NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Ajakan Makan dan Cerita Karangan

Rencana pertama Jarot tidak membutuhkan waktu lama.

Pukul empat sore, ia memanggil seluruh petugas yang sedang berada di area kantor. Bibirnya bengkak dan suaranya masih sedikit pelo, tetapi ia memaksakan diri berdiri tegak di depan papan jadwal.

"Mulai hari ini, Bima bukan bagian dari tim keamanan Apartemen Danau Utara lagi."

Doni langsung protes. "Atas dasar apa, Bang?"

"Melawan atasan. Meninggalkan jadwal tanpa izin. Menyerang koordinator."

"Dia menukar shift denganku. Ada catatannya."

Jarot merobek halaman pergantian tugas dari buku, meremasnya, lalu melemparkannya ke tempat sampah.

"Sekarang nggak ada."

Ruangan hening.

Bima berdiri bersandar pada kusen dengan tangan terlipat. Ia bahkan tidak terlihat terkejut.

"Gaji bulan ini juga ditahan," lanjut Jarot. "Buat ganti rugi karena menyerang atasan."

Bang Kliwon menggeleng. "Jarot, pemecatan dan pemotongan gaji bukan keputusanmu sendiri. Harus ada pengelola dan perusahaan penyedia tenaga kerja."

"Aku korlap di sini!"

"Korlap bukan pemilik perusahaan," kata Bima.

Jarot menatapnya. Rasa takut dari cengkeraman tadi masih tinggal di pupilnya, tetapi ada banyak mata yang sedang menyaksikan. Ia tidak bisa mundur.

"Kamu sudah dipecat. Keluar dari asrama malam ini. Kalau berani bikin masalah, aku laporkan polisi."

Bima mengeluarkan ponsel dan membuka foto halaman jadwal yang tadi dirobek.

"Catatan pertukaran shift ada. Saksi juga ada. Untuk gaji, saya akan minta perincian tertulis dari pengelola dan perusahaan. Kalau ditahan tanpa dasar, saya ajukan pengaduan ketenagakerjaan."

Wajah Jarot berkedut.

Bima mendekat satu langkah. Tidak menyentuh, tidak meninggikan suara.

"Dan kalau kamu mengubah catatan, menyuruh orang berbohong, atau menanam sesuatu di kamar saya, pastikan rencanamu sempurna."

Jarot mundur tanpa sadar.

"Siapa bilang aku mau menanam sesuatu?"

"Saya juga tidak bilang kamu mau."

Doni menahan senyum. Bang Kliwon justru memandang Jarot dengan curiga.

Jarot buru-buru mengangkat dagu. "Kali ini kuanggap impas. Pergi sana sebelum aku berubah pikiran."

Bima tidak berdebat lagi. Status administrasinya memang belum final, tetapi bekerja di bawah orang seperti Jarot hanya akan menghabiskan waktu. Ia masih memiliki pakaian di asrama dan gaji yang belum dibayar. Semua bisa diurus setelah makan malam.

Prioritas adalah prioritas.

"Bang," ujar Bang Kliwon ketika mengantarnya keluar, "jangan pulang sendirian malam ini. Dia makin nggak beres."

"Saya pulang sama orang lain."

Doni menyenggol lengannya. "Kak Anin?"

Bima mendorong kepala Doni menjauh. "Jaga shift."

Menjelang pukul tujuh, ia mandi lagi dan mengganti seragam dengan kemeja putih berlengan panjang serta celana jeans gelap. Rambut cepaknya dirapikan dengan air. Sepatu yang dipakai bukan sepatu dinas, melainkan sepatu hitam sederhana yang masih tampak baru karena jarang digunakan.

Doni bersiul dari depan pos.

"Wah, satpam rasa direktur."

"Kalau saya direktur, kamu orang pertama yang saya pecat."

"Berarti benar-benar kencan?"

Sebuah sedan putih berhenti di luar gerbang sebelum Bima menjawab.

Anindya turun dari balik kemudi. Ia mengenakan blus putih, blazer hitam, dan celana panjang berpotongan rapi. Rambutnya yang kemarin lembap kini jatuh teratur di bahu. Memar di siku tertutup lengan blazer, tetapi matanya tidak lagi menyimpan kepanikan yang sama.

Ia memandang Bima dari kepala sampai kaki.

"Kamu beda sekali kalau nggak pakai seragam."

"Lebih jelek?"

"Lebih berbahaya."

"Kalau begitu Kak Anin juga berbahaya. Saya hampir lupa cara buka pintu mobil."

Anindya tertawa dan memukul ringan lengannya. "Gombal. Masuk."

Mereka berkendara beberapa kilometer menuju Warung Sate Klopo Bu Painem, tidak jauh dari kawasan Ondomohen. Tempat itu ramai tetapi sederhana. Asap arang mengambang di bawah lampu putih, kipas besar berputar di langit-langit, dan suara piring bersentuhan datang dari segala arah.

Anindya memilih meja di sudut. Mereka memesan sate klopo, nasi, sambal, serta dua botol bir kecil.

"Aku sering makan di sini kalau pulang kerja terlalu malam," kata Anindya. "Nggak mewah, tapi enak."

"Makanan gratis selalu terasa mewah."

"Jangan senang dulu. Bisa saja nanti aku suruh kamu cuci piring."

Sambil menunggu pesanan, Anindya menumpukan siku sehatnya di meja.

"Kemarin kamu bilang pernah jadi tentara."

Bima membuka botol minumnya. "Pernah."

"Itu bukan jawaban."

"Pertanyaannya juga belum lengkap."

"Baik. Kamu pernah bertugas di mana? Berapa lama? Kenapa berhenti?"

Tiga pertanyaan. Mata Anindya menunggu tanpa berkedip.

Bima meneguk sedikit sebelum menjawab. "Pernah bertugas di luar Jawa. Banyak pindah. Berhenti karena capek diperintah orang."

"Di luar Jawa bagian mana?"

"Yang banyak pohonnya."

"Kalimantan? Papua? Sumatra?"

"Nah, salah satunya."

Anindya menyipitkan mata. "Kamu mengarang."

"Saya tersinggung. Cerita itu saya siapkan hampir lima detik."

"Kenapa harus merahasiakannya?"

Humor di wajah Bima menipis. Ia teringat foto di dompetnya, wajah Surya, dan satu tembakan yang seharusnya masuk ke tubuhnya sendiri.

"Ada pekerjaan yang lebih baik ditinggalkan di masa lalu. Bukan karena saya malu, tapi karena orang yang mendengarnya bisa ikut terseret."

Anindya menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. "Baik. Aku nggak akan memaksa."

Pelayan datang membawa sate yang masih mendesis. Aroma kelapa sangrai memenuhi meja, memutus ketegangan sebelum menjadi terlalu dalam.

Mereka makan sambil membicarakan hal-hal ringan: penghuni apartemen yang suka memarahi satpam karena paket terlambat, Doni yang tak bisa menyimpan rahasia, dan Sasa yang sedang menginap di rumah pengasuh kepercayaan Anindya sampai ibunya merasa aman kembali.

"Kunci unit sudah diganti?" tanya Bima.

"Sudah siang tadi. Aku juga minta pengelola memperbaiki kamera lantai dua puluh sembilan."

"Jawabannya teknisi akan datang secepatnya?"

Anindya mengangkat alis. "Persis."

"Kalau tiga hari belum diperbaiki, kirim permintaan tertulis dan tembuskan ke manajer gedung. Kamera mati itu bukan sekadar gangguan fasilitas. Semalam sudah membuktikan ada risiko keamanan nyata."

"Kamu bicara seperti konsultan keamanan, bukan satpam."

"Konsultan dibayar mahal. Jadi anggap saja itu bonus makan malam."

Anindya tersenyum, tetapi kemudian jemarinya berhenti memainkan tisu.

"Sasa bertanya kenapa belum boleh pulang. Aku bilang pintu rumah sedang diperbaiki."

"Itu keputusan yang benar. Jangan bawa dia kembali sebelum kamu sendiri merasa aman."

"Kadang aku benci harus mengambil semua keputusan sendirian."

Bima tidak menawarkan janji kosong. Ia hanya menggeser segelas air ke arah Anindya.

"Sekarang setidaknya ada satu nomor yang bisa Kak Anin hubungi."

Anindya menatap gelas itu, lalu Bima. Ketegangan di bahunya melonggar.

Setelah piring hampir kosong, Anindya meletakkan tusuk sate dan menjadi serius.

"Tentang kejadian di kantor tadi... Doni sempat kirim pesan. Katanya pekerjaanmu bermasalah."

"Mulutnya benar-benar nggak punya kunci."

"Mungkin kali ini bagus dia cerita." Anindya merapikan tisu di samping piring. "Aku mau ngomongin soal kerjaan..."

Nada seriusnya membuat Bima meletakkan botol.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!