NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Setelah makan siang selesai, anggota pasukan inspeksi segera berpencar menjalankan tugas masing-masing. Ada yang memeriksa kondisi benteng, ada yang menghitung logistik, sementara yang lain mengecek persediaan senjata.

Lysander juga ikut melakukan inspeksi. Ditemani oleh Gavin, salah satu anggota pasukannya yang selalu mendampinginya, mereka berdua berjalan mengelilingi barak.

Selain memeriksa kondisi benteng, ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berjalan santai setelah makan siang. Cuaca hari itu cukup bersahabat. Matahari memang masih berada tepat di atas kepala, tetapi udara pegunungan membuat hawa tetap terasa sejuk. Angin sesekali berembus, mengacak rambut hitam Lysander.

Saat melewati salah satu tenda, embusan angin tiba-tiba menyingkap tirai penutupnya sesaat. Di dalamnya tampak sekilas seorang pemuda berjubah ungu yang sedang tertidur pulas. Posisinya yang memunggungi pintu masuk tenda, membuat Lysander tidak bisa melihat wajahnya secara langsung.

Langkah Lysander langsung terhenti.

Setelah itu, Lysander berjalan kembali ke aula. Menghampiri Kaelen yang masih duduk di kursinya.

“Sejak kapan Draven memiliki penyihir?”

“Apa maksud anda? Draven tidak memiliki penyihir.”

Seorang prajurit datang dan membisikkan sesuatu di telinga Kaelen. Raut wajah Kaelen sempat berubah sebelum kembali tenang.

“Aku baru ingat, saat tahanan Vance tiba kemarin, ia datang bersama dua orang lainnya. Satu orang dari keluarga starling, kami sudah mendapat surat pengantar dari keluarganya. Lalu satu lagi, seorang pemuda dengan jubah ungu, identitasnya belum sempat kami pastikan. Saat tiba kemarin, kondisinya tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan.”

Sudut mata Lysander sedikit berkedut saat mendengar ciri yang disebutkan Kaelen sama seperti pemuda berjubah ungu yang ia lihat di dalam tenda.

“Kenapa?”

“Menurut laporan mereka, rombongan itu sempat diserang sekelompok orang di belakang Pegunungan Draven.”

Alis Lysander mengerut saat mendengar tentang penyerangan itu. Kemudian Lysander langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan Kaelen yang lagi-lagi hanya menatap kebingungan.

Tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang.

“Oh anda masih di sini rupanya.”

“Apapun yang dikatakan pemimpin Lysander, lakukan saja.”

“Kenapa?”

“Jangan banyak tanya, lakukan saja.”

“Ba-baiklah.”

Malam di Draven terasa begitu sunyi. Hanya suara jangkrik yang memecah keheningan. Lysander membaringkan tubuhnya sambil melihat langit-langit tenda.

Dulu, saat pertama kali dikirim ke barak militer di ibu kota, ia sering menghitung hari yang telah berlalu. Ia berharap setiap hitungan membawanya semakin dekat dengan hari ketika seseorang datang menjemputnya pulang.

Satu tahun berlalu.

Dua tahun.

Tiga tahun.

Tidak pernah ada yang datang.

Hingga akhirnya ia berhenti menghitung.

Di saat yang sama, jauh di ibu kota…

Kaisar sedang berkutat dengan kertas dan tinta. Ia menuliskan sesuatu di atas selembar kertas, lalu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya melipat surat itu.

“Pengawal!” Serunya.

Seorang prajurit yang bertugas menjaga depan pintu ruang kerjanya langsung muncul dan menunduk hormat ke arahnya.

“Pergi kirimkan surat ini dengan merpati,” Perintahnya.

“Baik yang mulia.”

Pengawal tersebut menerima suratnya dari Cassian lalu undur diri. Bergegas pergi ke bagian pos merpati untuk mengirimkan surat pribadi sang kaisar. Merpati itu pun terbang meninggalkan istana, membawa sebuah surat yang tak seorang pun sangka akan menjadi awal dari sejarah baru Kekaisaran Alterus.

Malam semakin larut, tetapi mata Lysander belum juga terpejam. Ia akhirnya keluar dari tenda dan berjalan perlahan di sekitar barak. Sesekali ia mendongak menatap taburan bintang yang memenuhi langit malam. Terlihat begitu indah, beruntung mereka yang setiap hari bisa melihatnya di sini.

Pandangannya menangkap seekor burung putih yang terbang mendekat.

Semakin dekat, ia baru menyadari bahwa itu seekor merpati. Di salah satu kakinya terikat sepucuk surat, sementara di lehernya melingkar kalung berlambang Kerajaan Alterus.

“Pantas saja bisa masuk ke area benteng,” Gumamnya sambil memperhatikan kalung tersebut.

Lysander melepas surat dari kaki merpati dan langsung membacanya. Sepanjang membaca surat itu, wajah Lysander tetap tenang. Tidak ada sedikitpun perubahan ekspresi.

Setelah membaca surat tersebut, ia mendekati api yang menyala dari obor di samping tendanya lalu membakar surat itu. Wajahnya tetap setenang sebelumnya.

“Apa akhirnya paman Kaisar sudah memutuskan untuk membuang ku disini?” Tanyanya pada sunyinya malam.

Setelah itu, ia menerbangkan kembali merpati tersebut agar kembali ke asalnya. Tanpa menyelipkan balasan apapun.

Keesokan paginya, Lysander terbangun seperti biasa. Namun kali ini ia tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia duduk sambil melihat anggotanya mengemasi barang dan bersiap-siap untuk pergi.

“tuan muda, apa barang anda sudah siap semua?” tanya salah seorang anggotanya.

Lysander hanya mengalihkan pandangannya ke arah prajurit itu.

Tidak ada jawaban.

Prajurit tersebut langsung berdehem pelan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah sarapan selesai, mereka langsung keluar dari aula dan menaiki kuda masing-masing. Namun Lysander hanya berdiri diam di depan pintu masuk aula. Ia menatap mereka lalu berkata.

“kalian kembalilah dulu, aku ada urusan di sini,” ucapnya membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Seorang prajurit langsung turun dari kuda dan menghampirinya.

“Yang Mu…”

Ia langsung menghentikan ucapannya.

“...Tuan Lysander, anda tidak bisa berada di sini terlalu lama,” ucapnya mengingatkan.

Lysander menatap langsung ke matanya.

Untuk sesaat ia melihat mata Lysander yang sedikit memerah. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan setajam itu sehingga tidak ada seorangpun yang menyadarinya.

“baiklah, saya akan menemani anda di sini,” ucapnya lalu menunduk hormat kepada Lysander dan berpindah posisi berdiri di sampingnya.

Ia berbalik lalu memerintahkan mereka untuk kembali ke ibukota terlebih dahulu.

Kaelen dan sang penasihat hanya saling menatap tanpa berkomentar apapun. Setelah pasukan itu meninggalkan Draven, Lysander kembali ke tendanya bersama dengan prajurit tadi.

“Kaelen, berikan kamarmu untuknya.”

Mendengar itu, Kaelen langsung menoleh ke arah penasihatnya.

“kenapa?”

“sudah jangan banyak tanya, ikuti saja ucapanku. Kalau tidak, nanti kamu akan menyesal.”

“Aku tahu dia orang istana. Tapi di Draven semua orang diperlakukan sama.”

“lakukan saja.”

“tapi… baiklah,” ucapnya pasrah.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!