NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 — Serigala Logam di Alun-Alun

Titis Darah jatuh di antara Bu Wening dan cakar serigala logam.

Udara terlipat merah.

Mecha itu muncul dengan satu lutut menyentuh lantai plaza, lengan kiri terangkat. Cakar metalik menghantam pelindungnya, memercikkan bunga api ke wajah orang-orang yang masih berteriak.

Tri sudah di dalam kokpit sebelum suara benturan selesai.

Data masuk.

Empat musuh terlihat.

Tidak.

Lima.

Satu masih di bawah tanah, bergerak melalui retakan menuju kerumunan.

“Hendra!”

“Gue tahu!”

Suara Hendra masuk lewat Kom bersama tekanan Daya Indra.

Sesuatu menyentuh tepi kesadaran Tri.

Dingin, tipis, dan rapi.

Daya Indra Komandan.

Tri hampir menolaknya secara refleks. Rasanya seperti ada tangan asing hendak memasang kabel ke pikirannya. Bukan sakit. Bukan bahaya. Hanya terlalu dekat.

Hendra berhenti setengah napas di saluran itu. “Lo...”

“Jangan sekarang,” kata Tri.

Hendra menelan sisa pertanyaan dan memaksa sambungan stabil. Garis pandang di kokpit Titis Darah berubah. Titik-titik merah musuh muncul lebih jelas. Jalur lari warga terlihat. Posisi Pak Ilyas, Bu Wening, Rakha, dan Mayor Bara tertanda biru.

Ini pertama kalinya Tri menerima sambungan Komandan penuh.

Ia tidak suka.

Tetapi itu berguna.

Titis Darah bergerak.

Serigala pertama mencoba mendorong melewati pelindungnya. Tri memutar bahu, membiarkan cakar meleset ke samping, lalu menembak dari jarak nol ke sendi leher. Dua peluru energi masuk lewat celah logam buruk.

Kepala serigala itu terlempar.

Tubuhnya masih bergerak dua langkah sebelum jatuh.

Orang-orang makin panik.

“Ke selatan!” teriak Mayor Bara. “Semua ke selatan! Jangan dekat retakan!”

Pak Ilyas menarik Bu Wening mundur, tetapi matanya tidak lepas dari Titis Darah. Bu Wening memegang tas kainnya erat, wajah pucat, namun ia tidak berteriak.

Rakha berlari ke sisi kanan, menarik seorang anak kecil dari jalur ekor berduri.

Serigala kedua melompat ke arahnya.

Tri tidak sempat berbalik penuh.

Hendra mengirim dorongan arah.

Kanan atas.

Tri percaya setengah detik itu.

Titis Darah menembak tanpa melihat langsung.

Peluru mengenai lantai di bawah tubuh serigala kedua, memantul dari pecahan logam plaza, lalu masuk ke perutnya. Serigala itu jatuh sebelum mencapai Rakha.

Rakha tersentak, lalu memaki, “Aku hampir jadi bahan uji!”

“Jangan mahal-mahal,” balas Tri.

“Fokus!” bentak Hendra.

Serigala ketiga keluar dari retakan di bawah kios minuman. Tubuhnya lebih besar, ekornya menyapu kerumunan. Mayor Bara menerjang dengan Mecha patroli ringan yang baru dipanggil dari gelang penyimpanan. Ia menahan ekor itu dengan bahu, melindungi tiga warga di belakangnya.

“Tri, kiri bawah!” suara Bara masuk ke kanal darurat.

Tidak ada waktu membenci orang yang pernah menghapus kredit kelasnya.

Tri menggeser Titis Darah, meluncur di antara dua bangku batu, dan menembak kaki belakang serigala ketiga. Bukan untuk membunuh. Untuk menjatuhkan.

Mayor Bara menangkap peluang itu.

Mecha patroli menekan kepala serigala ke lantai.

Tri menembak dua kali.

Mati.

Retakan terbesar bergerak lagi.

Serigala kelima yang sejak tadi di bawah tanah meloncat dari belakang patung pedang, langsung menuju Bu Wening dan Pak Ilyas yang sedang membantu warga tua berdiri.

Dunia menyempit.

Hendra mengirim peringatan.

Mayor Bara berteriak.

Rakha memanggil Tri.

Tri tidak mendengar apa pun selain napasnya sendiri.

Titis Darah menembak pengait ke dasar patung, menarik tubuhnya melesat mundur seperti panah merah. Ia tiba di depan Bu Wening setengah detik sebelum cakar turun.

Benturan membuat seluruh kokpit bergetar.

Tri merasakan tekanan masuk ke lengan kiri Titis Darah. Pelindungnya retak. Serigala itu terlalu kuat untuk A biasa. Tubuh metaliknya bukan sekadar kulit keras. Ada lapisan buatan yang menyalurkan beban.

Buatan.

Kata itu menyala di kepala Tri.

Ia menurunkan tubuh, mengunci cakar lawan dengan pelindung retak, lalu menusukkan pisau pendek Titis Darah ke sela dada serigala. Pisau itu tidak masuk penuh.

Tri memutar.

Lapisan logam buatan robek.

Di bawahnya ada jaringan daging gelap dan garis hijau kimia.

Menjijikkan.

Ia menembak ke lubang itu.

Serigala kelima menjerit, tubuhnya terangkat, lalu jatuh menabrak sisi patung pedang.

Satu lagi tersisa.

Serigala keempat mencoba kabur ke arah jalur bawah tanah.

Hendra mengirim peta pendek.

“Kalau lolos, masuk area asrama.”

Tri menatap jalurnya.

“Tidak.”

Titis Darah berlari.

Mayor Bara mencoba menyusul, tetapi Mecha patrolinya lebih lambat. Hendra menahan jalur warga agar tidak masuk lintasan. Rakha dari sisi lain melempar alat pemadam ke depan serigala, bukan untuk melukai, hanya menciptakan kabut putih.

Satu detik.

Tri masuk ke kabut.

Serigala keempat kehilangan pandangan.

Titis Darah tidak.

Senapan laras ganda menempel di tengkuknya.

Dua tembakan.

Tubuh logam itu roboh di tepi retakan.

Plaza akhirnya berhenti bergerak.

Hanya suara orang menangis, sirene patroli, dan napas berat di saluran Kom yang tersisa.

Tri tidak langsung keluar dari kokpit.

Hendra masih tersambung.

Garis Daya Indra Komandan menyentuh tepi pikirannya seperti jaring yang tidak yakin apakah harus menahan atau melepas.

“Tri,” kata Hendra pelan, “kenapa sambungan ke lo terasa... kosong terlalu luas?”

Tri mematikan sebagian kanal.

“Karena gue lapar.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang sering benar.”

Ia keluar dari Titis Darah sebelum Hendra bisa mengejar.

Bu Wening langsung memeluknya begitu kakinya menyentuh lantai. Kali ini Tri tidak kaku. Ia membungkuk, membiarkan tangan itu memegang punggungnya beberapa detik.

Pak Ilyas berdiri di samping, wajahnya keras.

“Kau baik-baik saja?”

“Saya baik, Pak.”

Pak Ilyas melihat Titis Darah yang pelindung lengannya retak. “Bohong kecil.”

“Mecha yang luka.”

“Mecha itu kau pakai.”

Tri tidak membantah.

Mayor Bara datang dengan langkah berat. Kali ini wajahnya tidak hanya galak. Ada sesuatu yang lebih mirip penilaian ulang.

“Kau membuat keputusan tepat.”

Tri menatapnya. “Apakah itu menambah kredit kelas?”

Mayor Bara berhenti.

Pak Ilyas menutup mata.

Tri sadar terlambat. “Maksud saya, terima kasih, Mayor.”

Bara mendengus. “Tetap tidak.”

Rakha berjongkok di dekat bangkai serigala kelima. “Tri.”

Nada itu membuat Tri segera mendekat.

Di bawah lapisan logam yang robek, ada serpihan tipis berwarna abu kehijauan menempel pada daging. Bukan tulang. Bukan kulit. Lapisan buatan, seperti cat komposit yang dipaksa menyatu dengan tubuh bestia.

Tri mencabutnya dengan penjepit kecil dari saku alat.

Serpihan itu tidak patah.

Terlalu lentur untuk logam biasa.

Terlalu rapi untuk mutasi liar.

Hendra berdiri di sampingnya, wajahnya kembali menjadi wajah orang yang menghitung bahaya.

“Itu bukan Bestia liar,” kata Rakha.

Tri mengangguk.

Ia melihat arah retakan, posisi muncul, waktu ketika mereka menyerang, dan fakta bahwa pusat kerumunan terbesar adalah tempat Hendra dan Rakha berdiri sebelum kejadian.

Mayor Bara mendengar kalimat itu. “Jelaskan.”

Tri menyimpan serpihan dalam kain.

“Ada yang memberi mereka lapisan ini,” katanya.

Hendra menatapnya. “Menurut lo acak?”

Tri melihat bekas cakar di batu, lalu wajah pucat Bu Wening, lalu Rakha yang masih memegang anak kecil tadi.

“Tidak.”

Suaranya turun.

“Ini bukan menyerang plaza. Ini mencari orang.”

Hendra tidak bertanya siapa.

Ia sudah tahu.

Tri menatap serpihan abu kehijauan di dalam kain.

“Dan kalau hitungan gue benar,” katanya pelan, “mereka datang untuk lo dan Rakha.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!