Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Party Kelas Atas
Imperial Garden Club tidak memasang papan nama besar di depan jalan.
Orang yang tahu, tahu.
Orang yang tidak tahu, bahkan tidak akan sadar bahwa di balik pagar batu hitam dan pohon palem rapi itu, separuh ahli waris Kota Biru sedang minum, tertawa, dan saling mengukur harga satu sama lain.
Hendry datang pukul delapan malam.
Ia memakai jas hitam sederhana. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada jam tangan yang sengaja dipamerkan.
Bagus duduk di mobil dekat pintu keluar, matanya sesekali menyapu area parkir.
"Pak Hendry, saya tunggu di luar."
"Jangan jauh."
"Siap."
Brandon Mahesa sudah menunggu di lobi.
Begitu melihat Hendry, ia langsung melambaikan tangan seperti menemukan penyelamat di tengah pesta yang membosankan.
"Mas Hendry! Akhirnya datang juga."
"Orang pentingmu mana?"
"Sabar. Di sini semua orang merasa penting."
Brandon tertawa dan menarik Hendry masuk.
Ruang utama Imperial Garden Club berbentuk aula tinggi dengan lampu kristal, bar panjang di sisi kiri, dan area taman kaca di belakang. Musik jazz mengalun pelan. Para tamu berbicara dengan suara rendah, tetapi mata mereka sibuk menilai.
Beberapa orang menatap Hendry.
Mereka tidak mengenalnya.
Itu saja sudah membuat mereka penasaran.
Brandon membawa Hendry ke sudut yang lebih tenang. Di sana, seorang pria muda berjas biru tua sedang berbicara dengan dua pengusaha paruh baya. Wajahnya bersih, senyumnya ramah, tetapi matanya tidak pernah lengah.
"Kevin," panggil Brandon. "Ini orang yang aku ceritakan."
Pria itu menoleh.
Kevin Saputra.
Pewaris keluarga Saputra, keluarga ketiga terkuat di Kota Biru.
Ia menatap Hendry selama dua detik, lalu mengulurkan tangan.
"Kevin Saputra."
"Hendry Pratama."
Jabat tangan mereka singkat.
Namun Kevin langsung merasakan sesuatu.
Tangan Hendry tidak keras seperti orang yang sengaja pamer kuat.
Tetapi stabil.
Sangat stabil.
Seperti batu di dasar sungai.
"Brandon jarang memuji orang," kata Kevin.
"Dia banyak bicara."
Brandon menunjuk dadanya sendiri. "Itu kelebihan, Mas."
Kevin tertawa.
Ketegangan kecil langsung mencair.
"Saya dengar Anda dekat dengan Pak Budiman," kata Kevin.
"Cukup untuk makan malam gratis."
Kevin mengangkat alis, lalu tertawa lebih pelan.
"Menarik. Orang lain akan menjawab lebih panjang."
"Jawaban panjang biasanya menutupi hal pendek."
Kevin menatap Hendry dengan minat yang lebih nyata.
Di seberang aula, seorang wanita muda bergaun merah marun lewat sebentar. Wajahnya cantik, geraknya elegan, dan beberapa pria langsung menoleh.
Angelica Permata.
Ia hanya melirik ke arah Hendry, seolah menangkap sosok asing di kerumunan yang biasa ia kuasai.
Lalu ia berjalan melewati mereka tanpa berhenti.
Brandon berbisik, "Kota Biru punya banyak mata malam ini."
Hendry baru hendak menjawab ketika ponsel Brandon bergetar.
Ia membaca pesan.
Wajahnya berubah.
"Mas."
Nada Brandon turun.
"Apa?"
"Jessica ada di sini."
Mata Hendry langsung dingin.
"Di mana?"
"VIP bar belakang. Kamal Anggara yang membawanya. Tapi..." Brandon menelan ludah. "Vincent Hadiprana juga di sana."
Nama itu membuat Kevin menoleh.
"Vincent?"
Hendry sudah bergerak.
Beberapa menit sebelumnya, Jessica masuk ke Imperial Garden Club dengan perasaan tidak nyaman.
Kamal Anggara, rekan bisnis yang pernah dikenalkan oleh salah satu kenalan Wirawan, mengatakan ada jamuan kecil terkait distribusi wilayah timur. Ia bilang beberapa orang dari jaringan PT Surya Abadi akan datang.
Jessica hampir menolak.
Namun setelah Wirawan keluarga menyebutnya mempermalukan mereka, ia tidak ingin kehilangan peluang tambahan.
Ia datang.
Begitu masuk ke area VIP, ia sadar ada yang salah.
Tidak ada pembicaraan bisnis.
Tidak ada dokumen.
Hanya sofa rendah, lampu redup, gelas-gelas tinggi, dan beberapa pria yang menatapnya terlalu lama.
Kamal Anggara tersenyum canggung.
"Jessica, santai dulu. Pak Vincent ingin kenal."
Di sofa tengah, Vincent Hadiprana mengangkat gelasnya.
Ia tampan dengan cara yang mahal: jas putih, sepatu mengilap, rambut ditata sempurna. Namun matanya membuat Jessica ingin mundur.
"Bu Jessica Mahendra," katanya. "Akhirnya bertemu juga. Kota Biru terlalu sering membicarakan kecantikanmu."
Jessica menjaga jarak.
"Saya datang untuk jamuan bisnis."
"Ini bisnis." Vincent tersenyum. "Bisnis selalu dimulai dari minum."
"Saya tidak minum."
"Sedikit saja."
Ia memberi isyarat. Seorang pelayan membawa gelas.
Jessica tidak menyentuhnya.
Vincent tertawa pelan. "Jangan tegang. Aku dengar suamimu hanya sopir Budiman. Wanita sepertimu seharusnya duduk di tempat yang lebih tinggi."
Wajah Jessica mengeras.
"Jaga ucapan Anda."
Kamal Anggara cepat berkata, "Jessica, Pak Vincent hanya bercanda."
"Aku mau pulang."
Dua pria berdiri di dekat pintu.
Tidak mengancam secara terang-terangan.
Tapi cukup untuk menutup jalan.
Vincent menaruh gelas di meja.
"Kamu pikir bisa masuk ke tempatku, lalu pergi begitu saja?"
"Saya tidak tahu ini tempat Anda."
"Sekarang sudah tahu."
Jessica menggenggam tasnya lebih kuat.
Ia benci dirinya merasa takut.
Ia lebih benci karena lagi-lagi seseorang melihatnya sebagai barang yang bisa dipindahkan dari satu pria ke pria lain.
Pintu VIP tiba-tiba terbuka.
Suara musik dari luar masuk sebentar, lalu terputus.
Hendry berdiri di ambang pintu.
Di belakangnya, Brandon dan Kevin berhenti beberapa langkah.
Jessica menoleh.
Untuk sesaat, seluruh ketegangan di dadanya retak.
"Hendry..."
Hendry masuk tanpa melihat siapa pun selain Jessica.
Ia berhenti di depannya.
"Kamu baik-baik saja?"
Jessica mengangguk, tetapi matanya merah.
Hendry melihat gelas yang belum tersentuh. Melihat Kamal Anggara. Melihat dua pria di pintu. Terakhir, matanya berhenti pada Vincent.
"Dia pulang denganku."
Vincent menyandarkan tubuh ke sofa, senyumnya melebar.
"Dan kamu siapa?"
Hendry menggenggam tangan Jessica.
Jelas.
Tenang.
Tanpa ragu.
"Dia istriku."
Ruang VIP menjadi sunyi.
Beberapa tamu yang berdiri di luar pintu mulai berbisik.
Vincent menatap tangan mereka, lalu tertawa.
"Istrimu? Jadi benar. Si cantik Kota Biru menikah dengan sopir miskin."
Jessica hendak bicara, tetapi Hendry mengangkat tangan kecil, menahannya dengan lembut.
Ia melangkah setengah maju.
"Vincent Hadiprana."
Vincent mengangkat alis. "Kamu tahu namaku. Bagus. Jadi kamu juga harus tahu, kalau aku menginginkan sesuatu, biasanya aku mendapatkannya."
Mata Hendry tidak berubah.
"Bahkan kalau kau habiskan triliunan, dia tetap bukan milikmu."
Keheningan jatuh.
Bahkan musik dari luar terasa menjauh.
Wajah Vincent berubah dingin.
"Kamu sedang menantang Hadiprana?"
"Aku sedang menjemput istriku."
"Dengan mulut seperti itu, kamu bisa tidak keluar dari sini."
Dua pria di pintu bergerak.
Brandon langsung tegang.
Namun sebelum keadaan pecah, Kevin Saputra melangkah masuk.
"Vincent."
Suaranya tidak keras.
Tetapi nama Saputra membuat semua orang menoleh.
Kevin berdiri di samping Hendry, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan posisi.
"Malam ini pestaku juga. Kalau ada tamu wanita ingin pulang, kita biarkan pulang. Jangan membuat Imperial Garden terlihat seperti tempat orang memaksa."
Vincent menatap Kevin.
"Ini urusanku."
"Kalau terjadi keributan di sini, jadi urusan banyak keluarga."
Kalimat itu halus.
Namun ancamannya jelas.
Hadiprana kuat.
Saputra juga bukan keluarga kecil.
Dan di aula utama, terlalu banyak mata melihat.
Vincent menatap Hendry lama sekali.
"Baik."
Ia tersenyum lagi, tapi senyum itu sudah tidak hangat.
"Bawa istrimu pulang, sopir. Tapi ingat, Kota Biru kecil. Kita akan bertemu lagi."
Hendry tidak membalas.
Ia menoleh kepada Jessica.
"Ayo."
Jessica membiarkan tangannya digenggam.
Mereka berjalan keluar dari area VIP, melewati para tamu yang menatap dengan berbagai ekspresi: terkejut, penasaran, takut, kagum.
Angelica Permata berdiri di dekat tangga kaca.
Matanya mengikuti Hendry.
Perhatiannya tidak jatuh pada jas Hendry.
Uang juga tidak menarik matanya.
Pada cara pria itu berjalan di tengah tatapan seluruh ruangan seolah tidak satu pun dari mereka berhak menundukkan kepalanya.
Di luar aula, Brandon menghela napas panjang.
"Mas, kamu benar-benar membuat malam ini tidak membosankan."
Kevin tersenyum tipis. "Aku mulai mengerti kenapa Brandon memaksaku menemuimu."
Hendry menatapnya.
"Terima kasih tadi."
"Aku hanya menjaga pestaku."
"Tetap saja."
Kevin mengulurkan tangan lagi.
Kali ini, jabat tangan mereka sedikit lebih lama.
"Kalau Vincent bergerak lagi, beri tahu aku," kata Kevin.
"Dia pasti bergerak."
"Kalau begitu, kita lihat seberapa jauh dia bisa berjalan."
Hendry membawa Jessica keluar.
Di depan pintu, Bagus sudah berdiri di samping mobil. Ia melihat wajah Jessica, lalu wajah Hendry, dan langsung membuka pintu belakang tanpa bertanya.
Jessica masuk.
Hendry berhenti sebentar, menoleh ke gedung Imperial Garden Club.
Di balik kaca tinggi, masih ada banyak mata memandang.
Vincent berada di salah satunya.
Hendry menggenggam tangan Jessica sekali lagi sebelum masuk ke mobil.
Malam itu, seluruh pesta tahu satu hal.
Wanita yang mereka sebut terlalu cantik untuk seorang sopir telah dibawa pergi oleh suaminya sendiri.
Dan pria itu pergi tanpa menundukkan kepala.