Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
Suasana di kantor pusat Adhi Jaya Perkasa terasa sangat tegang sejak pagi hari. Di dalam ruang kerja utama, Ziko duduk di balik meja eksekutifnya dengan setumpuk berkas laporan keuangan yang berantakan. Wajah pria itu tampak kusut, lingkaran hitam di bawah matanya memperlihatkan dengan jelas bahwa ia kurang tidur selama beberapa hari terakhir.
Perusahaannya sedang berada di ujung tanduk. Proyek pembangunan kawasan perumahan dan ruko eksklusif di pinggiran kota yang sedang mereka jalankan membutuhkan dana segar dalam jumlah yang sangat besar. Jika dalam waktu dekat tidak ada investor kakap yang menyuntikkan dana, seluruh proyek akan mangkrak, dan perusahaannya terancam gulung tikar akibat lilitan hutang bank.
Satu-satunya harapan Ziko saat ini adalah proposal investasi yang telah ia ajukan ke salah satu konsortium raksasa di Indonesia, Grand Wijaya Group. Semua pelaku bisnis tahu bahwa jika sebuah perusahaan berhasil mendapat sokongan dari keluarga Wijaya, maka masa depan bisnis mereka akan terjamin seumur hidup.
Pintu ruang kerja Ziko terbuka tanpa ketukan. Clarissa melangkah masuk dengan gaya anggunnya yang biasa, menjinjing sebuah tas bermerek dan memegang beberapa lembar dokumen kerja.
"Ziko, kamu sudah lihat email masuk dari sekretariat direksi Grand Wijaya Group?" tanya Clarissa langsung, berjalan mendekati meja kerja Ziko dan meletakkan dokumen tersebut di atasnya.
Ziko mendongak cepat, matanya berbinar penuh harap. "Bagaimana, Clarissa? Apakah proposal kita sudah ditandatangani oleh jajaran direksi mereka?"
Clarissa mengambil tempat duduk di kursi depan meja Ziko, lalu menyilangkan kakinya dengan santai. "Belum ditandatangani secara resmi, Ziko. Tapi kabar baiknya, proposal kita tidak ditolak. Pihak administrasi mereka menyatakan bahwa berkas Adhi Jaya Perkasa saat ini sudah masuk ke meja peninjauan tingkat atas. Statusnya digantung sementara waktu untuk pemeriksaan internal."
Ziko menghela napas panjang, sedikit menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Digantung? Tapi kita butuh kepastian secepatnya, Clarissa. Vendor material sudah mulai menagih pembayaran minggu depan. Kalau dana dari Grand Wijaya Group tidak turun bulan ini, kita bisa kolaps."
Clarissa tersenyum menenangkan, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh jemari Ziko di atas meja. "Kamu tenang saja. Masuknya berkas kita ke meja peninjauan tingkat atas itu sudah sebuah keajaiban besar. Kamu tahu sendiri kan berapa ribu perusahaan yang mengemis modal ke mereka setiap harinya? Setidaknya, kita punya jalur khusus."
Ziko menatap Clarissa dengan pandangan penuh rasa terima kasih. "Ini semua berkat bantuanmu, Clarissa. Kalau kamu tidak turun tangan menemui orang-orang di kantor pusat mereka, mungkin proposal kita sudah dibuang ke tong sampah dari awal."
"Tentu saja. Aku kan sudah janji akan membantu perusahaanmu sampai sukses," sahut Clarissa dengan nada manja yang dibuat-buat.
Sore harinya, Ziko pulang ke rumah bersama Clarissa. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Bu Rani sudah menyambut mereka di ruang tengah dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Wanita tua itu tampaknya sudah tidak sabar mendengar perkembangan urusan bisnis putranya.
"Ziko, bagaimana rapat hari ini? Apakah perusahaan kaya raya itu sudah setuju memberikan modal untuk kita?" tanya Bu Rani cepat sambil mengikuti langkah Ziko yang sedang melepas jas kerjanya.
"Masih proses, Bu. Tapi berkas kita sudah ada di jajaran paling atas berkat bantuan Clarissa," jawab Ziko seraya melirik Clarissa yang berdiri di sampingnya.
Bu Rani langsung menepuk-nepuk bahu Clarissa dengan penuh rasa bangga. "Astaga, Clarissa... kamu memang menantu idaman yang membawa hoki. Tidak seperti perempuan di belakang itu, cuma bisa menghabiskan uang dan bikin malu keluarga saja."
Mendengar sindiran ibunya, Ziko mengalihkan pandangannya ke arah koridor dapur. Di sana, Mahira baru saja keluar dengan pakaian rumahannya yang sederhana, membawa kain pel dan ember kecil.
Sejak kejadian tuduhan mencuri cincin kemarin, sikap Mahira benar-benar berubah total menjadi sangat dingin dan datar. Ia tidak pernah lagi menyapa Ziko dengan kelembutan, tidak menawarkan pijatan, dan hanya berbicara jika memang benar-benar diperlukan.
Ziko berjalan mendekati Mahira, menghentikan langkah istrinya di dekat meja makan. "Mahira, letakkan dulu kain pelmu. Aku mau bicara."
Mahira berhenti, lalu menaruh embernya ke lantai. Wajahnya polos tanpa ekspresi saat menatap Ziko. "Ada apa, Mas?"
"Perusahaanku saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan kerja sama besar dengan Grand Wijaya Group," kata Ziko dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, seolah ingin memamerkan pencapaiannya di depan istrinya. "Ini adalah proyek hidup dan mati perusahaanku. Aku minta kamu jangan bikin ulah atau bertingkah aneh-aneh di rumah selama proses ini berjalan. Mengerti?"
Mahira menatap suaminya lurus. Mendengar nama perusahaan keluarganya disebut oleh Ziko dengan nada penuh ambisi dan ketakutan, ada rasa geli yang terlintas di benak Mahira, namun wajahnya tetap datar sempurna.
"Aku tidak pernah membuat ulah, Mas. Aku hanya mengerjakan tugasku di rumah ini," jawab Mahira pendek. Suaranya terdengar sangat lempeng.
"Kamu masih saja menjawab ya!" sahut Bu Rani ikut mendekat dengan wajah ketus. "Dengar ya, Mahira! Ziko ini sebentar lagi akan jadi pengusaha sukses tingkat atas kalau investasi dari Grand Wijaya Group itu cair. Dan itu semua karena koneksi yang dimiliki Clarissa. Jadi, tahu diri sedikit. Jangan sampai wajah surammu itu merusak suasana di rumah ini!"
Clarissa yang berdiri di dekat sofa ruang tamu hanya melipat tangan di dada sambil memandangi Mahira dengan tatapan meremehkan. Di mata Clarissa, Mahira hanyalah penonton pasif yang sebentar lagi akan tersingkir sepenuhnya dari rumah mewah ini.
Mahira sama sekali tidak membalas omelan Bu Rani ataupun tatapan sinis Clarissa. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, lalu mengambil kembali ember dan kain pelnya.
"Jika tidak ada hal penting lain yang mau dibicarakan, aku permisi ke belakang untuk melanjutkan pekerjaan," ucap Mahira datar.
Ziko mendengus kesal melihat reaksi Mahira yang sama sekali tidak menunjukkan rasa kagum atau cemas atas nasib perusahaannya. "Ya sudah, sana pergi. Bikin pusing saja!"
Mahira berbalik dan melangkah menuju area belakang rumah dengan langkah kaki yang tenang. Di dalam benaknya, ingatan tentang percakapan teleponnya dengan Jessi kemarin kembali berputar. Jessi sudah menahan berkas proposal Ziko di atas meja direksi atas perintahnya sendiri.
Mahira menyunggingkan senyum paling tipis di bibirnya saat menikmati keheningan di area dapur. Ziko dan Bu Rani begitu memuja-muja Grand Wijaya Group, mengemis dana segar dari sana, dan menggantungkan seluruh hidup mereka pada keputusan konsortium tersebut.
Mereka sama sekali tidak pernah menyadari bahwa nasib, takhta, dan masa depan perusahaan Adhi Jaya Perkasa yang mereka agungkan itu sebenarnya ditentukan oleh coretan pena dari perempuan berbaju daster yang saat ini sedang sibuk memeras kain pel di dapur mereka sendiri.
Jangan lupa dukungan, like, komen dan follow ya.. 🥰🥰