Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 12.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
Keesokan harinya, suasana pagi di dalam Penthouse itu berjalan sangat tenang dan ceria seperti biasa.
Dewanta, Dionata, dan Dewinta, yang dikenal dengan 'Triple D' itu sudah siap untuk berangkat sekolah dengan wajah penuh semangat.
Bagi mereka, hari ini adalah hari yang sama dengan sebelumnya. Mereka tidak menyadari, jika hari ini mereka telah menjadi terget penculikan kedua 'Oma' mereka.
Regatta mengantar mereka sampai ke lobi utama, memeluk dan mencium hangat kening mereka satu-persatu sambil tersenyum.
Namun dibalik senyuman hangat Ibu sambung mereka, matanya memancarkan kewaspadaan yang sangat tinggi.
Sesuai dengan rencananya, pengawalan Triple D agak berkurang, seolah-olah hanya pengawalan standar saja.
Mereka sengaja mengendurkan diterang, namun sangat ketat di dalam gelap. Dimana para 'Shadow Guard' sudah bersiaga penuh, mengawasi gerak-gerik musuh.
"Semangat belajarnya ya, Sayang! Mommy akan memasaka ayam serundeng kesukaan kalian siang nanti, jangan main dan langsung pulang, oke?" ujar Regatta dengan lembut, namun dalam hatinya dia mengucapkan 'maaf' berulang kali, karena sudah menjadikan mereka target kejahatan hari ini.
"Ashiaaaap, Mommy cantik!" seru mereka serempak, sambil naik ke dalam mobil tersebut.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Mobil itu melaju menuju ke arah sekolahan anak-anak tersebut, namun saat tiba di sebuah persimpangan jalan yang agak sepi dan jauh dari pemukiman padat penduduk, tiba-tiba sebuah truk sampah memotong jalan dan menghalangi laju kendaraan mereka.
CKIIIT!
Tidak lama kemudian, muncul beberapa orang yang mengenakan penutup wajah sambil membawa senjata, yang langsung menggedor pintu mobil, yang membawa Triple D tersebut.
BRAK! BRAK! BRAK!
"BUKA PINTUNYA! JANGAN SAMPAI KAMI MELAKUKAN KEKERASAN KEPADA KALIAN SEMUA!" teriak sang pemimpin kelompok tersebut.
Kedua pengasuh yang sudah diberitahu oleh Regatta tentang rencananya pun, langsung membuka pintu mobil itu tanpa perlawanan yang berarti.
Ketua kelompok itu langsung menarik paksa ketiga anak kembar tesebut dari dalam mobil, dan langsung membawa masuk ke dalam mobil lain yang sudah menunggu mereka.
"Huaaaaa ... Daddy, Mommy! Dewi takuuut! Huaaaaa ..." teriak Dewinta, yang menangis ketakutan.
Sementara Dewanta dan Dionata hanya mengikuti mereka dengan wajah datar sambil memegang erat tangan Dewinta, karena mereka yakin, Mommy mereka akan datang untuk menyelamatkan mereka.
Mommy mereka adalah wanita cantik yang sangat ... Badass! Dan dia tidak akan membiarkan penjahat ini menang.
Pengawal dan kedua pengasuhnya terlihat melawan seadanya saja, seolah-olah mereka kalah jumlah dan terdesak, persis dengan 'skenario' yang telah direncanakan oleh Queen mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak lawan.
"Kalian semua tenang saja ... semuanya sudah berjalan sesuai rencana," ujar Komandan Shadow Guard melalui alat komunikasi rahasia di telinga semua anggotanya.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Para penculik itu merasa sangat beruntung dan yakin, jika rencana mereka berjalan mulus tanpa hambatan yang berarti.
Lalu, mereka membawa ketiga korbannya ke dalam sebuah gudang tua yang terbengkalai di pinggiran kota, sebuah tempat yang sudah di siapkan oleh Alera dan Lectra, sebagai markas sementara.
"Masuk sana, anak-anak sia-lan! Hahahaha! Jangan berisik, atau kami akan habisi kalian!" ujar si pemimpin kelompok itu, sambil mendorong Triple D dengan kasar.
Brugh!
"Auuuuh! Sakiiit tau, Om! Pelan-pelan dong!" protes Dionata.
"Diam kamu, si-alan! Jangan banyak protes, kalau mau masih bernapas!" sahut si pemimpin kelompok itu, menghardik Dionata.
Brak!
Tidak lama setelah mereka menutup pintu ruangan tempat anak-anak itu dikurung, datanglah dua wanita dengan wajah penuh kemenangan, namun hatinya sangat busuk.
Mereka merasa senang, karena mereka telah memegang 'kartu AS' Regatta yang paling ampuh.
"Mana anak-anak sia-lan itu?" tanya Lectra dengan nada angkuh.
"Mereka sudah aman di kamar itu, Nyonya. Apakah kami bisa mendapatkan sisa uangnya sekarang?" jawab si pemimpin, sambil menanyakan sisa pembayaran mereka.
"Tenang saja, Bos! Kami akan membayar sisanya setelah semuanya selesai!" ujar Alera dengan nada santai.
Setelah itu, kedua wanita itu segera membuka pintu kamar anak-anak itu dengan kasar.
BRAK!
"Hahahaha! Akhirnya kalian jatuh ke tangan kami juga, Anak-anak sia-lan!" ujar Alera, penuh kebencian.
Dia menatap ketiga anak itu dengan nyalang, namun anak-anak itu menatap kembali wajah kedua 'Oma' mereka dengan tatapan polos yang penuh keberanian.
"Sekarang kita akan lihat, sampai dimana kehebatan Ibu Tiri kalian itu! Dia pasti akan merangkak dan memohon pada kami sekarang, agar kami melepaskan kalian! Hahahaha!" lanjut Alera dengan nada kemenangan.
"Mommy tidak akan melakukan hal tersebut, Oma Alera! Mommy kami adalah seorang Ibu cantik dan badass! Dia akan memberikan kalian pelajaran nanti!" ujar Dewanta dengan berani.
Lectra langsung menampar kepala Dewanta dengan kekuatan sedang, karena dia tidak suka mendengar ucapan Dewanta.
PLAK!
"Diam kamu anak sia-lan! Jika bukan karena kelakuan Ibu Tiri kalian itu, kami juga tidak akan melakukan hal remeh begini!" hardik Lectra dengan seringaian kejam di wajahnya.
"OMA JAHAT! OMA SUDAH PUKUL ABANG DEWA! DEWI BENCI OMA!" teriak Dewinta, histeris.
"Dih! Bodo amat! Emang gue pikirin!" sahut Lectra santai.
Dionata langsung memeluk Dewinta erat, berharap adiknya itu diam sampai Mommy mereka menjemput mereka.
"Lagipula, setelah kami mendapatkan apa yang kami inginkan, kalian semua akan lenyap dan tidak akan ada yang bisa melacaknya! Hahahahaha!" lanjut Lectra dengan kejam.
Namun, sebelum mereka melanjutkan ucapan-ucapan jahat lainnya kepada ketiga anak itu, tiba-tiba seluruh pintu dan jendela gudang itu langsung terbuka lebar dengan kencang.
BRAK! BRAK! BRAK!
Dari kegelapan dan sudut-sudut yang tidak terduga, puluhan sosok bergerak cepat dan rapi, mengepung mereka semua.
DRAP! ... DRAP! .. DRAP!
Suara langkah kaki yang berat dan berirama, membuat jantung Alera dan Lectra seakan berhenti berdetak.
"BUANG SENJATA KALIAN DAN TETAP BERDIRI DISANA! JIKA BERGERAK SEDIKITPUN, MAKA SNIPER KAMI SUDAH SIAP UNTUK MENGAMBIL NYAWA KALIAN!" perintah komandan Shadow Squad dengan lantang.
Prok! ... Prok! ... Prok!
"Permainan sudah selesai, wahai wanita ular penganggu! Kalian sudah berani mengganggu ketenangan keluarga kami, maka kalian sudah siap untuk menerima konsekuensinya sekarang!"
Terdengar suara tegas dan dingin milik Regatta sambil bertepuk tangan, dia berjalan masuk dengan penuh wibawa, diikuti oleh Raka yang wajahnya menahan emosi.
Tidak ada perlawanan berarti dari kelompok penculik itu, karena Shadow Squad sudah melumpuhkan mereka dengan cepat dan langsung memborgol tangan mereka.
Mereka bahkan tidak sempat menyadari bahwa sejak awal mereka sudah di awasi dan di arahkan ke dalam jebakan rapi milik sang Ratu.
Bukti rekaman suara, video, sampai kesepakatan pembayaran yang terjadi, telah tersimpan rapi dan lengkap di tangan pihak yang berwenang, yang sudah menunggu diluar gudang tersebut.
Alera dan Lectra terpaku kaku, wajah mereka terlihat, seolah-olah da-rah mereka sudah tersedot habis dalam sekejap.
Mereka berusaha membela diri, dan melemparkan semua tuduhan tidak mendasar kepada Regatta, namun semuanya sia-sia.
Bukti nyata itu sudah terpapar jelas di depan mata semua orang.
"Ka-kalian sudah bersengkokol, kan?! Dasar orang-orang licik! Kalian semua sudah termakan oleh ucapan wanita ja-lang itu, kan?! Semua ini adalah rekayasa dia! Jangan dengarkan dia! Dasar ja-lang sia-lan!" teriak Lectra histeris, saat beberapa Polwan mendekat untuk menangkap mereka.
PLAK!
Regatta menampar Lectra dengan kencang.
"Ja-lang sia-lan! Kenapa kamu menamparku, hah?!" teriak Lectra, emosi.
"Itu adalah balasan dari saya, karena Anda juga menampar kepala Dewanta dengan kencang! Awas aja kalau sampai kepala jenius kecil itu kenapa-napa, hidup Anda tidak akan tenang di dalam penjara sana!" jawab Regatta dengan nada tegas.
Setelah itu, Regatta dan Raka berjalan ke arah kamar tempat anak-anak mereka disekap.
Sementara itu, Alera dan Lectra diseret keluar oleh Polwan tersebut, disana sudah berkumpul anak-anak mereka.
Anak-anak itu diminta datang oleh Raka, agar mereka melihat sendiri, bagaimana Ibu kandung mereka melakukan kejahatan, dengan cara menculik anak-anak Raka.
Mereka adalah Alex dan Aletta Adinata, kembar berusia 20 tahun, anak dari pasangan Dwipangga dan Alera.
Serta Levian dan Leonita Adinata, kembar berusia 18 tahun, anak dari pasangan Leonard dan Lectra.
Rasa malu, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam hati anak-anak itu.
Mereka sudah cukup untuk mengerti apa yang terjadi, dan mengerti betapa besar kesalahan Ayah dan Ibu mereka kepada sepupu mereka, Raka Adinata.
Ketika Lectra dan Alera memanggil nama mereka untuk meminta belas kasihan, bukan rasa iba yang muncul di dalam hati mereka, melainkan rasa kesal dan kecewa yang mendalam.
"Kenapa Mama melakukan hal seburuk dan sekejam ini?! Apa salah Bang Raka kepada kalian, hah?! Dia tidak pernah berbuat jahat kepada keluarga kita!" teriak Aletta dengan suara parau kepada Alera.
"Benar kata Aletta, Mami! Kalian membuat kami malu, tahu tidak?!!! Bagaimana kami menatap dunia ini sekarang? Papi sudah bersalah, sekarang Mami berbuat hal memalukan ini! Kalian benar-benar memalukan!!!!" teriak histeris Leonita sambil memeluk kakaknya dengan tubuh gemetar.
Alera dan Lectra semakin meronta sambil berteriak-teriak histeris, seolah-olah merekalah yang paling tersakiti di dunia ini.
"SEMUANYA KARENA JA-LANG MISKIN SIA-LAN ITU! JIKA DIA MAU MENURUTI PERMINTAAN MAMA, MAKA SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI!" teriak Alera, yang masih saja menyalahkan Regatta.
"BENAR! PEMICUNYA ADALAH JA-LANG SIA-LAN ITU! KAMI TIDAK SALAH! LEPASKAN KAMI!" ronta Lectra sambil berteriak histeris.
Regatta dan Raka baru saja keluar dari dalam gudang itu bersama ketiga anak mereka, hanya bsa menatap semua itu dengan tatapan tenang yang tegas.
Dia tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan lain, namun dengan membiarkan kebenaran dan hukum yang berbicara.
Dia memeluk Dewinta yang masih gemetar ketakutan, sementara Dewanta dan Dionata berada dalam pelukan Raka.
Regatta memeluk Raka dan ketiga anaknya itu dengan hangat, seolah-olah meyakinkan ketiganya, jika semuanya baik-baik saja.
"Sudah, sudah, Sayang ... semuanya sudah selesai sekarang. Tidak ada yang bisa menyakiti kalian lagi. Ada Mommy dan Daddy di sini, dan Mommy sudah membalas Oma jahat itu ..." bisik Regatta sambil mengusap sayang kepala ketiga anaknya itu.
Sementara Raka, dia menatap wanita yang dia nikahi itu dengan tatapan penuh rasa hormat, dimana dia telah menjadi 'tiang kekuatan' utama keluarga mereka sekarang.
Dari kejauhan, Alera dan Lectra menatap keluarga kecil itu dengan tatapan penuh dendam.
Mereka mungkin akan menetap di dalam penjara, namun kaki-tangan mereka diluar sana masih banyak.
Dan mereka telah merencanakan hal busuk kembali dalam kepala mereka, walaupun tubuh mereka nanti berada di dalam sel penjara yang gelap.
"Kalian pikir, keluarga kalian bisa bahagia? Hahahaha! Jangan mimpi! Tunggu saja permainan kami selanjutnya!"
...🍃☀†๏ c๏и†เиµэ∂☀🍃...