan mengeras. "Aku akan menelusuri alur penjualannya. Hakmu tidak hilang hanya karena mereka mengganti namamu dengan nomor."

Keira menyentuh layar. Ujung jarinya berhenti di atas bangau yang sedang terbang.

"Karyamu bernilai lebih dari semua harta keluargamu," kata Rayhan.

Air mata pertama jatuh tanpa suara.

Bukan karena harga lima puluh miliar bisa menghapus apa pun. Bukan karena seorang laki-laki kaya datang menyelamatkannya. Ia menangis karena selama bertahun-tahun tangannya disebut tidak berguna, nilainya dihitung dari berapa banyak organ yang bisa diambil, dan satu-satunya benda yang ia buat dalam penjara dijual dengan nomor.

Sekarang seseorang mengenali satu simpul yang salah dan tetap menyebutnya karya.

Keira berjongkok di lantai JPO. Tangisnya pecah begitu keras hingga ia menutup mulut dengan empat jari kiri.

Rayhan duduk di dekatnya, tidak memeluk, tidak menyuruhnya diam.

Ponsel Keira bergetar. Nama Amanda muncul berkali-kali. Pada panggilan kelima, Keira menjawab.

"Manda."

"Kei, kamu di mana? Tante Mira bilang ada ambulans di rumah Pratama. Aku sudah keliling dua rumah sakit. Jawab aku, kamu terluka?"

"Aku masih hidup."

Hening pendek terdengar dari seberang. Amanda menarik napas gemetar.

"Siapa yang bersamamu?"

Keira memandang Rayhan.

"Rayhan."

Rayhan menyebut lokasi JPO dengan jelas ke arah telepon. "Saya akan memastikan dia diperiksa malam ini."

Amanda tidak memperdebatkan siapa dirinya. "Jangan tinggalkan Kak Keira sendirian. Aku ke sana."

Setelah panggilan berakhir, Keira bersandar pada pagar bagian dalam. "Aku ingin minum sesuatu yang membuat kepalaku berhenti."

"Air."

"Bukan air."

Rayhan menatap wajahnya yang pucat. "Kamu baru operasi, minum obat, dan belum makan cukup. Alkohol berbahaya."

"Satu malam saja aku ingin lupa."

Rayhan menelepon Brandon dan meminta air mineral, roti, serta dua botol bir kecil. Ketika Brandon menyerahkan kantong dari minimarket, Rayhan membuka roti lebih dulu.

"Makan. Baru minum sedikit."

Keira menelan dua suap hanya agar ia berhenti bicara. Ia menghabiskan botol pertama terlalu cepat. Rayhan mengambil botol kedua, tetapi Keira merebutnya saat ia sedang menjawab pesan Amanda.

"Cukup," kata Rayhan.

"Ko Kevin juga selalu bilang cukup." Lidah Keira mulai berat. "Cukup sekolah. Cukup minta. Cukup bikin masalah."

Rayhan menarik botol itu sebelum setengah isinya habis.

Keira menatapnya seolah wajah di hadapannya berubah. "Ko Kevin, aku membayar kuliah Lucas. Aku menjahit sampai pagi dan mengirim uang tanpa nama. Dia pikir Van yang menolongnya. Di pengadilan, dia berdiri di samping Van."

"Aku bukan Kevin."

"Kalian semua selalu datang setelah semuanya selesai."

"Aku tahu."

"Aku tidak butuh belas kasihan."

"Aku juga tahu."

Keira memukul dada Rayhan sekali dengan kepalan lemah. Lalu sekali lagi. Ia memaki Kevin, Lucas, Edmond, dan dirinya sendiri karena pernah menunggu di dekat jendela setiap ulang tahun. Rayhan menerima setiap kalimat tanpa membela orang yang tidak pantas dibela.

Tangisnya perlahan habis. Kepala Keira jatuh ke bahunya.

"Kei."

Tidak ada jawaban.

Rayhan menyentuh lehernya. Denyutnya ada, tetapi kulitnya dingin dan napasnya terlalu lambat. Ia mengangkat Keira, menjaga kepala serta kaki kirinya, lalu turun dari JPO.

Brandon sudah menunggu di tepi jalan dengan pintu Alphard terbuka. Amanda belum tiba, tetapi lokasinya bergerak cepat di layar ponsel.

"Ke rumah sakit terdekat," perintah Rayhan. "Hubungi Dokter Ryan. Sekarang."

Dalam tidurnya yang terlalu dalam, Keira berbisik, "Mama... aku mau pulang..."

Rayhan menunduk menatap wajahnya.

"Kamu akan punya rumah. Aku janji."

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!