Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Drama Ban Kempis
Krek.
Suara langkah kaki itu semakin jelas.
Milka segera berbalik. Kedua kakinya bergeser membentuk posisi siaga. Tatapannya tajam menyapu bayangan yang muncul dari balik gelapnya area parkir.
"Siapa?"
Tak ada jawaban. Hanya langkah kaki yang terus mendekat dengan tenang.
Refleks Milka mengepalkan tangan. "Jangan mendekat!" bentaknya dengan sikap waspada.
Sosok itu akhirnya keluar dari balik bayangan lampu taman.
"Kak Theo?"
Wajah Milka yang semula tegang perlahan mengendur. Namun, kepalannya masih dalam posisi siaga, kali ini keningnya mengerut. Dengan begitu saja, tangan besar Theo menangkup kepalan Milka tadi.
"Ternyata, setelah kelulusanku dulu, refleks kamu hebat juga," guman Theo dengan mata menyipit.
Dengan segera Milka menarik tangannya yang kini berada dalam genggaman hangat Theo. "Ih, Kakak? Ngagetin aja?" sungutnya.
Milka merasakan keanehan atas kehadiran seniornya ini. Dengan sedikit meneleng, ia menatap Theo dengan penuh curiga.
"Kok, Kak Theo ada di sini? Jangan bilang sejak tadi sengaja menunggu dan terus mengikutiku?"
Namun, Theo seolah tak mendengar pertanyaan itu dan berjongkok memeriksa ban motor Milka. Setelah beberapa saat memutar-mutar roda itu, ia melirik Milka yang berdiri dengan tubuh yang mulai lemas.
"Sepertinya ini kena paku." Jemarinya mencabut paku kecil yang menancap pada ban.
"Robeknya lumayan."
"Huffft ..." Milka kembali menghela napas berat. "Besok pagi saja ke bengkelnya," gumamnya.
"Lalu malam ini?"
"Ya, mau gimana lagi. Harus kudorong sampai rumah."
Theo mengangkat sebelah alis. "Rumahmu hampir lima kilometer dari sini."
Milka mengerutkan keningnya. "Loh? Kok Kakak tau? Jangan-jangan, Kakak memang terus mengikutiku?" Dengan cepat, Milka mendorong Theo, karena kesal.
Akan tetapi, tangan itu sengaja ditangkap oleh Theo, dan menguncinya. Meski terlihat tak ada tenaga, tetapi Milka tak mampu lepas dari genggaman itu.
Theo bangkit. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi membuat Milka otomatis harus mendongak.
Ia menunduk menyamaratakan posisi wajah mereka. "Sudah berani melawan senior ya?" ucapnya tepat di depan hidung Milka.
Milka mendengus. "Jangan ngaku senior jika hanya sering mengerjai aku."
"Itu latihan."
"Itu ngebully."
Theo terkekeh pelan, lalu melepaskan tangan Milka. Tatapannya kembali tertuju pada ban motor yang kempis.
"Kunci motornya?"
Milka langsung menggeleng. "Nggak usah."
"Kunci."
"Aku bisa dorong sendiri." Milka kembali mengambil posisi mendorong motornya.
"Rumahmu masih lima kilometer lagi," ulang Theo mengingatkan
"Ya mau gimana lagi? Harus tetap didorong."
"Sudah malam."
"Aku polisi."
"Pasti kamu sudah lelah."
"Aku masih kuat."
Theo mengembuskan napas pelan. "Keras kepala."
Milka mengangkat dagu. "Memangnya kenapa?"
"Aku kurang suka sama sifatmu yang satu ini."
"Loh, memangnya aku minta Kakak untuk suka?"
Theo nyaris tersenyum. "Ternyata kamu masih sama."
"Maksudnya?"
Theo tak lagi menjawab. Ia hanya mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, memberi isyarat silakan, sementara tatapan tenangnya seolah berkata.
'Buktikan kalau kamu memang mampu.'
Milka menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Aku mampu kok."
"Oke."
Theo mengangguk pelan. "Kalau begitu, silakan kamu dorong saja."
Milka sempat terdiam, lalu mendengus membuktikan dia bisa. Ia benar-benar kembali mendorong motornya.
Satu meter ...
Dua meter ...
Lima meter ...
Theo sama sekali tidak menghentikannya. Ia hanya berjalan pelan di samping Milka. Tanpa berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, napas Milka mulai terdengar berat. Keringat kembali membasahi pelipisnya.
Tangannya yang sejak tadi menjepit map bersamaan mendorong stang motor, perlahan mulai bergetar ... Map itu terlepas.
Bruk!
Berkas-berkas bukti perselingkuhan suaminya mulai berserakan tertiup angin malam.
"Astaga ..."
Milka buru-buru berjongkok memungut satu per satu dokumen itu. Belum selesai semuanya terkumpul, beberapa lembar kembali terbang.
Theo ikut berjongkok. Tanpa sepatah kata, ia membantu mengumpulkannya. Ia hampir membaca isi salah satu dari benda itu.
Milka spontan merebutnya kembali. "Kak... nggak usah."
Theo tetap memungut kembali hingga lembar terakhir. Setelah semua terkumpul, lembaran itj dirapikan. Ia berdiri dan menyerahkan map itu kepada Milka.
"Kamu masih yakin baik-baik saja?"
Milka membuka mulut. Namun tak satu pun kata keluar.
Theo melanjutkan dengan suara tenang.
"Kamu boleh kuat."
"..."
"Tapi nggak harus sendirian."
Kalimat itu membuat pertahanan Milka mulai retak.
Theo mengulurkan tangan. "Sekarang, mana kunci motornya?"
Milka masih menggenggam kunci itu dengan erat. Beberapa detik berlalu.
Theo tidak mendesak. Ia hanya menunggu.
Akhirnya...
Milka mengembuskan napas panjang. "Kalau aku kasih ... jangan dibiasakan."
Sudut bibir Theo terangkat tipis.
"Baik."
"Tapi cuma malam ini."
"Baik."
"Besok jangan tiba-tiba muncul lagi."
Theo menerima kunci motor itu dari tangan Milka. "Soal itu ..." Ia menatap Milka sekilas. "... belum tentu."
Milka mendelik mengembuskan napas berat, seolah tak habis pikir dengan tingkah seniornya ini.
"Bonar!"
Beberapa detik kemudian, orang yang dipanggil muncul. Dengan begitu saja ia melempar kunci motor itu pada anak buahnya.
"Perbaiki di bengkel langganan kita! Besok, tepat pukul enam pagi, motor Milka sudah ada di depan rumahnya!"
"Siap, Boss!"
Bonar segera memasangkan kunci pada motor Milka. "Bu Polisi tenang saja. Semua pasti beres!" ucapnya sembari mengedipkan mata lalu mendorongnya hingga jauh.
"Nggak apa tu, Kak?" Menatap bayangan Bonar yang semakin hilang dalam kegelapan.
Theo tersenyum tipis, lalu menarik berkas-berkas yang ada di genggaman Milka. Berjalan tanpa mengatakan apa pun hingga sang penyidik itu berlari mengikutinya.
Theo membukakan pintu mobilnya, dengan gelengan kepala menyuruh Milka masuk.
"Aku bisa naik ojek online."
Theo kembali menatap Milka dengan lurus. "Memang bisa ... Tapi aku tak akan mengizinkanmu pulang sendirian."
Beberapa detil Milka menghela napas. Namun, akhirnya Milka masuk dan duduk di kursi penumpang, samping pengemudi. Theo berjalan cepat memutari mobil dan segera duduk di bangku kemudi.
Akhirnya, sedan hitam itu perlahan meninggalkan area penuh drama tadi, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan semuanya.
Seseorang mengangkat ponselnya.
Lalu ...
Klik.
Sebuah foto Theo dan Milka yang berada di dalam mobil berhasil diabadikan.
*Bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣