Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Hari Penilaian Tengah Semester (PTS) yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Suasana SMA Astra Nova yang biasanya bising oleh celetukan murid-murid mendadak berubah hening dan penuh ketegangan.
Papan pengumuman di dekat tangga lantai dua sudah ditempeli denah dan nomor peserta. Karena sistem PTS diacak berdasarkan nomor absen dan kelas, susunan tempat duduk mereka jadi terpisah-pisah.
Aery yang memang sudah siap tempur masuk ke Ruang 04 dengan tenang. Di dalam ruang ujian yang dingin ber-AC itu, ia menata dua pensil 2B, penghapus, dan penggaris di atas meja kayu bernomor peserta 012.
Sementara itu, di Ruang 08, suasana agak sedikit dramatis.
Jasver duduk di barisan tengah sambil menopang dagunya lemas. Di sebelahnya, Ren sibuk komat-kamit menghafal rumus fungsi kuadrat yang tadi malam ia baca kilat.
"Ver, sori ya... kalau nanti pengawasnya lengah, tolong kasih gue sinyal buat nomor sepuluh ke atas," bisik Ren pasrah.
Jasver terkekeh pelan sambil mengetuk-ngetukkan pensilnya. "Sembarangan lo. Gue juga cuma ngandelin sisa-sisa hafalan pas belajar bareng di kelas Aery kemarin. Berdoa aja moga-moga otak gue ngga mendadak blank."
Namun, di balik gaya santainya, Jasver sempat melirik ke arah pintu luar. Ia tahu Aery ada di ruang ujung koridor. Ada rasa tenang yang aneh saat ingat kalau Aery mungkin sekarang sedang mengerjakan soal dengan sangat mudah dan percaya diri.
Beda kelas banget emang, batin Jasver tersenyum tipis.
Bel tanda ujian berakhir berbunyi panjang tiga kali. Suara desah napas lega meluncur serentak dari hampir seluruh penjuru kelas.
"BEBAS! AKHIRNYA BEBASS!!" seru Ren begitu keluar dari ruang ujian. Dirinya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di koridor.
Farah dan Bumi berjalan menyusul dari arah tangga. Farah terlihat mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Sumpah ya, soal nomor lima belas Matematika tadi itu maksudnya apa coba?! Kenapa jawabannya ngga ada di pilihan ganda?!"
Bumi tersenyum tenang, menepuk pelan pundak Farah. "Ada kok, Far. Itu cuma perlu diputar dulu rumusnya pakai rumus turunan yang aku jelasin kemarin."
"Tuh kan! Dibilang apa, otak lo tuh kurang melar dikit!" celetuk Jasver yang baru datang menghampiri mereka sambil mengulum permen.
"Ver, diam atau mau gue tendang?!" sungut Farah ketus, meski tatapannya sempat beradu dengan Jasver sebelum akhirnya memalingkan muka.
Dari arah Ruang 04, Aery melangkah keluar sambil memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas. Rambutnya dikuncir rapi seperti biasa. Begitu melihat teman-temannya sudah berkumpul di dekat pembatas koridor, langkah kaki Aery melambat.
Bumi yang pertama kali menyadari kehadiran Aery langsung melambaikan tangan pelan. "Gimana ujiannya, Ry? Lancar?"
Aery mengangguk kecil, tersenyum halus. "Alhamdulillah lancar, Bum. Soal Matematika tadi lumayan mirip sama yang kita bahas pas belajar bareng."
"Kan! Apa gue bilang, Aery mah merem juga dapet seratus!" timpal Ren heboh.
Jasver menyandarkan punggungnya di tembok koridor, menyilangkan tangan di dada. Matanya tak sengaja bertatapan dengan Aery.
Aery melempar lirikan singkat ke arah Jasver. Sudut bibirnya sedikit terangkat, menyunggingkan senyum jahil yang sangat tipis seolah-olah sedang melempar kode rahasia soal kejadian TWS tertukar kemarin.
Jasver yang mengerti arti senyuman itu mendadak tersedak permennya sendiri. Wajahnya langsung merona hangat, buru-buru memalingkan pandangan dan berpura-pura menatap lantai yang sedang dipijak.
Asem... bisa-bisanya dia ngingetin lagu Gabriela cuma pake senyuman doang, batin Jasver salah tingkah setengah mati.
Bumi yang berdiri di dekat Aery memperhatikan interaksi singkat antara Jasver dan Aery itu. Sorot mata Bumi yang biasanya tenang tampak berkilat pelan. Ada sapuan misterius di raut wajahnya saat ia melihat bagaimana senyuman Aery ke arah Jasver terasa jauh lebih lepas dan alami daripada senyuman sopan yang biasa Aery berikan padanya.
"Eh, karena ujian hari pertama udah beres, gimana kalau kita makan bakso di depan sekolah?" usul Farah memecah keheningan. "Gue butuh asupan kaldu khas bakso dan kuah pedes buat menyegarkan otak gue yang udah mau meledak ini!"
"Setuju banget!" sahut Ren cepat.
Aery melirik Bumi, lalu melirik Jasver yang masih pura-pura sibuk membuang bungkus permennya. "Aku ikut," ucap Aery pelan.
♧♧♧
Warung Bakso Pak Mat di depan gerbang sekolah siang itu dipenuhi aroma kuah kaldu yang gurih dan uap panas yang membumbung tinggi. Suasana riuh pasca PTS masih terasa, tapi meja panjang di sudut warung yang diisi lima orang itu punya kehebohannya sendiri.
"Pak Mat! Sambel yang di meja sebelah aku ambil yaa, soalnya yang disini udah habis!" seru Farah sambil mengucurkan kecap dan cuka ke mangkoknya dengan bersemangat.
"Gila lo, Far. Otak meledak gara-gara Matematika, usus lo ikut meledak entar gara-gara sambel," celetuk Jasver yang duduk di seberangnya sambil memisahkan daun seledri dari mangkok baksonya.
"Biarin! Biar makin seger!" sahut Farah melotot, membuat Ren tertawa sambil sibuk mengunyah kerupuk kaleng.
Di samping Jasver, Aery duduk dengan tenang, menikmati bakso tanpa kecap pesanannya. Sementara di sebelah Aery, Bumi mengaduk kuah baksonya dengan gerakan perlahan.
"Eh, ngomong-ngomong soal ekskul..." Ren memajukan badannya, menatap Bumi penuh rasa penasaran. "Bum, katanya ekskul Marching band–maksud gue band sekolah kita, lolos seleksi tingkat provinsi ya? Beneran mau maju ke lomba nasional bulan depan?"
Jasver yang tadinya sibuk menyisihkan seledri mendadak menghentikan tangannya. Ia melirik Bumi.
Farah juga menghentikan adukan sambalnya, matanya membelalak kaget. "Hah?! Beneran, Bum?! Gila, keren banget!"
Aery yang sedang memegang sendoknya mendadak menghentikan suapannya. Ia menoleh ke arah Bumi dengan raut wajah kaget yang tak bisa disembunyikan.
"Bum? Kamu anak band?" tanya Aery polos, matanya bulat menatap Bumi. "Aku... aku baru tahu kamu ikut ekskul musik."
Bumi tersenyum tipis, agak salah tingkah karena mendadak jadi pusat perhatian Aery. Ia mengangguk pelan dengan raut rendah hati seperti biasa. "Iya, Ry. Dari kelas sepuluh awal sebenarnya, cuma aku emang jarang cerita-cerita aja. Kebetulan di band aku pegang posisi vokalis utama sambil pegang gitar akustik."
"Gokil ngga tuh?!" timpal Ren heboh sambil menunjuk Bumi pake sendok. "Si Bumi ini kalau udah pegang gitar sambil nyanyi di panggung, vibes-nya langsung beda 180 derajat! Cewek-cewek se-sekolah bisa langsung hebohh!"
Aery memiringkan kepalanya sedikit, pandangannya memancarkan rasa kagum yang jujur dan tulus. "Keren banget... Aku beneran ngga nyangka kamu bisa nyanyi sambil main gitar, Bum. Mana sampe mau tembus ke tingkat nasional lagi."
Mendengar pujian spontan dan tatapan kagum dari Aery, senyum Bumi makin mengembang, kali ini terasa jauh lebih hangat. "Makasih ya, Ry. Kebetulan lagu yang kita bawain nanti lagu ciptaan sendiri, judulnya 'Rahasia Melodi'. Nanti pas latihan persiapan ke Jakarta, kamu dateng ya... nonton aku latihan."
"Pasti! Aku mau banget nonton," jawab Aery mantap sambil tersenyum manis.
Jasver yang mendengarkan percakapan itu hanya bisa terdiam di tempatnya. Tangannya meremas sendok di dalam mangkok bakso sampai buku-buku jarinya memutih.
Di matanya, sosok Bumi yang sudah sempurna di bidang akademik mendadak makin berkilau dan makin sulit ditandingi. Udah pinter, kalem, ganteng, terus vokalis utama sambil gitaran dan mau berlaga di nasional pulak, batin Jasver tersenyum miris. Ia merasa perbandingan dirinya dengan Bumi bagaikan langit dan bumi.
Aery yang sadar Jasver mendadak diam dari tadi, melirik cowok itu dari samping. "Ver? Kok malah ngelamun? Bakso lo keburu dingin tuh."
Jasver tersentak kecil, lalu cepat-cepat memasang cengiran konyolnya yang paling ampuh. "E-eh! Engga, gue cuma lagi ngebayangin..." Jasver mengusap dagunya sok berpikir. "Kalau si Bumi makin terkenal gara-gara nyanyi sambil gitaran di lomba nasional, pasti fans-nya makin heboh. Nanti koridor kelas kita dipenuhin cewek-cewek lagi kayak gue kemarin wkwk!"
"Idih! Bumi mah ngga bakal tebar pesona kayak lo ya, bego!" cibir Farah cepat, membuat Ren terbahak-bahak.
Bumi terkekeh pelan menyahuti candaan Jasver, tapi tatapan matanya tetap tenang mengamati Jasver dan Aery secara bergantian.
♧♧♧
Malam sebelum jadwal PTS Fisika, kelas bimbingan di Bimbel Aksara terasa begitu mencekam. Papan tulis putih dipenuhi jajaran rumus gaya gesek, gravitasi, dan hukum Newton yang bikin kepala mau pecah.
Di sudut ruang bimbel, empat sekawan itu baru saja selesai mengikuti sesi terakhir.
"Otak gue remuk! Sumpah ya, Fisika besok fix gue cuma bisa pasrah sama keajaiban takdir," gerutu Ren sambil mengemas bukunya kasar.
"Ngga usah lebay, Ren. Kan Bumi udah buatin ringkasan rumus yang super simpel tadi," celetuk Farah sambil merapikan kotak pensilnya.
Bumi menyodorkan beberapa lembar kertas tulisan tangannya yang rapi. "Nih, aku udah rangkum rumus cepatnya. Jangan lupa dibaca ulang nanti sebelum tidur."
Jasver mengambil satu rangkap kertas rumus itu. Jemarinya mengusap pinggiran kertas yang rapi. Pikiran Jasver mendadak melayang ke seseorang yang malam ini tidak ada di tempat les.
Aery pasti udah hafal luar kepala rumus-rumus ini tanpa perlu bimbel, batin Jasver tersenyum tipis.
Namun, ada keinginan kecil di benak Jasver. Walaupun Aery anak pintar, Jasver hanya ingin punya alasan untuk sekedar mengabari atau mengirimkan foto ringkasan rumus buatan Bumi ini ke Aery nanti malam. Alasan yang ia buat agar bisa mengobrol sebentar dengan cewek itu sebelum tidur.
"Bum, gue foto ringkasan lo ya. Buat... bahan belajar di rumah," ucap Jasver berpura-pura santai sambil merogoh ponsel di sakunya.
Bumi melirik Jasver, tersenyum tipis dengan raut wajah tenang yang sulit ditebak. "Ngapain di foto, Ver? Kan emang buat lo. Kebetulan tadi gue bikin 4."
Jasver menaikkan alisnya. "Lah? Buat siapa satu lagi?"
Bumi memasukkan pulpennya ke dalam tas. "Buat Aery. Tadi sore sebelum kita berangkat les, Aery sempat kirim pesan ke gue. Dia nanya ada materi Fisika tambahan ngga di bimbel hari ini. Jadi rangkuman itu emang mau gue kasih ke dia pas pulang les nanti."
Jleb.
Kalimat Bumi yang tenang itu mendarat tepat di ulu hati Jasver. Tangan Jasver yang memegang ponsel membeku seketika.
Jadi, tanpa Jasver ketahui, Aery dan Bumi sebenarnya diam-diam tetap saling berkirim pesan di luar jam sekolah. Dan Bumi, seperti biasa, selalu selangkah lebih maju, selalu menjadi sosok yang dicari dan diandalkan oleh Aery.
Jasver terdiam beberapa detik. Kertas rumus di tangannya mendadak terasa begitu berat. Ia menyunggingkan kekehan kecil yang sengaja dibuat konyol untuk menutupi rasa sesak yang menghantam dadanya.
"Anjay, Bumi! Gercep banget bos! Belum minta udah disiapin duluan," ledek Jasver sambil mengembalikan kertas itu ke meja Bumi. "Yaudah, makasih banyak ya Bum!"
Bumi menatap Jasver dalam-dalam, mengamati cengiran Jasver yang tampak dipaksakan, lalu mengangguk pelan. "Oke, Ver."
Sementara itu, di sudut koridor depan dispenser bimbel, Farah memperhatikan seluruh interaksi singkat antara Jasver dan Bumi dari jauh.
Saat mereka berempat berjalan keluar menuju gerbang tempat les, Jasver sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan Bumi dan Ren jalan lebih dulu di depan.
Farah menjajari langkah Jasver yang gontai.
"Masih mau pura-pura ngga peduli?" bisik Farah pelan, matanya menatap Jasver dari samping.
Jasver tersentak kecil, lalu buru-buru menyunggingkan cengiran konyolnya yang paling ampuh. "Lah, lo? Bikin kaget tau ngga! Kalo gue jantungan gimana?"
"Jasver," tegur Farah tegas, tak terpancing candaan lelaki itu. "Gue liat raut muka lo pas Bumi nyebut Aery tadi. Muka lo langsung berubah."
Jasver menghembuskan napas panjang. Cengirannya perlahan luntur. Ia mengantongi kedua tangannya ke dalam saku jaket varsity-nya, menatap aspal jalanan yang basah di bawah kakinya.
"Gue emang ngga pantes berharap apa-apa, Far," jawab Jasver pelan, suaranya terdengar pasrah. "Aery dari awal nyamannya sama Bumi dan Bumi selalu tau apa yang Aery butuhin. Cowok kayak gue yang Fisikanya aja masih megap-megap... pantesnya cuma jadi penonton."
Farah menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ada rasa kasihan yang mendalam melihat Jasver yang selalu memilih mundur dan mengalah, tapi di saat yang sama, dadanya sendiri terasa makin sesak dan perih.
Kenapa lo selalu ngeliat Aery yang jelas-jelas cuma nyari Bumi, Ver? Padahal di sini... ada gue yang selalu merhatiin lo dari dekat, batin Farah menjerit pelan, menahan rasa panas di sudut matanya yang tak pernah Jasver sadari.