Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Hierarki Alam Semesta
Di udara yang masih bergolak akibat runtuhnya singularitas, Jenderal Xue Yang melayang dengan kondisi mengenaskan. Zirah naga apinya telah hancur menjadi serpihan logam cair. Dada kanannya melesak, dan meridian Ascendant-nya retak parah akibat tarikan gravitasi ekstrem dari Pedang Ketiga Zeng Niu.
Xue Yang membatukkan darah keemasan. Matanya yang merah magma kini dipenuhi ketidakpercayaan murni.
"Mustahil... hukum duniaku... dihancurkan oleh energi fana?" gumam Xue Yang, napasnya tersengal.
Di hadapannya, Zeng Niu mengibaskan Pedang Nisan Petir Asura. Darah Xue Yang yang menempel di bilah hitam itu langsung menguap. Zeng Niu tidak segera menyerang lagi. Ia menatap Xue Yang dengan pandangan meremehkan, seolah sedang melihat seekor katak di dasar sumur yang mengira langit hanya sebesar tempurung.
Sambil mengatur napasnya, pikiran Zeng Niu tanpa sadar melayang pada luasnya alam semesta ini.
Jenderal sombong di depannya ini membanggakan ranah Ascendant seolah ia adalah dewa pencipta. Padahal, Zeng Niu tahu persis betapa panjang dan kejamnya tangga kultivasi yang sebenarnya.
Di Alam Bawah "Alam Fana", tempat manusia biasa dan kultivator tingkat awal hidup, energi spiritual sangatlah tipis. Di sanalah kerajaan manusia, akademi, sekte kecil, hingga hutan beast biasa berada. Sistem kultivasi di sana dimulai dari Penempaan Tubuh (Tahap 1-9), Pengumpulan Qi (Tahap 1-9), Foundation Establishment, Golden Core, Nascent Soul, hingga Soul Transformation.
Di Alam Fana, seorang ahli Soul Transformation sudah dipuja layaknya dewa, dan semua kultivator bermimpi untuk naik ke Alam Abadi. Mengingat Alam Fana, seulas senyum nostalgia melintas di wajah Zeng Niu. Ia teringat rekan-rekannya yang masih berada di ranah bawah: Bao Tu yang penakut namun lucu, dan Lin Xiaoyu yang luar biasa jago menipu (keduanya baru mencapai Foundation Establishment Awal); si gendut malas Qian Fugui yang masih tertahan di Pengumpulan Qi Tahap Puncak; serta Tetua Mo Yin yang berada di Golden Core Puncak. Bagi mereka, pertarungan merobek langit di depannya ini adalah mitos belaka.
Namun sekarang, Zeng Niu telah melangkah jauh, berdiri di Alam Menengah "Alam Abadi".
Ini adalah dunia para Immortal. Langit dipenuhi pulau melayang, sungai spiritual, dan istana kuno. Energi di sini disebut Qi Abadi. Alam ini sangat luas, terbagi menjadi wilayah-wilayah raksasa seperti Benua Pedang Timur, Laut Abadi Utara (yang dipenuhi beast laut kuno), Gurun Matahari Barat (wilayah kultivator tubuh), dan Langit Selatan (pusat alkemis).
Di Alam Abadi, umur kultivator bisa mencapai jutaan tahun, artefak memiliki roh, dan pertarungan bisa menghancurkan benua. Tingkatan kultivasi di alam ini adalah Ascendant, Nirvana, hingga Kaisar Bumi. Xue Yang hanyalah seekor pion di tahap paling awal dari Alam Abadi ini!
Dan tahapan itu belum berakhir. Di atas sana, masih ada Alam Atas "Domain Surga", tempat para penguasa bermukim. Di sanalah ranah Kaisar Raja, Kaisar Langit, dan legenda mitologi Dewa Abadi. Mereka yang menguasai Tiga Puluh Tiga Langit, Istana Surga, Sungai Dao, dan Gunung Asal. Satu serangan dari mereka bisa menghancurkan alam bawah, karena mereka mengendalikan ruang dan waktu itu sendiri!
Bahkan, alam semesta ini diseimbangkan oleh dimensi-dimensi paralel yang sama mengerikannya. Ada Alam Iblis ("Jurang Iblis") dengan Laut Darah dan hukum brutalnya dari Prajurit Iblis hingga Penguasa Abyss; Alam Beast ("Wilayah Beast Suci") tempat Beast Roh hingga Beast Primordial (seperti naga dan phoenix) mengandalkan garis keturunan; serta Alam Arwah ("Dunia Nether") dengan Sungai Reinkarnasi-nya tempat Kaisar Arwah menghakimi jiwa.
Menyadari luasnya langit di atasnya, Zeng Niu memfokuskan kembali pandangannya pada tubuhnya sendiri. Ia saat ini memang hanya berada di ranah Soul Transformation Akhir.
Namun, mengapa ia bisa menentang surga dan meremukkan seorang Ascendant?
Jawabannya ada pada fondasinya yang melanggar hukum alam! Fisiknya adalah Tulang Perak Asura yang telah ditempa esensi bintang. Ia menguasai Teknik 32 Pedang Surga. Dantiannya bukan berupa inti emas biasa, melainkan Inti Asura Petir Hukuman yang mewakili kehancuran. Dan yang paling mengerikan, di dalam wadah fana ini, bersemayam Tiga Jiwa: Iblis, Dewa, dan Manusia yang masing-masing memiliki kehendak dan kekuatan primordial!
"Jenderal," suara Zeng Niu memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah Xue Yang. "Kau menyebut dirimu dewa hanya karena kau baru menginjakkan kaki di parit Alam Abadi. Di mataku, kau tak lebih dari anjing penjaga gerbang."
Mendengar hinaan itu, harga diri Xue Yang hancur lebur. Matanya memerah gila. Ia tahu meridiannya telah rusak dan ia tidak bisa lagi meminjam energi dari lima puluh kapal perangnya.
"ASURA SIALAN! KAU PIKIR KAU BISA MEMPERMALUKAN ISTANA PUSAT?!" Xue Yang meraung putus asa. Inti Ascendant di dalam Dantiannya tiba-tiba mulai memancarkan cahaya merah yang menyilaukan dan luar biasa tidak stabil.
"Jika aku harus mati, aku akan menyeret seluruh Benua Utara ini menjadi lautan darah bersamaku! MELEDAKLAH, INTI ASCENDANT!"
Xue Yang berniat melakukan penghancuran diri! Ledakan dari Inti Ascendant Awal akan setara dengan jatuhnya sebuah bintang mati, cukup untuk meratakan seluruh Sekte Angin Merah dan jutaan mil daratan di sekitarnya menjadi abu vulkanik!
Zeng Niu menyipitkan matanya. Ia bersiap memanggil sisa kekuatan Jiwa Iblis-nya untuk menelan ledakan itu, meskipun itu berarti fisiknya akan terluka parah.
Namun, sebelum Zeng Niu sempat bergerak, suhu udara di sekitar Xue Yang anjlok hingga titik nol. Waktu seolah membeku.
Sesosok dewi bergaun seputih salju bermanifestasi tepat di atas Xue Yang. Zhao Ying.
Di punggungnya, ilusi Roda Bintang 7 berputar dengan keagungan kosmik. Fluktuasi kultivasinya sebagai Ascendant Tahap Menengah menekan seluruh area, memadamkan cahaya merah dari Inti Ascendant Xue Yang layaknya meniup lilin kecil.
Zhao Ying menatap Xue Yang dengan mata biru jernih tanpa emosi. Ia mengangkat satu jarinya yang lentik, dan menyentuh dahi jenderal yang sedang sekarat itu.
"Sekte ini bukan tempat untuk membuang sampah, anjing Benua Tengah," bisik Zhao Ying dingin.
KRAAAK!
Dalam sekejap mata, tubuh Xue Yang, jiwanya, hingga Inti Ascendant-nya yang hendak meledak... membeku menjadi balok es abadi yang memancarkan cahaya biru. Ekspresi kengerian dan keputusasaan membeku abadi di wajah jenderal tersebut.
Zhao Ying melentikkan jarinya sekali lagi. PRANG! Patung es Xue Yang hancur menjadi debu salju yang berjatuhan tertiup angin utara, menghilang tanpa sisa. Seorang Jenderal Dewa Istana Pusat telah dihapus dari eksistensi dengan satu sentuhan ringan!
Zeng Niu menaruh pedangnya di bahu, bersiul pelan melihat kehebatan wanitanya.
"Kau mencuri mangsaku, Ying'er," goda Zeng Niu, meski ia diam-diam merasa lega tidak perlu menahan ledakan gila itu.
Zhao Ying memutar bola matanya sedikit. "Kau sudah kehabisan Qi, Bodoh. Berhentilah pamer dan biarkan aku membersihkan sisa sampah ini."
Di saat yang sama, jauh di bawah, di atas balkon Paviliun Utama.
Melihat matinya Xue Yang dan tampilnya Zhao Ying, Ketua Sekte Jiu Feixue menghela napas panjang. Beban di dadanya sedikit terangkat. Meskipun ia sendiri adalah ahli Setengah Langkah Kaisar Bumi yang jika turun tangan bisa menghancurkan armada itu dalam satu kedipan mata ia tidak boleh menampakkan kekuatannya terlalu dini. Di dunia kultivasi, menyembunyikan kartu as adalah kunci bertahan hidup.
"Bocah itu dan kekasih es-nya benar-benar pasangan monster," gumam Jiu Feixue, matanya yang sedingin pualam memancarkan kelegaan.
Di sebelahnya, Leluhur Jiu Zui terkekeh serak. Pria tua pemabuk yang sesungguhnya adalah monster Kaisar Raja Tahap Akhir ini kembali menenggak araknya. Di Alam Abadi ini, eksistensi Kaisar Raja hampir menyentuh puncak langit, namun Jiu Zui memilih hidup sebagai orang tua mabuk di sekte pinggiran.
"Jangan senang dulu, Feixue," ucap Jiu Zui dengan suara parau yang dalam. Mata sayunya tiba-tiba memicing tajam menembus awan berdarah, menatap jauh ke luar angkasa Benua Tengah.
"Xue Yang hanyalah anjing pelacak. Armada lima puluh kapal itu hanyalah umpan. Saat giok jiwa Xue Yang pecah di Istana Pusat... mereka akan tahu bahwa Benua Utara memiliki ahli yang melampaui batas fana."
Jiu Zui meletakkan kendinya, Niat Kaisar Raja-nya beriak sesaat, menggetarkan hukum ruang di sekitar paviliun.
"Bersiaplah. Badai sesungguhnya baru akan dimulai. Ketika Jenderal tingkat Nirvana atau Kaisar Bumi turun... aku khawatir, aku sendiri yang harus turun tangan mematahkan punggung Istana Pusat sialan itu."
Di atas langit, lima puluh kapal perang Divisi Matahari Darah yang kehilangan jenderalnya kini berada dalam kepanikan massal.
Melihat mangsa besar yang sedang ketakutan itu, Zeng Niu menyeringai biadab. Ia menoleh ke bawah, ke arah kelompok murid Angin Merah yang masih sibuk memunguti cincin dari para letnan yang mati.
"MO TIAN! WANG CHEN!" raung Zeng Niu, suaranya menggema penuh semangat perampok.
"Ya, Paman Muda!"
Zeng Niu menunjuk ke arah lima puluh armada kapal astral raksasa yang melayang tanpa daya di atas sana.
"Kapal-kapal itu terbuat dari Kayu Dewa! Meriamnya terbuat dari Logam Bintang! Segel ruang di sekitarnya dan bajak semuanya! Hari ini, Sekte Angin Merah akan memiliki angkatan laut udaranya sendiri!"