NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Adik Yang Minta Modal

Kevin datang ke ruko Safira dua hari setelah pembicaraan notaris.

Ia datang bukan untuk melihat tempat baru kakaknya. Bukan untuk membantu mengangkat meja. Bukan juga untuk bertanya apakah Safira lelah.

Ia datang memakai jaket kampus, sepatu mahal, dan senyum yang menurut Safira selalu berarti ada maunya.

"Kak, ruko kamu keren juga."

Safira sedang menandai kain untuk pesanan Bu Laras. Ia mengangkat wajah sebentar. "Terima kasih."

Kevin melihat sekeliling. "Sudah kayak butik beneran."

"Memang mau jadi butik beneran."

"Iya, maksudku... keren."

Safira menunggu.

Kevin tidak langsung bicara. Ia berjalan ke dekat mobil putih yang terparkir di depan, mengintip ke dalam, lalu masuk lagi.

"Mobilnya enak dipakai?"

"Enak."

"Aku boleh coba?"

"Tidak."

"Kak, aku cuma muter kompleks."

"Kamu belum punya SIM."

"Aku bisa nyetir."

"Itu bukan jawaban."

Kevin menghela napas, lalu duduk di kursi pelanggan yang baru datang kemarin. Ia memutar kursi itu sedikit seperti anak kecil.

"Kak, aku mau bicara serius."

Safira meletakkan kapur jahit. "Bicara."

"Aku sama teman mau buka usaha kecil. Coffee cart di kampus. Lagi tren. Modalnya tidak besar."

Safira sudah bisa menebak arah pembicaraan.

"Berapa?"

Kevin menyebut angka.

Safira tertawa pelan. "Itu menurutmu tidak besar?"

"Kalau dibanding ruko kamu, kecil."

"Rukoku pakai kontrak, hitungan, dan pinjaman tertulis."

"Nah, aku juga bisa bikin hitungan."

Kevin mengeluarkan ponsel, menunjukkan catatan yang lebih mirip daftar belanja. Mesin kopi, booth, bahan awal, desain logo, promosi, dan `biaya tak terduga` yang jumlahnya mencurigakan.

Safira membaca sampai selesai.

"Mana proyeksi penjualan?"

"Apa?"

"Target jual per hari. Harga pokok. Margin. Sewa tempat. Bagi hasil dengan teman. Izin kampus."

Kevin berkedip. "Itu nanti."

"Kalau nanti, uangnya juga nanti."

"Kak!"

Safira mengembalikan ponsel. "Aku tidak bisa kasih modal dengan rencana seperti ini."

"Aku tidak minta gratis. Nanti aku balikin."

"Dari mana?"

"Dari usaha."

"Usaha yang hitungannya belum ada?"

Kevin berdiri. "Kak, kamu sekarang pelit banget. Dulu kamu tidak begini."

"Dulu aku tidak punya batas."

"Aku adikmu."

"Aku tahu."

"Masa sama adik sendiri tidak mau bantu?"

Safira menatapnya. "Bantu bukan berarti memberi uang setiap kali kamu punya ide setengah matang."

Wajah Kevin memerah. "Aku juga mau belajar bisnis."

"Bagus. Mulai dari belajar membuat rencana."

Kevin mengambil tasnya. "Mama benar. Setelah menikah, kamu berubah."

"Semoga."

"Kamu tidak takut aku bilang ke Kakek?"

Safira benar-benar menatapnya kali ini.

"Bilang apa? Bahwa kamu minta uang tanpa rencana dan aku menolak?"

Kevin kehilangan kata.

Pintu ruko terbuka. Arga masuk membawa dua kotak makan. Ia melihat Kevin, lalu suasana yang dingin.

"Ada tamu?"

Kevin langsung mengubah wajah. "Mas Arga, aku cuma mampir. Keren ya usaha Kak Safa. Aku juga mau mulai usaha. Tapi Kak Safa langsung menolak."

Arga meletakkan kotak makan di meja. "Kamu punya proposal?"

Kevin tampak lega karena mengira Arga akan lebih mudah. "Ada catatan."

"Proposal."

"Belum formal."

"Buat dulu. Setelah itu minta Safa baca. Kalau menurutnya layak, baru bicara."

Kevin menatap Arga.

Safira menahan senyum.

"Mas juga tidak mau bantu?"

"Saya mendukung cara Safa mengambil keputusan."

Jawaban itu menutup pintu.

Kevin mencibir. "Ya sudah. Aku cari investor lain."

"Bagus," kata Safira. "Investor lain juga akan minta proposal."

Kevin keluar dengan wajah tersinggung.

Safira kembali duduk, tetapi tangannya sedikit gemetar. Menolak Kevin ternyata masih memicu rasa bersalah lama.

Arga membuka kotak makan. "Kamu lapar?"

"Sedikit."

"Makan dulu sebelum memikirkan adikmu."

"Aku jahat?"

"Tidak."

"Jawabnya terlalu cepat."

"Karena jawabannya jelas."

Safira mengambil sendok, tetapi belum makan.

"Dulu, kalau Kevin minta sesuatu, Mama selalu bilang aku sebagai kakak harus bantu. Padahal dia adikku, bukan anakku."

"Benar."

"Tapi setiap aku menolak, rasanya aku seperti gagal jadi keluarga."

Arga duduk di depannya. "Keluarga tidak seharusnya membuatmu merasa gagal setiap kali kamu tidak bisa menjadi dompet."

Safira tertawa kecil. "Dompet."

"Atau sopir, penjaga, perawat, tukang jahit gratis."

"Lengkap sekali daftar jabatanku."

"Saya bisa tambah kalau kamu mau."

"Jangan. Nanti aku minta gaji rapel."

Arga mendorong kotak makan ke arahnya. "Mulai dari makan sebagai pembayaran pertama."

Safira akhirnya makan.

Sore itu, Kevin mengirim pesan panjang. Isinya kecewa, menuduh Safira berubah karena Arga, lalu berkata ia tidak akan meminta bantuan lagi.

Safira membaca, menarik napas, dan menjawab:

`Kalau kamu sudah punya proposal lengkap, kirim. Aku baca. Kalau hanya mau marah, aku tidak bisa bantu.`

Kevin tidak membalas.

Malamnya, Ratna menelepon.

Safira menatap layar, lalu menunjukkan kepada Arga.

"Angkat kalau kamu siap. Tidak kalau kamu lelah," kata Arga.

Safira mematikan panggilan.

Beberapa detik kemudian, pesan Ratna masuk.

`Kevin cuma minta bantuan. Kamu tidak perlu mempermalukan dia.`

Safira mengetik:

`Aku minta dia membuat rencana usaha. Itu bukan mempermalukan. Itu mendidik.`

Ratna membalas cepat:

`Kamu bukan ibunya.`

Safira menatap pesan itu lama.

Lalu ia tersenyum kecil.

`Benar. Karena itu aku tidak wajib membiayai dia seperti anak.`

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan lagi.

Arga yang membaca dari samping mengangkat alis. "Tajam."

"Terlalu?"

"Pas."

Safira menyandarkan kepala ke bahu kursi. "Aku capek menjadi kakak yang harus selalu mengalah."

"Berhenti pelan-pelan."

"Hari ini sudah satu langkah."

"Lebih dari satu."

Safira menatap ruko yang mulai rapi. Di rak, kain Bu Laras tersusun aman. Di meja, buku kontrak terbuka. Di depan, mobil putih menunggu.

Dulu, semua yang ia punya selalu bisa diminta orang lain dengan alasan keluarga.

Sekarang, ia belajar mengatakan tidak.

Dan dunia ternyata tidak runtuh.

Hanya beberapa orang yang tidak terbiasa kehilangan akses.

Malamnya, Kevin mengirim foto proposal seadanya. Judulnya besar: `Bisnis Kopi Anak Muda`.

Safira membukanya, lalu tertawa sampai Arga menoleh dari laptop.

"Apa?"

"Slide pertama isinya foto kopi dari internet. Slide kedua, target pasar: semua orang yang suka kopi."

Arga berdiri di belakangnya, membaca. "Ambisius."

"Slide ketiga, keunggulan: rasa enak dan tempat asyik."

"Revolusioner."

Safira tertawa lagi, lalu berhenti. "Aku harus jawab serius."

"Ya."

Ia mengetik perlahan:

`Mulai dari survei harga bahan, lokasi, dan target penjualan per hari. Jangan pakai foto internet. Tulis siapa partner, pembagian modal, dan pembagian kerja. Setelah itu kirim lagi.`

Kevin membalas:

`Ribet amat.`

Safira menjawab:

`Bisnis memang ribet. Kalau tidak mau ribet, jangan minta modal.`

Tidak ada balasan.

Arga menatap layar, lalu berkata, "Kamu baru saja memberi pelajaran bisnis pertama."

"Menurutmu dia belajar?"

"Belum tentu. Tapi kamu sudah tidak membayarnya untuk tidak belajar."

Safira menyukai kalimat itu.

Ia menulisnya di sudut buku catatan, tepat di bawah daftar pengeluaran atelier.

Keesokan harinya, Kevin benar-benar datang lagi. Kali ini ia tidak masuk dengan senyum meminta, melainkan membawa laptop dan wajah kesal.

"Aku sudah bikin tabel," katanya.

Safira menatapnya, setengah tidak percaya. "Serius?"

"Iya. Tapi ribet."

"Aku tidak janji memberi modal."

"Aku tahu." Kevin duduk, membuka laptop. "Tapi kalau aku bisa bikin ini, minimal Kakak baca."

Safira menahan senyum. "Itu baru masuk akal."

Arga yang sedang membaca dokumen di sudut ruangan mengangkat pandangan sebentar.

Kevin melihatnya, lalu cepat berkata, "Mas Arga juga boleh kasih masukan."

Proposal itu masih berantakan, tetapi ada usaha. Untuk pertama kalinya, Kevin tidak hanya meminta hasil. Ia membawa pekerjaan.

Safira tidak langsung memuji.

Ia mengambil pena merah.

"Baik. Kita mulai dari biaya bahan."

Kevin mengerang.

"Kak, jangan galak."

"Investor memang galak."

Arga menunduk, menyembunyikan senyum.

Satu jam kemudian, Kevin pulang dengan kepala penuh coretan merah. Ia masih mengeluh, tetapi tidak membanting pintu. Untuk ukuran Kevin, itu kemajuan besar.

Safira membereskan meja.

"Aku terlalu keras?"

Arga menggeleng. "Kamu memperlakukannya seperti orang yang bisa belajar."

"Bukankah itu normal?"

"Di keluargamu, tidak selalu."

Safira terdiam. Benar. Kevin sering dimanjakan seolah ia tidak mampu, lalu diberi uang agar semua orang tidak repot.

Hari ini, Safira tidak memberinya uang.

Ia memberinya tanggung jawab.

Mungkin adiknya akan marah.

Mungkin juga, untuk pertama kalinya, ia akan tumbuh sedikit.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!