"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANJUTAN DI BAB 19
"Nayla tidak mau," ulang Nayla, menatap lurus ke dalam manik mata sang Ayah. "Nayla sudah bilang kemarin, Nayla mau fokus pada persiapan ujian nasional dan mendaftar ke jurusan Seni Rupa Murni. Nayla tidak punya ketertarikan pada manajemen investasi atau aliansi bisnis dengan Barito Group."
"Nayla!" tegur Eleanor cemas. "Jangan memicu pertengkaran di meja makan, Sayang."
"Biarkan dia bicara, Eleanor," potong Alexander dingin. Pria paruh baya itu bersandar di kursinya, memandangi putri sulungnya dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu pikir kamu punya pilihan, Nayla? Seluruh fasilitas, pendidikan, dan nama besar yang kamu sandang saat ini adalah hasil dari jerih payah klan ini. Kamu tidak punya hak untuk menolak apa yang sudah dirancang untukmu."
"Kalau begitu cabut saja semuanya, Ayah!" balasan Nayla memotong kalimat ayahnya secara terbuka, membuat seluruh ruangan gempar seketika. "Cabut fasilitas Nayla, cabut pengawalan ketat ini! Biarkan Nayla hidup biasa seperti orang lain! Kenapa Aurora bisa dibiarkan memilih hobinya, sementara Nayla harus hidup sebagai transaksi saham?"
Aurora yang namanya disebut mendadak gemetar pelan, menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kak Nay..."
"Cukup!" bentak Alexander seraya memukul meja makan hingga denting alat makan bergema keras. Wajah pimpinan Alveric itu mengeras oleh amarah yang membakar. "Adrian, Julian... mulai esok pagi, sita seluruh gawai pribadi Nayla. Batasi akses komunikasinya hanya untuk keperluan sekolah. Jangan biarkan dia keluar rumah selain untuk urusan pendidikan resmi!"
Alexander berdiri dari kursinya, menatap Nayla dengan tatapan dingin tanpa ampun. "Kamu akan belajar cara menghormati keputusan keluarga ini, Nayla. Bahkan kalau artinya aku harus mengurungmu di rumah ini sampai kamu sadar di mana posisimu."
Alexander melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang berat dan bergaung. Eleanor menyusul suaminya dengan wajah penuh kecemasan.
Di meja makan yang kini membeku, Nayla berdiri perlahan. Ia tidak menangis. Tak ada lagi air mata yang tersisa untuk meratapi nasibnya di dalam tembok pualam ini. Dengan kepala terangkat tegak, Nayla membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan Adrian, Julian, dan Aurora yang menatap punggungnya dengan berbagai pergolakan emosi.
Di dalam kamar yang sunyi, Nayla melangkah mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke arah jalan utama. Di luar sana, di balik benteng besi dan barisan pengawal yang menjaga rumahnya, Nayla tahu... Zavier masih ada di suatu tempat di luar sana, berdiri sebagai satu-satunya alasan baginya untuk terus bertahan dan melawan.
Malam makin larut di kediaman Alveric, menyisakan keheningan yang tebal dan mencekam di sepanjang koridor lantai dua. Di balik pintu kamarnya yang kini dikunci dari luar oleh pengawal atas perintah Alexander, Nayla berdiri mematung di dekat jendela kaca besar. Luapan amarah sang Ayah di meja makan tadi masih menyisakan getaran dingin di dadanya, namun tak ada lagi air mata yang menetes di pipinya. Rasa takut yang dulu selalu menyandera langkahnya kini telah berganti menjadi tekad yang keras dan jernih.
Sesuai instruksi Alexander, dua pengawal Alveric telah menyita ponsel dan tablet pribadinya sejam yang lalu. Bagi Alexander, memutus akses komunikasi Nayla adalah cara paling efektif untuk melumpuhkan keberanian putrinya dan memutuskannya dari dunia luar, terutama dari jangkauan Zavier Mahendra. Namun mereka lupa satu hal: keberanian seseorang yang telah kehilangan rasa takut tak lagi bergantung pada gawai atau fasilitas mewah.
Ketukan halus dan sangat pelan di pintu balkon luar membuat Nayla tersentak kaget. Suara itu begitu samar, bersaing dengan gesekan dedaunan pohon pinus yang ditiup angin malam.
Nayla mendekati pintu kaca balkon, menyibak tirai tipis berenda secara perlahan. Matanya membelalak sempurna saat menangkap sosok tinggi tegap yang berdiri di balik temaram cahaya bulan.
Zavier berdiri di sana. Pria Mahendra itu telah memanjat struktur pilar batu dan dahan pohon pinus tua yang menjulang di samping dinding barat kediaman Alveric diatas sebuah aksi nekat tanpa rasa takut yang bisa saja memicu tembakan dari tim keamanan jika ia terdeteksi oleh lampu sorot taman.
Nayla dengan cepat menggeser kait pintu kaca balkon, membiarkan hawa dingin malam dan aroma harum angin luar menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Zav?!" bisik Nayla terperanjat, menahan napasnya seraya menarik lengan Zavier agar pria itu segera masuk ke balik bayangan tirai. "Kamu gila?! Di bawah ada empat pengawal yang patroli tiap tiga puluh menit! Bagaimana bisa kamu memanjat sampai ke lantai dua?"
Zavier menatap Nayla dengan raut wajah yang amat tenang, seolah memanjat tembok kediaman paling diperketat di ibu kota hanyalah rutinitas biasa baginya. Ia mengibaskan sedikit debu di lengan kemeja hitamnya, lalu menatap lurus ke dalam mata Nayla dengan binar kelam yang menenangkan.
"Sistem keamanan Alveric fokus pada pintu masuk utama dan jalur kendaraan, Nay," suara Zavier mengalun amat rendah, serak, namun tegas di antara remang kamar. "Mereka tidak memperhitungkan area bukit barat karena menganggap tembok batu itu terlalu tinggi untuk dipanjat."
Nayla memandangi Zavier dengan dada bergemuruh hebat antara panik akan keselamatan pria itu dan rasa haru yang tak membendung. "Ayah menyita semua gawai pribadiku, Zav. Ayah juga mengunci pintuku dari luar dan menambah pengawalan untuk esok hari. Ayah benar-benar mau mengurungku."
Zavier melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka di balik pendar redup lampu tidur. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, menyentuh pipi Nayla yang dingin dengan jemarinya yang hangat.
"Aku tahu," bisik Zavier pelan namun memancarkan keyakinan mutlak. "Aku melihat Adrian dan Julian membawa keluar kotak gawai dari rumah ini satu jam yang lalu dari arah bukit. Itu sebabnya aku harus datang malam ini."
"Tapi kalau pengawal menemukanmu di kamar ini, Zav..." suara Nayla bergetar pelan. "Ayah dan Papi Kael bisa menggunakan ini untuk menghancurkanmu sepenuhnya."
Zavier menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh ketenangan rasional yang seketika meruntuhkan seluruh keraguan di hati Nayla.
"Mereka tidak akan pernah bisa menghancurkanku, Nayla," ujar Zavier mantap, merapatkan genggaman tangannya di jemari Nayla. "Karena hal paling berharga yang aku miliki saat ini bukan lagi saham Mahendra atau pengakuan dari Papi. Hal paling berharga itu... ada di hadapanku sekarang."
Nayla menatap Zavier dengan mata berbinar pasrah, merasakan hangat sentuhan Zavier yang menyusup hingga ke dasar jiwanya. Di tengah kepungan benteng pualam dan ancaman dua klan raksasa yang siap menelan mereka, keberadaan Zavier di kamar ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada aturan atau kunci pualam yang sanggup merantai mereka lagi.
Dari balik saku jaketnya, Zavier mengeluarkan sebuah gawai kecil berbentuk tipis tanpa pelacak sistem, sebuah ponsel darurat khusus yang hanya menyimpan satu nomor kontak di dalamnya. Ia menyelipkan gawai itu ke dalam telapak tangan Nayla, lalu meremas jemari gadis itu rapat-rapat.
"Gunakan ini kalau kamu butuh bantuan atau saat suasana aman," kata Zavier dengan suara bass-nya yang menembus keheningan. "Tim peretas pribadi yang pernah kubangun tidak bisa dilacak oleh sistem Alveric atau Mahendra. Kita akan tetap terhubung, apa pun yang dilakukan ayahmu."
Nayla menggenggam ponsel kecil itu erat-erat di dadanya, menatap Zavier dengan sudut bibir terangkat membentuk senyum tulus yang memancarkan keberanian baru.
"Terima kasih, Zavier," bisik Nayla lirih. "Untuk tidak pernah membiarkanku merasa sendirian di rumah ini."
Zavier mendekatkan dahinya ke dahi Nayla untuk sejenak, menghirup napas halus bersama di tengah pekatnya malam. "Pintu mereka boleh saja dikunci dari luar, Nay... tapi kunci kebebasanmu ada di tanganmu sendiri. Dan kapan pun kamu siap untuk melangkah keluar dari tembok ini untuk selamanya... aku akan berdiri di depan gerbang untuk membawamu pergi."
Langkah kaki pengawal yang terdengar samar dari arah koridor luar membuat interaksi hangat itu harus terhenti. Zavier melepaskan genggaman tangannya secara perlahan, melangkah mundur menuju ambang pintu balkon kaca dengan gerakan anggun dan tanpa suara.
Sebelum melompati ambang pagar balkon menuju dahan pohon di luar, Zavier sempat menoleh kembali, mengunci pandangannya pada Nayla yang berdiri tegak di dalam kamar.
Dengan satu sentuhan halus pada gawai di tangannya dan bayangan Zavier yang perlahan menyatu dengan kegelapan malam pegunungan, Nayla tahu... tembok tinggi Istana Alveric kini tak lebih dari sekadar tumpukan batu kaku yang tinggal menunggu waktu untuk runtuh bersama ambisi para penguasanya.
kekny zavier ini tipe aku 🤭